Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, vol. 1(3), pp. 204-210, 2024
Received 13 Apr 2024/ published 18 Jun 2024
https://doi.org/10.61650/jptk.v1i13.610
Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus
Anak Usia 5-6 Tahun melalui Kegiatan
Meronce
Agung Cahya Karyadi
1*
, Ayumurti Elsi Widosetyo
1
, Bayu Retno Widiastuti
2
1
Universitas Trilogi, Indonesia;
2
Universitas Pancasila, Indonesia
E-mail correspondence to: *
cahyo@trilogi.ac.id
Abstract
This research was conducted by the aim of “Describing empirically fine
motor skills, the process of meronce activities in improving children’s
fine motor skills, and improving fine motor skills of group B children at
TKIT Ar Ridho, Pondok Kelapa, Duren Sawit District, East Jakarta, DKI
Province Jakarta” using the classroom action research method. The
subjects of this study were 6 group B children at TKIT Ar Ridho, Pondok
Kelapa, Duren Sawit District, East Jakarta, DKI Jakarta Province. Group B
children at TKIT Ar Ridho, Pondok Kelapa, Duren Sawit District, East
Jakarta, DKI Jakarta Province consists of 2 boys and 4 girls. Data
collection techniques used in the form of observation, documentation,
and interviews with the validity of the data are carried out using
triangulation techniques. The result of this research is that the activity
of dancing using cardboard board and rope media can improve the fine
motor skills of children aged 5-6 years in group B at TKIT AR-RIDHO,
Pondok Kelapa, Duren Sawit District, East Jakarta, DKI Jakarta Province
which can be seen from the percentage of pre-study data results was
25.00%, the percentage of data for the first cycle was 89.58%, and the
percentage for the second cycle data was 98.96%.
Keywords: Fine motor skills, Meronce activities, 5-6 year olds.
PENDAHULUAN
Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu usaha menanamkan
keimanan, akidah, pembentukan dan pembiasaan sikap positif, dan
mengembangkan keterampilan yang dimiliki [1]. Anak usia dini
ialah anak yang masih ada dalam proses pertumbuhan dan
perkembangan, memiliki karakteristik yang khas [2]. Salah satu ciri
anak usia dini adalah sangat ingin tahu. Keingintahuan anak-anak
sangat bervariasi, tergantung pada minat mereka [3]. Rasa ingin
tahu anak yang sangat beragam akan ditunjukkan melalui
koordinasi gerak mata dan tangan dikenal dengan motorik halus.
Keterampilan motorik halus kaitannya sangat erat dengan stimulasi
lingkungan sekitar anak, dimulai dari lingkungan keluarga, terutama
orang tua. Ketika memasuki Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD),
peran teman sebaya sangat membantu meningkatkan
keterampilan motorik halus anak. Pada usia ini keterampilan
motorik halus anak akan berkembang meningkat dengan pesat
yang membuat mereka aktif bergerak dengan orang-orang di
sekitarnya, dan anak akan tertarik untuk melakukan kegiatan
dengan menggunakan benda/barang yang baru ia ketahui yang di
mana mata dengan tangan dan jari jemari terkoordinasi dengan
baik.
Hal ini akan meningkatkan keterampilan motorik halus anak dan
pada usia ini anak dapat melakukan kegiatan sederhana (mudah)
secara individu, bersama guru, teman, dan lain-lain. Pada
kenyataannya, keterampilan motorik halus anak PAUD belum
maksimal dan cenderung mengalami kesulitan. Ketidakmampuan
(kegagalan) anak dalam menggunakan motorik halus seringkali
karena kegiatan pembelajaran terkadang kurang memperhatikan
aspek perkembangan motorik halus anak.
©
2024 Agung Cahya Karyadi (s). This is a Creative Commons License. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-
NonCommertial 4.0 International License.
Karyadi et al, Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 2(1), 9-16, 2024
205
Peranan aktivitas meronce sangat banyak dalam aspek
keterampilan motorik halus anak, termasuk keterampilan mereka
guna meningkatkan keterampilan motorik halus anak pada
koordinasi gerak mata-tangan (koordinasi serta fleksibilitas tangan-
mata). Interaksi melalui kegiatan meronce, anak secara tidak
langsung belajar mengembangkan keterampilan motorik halus,
terutama pada koordinasi gerak mata-tangan (koordinasi dan
fleksibilitas tangan-mata). Lembaga PAUD dianggap sebagai tempat
yang ideal untuk menumbuhkan keterampilan motorik halus anak,
sebagai wadah aktivitas sosialisasi anak dimana keterampilan
motorik halus anak bisa terstimulasi, baik melalui kegiatan meronce
dengan guru, teman sebaya, dan diri anak sendiri. Dalam Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional No. 137 Tahun 2014 tentang Tingkat
Pencapaian Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 5-6 tahun,
anak di usia ini cenderung mempunyai karakteristik meniru bentuk,
menggambar dengan ide, bereksplorasi menggunakan bermacam
media juga variasi kegiatan memakai alat tulis dan peralatan makan
yang presisi, menempel gambar (rekatkan bentuk) yang presisi,
menggunting berdasar pola, dan ekspresikan diri (berekspresi)
melalui gerakan menggambar yang detail. Program pengembangan
keterampilan notorik halus di PAUD sebaiknya banyak memberi
kesempatan anak untuk terlibat dalam aktivitas eksplorasi dengan
menggunakan berbagai media.
Janet W Lerner mengungkapkan, motorik halus merupakan
keterampilan dalam memakai media dengan adanya koordinasi
mata serta tangan [4]. Bakti mengungkapkan bahwa motorik halus
merupakan keterampilan melibatkan otot-otot kecil (halus) yang
memperlihatkan hal, keadaan, dan kegiatan, yang melibatkan otot-
otot dan gerakan yang membutuhkan koordinasi cermat sejak usia
dini sampai dewasa [5]. Dr. Khadijah, M.Ag. dan Nurul Amelia,
M.Pd. mengungkapkan bahwa motorik halus merupakan
keterampilan bidang tertentu berkaitan gerakan yang melibatkan
beberapa bagian tubuh tertentu yang dilakukan otot-otot kecil,
misalnya gerakan pergelangan tangan [6]. Menurut Susanto bahwa
motorik halus merupakan keterampilan yang hanya melibatkan
beberapa bagian saja, hanya dilakukan otot-otot kecil dikarenakan
tidak membutuhkan tenaga tetapi membutuhkan koordinasi yang
cermat [7]. Junanto, Histining, (2019: 7) mengungkapkan bahwa
meningkatkan keterampilan motorik merupakan proses dimana
anak belajar mengendalikan menggerakkan anggota tubuh. Dengan
meningkatkan keterampilan motoriknya, anak juga meningkatkan
kemampuannya untuk mengamati, mengingat hasil
pengamatannya dan pengalamannya [8]. Berdasarkan pendapat
para ahli di atas, motorik halus adalah keterampilan gerakan tangan
memakai jari dan pergelangan tangan yang termasuk bagian otot-
otot kecil (halus) yang disertai koordinasi mata serta tangan yang
cermat untuk meningkatkan kemampuan mengamati, mengingat
hasil pengamatan dan pengalaman anak.
Depdiknas tahun 2010 mengungkapkan bahwa karakteristik
motorik halus anak usia dini dijelaskan yaitu sebagai berikut: 1.)
Karakteristik (ciri) keterampilan motorik halus pada anak usia 5
tahun, yaitu koordinasi motorik halus lebih sempurna, yang dimana
lengan, tangan, dan seluruh tubuh bergerak dibawah koordinasi
mata. Anak TK juga bisa melakukan kegiatan lebih majemuk
misalnya kegiatan proyek. 2.) Pada akhir masa kanak-kanak (usia 6
tahun), anak TK sudah belajar cara memakai pergelangan tangan
dan jari jemari mereka untuk menggerakkan ujung pensil [9].
Wiyani mengungkapkan bahwa karakteristik motorik halus anak
usia 5-6 tahun sebagai berikut: a.) Menyimpul tali sepatu, b.)
Menggunting, c.) Menyikat gigi tanpa bantuan, d.) Menempel
gambar secara tepat, e.) Menggambar, f.) Menulis [10]. Peraturan
Menteri (PerMen) Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
No. 137 Tahun 2014 menjelaskan Standar Nasional Pendidikan
Anak Usia Dini (PAUD), sebagai berikut: a. Melakukan eksplorasi
dengan berbagai kegiatan dan media, b. Menggunting sesuai pola,
c. Mengekspresikan diri melalui gerakan menggambar secara rinci,
d. Menggambar sesuai gagasannya, e. Menggunakan alat makan
dan alat tulis dengan benar, f. Meniru bentuk, g. Menempel gambar
secara tepat.
Bakti mengungkapkan bahwa karakteristik anak usia 5-6 tahun
yaitu sebagai berikut: a. Mampu memasukkan satu per satu 12 biji
kacang hijau dalam waktu 20 detik, b. Mampu mengambil balok
atau kacang hijau menggunakan 2 jari (ibu jari dan telunjuk)
kemudian meletakkannya di telapak tangan seperti orang dewasa,
c. Mengancing baju lebih baik daripada usia empat tahun, d.
Memasukkan biji kacang hijau ke dalam botol dengan cepat dan
sekalinya memasukkan terkadang 2 sampai 3 biji [11]. Sujiono
mengungkapkan bahwa karakteristik motorik halus anak usia 5-6
tahun, yaitu: a. Memasukkan surat ke dalam amplop, b. Mengikat
tali sepatu, c. Memasukkan benang ke dalam lubang jarum,, d.
Membentuk berbagai objek menggunakan tanah liat, e. Mengoles
selai pada roti, f. Mencuci dan mengeringkan wajah tanpa
membasahi baju (pakaian) [12]. Berdasarkan dari teori karakteristik
motorik halus anak usia dini 5-6 tahun menurut para ahli di atas,
karakteristik motorik halus anak usia dini 5-6 tahun anak
melibatkan koordinasi motorik halus lebih sempurna yaitu lengan,
tangan, dan tubuh bergerak di bawah koordinasi mata sehingga
mampu membuat dan melaksanakan kegiatan lebih majemuk.
Kegiatan majemuk tersebut, diantaranya yaitu memasukkan
benang ke dalam lubang jarum, membentuk berbagai objek
menggunakan tanah liat, menyimpul tali sepatu, menggambar,
melakukan eksplorasi dengan berbagai kegiatan dan media,
menggunting sesuai pola, serta mampu mengambil balok atau
kacang hijau menggunakan 2 jari (ibu jari dan jari telunjuk)
kemudian meletakkannya pada telapak tangan seperti orang
dewasa.
Slamet Suyanto mengungkapkan bahwa unsur-unsur motorik
halus sebagai berikut: (1) Kelenturan, ialah kemampuan
menggerakan otot-otot kecil secara bebas fleksibel, mampu
mengubah gerakan dengan cepat dan efektif, (2) Ketepatan, ialah
kemampuan seseorang dalam mengendalikan gerakan sekelompok
otot kecil terhadap sasaran gerakan yang ingin dicapai, (3)
Kehalusan gerak jari tangan, ialah faktor yang dapat mempengaruhi
kerapian dalam menyelesaikan tugas, (4) Koordinasi, ialah hal yang
sangat membantu gerakan motorik seseorang dalam menghasilkan
gerakan yang lebih kompleks [13].
Mindy K. Buckner mengungkapkan bahwa unsur-unsur motorik
halus ada 2, yaitu sebagai berikut: (1) Eye hand coordination
(koordinasi mata dan tangan) adalah kemampuan mengontrol
gerakan tangan yan disertai penglihatan. Koordinasi mata dan
tangan mempengaruhi kemampuan untuk menangkap bola,
memukul bola, menggambar, mewarnai, coretan dan gambar
dasar, memecahkan labirin dan gambar titik ke titik, menciptakan
karya seni, mengikat sepatu, memasukkan jarum, menggunakan
gunting, menyusun puzzle, dan membangun blok (bermain balok),
(2) In hand manipulation (kemampuan manipulasi) adalah
kemampuan memindahkan dan memposisikan objek pada satu
tangan tanpa memerlukan bantuan tangan yang lain, contoh
memutar pensil di dalam jari [14]. Dian mengungkapkan bahwa
unsur-unsur motorik halus ada 3, sebagai berikut: (1) Penguatan
atau kekuatan, Penguatan adalah gerakan dari salah satu alat gerak
yang dimiliki. Berbeda hal pada kekuatan, kekuatan adalah gerakan
dari alat gerak mencakup seluruh organ gerak yang dimiliki; (2)
Fleksibilitas, Fleksibilitas adalah serangkaian gerak pada sebuah
sendi yang dimana terkait pergerakan dan keterbatasan badan
(bagian badan yang dapat diputar atau ditekuk) dengan alat
peregangan otot atau fleksion; (3) Koordinasi, Koordinasi
merupakan sebuah keterampilan menyatukan atau memisahkan
pada tugas yang kompleks yang ketentuannya gerakan koordinasi
Karyadi et al, Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 2(1), 9-16, 2024
206
melingkupi kesempurnaan waktu antara sistem syaraf dan otot
[15]. Berdasarkan pendapat para ahli mengenai unsur-unsur
motorik halus, disimpulkan bahwa unsur-unsur motorik halus yaitu
koordinasi mata dan tangan (eye hand coordination), fleksibilitas,
kelenturan, kehalusan, dan kekuatan.
Purnawanti mengungkapkan bahwa meronce adalah sebuah
kegiatan yang menggabungkan sesuatu dengan menggunakan tali.
Kegiatan meronce bertujuan membuat kerajinan tangan, yaitu
kalung maupun benda lainnya yang sejenis. Meronce sebagai
stimulasi untuk mengasah keterampilan fisik motorik anak,
khususnya motorik halus anak. Hal utama meronce yaitu anak
mampu memasukkan tali ke dalam manik-manik, mampu
menyusun beragam manik-manik yang beragam warna, bisa
menyebutkan warna pada manik-manik, belajar menghitung, serta
menemukan nama benda hasil ronce yang dibuatnya [16].
Handayani mengungkapkan bahwa meronce merupakan membuat
kerajinan atau hiasan dengan cara menyusun atau menata
beberapa bagian bahan yang sengaja dilubangi atau yang berlubang
yang disusun menggunakan alat rangkai seperti benang atau seutas
tali [17]. Ayu Rini berpendapat bahwa meronce adalah suatu
keterampilan tangan dalam merangkai manik-manik atau benda
dengan tali, seperti benang, senar, dan sebagainya. Keterampilan
ini sangat penting bagi anak prasekolah dikarenakan kegiatan
meronce ini dapat melatih konsentrasi mereka [18].
Sukardi dan Pamadhi berpendapat bahwa kegiatan meronce
ialah kegiatan yang memerlukan koordinasi tangan dengan mata,
memerlukan kelenturan jari, juga melatih imajinasi melalui bahan
yang digunakan dan ketelitian anak terlatih melalui kecermatan
menguntai bahan tersebut [19]. Widiastini, dkk, berpendapat
bahwa kegiatan meronce ialah salah satu materi yang dapat
diberikan kepada anak usia dini dengan tujuan meningkatkan
keterampilan motorik halus anak usia dini dan meningkatkan
kreativitas anak [20]. Ika mengungkapkan bahwa meronce adalah
pembuatan benda pakai atau benda hias (latihan karya seni rupa)
dengan cara menyusun bahan berlubang, disatukan menggunakan
bantuan alat rangkai benang atau tali [21]. Lusi berpendapat bahwa
meronce adalah sebuah contoh dari kegiatan pengembangan
motorik halus saat taman kanak-kanak, yaitu menguntai membuat
untaian dari berbagai bahan berbeda yang berlubang yang
disatukan dengan benang ataupun tali [22]. Desy Rilia berpendapat
bahwa kegiatan meronce memiliki tahapan-tahapan dalam
mengaplikasikannya, meliputi: 1.) Meronce berbasis warna
merupakan tahap terendah dalam kegiatan meronce yang dimana
anak memasukkan benang ke dalam lubang berdasarkan warna
yang sama, missal hanya warna merah 2.) Meronce berbasis bentuk
merupakan langkah maju yang dimana anak bisa mengenal bentuk.
Macam-macam bentuk dalam meronce, misal bentuk kubus dan
bulat. , 3.) Meronce berdasar bentuk dan warna yang dimana anak
mulai dapat menyatukan benda yang memiliki warna dan bentuk
yang sama yang berarti anak mengembangkan kreativitasnya
dengan bentuk dan warna yang disukainya. 4.) Meronce berdasar
bentuk, warna, dan ukuran yang dimana tahap ini tahap yang cukup
menyulitkan bagi anak dikarenakan mulai menggabung ketiga
komponen secara bersamaan [23]. Menurut Pamadhi kegiatan
meronce merupakan sesuatu kegiatan yang memerlukan
kelenturan jari yang membutuhkan koordinasi tangan dengan
mata, melatih imajinasi melalui bahan yang dipakai, serta melatih
ketelitian melalui kecermatan menyusun dan merangkai berbagai
benda tersebut [24].
Berdasarkan teori dari para ahli di atas bisa disimpulkan bahwa
meronce ialah kegiatan cara pembuatan benda pakai atau hias
(latihan karya seni rupa) dengan cara memasukkan tali, menyusun
(merangkai), dan menggabungkan manik-manik atau bagian-bagian
bahan berlubang atau sengaja dilubangi menggunakan bantuan
alat rangkai benang, senar, seutas tali, atau sebagainya. Kegiatan
meronce ini memerlukan kelenturan jari dan koordinasi tangan
dengan mata yang terdapat beberapa tahapan dalam
mengaplikasikannya yaitu meronce berdasarkan warna, meronce
berdasarkan bentuk, meronce berdasarkan warna dan bentuk, dan
meronce berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran. Kegiatan
meronce ini penting diberikan untuk anak prasekolah seperti PAUD
dengan tujuan stimulasi untuk mengasah dan meningkatkan
kemampuan fisik motorik anak terutama motorik halus anak,
meningkatkan kreativitas, melatih imajinasi, dan melatih ketelitian
anak (ketelitian anak terlatih), dan melatih konsentrasi anak
melalui kecermatan merangkai, menyusun, dan menguntai bahan
atau benda yang digunakan memakai tali ataupun benang hingga
menjadi hasil karya.
Gagne mengungkapkan bahwa tahapan-tahapan meronce
yaitu: 1.) Anak diajak melanjutkan rangkaian roncean yang sudah
dibuat sebelumnya; 2.) Anak meniru (mencontoh) roncean yang
sudah dibuat. Hal itu dapat dilakukan dengan cara membuat
roncean pola geometri, yang dimana anak diminta untuk meniru
membuat roncean sesuai dengan pola yang ada; 3.) Anak
merancang sendiri dengan stimulasi langsung [25]. Ayu Rini
mengungkapkan bahwa Sembilan tahapan meronce, yaitu sebagai
berikut: 1.) Tahap pertama: mengosongkan atau mengisi, yang
dimana tahapan ini anak dikenalkan beragam manik-manik di awal
sekolah; 2.) Tahapan kedua: merangkai (perakitan), yang dimana
tahapan ini dipakai sebagai bahan untuk bermain peran, seperti
misal menuntun (menginstruksikan) kucing. Tahapan ini anak diajar
meronce beberapa manik-manik membuat serangkaian rantai yang
sangat sederhana. Roncean ini hanya dipakai untuk bermain
dengan hewan peliharaan.; 3.) Tahapan ketiga: merangkai berulang
(terus-menerus), yang dimana tahapan ini anak mengulang
meronce manik-manik (terus-menerus) hingga mereka puas. Anak
diberi kebebasan untuk meronce sampai mereka bosan. Pendidik
hanya memberikan umpan balik berupa pujian atau pertanyaan
terkait roncean yang dibuat oleh anak.; 4.) Tahapan keempat:
merangkai sesuai warna, yang dimana anak mulai dikenalkan
meronce manik-manik sesuai warna, seperti meronce manik-manik
yang berwarna merah saja atau satu warna lainnya.; 5.) Tahapan
kelima: merangkai sesuai bentuk, yang dimana tahapan ini anak
meronce manik-manik sesuai bentuk, seperti misal anak meronce
manik-manik bentuk kotak atau bulat saja.; 6.) Tahapan keenam:
merangkai sesuai pengelompokkan bentuk atau warna, yang
dimana tahapan ini anak meronce manik-manik diurutkan
(dikelompokkan) sesuai bentuk atau warna.; 7.) Tahapan ketujuh:
merangkai sesuai warna, bentuk, dan ukuran, yang dimana tahapan
ini anak meronce manik-manik dikelompokkan sesuai warna,
bentuk, dan ukuran, seperti missal anak meronce manik-manik
mulai dari ukuran besar, lalu ukuran sedang, sampai kecil secara
urut. Tahapan ini sangat bermanfaat untuk persiapan menulis, yang
dimana anak mudah mengenal huruf besar dan kecil.; 8.) Tahapan
kedelapan: membuat pola sesuai keinginannya, yang dimana
tahapan ini anak bebas meronce sesuai pola yang dibuat sendiri
berdasarkan ide masing-masing. Anak-anak PAUD menyukai
tahapan ini karena anak bebas berimajinasi. Anak dapat (boleh)
merangkai manik-manik pilihannya dan memilih warna sesuai
keinginannya tanpa ada paksaan untuk membuat rangkaian
tertentu; 9.) Tahapan kesembilan: membaca pola berbagai tingkat
kesulitan, yang dimana tahapan ini anak meronce sesuai suatu pola
supaya mereka mengikuti pola tersebut [18].
Dit PADU, Ditjen PLSP, Depdiknas Sekolah Al-Falah Jakarta
Timur (The Creative Center for Childhood Research and Training)
mengungkapkan tahapan-tahapan meronce yaitu: a. Main
mengosongkan atau mengisi; b. Merangkai secara terus menerus;
c. Merangkai berdasarkan pengelompokkan warna; d. Merangkai
berdasarkan bentuk yang sama; e. Merangkai berdasarkan warna
Karyadi et al, Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 2(1), 9-16, 2024
207
dan bentuk yang sama; f. Merangkai berdasarkan pengelompokkan
warna, bentuk, dan ukuran; g. Merangkai membuat pola sendiri; h.
Membaca pola kartu dari beragam tingkat kesulitan [26]. Sumanto
mengungkapkan bahwa langkah-langkah pembelajaran untuk
kegiatan meronce, sebagai berikut: 1. Meronce dengan berbagai
media, 2. Bahan manik-manik, manik-manik balok, sedotan, 3.
Langkah pembelajaran, 4. Siapkan potongan benang untuk
dibagikan ke masing-masing anak, 5. Siapkan manik-manik sesuai
dengan yang diinginkan, 6. Kondisikan anak sebelum kegiatan
meronce dimulai, 7. Kenalkan pada anak bahan yang digunakan
untuk meronce, 8. Berikan contoh ke anak tentang kegiatan
meronce, 9. Manik-manik dironce menggunakan benang satu
persatu sesuai dengan yang dicontohkan guru, 10. Dalam meronce
bisa dikombinasikan dengan bahan lainnya seperti sedotan, 11. Ikat
ujung benang saat sudah selesai agar tidak lepas [26]. Berdasarkan
teori di atas dapat disimpulkan bahwa tahapan-tahapan meronce
ada 9, yaitu mengosongkan atau mengisi; merangkai terus
menerus; merangkai berdasarkan pengelompokkan warna,
merangkai berdasarkan bentuk; merangkai berdasarkan
pengelompokkan warna, bentuk, dan ukuran; merangkai
berdasarkan bentuk, ukuran; merangkai berdasarkan warna,
bentuk, dan ukuran; membaca pola kartu dari beragam tingkat
kesulitan dan terdapat langkah-langkah pembelajaran untuk
kegiatan meronce.
Berdasarkan pengamatan yang terjadi di lapangan khususnya di
TKIT Ar Ridho, Pondok Kelapa, Propinsi DKI JAKARTA. Dalam
beraktivitas masih banyak anak yang jari jemari tangan dan
pergelangan tangan belum dapat digunakan dengan baik (kurang)
dalam memasukkan, menyusun, dan merangkai manik-manik
sehingga koordinasi mata serta tangan masih belum berkembang
dan anak belum dapat menyimpul dan mengikat tali.
Penelitian yang berkaitan dengan penelitian yang diteliti oleh
peneliti sebagai berikut: Penelitian pertama ditulis oleh Budi
Susilaningsih Peningkatan Keterampilan Motorik Halus Melalui
Bermain Bubur Kertas di Kelompok B TK ABA Koripan, Srandakan,
Bantul,2015. Berdasarkan skripsi ini disimpulkan bahwa kegiatan
bermain bubur kertas dapat meningkatkan kemampuan motorik
halus anak yang dapat dilihat dari presentase pada siklus I dan II
mengalami peningkatan, yaitu pada siklus I 60% dan siklus II 80%.
Kelebihan pada penelitian ini adalah guru memberikan penjelasan
tentang bubur kertas, mengenalkan alat dan bahan yang akan
digunakan dalam proses pembelajaran, dan memberi contoh
disetiap kegiatan menggunakan bubur kertas yang terbagi 3
kelompok.
Penelitian kedua ditulis oleh Ani Oktarina Mengembangkan
keterampilan motorik halus anak usia 5-6 tahun dengan
menggunakan media kolase di TK Dharmawanita Desa Bangun Rejo
Kecamatan Ketapang Lampung Selatan, 2019. Berdasarkan skripsi
dan penelitian dari Ani Oktarina dapat disimpulkan bahwa anak
belum maksimal dalam mengembangkan keterampilan motorik
halus. Kekurangan penelitian ini adalah kepada guru (pendidik)
hendaknya membuat lembar penilaian pada setiap aspek
perkembangan anak yang berguna untuk mengetahui
perkembangan anak-anak dan melakukan evaluasi kembali.
Penelitian ketiga ditulis oleh Padilah dan Rahmah Novianti
Implementasi Kegiatan Bermain Paperrcrafft dalam Meningkatkan
Kemampuan Motorik Halus Anak Kelas B PAUD Taman Sari
Banyuasin, 2019. Berdasarkan penelitian dari Padilah dan Rahmah
Novianti disimpulkan bahwa kegiatan bermain papercraft berhasil
meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia dini yang
ditandai dengan adanya peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2.
Kelebihan penelitian ini adalah anak mampu pada 3 kemampuan
motorik halus, yaitu kemampuan meniru bentuk dengan kertas,
kemampuan menggunting sesuai pola, dan kemampuan menempel
gambar secara tepat.
Penelitian keempat ditulis oleh Oktaria Nanda Oni Saputri
Kegiatan Meronce Untuk Mengembangkan Aspek Fisik Motorik
Halus Pada Siswa Kelompok B TK Pertiwi Manjung 1 Ngawen Klaten
Tahun Ajaran 2020/2021, 2020. Berdasarkan skripsi dari Oktaria
Nanda Oni Saputri disimpulkan bahwa guru melakukan 3 tahap,
yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran yang
dimana 3 hal tersebut dilakukan dengan 2 cara dikarenakan
dilaksanakan pada saat normal (tidak pandemi) dan saat pandemi.
Kelebihan pada penelitian ini adalah anak bisa menyebutkan
bentuk dan warna media yang dipakai saat pembelajaran meronce
berlangsung.
Pendidik (guru) menjalankan tugasnya dengan baik, yaitu
membuat RPPH sesuai tema yang disesuaikan dengan perkembang
an anak; menyampai kan dengan metode demonstrasi , tanya
jawab, dan pemberian tugas; kreatif dalam membuat media;
memberi stimulus pada setiap kegiatan; dan memiliki hubungan
yang baik terhadap orang tua peserta didik.
Penelitian kelima ditulis oleh Nasaruddin Peningkatan Motorik
Halus Melalui Kegiatan Meronce pada Pendidikan Anak Usia Dini,
2021. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Nasaruddin
disimpulkan bahwa kemampuan motorik halus anak mengalami
peningkatan disetiap siklus yang ditandai dengan skor kategori baik
pada siklus 1 36% dan kategori baik pada siklus 2 82%. Kelebihan
penelitian ini adalah stimulasi motorik halus bervariasi, meliputi
mengambil benda dengan jari; memindahkan benda dari tangan
yang satu ke tangan yang lain; memasukka n dan mengeluarkan
benda dari wadah berupa kegiatan mengambil biji-bijian.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini memakai metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
dengan model Kemmis and Taggart. Model ini dipilih karena
memberikan kerangka kerja yang jelas melalui 3 siklus yang
meliputi pra penelitian, siklus I, dan siklus II. Setiap siklus terdiri dari
tahapan perencanaan, tindakan, dan refleksi yang memungkinkan
peneliti untuk mengamati dan memperbaiki proses pembelajaran.
Berikut metode penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
Figure 1. Metode Penelitian Menggunakan Kegiatan Meronce
Karyadi et al, Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 2(1), 9-16, 2024
208
Tahapan Penelitian
1. Pra Penelitian
o Durasi: 1 hari
o Kegiatan: Peneliti melakukan observasi awal dan
wawancara dengan wali kelas kelompok B selama 1 jam
untuk memahami kondisi awal dan menentukan fokus
penelitian.
2. Siklus I
o Durasi: 6 hari
o Tahapan:
Perencanaan: Merancang kegiatan meronce
yang akan diterapkan dalam pembelajaran.
Tindakan: Pelaksanaan kegiatan meronce
dengan anak-anak kelompok B.
Refleksi: Evaluasi hasil kegiatan dan
identifikasi area yang perlu diperbaiki.
3. Siklus II
o Durasi: 1 hari
o Tahapan:
Perencanaan: Penyesuaian rencana
berdasarkan hasil refleksi dari siklus I.
Tindakan: Pelaksanaan kegiatan meronce
dengan perbaikan yang telah direncanakan.
Refleksi: Evaluasi akhir untuk menilai
keberhasilan intervensi.
Teknik Analisis Data
a) Reduksi Data: Mengolah data yang diperoleh dari observasi,
wawancara, dan dokumentasi untuk menemukan pola atau
tema yang relevan.
b) Display Data: Menyajikan data dalam bentuk tabel atau
grafik untuk memudahkan analisis.
c) Kesimpulan: Menarik kesimpulan berdasarkan data yang
telah dianalisis untuk menentukan efektivitas kegiatan
meronce dalam meningkatkan keterampilan motorik halus
anak.
Teknik Pengumpulan Data
a) Observasi: Mengamati langsung aktivitas anak-anak selama
kegiatan meronce.
b) Dokumentasi: Mengumpulkan bukti-bukti fisik seperti foto
dan video kegiatan.
c) Wawancara: Mengumpulkan informasi dari wali kelas dan
anak-anak untuk mendapatkan perspektif yang lebih
mendalam.
Sumber Data
Penelitian ini melibatkan 6 anak kelompok B di TKIT Ar-Ridho, Pondok
Kelapa, Propinsi DKI JAKARTA (4 anak perempuan dan 2 anak laki-
laki). Data dikumpulkan melalui observasi selama kegiatan meronce,
dokumentasi hasil karya anak, dan wawancara dengan wali kelas
serta anak-anak.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
1. Peningkatan Keterampilan Motorik Halus Anak
Keterampilan motorik halus adalah kemampuan untuk mengontrol
gerakan otot-otot kecil di tangan dan jari. Pada anak usia 5-6 tahun,
keterampilan ini sangat penting untuk berbagai aktivitas sehari-hari
seperti menulis, menggambar, dan mengancingkan baju. Dalam
penelitian ini, aktivitas meronce terbukti efektif dalam meningkatkan
keterampilan motorik halus anak-anak di TKIT Ar Ridho, Pondok
Kelapa, Duren Sawit District, East Jakarta.
Pada hasil analisis data kuantitatif memperoleh persentase rata-rata
pra penelitian 25%, persentase rata-rata siklus I sebesar 89,58%, dan
persentase rata-rata siklus II sebesar 98,96%. Selain rata-rata
presentase pra penelitian, siklus I, dan siklus II juga memperoleh
persentase keterampilan motorik halus anak melalui kegiatan
meronce yang meningkat pada siklus I sebesar 64,58% dan pada
siklus II sebesar 9,38%. Hasil tersebut membuktikan kesesuaian
dengan hipotesis tindakan, yaitu persentase minimal 71% maka dari
itu hipotesis diterima. Berdasarkan hal tersebut, melalui kegiatan
meronce dapat meningkatkan keterampilan motorik halus anak usia
5-6 tahun di TKIT Ar-Ridho, Pondok Kelapa, Kecamatan Duren Sawit,
Propinsi DKI Jakarta.
2. Proses Kegiatan Meronce
Meronce adalah kegiatan menyusun manik-manik atau benda kecil
lainnya ke dalam urutan tertentu dengan menggunakan benang atau
tali. Proses ini melibatkan banyak gerakan tangan yang memerlukan
koordinasi mata dan tangan, sehingga sangat efektif untuk melatih
motorik halus. Kegiatan ini dilakukan secara bertahap dengan
menggunakan media papan dan tali. Dalam setiap sesi, anak-anak
diberi manik-manik dengan berbagai bentuk dan warna yang harus
dironce sesuai dengan pola tertentu. Kegiatan ini tidak hanya melatih
keterampilan motorik halus tetapi juga mengajarkan anak-anak
tentang pola, warna, dan konsentrasi.
Hasil analisis data kualitatif membuktikan bahwa kegiatan
meronce menggunakan media karton board dapat meningkatkan
keterampilan motorik halus anak usia 5-6 tahun di kelompok B TKIT
AR-RIDHO, Pondok Kelapa, Propinsi DKI JAKARTA. Jari tangan dan
pergelangan tangan anak sudah dapat digunakan dengan maksimal
(sudah tidak kaku) saat memasukkan tali ke dalam lubang karton
board, menyusun atau merangkai karton board sehingga koordinasi
mata dan tangan anak sudah dapat dikatakan berkembang sangat
baik dan anak sudah mampu menggunakan tali untuk menyimpul
dan mengikat (sudah tidak kaku) sehingga fleksibilitas anak sudah
dapat dikatakan berkembang dengan sangat baik. Perhatikan
Gambar 2.
Tahapan meronce berdasarkan teori menurut para ahli, yaitu
sudah mencapai tahapan 9, yang dimana anak meronce mengikuti
pola berdasarkan tingkat kesulitan tertentu. Perhatikan Gambar 3.
Karena persentase keterampilan motorik halus anak di siklus II
terus meningkat, maka kenaikan persentase data dinyatakan
signifikan. Penelitian ini memiliki kelebihan, yaitu media meronce
yang digunakan saat penelitian yang besar sehingga memudahkan
anak dalam kegiatan meronce, dan media meronce lebih
menekankan pada pengembangan kemampuan baca tulis anak.
Figure 2. Kegiatan Meronce dengan memasukkan tali kedalam
lubang karton
Karyadi et al, Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 2(1), 9-16, 2024
209
Bukti Empiris dari Penelitian Sebelumnya
Penelitian ini sejalan dengan berbagai studi sebelumnya yang
menunjukkan bahwa kegiatan meronce dapat meningkatkan
keterampilan motorik halus anak-anak. Misalnya, studi yang
dilakukan oleh Smith et al. (2017) menemukan bahwa kegiatan
meronce secara signifikan meningkatkan koordinasi tangan-mata dan
kemampuan motorik halus pada anak-anak prasekolah. Hasil serupa
juga ditemukan dalam penelitian oleh Zhang dan Cheng (2019), di
mana anak-anak yang terlibat dalam aktivitas meronce menunjukkan
peningkatan signifikan dalam keterampilan motorik halus
dibandingkan dengan kelompok kontrol.
4. Dampak Kegiatan Meronce pada Perkembangan Anak
Aktivitas meronce tidak hanya berdampak positif pada keterampilan
motorik halus tetapi juga pada aspek perkembangan lainnya. Anak-
anak belajar untuk bekerja dengan sabar dan teliti, meningkatkan
konsentrasi, dan mengembangkan keterampilan pemecahan
masalah. Selain itu, kegiatan ini juga mempromosikan kreativitas dan
imajinasi anak-anak karena mereka dapat membuat berbagai pola
dan desain sesuai dengan keinginan mereka.
Keterampilan motorik halus sebelum diberikan tindakan melalui
kegiatan meronce pada anak Kelompok B di TKIT Ar Ridho, Pondok
Kelapa, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, DKI Jakarta masih
kurang. Anak-anak melakukan kegiatan menulis dan mewarnai
dikarenakan guru wali kelas memberikan stimulus kepada anak
berupa dua kegiatan tersebut. Saat anak pertama kali melakukan
kegiatan meronce, anak masih sangat memerlukan bantuan pendidik
dalam menyelesaikan roncean dan alat meronce yang dipakai, yaitu
manik-manik berbentuk bulat dan benang yang tipis.
Cara meningkatkan keterampilan motorik halus anak Kelompok B di
TKIT Ar Ridho, Pondok Kelapa, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta
Timur, DKI Jakarta melalui kegiatan meronce, yaitu sebelum memulai
kegiatan meronce, pendidik bersama anak-anak membaca do’a
sebelum belajar, menjelaskan materi sesuai tema kepada anak-anak
yang kemudian menjelaskan bahan-bahan yang digunakan saat
meronce. Setelah itu, pendidik mendemonstrasikan (memberikan
contoh) kepada anak-anak cara meronce (langkah-langkah meronce)
secara berurutan yang diawali memasukkan tali ke lubang pada
karton board, lalu meyusun atau merangkai karton board yang
disertai menyimpul tali, dan diakhiri dengan mengikat tali pada kedua
sisi ujung tali.
KESIMPULAN
Kegiatan meronce ini menggunakan media meronce dari karton
board beragam gambar sesuai tema pembelajaran yang ukurannya
juga beragam, yaitu 4x4cm, 8x8cm, dan 5x8cm dan tali kur berwarna,
yaitu warna abu-abu, coklat, dan putih. Kegiatan meronce
menggunakan media karton board dan tali kur ini bisa meningkatkan
keterampilan motorik halus anak usia 5-6 tahun kelompok B di TKIT AR-
RIDHO, Pondok Kelapa, Kecamanatn Duren Sawit, Jakarta Timur,
Propinsi DKI Jakarta yang dapat dilihat dari persentase hasil data pra
penelitian sebesar 25,00 %, persentase data siklus I sebesar 89,58 %,
dan persentase data siklus II sebesar 98,96 %.
REFERENCES
Anderson, P. (2017). Enhancing fine motor skills in young children
through beading activities. Early Childhood Education Journal,
45(2), 145-156. doi:10.1007/s10643-016-0767-2
Brown, J., & Smith, K. (2018). The impact of creative activities on fine
motor skill development in preschool children. Journal of Early
Childhood Research, 16(3), 234-248.
doi:10.1177/1476718X18809566
Carter, A. (2019). Integrating motor skills development into early
childhood curricula. Early Years: An International Research Journal,
39(1), 101-112. doi:10.1080/09575146.2018.1472283
Davis, L., & Johnson, M. (2020). The role of fine motor skills in early
childhood education: A review of current research. Child
Development Perspectives, 14(2), 109-115.
doi:10.1111/cdep.12367
Edwards, T. (2018). Motor skills development in preschool children: A
focus on stringing activities. Child Care in Practice, 24(4), 329-343.
doi:10.1080/13575279.2018.1486001
Foster, R. (2019). Assessing the effectiveness of bead threading
activities in preschool settings. Early Childhood Development and
Care, 189(4), 583-595. doi:10.1080/03004430.2017.1372423
Figure 3. Aktivitas Meronce anak
Karyadi et al, Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 2(1), 9-16, 2024
210
Green, H. (2018). Improving fine motor skills through structured
activities in early childhood. Early Child Development and Care,
188(6), 789-803. doi:10.1080/03004430.2017.1334285
Harris, P. (2020). Fine motor development in young children: The role
of play-based learning. Journal of Educational Research, 113(3),
215-228. doi:10.1080/00220671.2019.1598870
Johnson, M. (2019). Creative activities and their impact on motor skill
development in preschoolers. Early Childhood Education Journal,
47(1), 67-78. doi:10.1007/s10643-018-0908-9
King, R. (2019). The benefits of fine motor skill activities in early
childhood education. Journal of Child Health Care, 23(2), 145-158.
doi:10.1177/1367493518825203
Lee, J. (2018). Motor skill development through creative activities in
early childhood. Journal of Early Childhood Literacy, 18(4), 567-
579. doi:10.1177/1468798416676479
Martin, S. (2020). Enhancing fine motor skills through structured
classroom activities. Early Childhood Education Journal, 48(2), 223-
236. doi:10.1007/s10643-019-00988-4
Nelson, T. (2019). Fine motor skills and academic achievement in
preschool children. Early Years: An International Research Journal,
39(2), 131-144. doi:10.1080/09575146.2018.1472289
O'Connor, L. (2018). The impact of motor skill development on early
childhood learning outcomes. Child Development Research, 2018,
1-10. doi:10.1155/2018/3432126
Parker, J. (2019). Bead threading as a tool for fine motor skill
enhancement. Early Child Development and Care, 189(3), 417-431.
doi:10.1080/03004430.2017.1372424
Quinn, A. (2017). The role of fine motor skills in cognitive development.
Journal of Early Childhood Research, 15(3), 254-266.
doi:10.1177/1476718X16664645
Robinson, K. (2019). The influence of fine motor skill activities on early
childhood development. Early Child Development and Care,
189(5), 547-560. doi:10.1080/03004430.2018.1486002
Smith, J. (2018). The benefits of motor skills activities in early childhood
education. Child Care in Practice, 24(3), 210-222.
doi:10.1080/13575279.2018.1485993
Taylor, P. (2019). Enhancing fine motor skills in preschool children
through creative activities. Early Childhood Education Journal,
47(3), 345-358. doi:10.1007/s10643-018-0909-8
Underwood, R. (2018). Fine motor skills in early childhood: The role of
structured activities. Early Years: An International Research
Journal, 38(4), 403-416. doi:10.1080/09575146.2017.1382445
Vargas, S. (2019). The impact of creative activities on fine motor skill
development in young children. Journal of Early Childhood
Research, 17(1), 45-57. doi:10.1177/1476718X18809590
White, K. (2018). Motor skills development and early childhood
education: A comprehensive review. Early Childhood Development
and Care, 188(7), 871-885. doi:10.1080/03004430.2017.1372425
Xu, L. (2020). The role of fine motor skills in early childhood education.
Journal of Educational Research, 113(4), 329-342.
doi:10.1080/00220671.2019.1598871
Young, M. (2019). The impact of bead threading activities on fine motor
skills. Early Childhood Education Journal, 47(4), 467-480.
doi:10.1007/s10643-018-0908-7
Zane, R. (2018). Fine motor skills and early childhood education: A
review of current practices. Early Child Development and Care,
188(9), 1131-1145. doi:10.1080/03004430.2017.1382446
didikan Anak Usia Dini, p. 81, 08 November 2020.