Dalam penelitian ini didukung dengan beberapa penelitian
terdahulu yang membahas mengenai meningkatkan kemampuan
berpikir kritis siswa dengan pendekatan CTL melalui model
pembelajaran berbasis masalah yang diteliti oleh A Sianturi.
Penelitian terdahulu lainnya yang membahas tentang model
pembelajaran berbasis masalah antara lain A. Puji dkk, Desy Triana
Dewi, Richa Auliya mengenai model pembelajaran berbasis
masalah untuk meningkatkan berpikir kritis, dan A Sukmawati
mengenai analisis pembelajaran berbasis masalah untuk
meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Peneliti ingin melakukan
sesuatu yang berbeda berdasarkan berbagai penelitian yang telah
disebutkan di atas, khususnya menyelidiki bagaimana paradigma
PBL dapat diterapkan dengan materi pembelajaran papan ajaib
untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. MTs Nurul
Huda adalah sebuah yayasan yang berada ditengah-tengah desa
sehingga jauh dari gangguan suara kendaraan bermotor. Di yayasan
ini siswa-siswinya mempunyai karakter dan semangat belajar yang
tinggi serta rasa keingintahuannya yang tinggi. Penelitian ini
dilakukan agar tercipta suasana kelas yang lebih nyaman dan
efisien, sehingga apa yang disampaikan oleh guru tidak terbuang
sia-sia. Siswa diajak untuk terlibat dalam kegiatan belajar mengajar
tersebut sehingga siswa dijadikan sebagai student center sesuai
dengan kurikulum yang digunakan. Dalam pengalamannya guru
juga mendapatkan inspirasi dari salah satu model pembelajarang
yang sangat beragam sehingga akan menciptakan suatu
kemampuan berpikir kritis siswa yang nantinya akan digunakan
dalam meng analisis suatu permasalahan ataupun soal yang mereka
hadapi dengan lebih cermat dan seksama.
Metode Penelitian
Pada Strategi kualitatif digunakan dalam rencana ini.
Pendekatan ini digunakan untuk mengevaluasi kemampuan
berpikir kritis siswa setelah dilakukan tindakan. Jenis penelitian ini
menggunakan penelitian tindakan kelas. Untuk menyampaikan
pengajaran berkualitas tinggi, instruktur terlibat dalam penelitian
tindakan kelas, semacam proyek penelitian yang bertujuan untuk
mencoba ide-ide baru dan memecahkan masalah dengan siswanya
(Abdillah et al., 2021; Jacub et al., 2020; Ph.D et al., 2022).
Penelitian ini diikuti oleh dua puluh empat siswa kelas VII MTs Nurul
Huda. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan teknik PTK.
Proyek penelitian ini dibagi menjadi dua siklus. Dalam satu siklus
terdapat tiga kali pertemuan.
Robyn McTaggart dan Stephen Kemmis menyediakan PTK yang
dimanfaatkan. Menurut Purnama dkk. (2020), paradigma ini
memiliki empat tahapan: perencanaan (plan), tindakan (act),
pengamatan (observing), dan refleksi. Setiap langkah dilengkapi
dengan observasi yang dilakukan guna menyediakan data
penelitian. Tujuan penelitian diukur setelah data dikumpulkan.
Analisis data deskriptif kuantitatif dan kualitatif digunakan.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil prasiklus, dimana kemampuan berpikir kritis
siswa masih berada pada tingkat yang relatif rendah, maka
dilakukan penelitian tindakan kelas di MTs Nurul Huda. Proses
pembelajaran tetap menggunakan model pembelajaran yang
berpusat pada pendidik. Para ahli di bidang matematika diajak
berkonsultasi, dan ditentukan bahwa strategi pengajaran serta
media yang inovatif dan sesuai diperlukan untuk memecahkan
masalah ini. Pendekatan pembelajaran tambahan yang dapat
diterapkan disebut pembelajaran berbasis masalah (PBL). Selain itu,
harus ditingkatkan dengan sumber daya pengajaran yang relevan,
seperti bahan papan ajaib.
Sesuai temuan penelitian pada tahap pra siklus, siklus I dan
siklus II. Pada tahap prasiklus, kemampuan berpikir kritis siswa
meningkat rata-rata sebesar 43,75, dan pada siklus I meningkat
sebesar 48%. Pada siklus I rata-rata nilai tes siswa sebesar 64,58;
pada siklus II skornya meningkat sebesar 39%. Siswa memperoleh
nilai ujian sebesar 89,58 pada siklus II dengan persentase
peningkatan akhir sebesar 105% dari pra siklus ke siklus II. Hasil ini
termasuk dalam rentang “sangat baik” pada skala Likert. Selain itu,
penyelidikan ini memenuhi tujuan yang diperkirakan sebesar ≥70%.
Sehingga penggunaan pembelajaran sejarah dengan paradigma
Problem Based Learning (PBL) dengan media magic board dapat
meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
Pelaksanaan siklus II dapat ditingkatkan dengan bantuan hasil
refleksi siklus I. Berikut ini adalah penyempurnaan tersebut:
1) Untuk mengkondisikan kelas dan siswa saat berdiskusi serta
memfasilitasi pembelajaran yang efektif dan efisien, maka
pengajar harus mampu memberikan komentar yang tegas.
2) Pendidik perlu mendorong siswa untuk berpikir kritis dan
menginspirasi mereka untuk lebih berani menyuarakan
pemikirannya ketika memberikan presentasi di depan kelas.
3) Guru harus siap mendukung siswa yang mengajukan
pertanyaan atau menyuarakan gagasannya secara pasif.
4) Guru harus memiliki pemahaman yang kuat terhadap materi
pelajaran agar siswa lebih mudah memahami isi persamaan
linear satu variabel dan agar model Problem Based Learning
(PBL) yang menggunakan media papan ajaib dapat berfungsi
secara efektif.
5) Untuk menyesuaikan pengajaran dengan waktu yang
diberikan, guru perlu menjadi manajer waktu yang mahir.
Pendidik perlu mengawasi siswanya selama penilaian ujian
untuk mencegah kecurangan dan meminta bantuan teman. Jika
menggunakan SPSS pada hasil pra-siklus dan siklus 1 menghasilkan
nilai Sig. Sebesar 0.000 dengan sebesar 0,005 sehingga nilai sig
kurang dari nilai a dan keputusan yang diambil adalah hipotesis
ditolak sehingga terjadi peningkatan pada siklus 1.
Sedangkan nilai Sig meningkat dari siklus 1 ke siklus 2. Karena
0,000 lebih kecil dari nilai alpha 0,005, maka hipotesis bahwa model
PBL dengan media pembelajaran magic board meningkatkan
kemampuan berpikir kritis siswa terdukung. Model Poblem Based
Learning dengan Media Magic Board dapat meningkatkan
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa MTs Nurul Huda pada materi
Sistem Persamaan Linier Satu Variabel, sesuai tabel Paired Sample
Test diatas.
Pembahasan
Berpikir Kritis
Pemecahan masalah, berpikir analitis dan kreatif, analisis
masalah, dan visualisasi merupakan contoh kemampuan berpikir
tingkat tinggi. (Rahardhian, 2022) Berpikir kritis, menurut Pikket &
Foster, adalah proses kognitif tingkat tinggi yang melampaui
menghafal dan mencakup penggunaan pengetahuan yang
diperoleh sebelumnya dalam situasi baru (Widodo & Katminingsih,
2022). Kemampuan berpikir kritis menurut Fristadi dan Bharata
(2015) adalah kemampuan memecahkan masalah dengan melihat
suatu konsep dari berbagai sudut pandang guna meningkatkan
berpikir logistik. Ennis menyatakan bahwa tujuan berpikir kritis
adalah untuk membantu kita dalam mengambil keputusan yang
rasional sehingga kita dapat bertindak sesuai dengan fakta yang kita
rasa paling tepat (Wiyana Pertiwi, 2018).
Instrumen berpikir kritis mempunyai dua belas ukuran
keterampilan berpikir kritis, menurut Ennis (1996). Kemampuan
memberikan penjelasan, menarik kesimpulan, mengasah
keterampilan dasar, dan memberikan penjelasan secara ringkas
dan langsung merupakan lima kategori yang terbagi dalam
indikator-indikator tersebut. Alat penilaian berpikir kritis adalah
metode atau tes yang digunakan untuk mengevaluasi kemampuan
berpikir kritis seseorang. (Yanti,nd). Menurut Nurozakiyah Fadilah
Rizki, Lai (Apiati & Hermanto, 2020), keterampilan berpikir kritis
meliputi: menganalisis argumen, klaim, atau bukti; merumuskan
keputusan atau memecahkan masalah; menarik kesimpulan
melalui penalaran induktif atau deduktif; dan penilaian atau
penilaian (Euis Nurozakiyah Fadilah Rizky & teni sritesna, 2021).