Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, vol. 1 (3), pp. 152-155, 2024
Received 16 Des 20234/ published 20 Jan 2024
https://doi.org/10.61650/jptk.v1i3.367
Penerapan Model Problem Based Learning
Dengan Media Pembelajaran Magic Board
Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir
Kritis
Ulfa Sadina Mukarima
1
, Wawan
2
, Agus Setiawan
3
, Eka Fitria Ningsih
4
, Choirudin
5
Universitas Ma’arif Lampung, Indonesia
E-mail correspondence to:
nurmukharom1945@gmai.com
Abstrak
Perangkat Kemampuan Pemecahan masalah, visualisasi, dan
keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan analitis semuanya termasuk
dalam bidang bakat berpikir tingkat tinggi. Siswa menerapkan
kemampuan berpikir kritis untuk memecahkan masalah dan memahami
ide. Untuk menunjang derajat berpikir kritis diperlukan gaya belajar
yang inovatif seperti Problem Based Learning. Pembelajaran berbasis
masalah (PBL) merupakan salah satu paradigma pembelajaran yang
digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam paradigma yang
berpusat pada siswa ini, siswa akan mengatasi berbagai masalah dunia
nyata. Selain itu, sumber daya instruksional seperti alat pembelajaran
Magic Board dapat memfasilitasi pembelajaran. Yayasan pendidikan
MTs Nurul Huda memenuhi kebutuhan siswa yang dinilai memiliki
kemampuan berpikir kritis rendah dengan menerapkan paradigma
pembelajaran student center. Teknik penelitian tindakan kelas yang
digunakan dalam penelitian ini adalah dua siklus. Hasil siklus I sebesar
64,58, hasil siklus II sebesar 89,58, dan nilai pra siklus sebesar 43,75.
Berdasarkan persentase peningkatannya, terdapat peningkatan sebesar
48% dari prasiklus ke siklus I, peningkatan sebesar 39% dari siklus I ke
siklus II, dan peningkatan sebesar 105% dari prasiklus ke siklus II.
Penelitian ini mendapat penilaian sangat baik pada skala Likert dan
mencapai tujuan prediksi 70%.
Keywords: Berpikir Kritis; Magic Board; Problem Based Learning.
Pendahuluan
Suatu alat atau sumber yang digunakan untuk membantu dalam
proses pembelajaran matematika dikenal sebagai media
pembelajaran matematika. (Agus Widianto, 2016) . Meskipun
media pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman dan
keterlibatan siswa dalam matematika, dalam penerapannya sering
terdapat permasalahan yang sering muncul. Perbedaan dalam
tingkat keterampilan teknologi dan pemahaman matematika di
antara siswa dapat menjadi permasalahan. Penggunaan media
pembelajaran matematika dapat menjadi solusi yang baik untuk
mengatasi masalah kebosanan di kelas. Siswa yang cepat bosan
dalam pembelajaran matematika mungkin menghadapi tantangan
dalam mempertahankan perhatian mereka terhadap materi yang
diajarkan dengan metode konvensional.
Sebagian besar model pembelajaran dapat digunakan untuk
meningkatkan pemikiran kritis. Semua model pembelajaran
memiliki tujuan dan struktur yang berbeda, tetapi semua memiliki
tujuan yang sama untuk memaksimalkan hasil pembelajaran (agus
jayadi et al., 2019). Salah satunya adalah paradigma pembelajaran
berbasis masalah (PBL) yang melibatkan siswa sebagai pusat
pembelajaran atau student center (Hirani, 2018.). Tantangan dunia
nyata, belajar dalam kelompok yang dinamis, mendeteksi
kesenjangan pengetahuan, mencari dan mempelajari sendiri
materi yang relevan, dan pemecahan masalah adalah semua aspek
pembelajaran berbasis masalah (PBL).
Tingkat kemampuan berpikir kritis di Indonesia dapat bervariasi
secara signifikan antar individu, kelompok usia, pendidikan, dan
lingkungan (elvis napitupulu et al., 2018). Kemampuan seseorang
untuk menganalisis, menyalakan, dan memecahkan masalah
dengan cara yang logis, rasional, dan objektif atau yang lebih
dikenal dengan kemampuan berpikir kritis. Dari hasil observasi
lapangan di MTs Nurul Huda terdapat beberapa permasalahan yang
muncul ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Seperti diketahui bahwa siswa memiliki tingkat kemampuan
berpikir yang rendah ,hal itu dapat dilihat dari rendahnya
kemampuan menjawab dan memberi penjelasan ketika guru
memberikan suata pertanyaan, sebagian siswa memiliki
kemampuan memecahkan masalah dan dalam memberi
argumentasi yang rendah, berbohong, tidak memperhatikan guru,
berinteraksi dengan sesama teman Hal ini tentu saja menjadi suatu
masalah bagi guru karena materi yang disampaikan tidak
tersalurkan secara baik. Hal ini berkontribusi pada rendahnya
kemampuan berpikir kritis anak. Hasil belajar dan prestasi siswa
dipengaruhi oleh hal ini. Lima komponen kemampuan berpikir kritis
adalah: Memberikan kesimpulan; Meningkatkan keterampilan
dasar; Mampu memberikan penjelasan; dan Penjelasan singkat dan
sederhana (Ennis, 1996). Kedua belas indikasi kemampuan berpikir
kritis ini kemudian dimasukkan ke dalam lima unsur kemampuan
berpikir kritis (mega safira, 2021).
©
2024 Ulfa Sadina Mukarima (s). This is a Creative Commons License. This work is licensed under a Creative Commons
Attribution-NonCommertial 4.0 International License.
Ulfa Sadina Mukarima et al, Penerapan Model Problem Based Learning... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (3), 152-153, 2024
153
Dalam penelitian ini didukung dengan beberapa penelitian
terdahulu yang membahas mengenai meningkatkan kemampuan
berpikir kritis siswa dengan pendekatan CTL melalui model
pembelajaran berbasis masalah yang diteliti oleh A Sianturi.
Penelitian terdahulu lainnya yang membahas tentang model
pembelajaran berbasis masalah antara lain A. Puji dkk, Desy Triana
Dewi, Richa Auliya mengenai model pembelajaran berbasis
masalah untuk meningkatkan berpikir kritis, dan A Sukmawati
mengenai analisis pembelajaran berbasis masalah untuk
meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Peneliti ingin melakukan
sesuatu yang berbeda berdasarkan berbagai penelitian yang telah
disebutkan di atas, khususnya menyelidiki bagaimana paradigma
PBL dapat diterapkan dengan materi pembelajaran papan ajaib
untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. MTs Nurul
Huda adalah sebuah yayasan yang berada ditengah-tengah desa
sehingga jauh dari gangguan suara kendaraan bermotor. Di yayasan
ini siswa-siswinya mempunyai karakter dan semangat belajar yang
tinggi serta rasa keingintahuannya yang tinggi. Penelitian ini
dilakukan agar tercipta suasana kelas yang lebih nyaman dan
efisien, sehingga apa yang disampaikan oleh guru tidak terbuang
sia-sia. Siswa diajak untuk terlibat dalam kegiatan belajar mengajar
tersebut sehingga siswa dijadikan sebagai student center sesuai
dengan kurikulum yang digunakan. Dalam pengalamannya guru
juga mendapatkan inspirasi dari salah satu model pembelajarang
yang sangat beragam sehingga akan menciptakan suatu
kemampuan berpikir kritis siswa yang nantinya akan digunakan
dalam meng analisis suatu permasalahan ataupun soal yang mereka
hadapi dengan lebih cermat dan seksama.
Metode Penelitian
Pada Strategi kualitatif digunakan dalam rencana ini.
Pendekatan ini digunakan untuk mengevaluasi kemampuan
berpikir kritis siswa setelah dilakukan tindakan. Jenis penelitian ini
menggunakan penelitian tindakan kelas. Untuk menyampaikan
pengajaran berkualitas tinggi, instruktur terlibat dalam penelitian
tindakan kelas, semacam proyek penelitian yang bertujuan untuk
mencoba ide-ide baru dan memecahkan masalah dengan siswanya
(Abdillah et al., 2021; Jacub et al., 2020; Ph.D et al., 2022).
Penelitian ini diikuti oleh dua puluh empat siswa kelas VII MTs Nurul
Huda. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan teknik PTK.
Proyek penelitian ini dibagi menjadi dua siklus. Dalam satu siklus
terdapat tiga kali pertemuan.
Robyn McTaggart dan Stephen Kemmis menyediakan PTK yang
dimanfaatkan. Menurut Purnama dkk. (2020), paradigma ini
memiliki empat tahapan: perencanaan (plan), tindakan (act),
pengamatan (observing), dan refleksi. Setiap langkah dilengkapi
dengan observasi yang dilakukan guna menyediakan data
penelitian. Tujuan penelitian diukur setelah data dikumpulkan.
Analisis data deskriptif kuantitatif dan kualitatif digunakan.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil prasiklus, dimana kemampuan berpikir kritis
siswa masih berada pada tingkat yang relatif rendah, maka
dilakukan penelitian tindakan kelas di MTs Nurul Huda. Proses
pembelajaran tetap menggunakan model pembelajaran yang
berpusat pada pendidik. Para ahli di bidang matematika diajak
berkonsultasi, dan ditentukan bahwa strategi pengajaran serta
media yang inovatif dan sesuai diperlukan untuk memecahkan
masalah ini. Pendekatan pembelajaran tambahan yang dapat
diterapkan disebut pembelajaran berbasis masalah (PBL). Selain itu,
harus ditingkatkan dengan sumber daya pengajaran yang relevan,
seperti bahan papan ajaib.
Sesuai temuan penelitian pada tahap pra siklus, siklus I dan
siklus II. Pada tahap prasiklus, kemampuan berpikir kritis siswa
meningkat rata-rata sebesar 43,75, dan pada siklus I meningkat
sebesar 48%. Pada siklus I rata-rata nilai tes siswa sebesar 64,58;
pada siklus II skornya meningkat sebesar 39%. Siswa memperoleh
nilai ujian sebesar 89,58 pada siklus II dengan persentase
peningkatan akhir sebesar 105% dari pra siklus ke siklus II. Hasil ini
termasuk dalam rentang “sangat baik” pada skala Likert. Selain itu,
penyelidikan ini memenuhi tujuan yang diperkirakan sebesar ≥70%.
Sehingga penggunaan pembelajaran sejarah dengan paradigma
Problem Based Learning (PBL) dengan media magic board dapat
meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
Pelaksanaan siklus II dapat ditingkatkan dengan bantuan hasil
refleksi siklus I. Berikut ini adalah penyempurnaan tersebut:
1) Untuk mengkondisikan kelas dan siswa saat berdiskusi serta
memfasilitasi pembelajaran yang efektif dan efisien, maka
pengajar harus mampu memberikan komentar yang tegas.
2) Pendidik perlu mendorong siswa untuk berpikir kritis dan
menginspirasi mereka untuk lebih berani menyuarakan
pemikirannya ketika memberikan presentasi di depan kelas.
3) Guru harus siap mendukung siswa yang mengajukan
pertanyaan atau menyuarakan gagasannya secara pasif.
4) Guru harus memiliki pemahaman yang kuat terhadap materi
pelajaran agar siswa lebih mudah memahami isi persamaan
linear satu variabel dan agar model Problem Based Learning
(PBL) yang menggunakan media papan ajaib dapat berfungsi
secara efektif.
5) Untuk menyesuaikan pengajaran dengan waktu yang
diberikan, guru perlu menjadi manajer waktu yang mahir.
Pendidik perlu mengawasi siswanya selama penilaian ujian
untuk mencegah kecurangan dan meminta bantuan teman. Jika
menggunakan SPSS pada hasil pra-siklus dan siklus 1 menghasilkan
nilai Sig. Sebesar 0.000 dengan sebesar 0,005 sehingga nilai sig
kurang dari nilai a dan keputusan yang diambil adalah hipotesis
ditolak sehingga terjadi peningkatan pada siklus 1.
Sedangkan nilai Sig meningkat dari siklus 1 ke siklus 2. Karena
0,000 lebih kecil dari nilai alpha 0,005, maka hipotesis bahwa model
PBL dengan media pembelajaran magic board meningkatkan
kemampuan berpikir kritis siswa terdukung. Model Poblem Based
Learning dengan Media Magic Board dapat meningkatkan
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa MTs Nurul Huda pada materi
Sistem Persamaan Linier Satu Variabel, sesuai tabel Paired Sample
Test diatas.
Pembahasan
Berpikir Kritis
Pemecahan masalah, berpikir analitis dan kreatif, analisis
masalah, dan visualisasi merupakan contoh kemampuan berpikir
tingkat tinggi. (Rahardhian, 2022) Berpikir kritis, menurut Pikket &
Foster, adalah proses kognitif tingkat tinggi yang melampaui
menghafal dan mencakup penggunaan pengetahuan yang
diperoleh sebelumnya dalam situasi baru (Widodo & Katminingsih,
2022). Kemampuan berpikir kritis menurut Fristadi dan Bharata
(2015) adalah kemampuan memecahkan masalah dengan melihat
suatu konsep dari berbagai sudut pandang guna meningkatkan
berpikir logistik. Ennis menyatakan bahwa tujuan berpikir kritis
adalah untuk membantu kita dalam mengambil keputusan yang
rasional sehingga kita dapat bertindak sesuai dengan fakta yang kita
rasa paling tepat (Wiyana Pertiwi, 2018).
Instrumen berpikir kritis mempunyai dua belas ukuran
keterampilan berpikir kritis, menurut Ennis (1996). Kemampuan
memberikan penjelasan, menarik kesimpulan, mengasah
keterampilan dasar, dan memberikan penjelasan secara ringkas
dan langsung merupakan lima kategori yang terbagi dalam
indikator-indikator tersebut. Alat penilaian berpikir kritis adalah
metode atau tes yang digunakan untuk mengevaluasi kemampuan
berpikir kritis seseorang. (Yanti,nd). Menurut Nurozakiyah Fadilah
Rizki, Lai (Apiati & Hermanto, 2020), keterampilan berpikir kritis
meliputi: menganalisis argumen, klaim, atau bukti; merumuskan
keputusan atau memecahkan masalah; menarik kesimpulan
melalui penalaran induktif atau deduktif; dan penilaian atau
penilaian (Euis Nurozakiyah Fadilah Rizky & teni sritesna, 2021).
Ulfa Sadina Mukarima et al, Penerapan Model Problem Based Learning... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (3), 152-153, 2024
154
Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)
Model pembelajaran yang disebut pembelajaran berbasis
masalah (PBL) diterapkan dalam kegiatan pembelajaran (Triono
Djonomiarjo, 2019). Pendekatan ini ditujukan bagi siswa yang
mungkin menghadapi berbagai permasalahan dalam kehidupan
sehari-hari (Anik Handayani, 2021). Menggunakan permasalahan
sebagai topik utama pembicaraan, yang kemudian diklarifikasi dan
dirangkum untuk membantu siswa menemukan solusinya, adalah
bagaimana paradigma pembelajaran PBL menyajikan bahan ajar
(Mulyono, 2018). Menurut Dragatama dkk. (2016), PBL merupakan
paradigma pembelajaran yang memungkinkan siswa memperoleh
pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan untuk memecahkan
masalah. Konsep PBL dapat dilaksanakan dalam lima tahapan yaitu
orientasi, membantu siswa belajar, mendampingi individu atau
kelompok, mengizinkan dan memamerkan produk karya, analisis,
dan evaluasi (Marwah et al.,2022). Orientasi, mendorong siswa
untuk belajar, pendampingan individu atau kelompok, menciptakan
dan menampilkan produk karya, analisis, dan penilaian merupakan
tahapan yang dilakukan dalam mempraktikkan pendekatan
pembelajaran berbasis masalah (Siregar, 2022).
Berdasarkan teori yang dikembangkan Barrow, Min Liu (2005)
menjelaskan karakteristik dari PBL,
1) Belajar adalah berpusat pada peserta didik
PBL mendorong siswa untuk menjadi pusat dalam
pembelajaran. Teori kontruktivisme dimana siswa akan belajar
sendiri sesuai yang terlihat pada gambar di bawah ini
Gambar 1. Pembelajaran dikelas
2) Masalah autentik menjadi fokus pengorganisasian sedang
belajar
Peserta didik bisa lebih memahami dan menerapkan masalah
yang mereka hadapi secara nyata.
3) Informasi baru diperoleh melalui pengarahan diri sendiri
sedang belajar
Siswa akan menggunakan sumber pengetahuan yang beragam
dari buku dan sumber belajar lainnya untuk membantu mereka
memecahkan masalah.
4) Pembelajaran terjadi dalam skala kecil kelompok
Dalam proses interaksinya agar dapat membangun
pengetahuan secara kolaboratif untuk menciptakan interaksi ilmiah
dan bertukar pemikiran maka PBL dilaksanakan dalam kelompok
kecil dengan pembagian tugas.
5) Pendidik bertindak sebagai fasilitator.
Pendidik sebagai fasilitator pada proses pembelajaran
berlangsung dengan tetap memadukan perkembangan peserta
didik. (Akhmad Arif Musadad & Musa pelu, nd) .
Gambar 2. Siswa bertanya kepada guru dalam proses pengerjaannya
Media Pembelajaran Magic Board (Papan Ajaib)
Eny Sulistiani menyatakan bahwa alat atau perantara yang
digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dan
menggugah peserta didik untuk menyelesaikan tugas belajar
tertentu guna mencapai tujuan pembelajaran disebut dengan
media pembelajaran (Syaiful Bahari Djamarah dan Azwan Zain,
2020: 121). Sumber belajar memegang peranan penting dalam
membantu siswa belajar matematika. Menurut Pujianingtias dkk.
(2019), media pembelajaran memainkan berbagai peran dalam
konteks pendidikan matematika. Peran tersebut antara lain
membantu visualisasi konsep, meningkatkan partisipasi siswa,
memfasilitasi penjelasan, memperkaya materi, membantu
pengulangan materi, membantu pengalaman belajar, memfasilitasi
pengukuran dan evaluasi, menggunakan teknologi, dan
mengintegrasikan konsep.
Alat peraga adalah media pendidikan yang digunakan untuk
menyebarkan pengetahuan dan gagasan serta membangkitkan
semangat siswa dalam belajar (Pujiyanti dkk., 2021). Alat peraga
terbagi dalam dua kategori: alat peraga yang lebih sederhana dan
alat peraga yang lebih rumit. Alat peraga sederhana dan tidak
sederhana, yaitu alat peraga sederhana yang dibuat oleh pendidik
dan alat peraga tidak sederhana yang dibuat oleh pabrik, dibedakan
oleh Aulya dan Purwaningrum (2021). Guru sangat penting dalam
penggunaan alat pengajaran secara efisien (Asdarina dkk., 2019).
Materi pembelajaran persamaan linear satu variabel (PLSV) kelas
VII memanfaatkan alat ajar magic board. Media ini terbuat dari
papan busa dan selembar kertas kecil yang dibentuk seperti kotak
penyimpan stik. Sumber daya pendidikan ini merupakan bagian dari
kumpulan sumber daya pendidikan dasar yang dibuat oleh
instruktur dan dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran.
Ucapan Terima Kasih
Terimakasih kepada Bapak H. Muslim, S.Ag selaku Kepala MTs
Nurul Huda, yang memberikan kesempatan untuk penelitian, Ibu
Eza Sindang P, S.Pd sebagai Guru model dalam penelitian ini.
Referensi
Abdillah, L. A., Fauziah, A., Napitupulu, D. S., Sulistiyo, H., Fitriyanti,
Sakti, B. P., Khusnia, A. N., Noveni, N. A., Tarjo, Suwarno,
Chamidah, D., Puri, V. G. S., Salman, I., & Nurkanti, M. (2021).
PENELITIAN TINDAKAN KELAS: TEORI DAN PENERAPANNYA.
Penerbit Adab.
Agus Jayadi, Siti Nur Chasanah, Rika Sadiyah, & Syafrimen.
(2019). Strategi Pembelajaran. Edu Pustaka.
Akhmad Arif Musadad, N. chasanah, & Musa pelu. (n.d.). Penerapan
Model Problem Based Learning (PBL) dengan Media Video
Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Motivasi
Belajar Sejarah. 2021
Ulfa Sadina Mukarima et al, Penerapan Model Problem Based Learning... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (3), 152-153, 2024
155
Anik Handayani, & Henny Dewi Koeswanti. (n.d.). Meta-Analisis
Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Untuk
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif. 2021, 5, 1349
1355
Asdarina, O., Johar, R., & Hajidin, H. (2019). Upaya Guru
Mengembangkan Karakter Berpikir Kritis dan Berpikir Kreatif
Siswa Melalui Pembelajaran Matematika. Jurnal Peluang, 7(1),
Article 1. https://doi.org/10.24815/jp.v7i1.13752
Aulya, R., & Purwaningrum, J. P. (2021). Pengaruh Model
Pembelajaran Pbl Berbantuan Alat Peraga Dalam Peningkatan
Kemampuan Penalaran Matematis. Jurnal MathEdu
(Mathematic Education Journal), 4(3), 7177.
https://doi.org/10.37081/mathedu.v4i3.3103
Dirgatama, C. H. A., Th, D. S., & Ninghardjanti, P. (2016). Penerapan
Model Pembelajaran Problem Based Learning Dengan
Mengimplementasi Program Microsoft Excel Untuk
Meningkatkan Keaktifan Dan Hasil Belajar Mata Pelajaran
Administrasi Kepegawaian Di Smk Negeri 1 Surakarta.
Elvis Napitupulu, Fahrunnisa Rani, Hasratuddin, & Fahrunnisa.
(2018). Jurnal Pendidikan Matematika. 11(1).
Euis Nurozakiyah Fadilah Rizky, & teni sritesna. (n.d.). Peningkatan
Kemampuan Berpikir Kritis dan Disposisi Matematis Siswa
Antara Guided Inquiry dan Problem Posing. 2021, 01, 3346.
Fristadi, R., & Bharata, H. (2015). Meningkatkan Kemampuan
Berpikir Kritis Siswa Dengan Problem Based Learning.
Hairani, E. (n.d.). Menerapkan Pembelajaran Berbasis Masalah Pada
Mata Kuliah Isd Menuju Mahasiswa Pembelajar (Student
Centered Learning).
Jacub, T. A., Marto, H., & Darwis, A. (2020). Model Pembelajaran
Problem Based Learning Dalam Peningkatan Hasil Belajar Ips
(Studi Penelitian Tindakan Kelas Di Smp Negeri 2 Tolitoli). Tolis
Ilmiah: Jurnal Penelitian, 2(2), Article 2.
https://doi.org/10.56630/jti.v2i2.126
Marwah, A. S., Abdollah, A., Wally, P., Sohilauw, S., & Safitri, D.
(n.d.). Penerapan Model Pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Mahasiswa
Pada Mata Kuliah Belajar Dan Pembelajaran. 2022, 1.
Mega Safira. (2021). Perbedaan Keterampilan Berpikir Kritis Peserta
Didik Antara Sman Dan Man Di Kota Tangerang Selatan Pada
Konsep Napza.
Mulyono, M. (2018). Keefektifan Metode Problem Based Learning
Dalam Pembelajaran Fiqih Di Perguruan Tinggi. Cendekia :
Jurnal Studi Keislaman, 2(2).
https://doi.org/10.37348/cendekia.v2i2.26
Ph.D, P. D. H. S., M. Sc, M.Pd, D. H. C., & S.Pd, Y. D. S. (2022).
Penelitian Tindakan Kelas. Media Nusa Creative (MNC
Publishing).
Pujianingtias, E. N., Saputra, H. J., & Muhajir, M. (2019).
Pengembangan Media Majamat pada Materi Pecahan Pada
Mata Pelajaran Matematika. Jurnal Penelitian Dan
Pengembangan Pendidikan, 3(3), Article 3.
https://doi.org/10.23887/jppp.v3i3.19261
Pujiyanti, A., Ellianawati, E., & Hardyanto, W. (2021). Penerapan
Model Problem Based Learning (PBL) Berbantuan Alat Peraga
untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Fisika Siswa MA.
Physics Education Research Journal, 3(1), 4152.
https://doi.org/10.21580/perj.2021.3.1.6666
Purnama, D. S., Rohmadheny, P. S., Pd, M., Pratiwi, H., & Pd, M.
(n.d.). Penelitian Tindakan Kelas untuk Pendidikan Anak Usia
Dini.
Rahardhian, A. (2022). Kajian Kemampuan Berpikir Kritis (Critical
Thinking Skill) Dari Sudut Pandang Filsafat. Jurnal Filsafat
Indonesia, 5(2), 8794. https://doi.org/10.23887/jfi.v5i2.42092
Siregar, N. F. (2022). PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING
TERHADAP HIGHER ORDER THINKING SKILLS SISWA SMP.
EKSAKTA : Jurnal Penelitian dan
Pembelajaran MIPA, 7(1), Article 1.
https://doi.org/10.31604/eksakta.v7i1.14-23
Triono Djonomiarjo. (n.d.). Pengaruh Model Problem Based Learning
Terhadap Hasil Belajar. 2019, 05, 3946.
Wiyana Pertiwi. (n.d.). Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Matematis
Peserta Didik Smk Pada Materi Matriks. 2018, 2, 793801.
Yanti, T. D. (n.d.). Pengembangan Instrumen Tes Berpikir Kritis Pada
Materi Kelistrikan Fisika Sma Fakultas Keguruan Dan Ilmu
Pendidikan Universitas Lampung Bandar Lampung. 2018.