Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, vol. 3 (1), pp. 47-56, 2025 Received 16 Feb 2025/published 20 September 2025 https://doi.org/10.61650/jptk.v3i1.726 Analisis Kesenjangan Kompetensi Pedagogis, Profesional, dan Teknologi di Kalangan Guru Sekolah Kejuruan Meilina Novita Wulandari1, dan Siti Mariyam2 1. UNIMUDA Sorong, Indonesia 2. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sorong, Indonesia E-mail correspondence to: sitimariyamsorong1@gmail.com Abstract Di era Revolusi Industri 4.0, terdapat kesenjangan yang signifikan antara kompetensi guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan ekspektasi Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) di Kabupaten Sorong. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kesenjangan kompetensi meliputi aspek pedagogik, profesional, dan teknologi di kalangan guru SMK. Dengan pendekatan kombinasi (mixed-methods), data dikumpulkan melalui survei terstruktur kepada guru produktif serta wawancara semi-terstruktur dengan manajer Sumber Daya Manusia dari lima sektor industri strategis. Temuan menunjukkan kesenjangan paling dominan terkait kapabilitas aplikasi teknologi industri dan keterampilan non-teknis seperti berpikir kritis dan pemecahan masalah. Penelitian merekomendasikan program pengembangan profesional guru yang terstruktur dan kolaboratif dengan industri sebagai solusi untuk mengurangi kesenjangan ini, sehingga dapat meningkatkan relevansi dan kualitas pendidikan kejuruan di Sorong. Keywords: Kesenjangan Kompetensi, Guru SMK, Kebutuhan Industri, DUDI, Kabupaten Sorong PENDAHULUAN Transformasi global menuju Revolusi Industri 4.0, yang dicirikan oleh konektivitas siber-fisik dan otomatisasi (Bintari, 2017; Fakaubun, 2018), dan kini berlanjut ke Society 5.0 (Gaspersz et al., 2024; Kaminem, 2016), yang berpusat pada integrasi teknologi untuk kesejahteraan manusia (SUTEDJO & MANGKUNEGARA, 2018; Wondiwoy et al., 2022), telah mendefinisikan ulang lanskap pasar kerja secara fundamental. Perubahan ini secara langsung menuntut profil sumber daya manusia (SDM) dengan kapabilitas . yang adaptif, digital, menguasai data science, dan berbasis pemecahan masalah yang tinggi, bukan hanya keterampilan manual semata (J. T. Asmoro & Hartati, 2018; Fathurrahman, 2021). Dalam konteks nasional, Pendidikan Teknik Kejuruan (PTK) atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memegang peranan strategis sebagai institusi yang secara fundamental bertanggung jawab untuk menyediakan pasokan SDM terampil yang relevan dan siap pakai untuk kebutuhan industri. Signifikansi peran SMK menjadi krusial dalam mendukung agenda pembangunan ekonomi (Moejiono & Cahya, 2023; Salampessy & Suparman, 2019b; Way, 2022), khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki potensi industri strategis dan sumber daya alam yang melimpah (Jamlean & Tobi, 2020; Salampessy & Suparman, 2019a), termasuk Kabupaten Sorong (Eni, 2017; Paulus et al., 2016; Sirwan, 2020). Di kawasan ini, potensi sektor unggulan seperti energi, perikanan, dan agribisnis memerlukan human capital dengan kualifikasi teknis spesifik; oleh karena itu, keberhasilan fungsi SMK di Sorong sangat ditentukan oleh kualitas inti lembaga, yakni kompetensi pendidik yang mengajar di dalamnya. Meskipun peran SMK sentral dalam menyediakan tenaga kerja (Mukarima et al., 2024), permasalahan krusial yang terusmenerus muncul adalah kesenjangan (mismatch) yang persisten antara kompetensi lulusan dengan ekspektasi Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), sebuah masalah yang secara langsung berakar pada disparitas kompetensi guru. Disparitas ini tidak hanya terbatas pada keterampilan teknis atau pengoperasian alat baru, tetapi Wulandari, M. N., & Mariyam, S. Analisis Kesenjangan Kompetensi Pedagogis, Profesional, dan Teknologi di Kalangan Guru Sekolah Kejuruan. Jurnal Penelitian Tindakan Kelas tetapi meluas hingga kegagalan pedagogis guru dalam mengintegrasikan pembelajaran berbasis proyek (PBL) dan kasus nyata industri (Kosamah, 2017; Mardianti, 2018; Supriatna et al., 2020). Tantangan utama yang dihadapi oleh institusi pendidikan kejuruan saat ini terletak pada kecepatan adaptasi kurikulum yang la