
Karyadi et al, Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 2(1), 9-16, 2024
Peranan aktivitas meronce sangat banyak dalam aspek
keterampilan motorik halus anak, termasuk keterampilan mereka
guna meningkatkan keterampilan motorik halus anak pada
koordinasi gerak mata-tangan (koordinasi serta fleksibilitas tangan-
mata). Interaksi melalui kegiatan meronce, anak secara tidak
langsung belajar mengembangkan keterampilan motorik halus,
terutama pada koordinasi gerak mata-tangan (koordinasi dan
fleksibilitas tangan-mata). Lembaga PAUD dianggap sebagai tempat
yang ideal untuk menumbuhkan keterampilan motorik halus anak,
sebagai wadah aktivitas sosialisasi anak dimana keterampilan
motorik halus anak bisa terstimulasi, baik melalui kegiatan meronce
dengan guru, teman sebaya, dan diri anak sendiri. Dalam Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional No. 137 Tahun 2014 tentang Tingkat
Pencapaian Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 5-6 tahun,
anak di usia ini cenderung mempunyai karakteristik meniru bentuk,
menggambar dengan ide, bereksplorasi menggunakan bermacam
media juga variasi kegiatan memakai alat tulis dan peralatan makan
yang presisi, menempel gambar (rekatkan bentuk) yang presisi,
menggunting berdasar pola, dan ekspresikan diri (berekspresi)
melalui gerakan menggambar yang detail. Program pengembangan
keterampilan notorik halus di PAUD sebaiknya banyak memberi
kesempatan anak untuk terlibat dalam aktivitas eksplorasi dengan
menggunakan berbagai media.
Janet W Lerner mengungkapkan, motorik halus merupakan
keterampilan dalam memakai media dengan adanya koordinasi
mata serta tangan [4]. Bakti mengungkapkan bahwa motorik halus
merupakan keterampilan melibatkan otot-otot kecil (halus) yang
memperlihatkan hal, keadaan, dan kegiatan, yang melibatkan otot-
otot dan gerakan yang membutuhkan koordinasi cermat sejak usia
dini sampai dewasa [5]. Dr. Khadijah, M.Ag. dan Nurul Amelia,
M.Pd. mengungkapkan bahwa motorik halus merupakan
keterampilan bidang tertentu berkaitan gerakan yang melibatkan
beberapa bagian tubuh tertentu yang dilakukan otot-otot kecil,
misalnya gerakan pergelangan tangan [6]. Menurut Susanto bahwa
motorik halus merupakan keterampilan yang hanya melibatkan
beberapa bagian saja, hanya dilakukan otot-otot kecil dikarenakan
tidak membutuhkan tenaga tetapi membutuhkan koordinasi yang
cermat [7]. Junanto, Histining, (2019: 7) mengungkapkan bahwa
meningkatkan keterampilan motorik merupakan proses dimana
anak belajar mengendalikan menggerakkan anggota tubuh. Dengan
meningkatkan keterampilan motoriknya, anak juga meningkatkan
kemampuannya untuk mengamati, mengingat hasil
pengamatannya dan pengalamannya [8]. Berdasarkan pendapat
para ahli di atas, motorik halus adalah keterampilan gerakan tangan
memakai jari dan pergelangan tangan yang termasuk bagian otot-
otot kecil (halus) yang disertai koordinasi mata serta tangan yang
cermat untuk meningkatkan kemampuan mengamati, mengingat
hasil pengamatan dan pengalaman anak.
Depdiknas tahun 2010 mengungkapkan bahwa karakteristik
motorik halus anak usia dini dijelaskan yaitu sebagai berikut: 1.)
Karakteristik (ciri) keterampilan motorik halus pada anak usia 5
tahun, yaitu koordinasi motorik halus lebih sempurna, yang dimana
lengan, tangan, dan seluruh tubuh bergerak dibawah koordinasi
mata. Anak TK juga bisa melakukan kegiatan lebih majemuk
misalnya kegiatan proyek. 2.) Pada akhir masa kanak-kanak (usia 6
tahun), anak TK sudah belajar cara memakai pergelangan tangan
dan jari jemari mereka untuk menggerakkan ujung pensil [9].
Wiyani mengungkapkan bahwa karakteristik motorik halus anak
usia 5-6 tahun sebagai berikut: a.) Menyimpul tali sepatu, b.)
Menggunting, c.) Menyikat gigi tanpa bantuan, d.) Menempel
gambar secara tepat, e.) Menggambar, f.) Menulis [10]. Peraturan
Menteri (PerMen) Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
No. 137 Tahun 2014 menjelaskan Standar Nasional Pendidikan
Anak Usia Dini (PAUD), sebagai berikut: a. Melakukan eksplorasi
dengan berbagai kegiatan dan media, b. Menggunting sesuai pola,
c. Mengekspresikan diri melalui gerakan menggambar secara rinci,
d. Menggambar sesuai gagasannya, e. Menggunakan alat makan
dan alat tulis dengan benar, f. Meniru bentuk, g. Menempel gambar
secara tepat.
Bakti mengungkapkan bahwa karakteristik anak usia 5-6 tahun
yaitu sebagai berikut: a. Mampu memasukkan satu per satu 12 biji
kacang hijau dalam waktu 20 detik, b. Mampu mengambil balok
atau kacang hijau menggunakan 2 jari (ibu jari dan telunjuk)
kemudian meletakkannya di telapak tangan seperti orang dewasa,
c. Mengancing baju lebih baik daripada usia empat tahun, d.
Memasukkan biji kacang hijau ke dalam botol dengan cepat dan
sekalinya memasukkan terkadang 2 sampai 3 biji [11]. Sujiono
mengungkapkan bahwa karakteristik motorik halus anak usia 5-6
tahun, yaitu: a. Memasukkan surat ke dalam amplop, b. Mengikat
tali sepatu, c. Memasukkan benang ke dalam lubang jarum,, d.
Membentuk berbagai objek menggunakan tanah liat, e. Mengoles
selai pada roti, f. Mencuci dan mengeringkan wajah tanpa
membasahi baju (pakaian) [12]. Berdasarkan dari teori karakteristik
motorik halus anak usia dini 5-6 tahun menurut para ahli di atas,
karakteristik motorik halus anak usia dini 5-6 tahun anak
melibatkan koordinasi motorik halus lebih sempurna yaitu lengan,
tangan, dan tubuh bergerak di bawah koordinasi mata sehingga
mampu membuat dan melaksanakan kegiatan lebih majemuk.
Kegiatan majemuk tersebut, diantaranya yaitu memasukkan
benang ke dalam lubang jarum, membentuk berbagai objek
menggunakan tanah liat, menyimpul tali sepatu, menggambar,
melakukan eksplorasi dengan berbagai kegiatan dan media,
menggunting sesuai pola, serta mampu mengambil balok atau
kacang hijau menggunakan 2 jari (ibu jari dan jari telunjuk)
kemudian meletakkannya pada telapak tangan seperti orang
dewasa.
Slamet Suyanto mengungkapkan bahwa unsur-unsur motorik
halus sebagai berikut: (1) Kelenturan, ialah kemampuan
menggerakan otot-otot kecil secara bebas fleksibel, mampu
mengubah gerakan dengan cepat dan efektif, (2) Ketepatan, ialah
kemampuan seseorang dalam mengendalikan gerakan sekelompok
otot kecil terhadap sasaran gerakan yang ingin dicapai, (3)
Kehalusan gerak jari tangan, ialah faktor yang dapat mempengaruhi
kerapian dalam menyelesaikan tugas, (4) Koordinasi, ialah hal yang
sangat membantu gerakan motorik seseorang dalam menghasilkan
gerakan yang lebih kompleks [13].
Mindy K. Buckner mengungkapkan bahwa unsur-unsur motorik
halus ada 2, yaitu sebagai berikut: (1) Eye hand coordination
(koordinasi mata dan tangan) adalah kemampuan mengontrol
gerakan tangan yan disertai penglihatan. Koordinasi mata dan
tangan mempengaruhi kemampuan untuk menangkap bola,
memukul bola, menggambar, mewarnai, coretan dan gambar
dasar, memecahkan labirin dan gambar titik ke titik, menciptakan
karya seni, mengikat sepatu, memasukkan jarum, menggunakan
gunting, menyusun puzzle, dan membangun blok (bermain balok),
(2) In hand manipulation (kemampuan manipulasi) adalah
kemampuan memindahkan dan memposisikan objek pada satu
tangan tanpa memerlukan bantuan tangan yang lain, contoh
memutar pensil di dalam jari [14]. Dian mengungkapkan bahwa
unsur-unsur motorik halus ada 3, sebagai berikut: (1) Penguatan
atau kekuatan, Penguatan adalah gerakan dari salah satu alat gerak
yang dimiliki. Berbeda hal pada kekuatan, kekuatan adalah gerakan
dari alat gerak mencakup seluruh organ gerak yang dimiliki; (2)
Fleksibilitas, Fleksibilitas adalah serangkaian gerak pada sebuah
sendi yang dimana terkait pergerakan dan keterbatasan badan
(bagian badan yang dapat diputar atau ditekuk) dengan alat
peregangan otot atau fleksion; (3) Koordinasi, Koordinasi
merupakan sebuah keterampilan menyatukan atau memisahkan
pada tugas yang kompleks yang ketentuannya gerakan koordinasi