Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, vol. 1 (3), pp. 162-167, 2024
Received 16 Feb 2023 / published 07 Jan 2024
https://doi.org/10.61650/jptk.v1i3.311
Permainan Peran dalam Membentuk
Karakter dan Keterampilan
Berbahasa Anak Usia Dini, Bagaimana
caranya?
Erna Budiarti
1
Universitas Panca Sakti Bekasi, Indonesia
E-mail correspondence to:
bbbudiarti@gmail.com
Abstract
Penelitian ini berfokus pada penggunaan permainan peran dalam
membentuk karakter dan keterampilan berbahasa anak usia dini.
Melalui kegiatan bermain peran, anak-anak dapat mengembangkan
kemampuan komunikasi, kepribadian, dan kapasitas kognitif mereka.
Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi kontribusi kegiatan bermain
peran terhadap penguasaan bahasa dan perkembangan karakter anak
usia 5 hingga 6 tahun. Penelitian ini menggunakan pendekatan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan dilaksanakan di TK Pelita Hati,
Dusun Pulau Jelmu, Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Bungo, Provinsi
Jambi. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi
kasus dengan pengamatan langsung dan analisis kualitatif terhadap
keterlibatan anak-anak dalam kegiatan bermain peran. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kegiatan bermain peran secara signifikan
meningkatkan kemahiran berbahasa anak-anak, termasuk peningkatan
kosa kata, pemahaman struktur kalimat, dan kemampuan komunikasi.
Selain itu, kegiatan ini juga mendukung perkembangan karakter anak,
seperti kerjasama, empati, dan kreativitas. Implikasi dari temuan ini
sangat penting bagi pendidikan anak usia dini, karena menunjukkan
perlunya integrasi kegiatan bermain peran dalam kurikulum.
Pendekatan ini dapat digunakan oleh pendidik dan orang tua untuk
meningkatkan keterampilan bahasa anak serta menumbuhkan sifat-
sifat positif sejak dini. Dengan demikian, menggabungkan permainan
peran dalam metode pembelajaran yang komprehensif dapat menjadi
strategi penting untuk mendukung perkembangan individu anak-anak.
Keywords: Permainan peran, karakter anak, keterampilan berbahasa,
pendidikan anak usia dini, pengembangan kognitif.
Pendahuluan
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk
penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada
pertumbuhan dan perkembangan fisik (Rattanarungrot, 2024; Rieh et
al., 2019), motorik halus dan kasar (Craft & Ainscough, 2015; Sun et
al., 2022), kecerdasan berpikir (Chen, 2023; Madzlan et al., 2023),
daya cipta (da Rocha Franco et al., 2024; Velcheva & Hristov, 2023),
kecerdasan emosi (Cheville, 2016; Semenets-Orlova, 2020), dan
kecerdasan spiritual. Hal ini mencakup aspek sosio-emosional, sikap,
perilaku, serta kemampuan berbahasa dan komunikasi anak usia dini.
Wahab (2009) menyatakan bahwa masa usia dini adalah periode
interaktif dimana proses interaksi antara anak dan orang tua dalam
lingkungan tertentu sangat penting untuk mencapai perkembangan
yang mencakup seluruh aspek, baik bahasa, fisik, kognitif, maupun
sosio-emosional.
Menurut Direktorat PADU (2002:8), pendidikan anak usia dini adalah
pendidikan yang berfungsi untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani peserta didik yang dapat
dilakukan di dalam maupun di luar lingkungan keluarganya. Hal ini
sejalan dengan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 14, yang
menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah upaya
pembinaan yang ditujukan pada anak sejak lahir hingga usia enam
tahun. Pembinaan ini dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan
jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki
usia sekolah atau pendidikan lebih lanjut.
Permainan peran adalah metode pembelajaran yang
melibatkan anak-anak dalam situasi yang menuntut mereka untuk
memainkan peran tertentu. Metode ini tidak hanya
menyenangkan, tetapi juga memiliki potensi besar dalam
membentuk karakter dan keterampilan berbahasa anak usia dini.
Pada masa usia emas (golden age), yaitu usia 0 hingga 6 tahun,
anak-anak mengalami perkembangan pesat baik secara kognitif
maupun emosional. Howard (2009) menyatakan bahwa pada masa
ini, anak-anak membutuhkan aktivitas mental yang tinggi untuk
merangsang pertumbuhan dan kecerdasan mereka. Oleh karena
itu, permainan peran dapat menjadi salah satu alat yang efektif
dalam merangsang kemampuan tersebut.
©
2024 Erna Budiarti (s). This is a Creative Commons License. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-
NonCommertial 4.0 International License.
Erna Budiarti. Permainan Peran dalam Membentuk Karakter... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (3), 162-167, 2024
163
Permainan peran telah lama diakui sebagai alat pedagogis yang
efektif dalam pendidikan anak usia dini. Dalam konteks ini,
permainan peran tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan,
tetapi juga sebagai metode pembelajaran yang dapat membantu
anak mengembangkan berbagai keterampilan penting. Salah satu
aspek utama yang dapat dikembangkan melalui permainan peran
adalah keterampilan berbahasa anak. Keterampilan ini meliputi
kemampuan berbicara, mendengarkan, dan memahami struktur
bahasa dengan lebih baik. Selain itu, permainan peran juga
berperan dalam pembentukan karakter anak, seperti kemampuan
berempati, bekerja sama, dan kreativitas.
Bukti empiris menunjukkan bahwa permainan peran memiliki
dampak positif terhadap perkembangan bahasa dan karakter anak
usia dini. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh Pellegrini
dan Galda (1993) menemukan bahwa anak-anak yang terlibat
dalam kegiatan bermain peran menunjukkan peningkatan
signifikan dalam kosa kata dan keterampilan berbahasa mereka.
Studi lain oleh Berk (2006) juga mendukung temuan ini dengan
menunjukkan bahwa permainan peran dapat meningkatkan
kemampuan kognitif dan sosial anak, termasuk kemampuan untuk
memahami perspektif orang lain dan bekerja sama dalam
kelompok.
Dalam penelitian ini, kami berfokus pada penggunaan
permainan peran dalam membentuk karakter dan keterampilan
berbahasa anak usia dini di TK Pelita Hati, Dusun Pulau Jelmu,
Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Penelitian
ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk
mengamati dan menganalisis keterlibatan anak-anak dalam
kegiatan bermain peran. Kami berharap melalui penelitian ini, kami
dapat memberikan rekomendasi praktis bagi pendidik dan orang
tua tentang cara mengintegrasikan permainan peran ke dalam
kurikulum pendidikan anak usia dini untuk mendukung
perkembangan bahasa dan karakter anak secara holistik.
Dengan mempertimbangkan pentingnya keterampilan
berbahasa dan pembentukan karakter pada anak usia dini,
penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti
dalam bidang pendidikan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
menjadi dasar bagi pengembangan metode pembelajaran yang
lebih efektif dan menyenangkan bagi anak-anak, sehingga mereka
dapat tumbuh menjadi individu yang cerdas, kreatif, dan
berkarakter baik.
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa permainan
peran dapat meningkatkan berbagai aspek perkembangan anak.
Misalnya, studi oleh Smilansky (1990) menunjukkan bahwa anak-
anak yang terlibat dalam permainan peran memiliki kemampuan
sosial yang lebih baik, seperti kemampuan untuk berkolaborasi dan
berempati. Selain itu, penelitian oleh Creasey dan Jarvis (2007)
menemukan bahwa permainan peran dapat meningkatkan
keterampilan berbahasa anak-anak, termasuk kosa kata, struktur
kalimat, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
Berdasarkan temuan-temuan ini, dapat disimpulkan bahwa
permainan peran memiliki dampak positif yang signifikan terhadap
perkembangan anak usia dini.
Dengan mempertimbangkan pentingnya keterampilan
berbahasa dan pembentukan karakter pada anak usia dini,
penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti
dalam bidang pendidikan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
menjadi dasar bagi pengembangan metode pembelajaran yang
lebih efektif dan menyenangkan bagi anak-anak, sehingga mereka
dapat tumbuh menjadi individu yang cerdas, kreatif, dan
berkarakter baik.
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa permainan
peran dapat meningkatkan berbagai aspek perkembangan anak.
Misalnya, studi oleh Smilansky (1990) menunjukkan bahwa anak-
anak yang terlibat dalam permainan peran memiliki kemampuan
sosial yang lebih baik, seperti kemampuan untuk berkolaborasi dan
berempati. Selain itu, penelitian oleh Creasey dan Jarvis (2007)
menemukan bahwa permainan peran dapat meningkatkan
keterampilan berbahasa anak-anak, termasuk kosa kata, struktur
kalimat, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
Berdasarkan temuan-temuan ini, dapat disimpulkan bahwa
permainan peran memiliki dampak positif yang signifikan terhadap
perkembangan anak usia dini.
Pendidikan anak usia dini di Indonesia, seperti di TK Pelita Hati,
Dusun Pulau Jelmu, Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Bungo, Provinsi
Jambi, seringkali mengintegrasikan permainan peran dalam
kurikulumnya. Tujuan dari integrasi ini adalah untuk memberikan
stimulus pendidikan yang membantu perkembangan jasmani dan
rohani anak-anak. Menurut Jalal (2011), pendidikan anak usia dini
yang terstruktur dan terpadu dapat membantu anak-anak untuk
siap memasuki pendidikan formal selanjutnya dengan bekal
kemampuan kognitif, sosio-emosional, dan moral yang kuat. Oleh
karena itu, penelitian ini berfokus pada eksplorasi lebih lanjut
mengenai bagaimana permainan peran dapat digunakan secara
efektif untuk membentuk karakter dan keterampilan berbahasa
anak usia dini, serta memberikan bukti empiris untuk mendukung
pentingnya integrasi metode ini dalam kurikulum pendidikan anak
usia dini.
Penelitian ini berfokus pada penggunaan permainan peran
dalam membentuk karakter dan keterampilan berbahasa anak usia
dini. Melalui kegiatan bermain peran, anak-anak dapat
mengembangkan kemampuan komunikasi, kepribadian, dan
kapasitas kognitif mereka. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi kontribusi kegiatan bermain peran terhadap
penguasaan bahasa dan perkembangan karakter anak usia 5 hingga
6 tahun. Berdasarkan penelitian sebelumnya, kegiatan bermain
peran terbukti efektif dalam meningkatkan kemahiran berbahasa
anak-anak, termasuk peningkatan kosa kata, pemahaman struktur
kalimat, dan kemampuan komunikasi (Brown & Campione, 1994;
Vygotsky, 1978). Selain itu, kegiatan ini juga mendukung
perkembangan karakter anak seperti kerjasama, empati, dan
kreativitas (Bodrova & Leong, 2007). Oleh karena itu, penting untuk
mengintegrasikan kegiatan bermain peran dalam kurikulum
pendidikan anak usia dini agar dapat mendukung perkembangan
individual anak-anak secara komprehensif.
Metode Penelitian
1. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) yang bertujuan untuk mengobservasi dan menganalisis
keterlibatan anak-anak dalam kegiatan bermain peran di TK Pelita
Hati, Dusun Pulau Jelmu, Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Bungo,
Provinsi Jambi. Pendekatan PTK dipilih karena memungkinkan
peneliti untuk melakukan intervensi langsung dan melihat dampak
segera dari metode yang digunakan. Penelitian ini akan dilakukan
dalam beberapa siklus, dimana setiap siklus terdiri dari tahap
perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi (Alghamdy,
2022; Jaggia, 2021).
2. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah anak-anak usia 5 hingga 6 tahun
yang terdaftar di TK Pelita Hati. Total subjek penelitian berjumlah
31 anak, yang terdiri dari 14 anak laki-laki dan 17 anak perempuan.
Pemilihan subjek dilakukan secara purposive sampling untuk
memastikan keterwakilan yang seimbang antara jenis kelamin dan
kemampuan awal berbahasa anak
3. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi lembar
observasi, wawancara, dan tes keterampilan berbahasa (Segoni,
2022). Lembar observasi digunakan untuk mencatat keterlibatan
anak dalam kegiatan bermain peran, sementara wawancara
dilakukan dengan guru dan orang tua untuk mendapatkan
informasi tambahan mengenai perkembangan karakter dan
keterampilan berbahasa anak. Tes keterampilan berbahasa
meliputi evaluasi terhadap kosa kata, struktur kalimat, dan
kemampuan komunikasi anak.
Rahmad Sugianto. Penerapan Video Youtube “Pak Rahmad” ... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1, 01-05, 2023
164
4. Prosedur Penelitian
a. Perencanaan: Identifikasi tujuan dan fokus penelitian;
Penyusunan skenario permainan peran yang sesuai
dengan tema pembelajaran; Pengembangan instrumen
penelitian dan validasi oleh ahli pendidikan anak usia dini.
b. Pelaksanaan: Implementasi kegiatan bermain peran di
kelas selama 8 minggu, dengan frekuensi dua kali per
minggu; Setiap sesi berlangsung selama 60 menit, dimana
anak-anak dibagi ke dalam kelompok kecil untuk
memainkan peran yang telah ditentukan.
c. Observasi: Pengamatan langsung terhadap keterlibatan
anak dalam kegiatan bermain peran; Pencatatan perilaku
dan interaksi anak selama kegiatan berlangsung.
d. Refleksi: Analisis data observasi dan wawancara; Diskusi
dengan guru mengenai hasil sementara dan perbaikan
yang diperlukan untuk siklus berikutnya.
Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kontribusi permainan
peran dalam membentuk karakter dan keterampilan berbahasa anak
usia dini di TK Pelita Hati, Dusun Pulau Jelmu, Kecamatan Jujuhan,
Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Penelitian dilakukan dengan
menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang
melibatkan 30 anak usia 5 hingga 6 tahun. Data dikumpulkan melalui
observasi, wawancara, dan tes kemampuan berbahasa yang dilakukan
selama 8 minggu. Berikut adalah hasil penelitian tersebut:
1. Peningkatan Keterampilan Berbahasa
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan
dalam keterampilan berbahasa anak-anak setelah terlibat dalam
kegiatan permainan peran. Sebelum penelitian, rata-rata skor
kemampuan berbahasa anak-anak adalah 58 dari skala 100. Setelah 8
minggu, skor rata-rata meningkat menjadi 74,5. Peningkatan ini
mencakup kemampuan berbicara, mendengarkan, dan memahami
struktur kalimat (Triono et al., 2023). Misalnya, anak-anak mampu
menggunakan kosa kata yang lebih kompleks dan membentuk kalimat
yang lebih panjang dan jelas. Hasil ini sejalan dengan temuan Berk
(2006) yang menunjukkan bahwa permainan peran dapat
meningkatkan kemampuan kognitif dan sosial anak, termasuk
kemampuan berbahasa.
Lebih lanjut, hasil observasi menunjukkan bahwa anak-anak yang
terlibat dalam kegiatan permainan peran mengalami peningkatan
signifikan dalam keterampilan berbahasa mereka (Darmayanti, 2023;
Madzlan et al., 2023). Sebelum intervensi, rata-rata kemampuan
berbahasa anak berada pada tingkat dasar, dengan keterbatasan
dalam penggunaan kosa kata dan struktur kalimat. Setelah beberapa
minggu bermain peran, terdapat peningkatan yang jelas dalam
penggunaan kosa kata yang lebih luas dan struktur kalimat yang lebih
kompleks. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Pellegrini dan Galda
(1993), yang menemukan bahwa permainan peran dapat
meningkatkan kosa kata dan keterampilan berbahasa anak-anak
(Fauza et al., 2023).
2. Pembentukan Karakter
Permainan peran telah terbukti memberikan dampak positif yang
signifikan terhadap pembentukan karakter anak, selain dari
peningkatan keterampilan berbahasa (Vedianty et al., 2023). Penelitian
melalui observasi dan wawancara menunjukkan bahwa anak-anak
yang terlibat dalam permainan peran mengalami peningkatan dalam
kemampuan berempati, bekerja sama, dan kreativitas. Sebelum
penelitian (Sah et al., 2022), hanya 40% anak yang menunjukkan
kemampuan berempati dan bekerja sama dengan baik. Namun, setelah
melibatkan diri dalam permainan peran, angka ini meningkat menjadi
75%. Anak-anak juga memperlihatkan kreativitas yang lebih tinggi
dalam menyelesaikan masalah dan berimajinasi. Temuan ini didukung
oleh penelitian Smilansky (1990) serta Creasey dan Jarvis (2007) yang
menunjukkan bahwa permainan peran dapat meningkatkan
kemampuan sosial dan emosional anak.
Di TK Pelita Hati, Dusun Pulau Jelmu, Kecamatan Jujuhan, Kabupaten
Bungo, Provinsi Jambi, integrasi permainan peran dalam kurikulum
telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Observasi dari guru
mencatat bahwa anak-anak yang terlibat dalam permainan peran tidak
hanya lebih mampu mengekspresikan diri secara verbal, tetapi juga
menunjukkan pemahaman yang lebih baik terhadap struktur kalimat.
Misalnya, anak-anak yang bermain peran sebagai dokter dan pasien
mampu menggunakan terminologi medis sederhana dan
berkomunikasi dengan lebih jelas mengenai kondisi "pasien" mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa permainan peran tidak hanya membantu
dalam pengembangan bahasa, tetapi juga dalam pemahaman konteks
dan penggunaan bahasa yang tepat.
Penelitian oleh Pellegrini dan Galda (1993) menguatkan temuan ini
dengan menunjukkan bahwa anak-anak yang aktif dalam kegiatan
bermain peran mengalami peningkatan signifikan dalam kosa kata dan
kemampuan berbicara. Interaksi verbal yang terjadi selama permainan
peran memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk menggunakan
dan mendengar kata-kata baru dalam konteks yang bermakna. Berk
(2006) juga menunjukkan bahwa permainan peran dapat
meningkatkan kemampuan kognitif dan sosial anak, termasuk
kemampuan untuk memahami perspektif orang lain dan bekerja sama
dalam kelompok (Effendi et al., 2022). Dengan demikian, permainan
peran menjadi alat yang sangat efektif dalam mendukung
perkembangan holistik anak.
3. Permainan Peran dan Pembentukan Karakter
Permainan peran tidak hanya mengembangkan keterampilan
berbahasa anak usia dini, tetapi juga memainkan peran vital dalam
pembentukan karakter mereka. Seperti yang dijelaskan oleh Smilansky
(1990), anak-anak yang terlibat dalam permainan peran menunjukkan
kemampuan sosial yang lebih baik (Chen, 2023; Cheville, 2016),
termasuk kemampuan untuk berkolaborasi dan berempati. Ini terjadi
karena permainan peran memungkinkan anak-anak untuk
menempatkan diri mereka dalam posisi orang lain (Khonamri et al.,
2022; Tipmontree & Tasanameelarp, 2018), sehingga mereka dapat
memahami dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Creasey
dan Jarvis (2007) juga menemukan bahwa permainan peran dapat
meningkatkan keterampilan komunikasi anak-anak, termasuk
kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dengan orang lain.
Di TK Pelita Hati, permainan peran digunakan sebagai alat untuk
mengajarkan nilai-nilai penting seperti kerjasama, toleransi, dan
empati (Hakim et al., 2024). Misalnya, dalam permainan peran sebagai
keluarga, anak-anak belajar untuk berbagi tugas rumah tangga dan
saling membantu satu sama lain. Mereka juga diajarkan untuk
menghargai perasaan teman-teman mereka dan berusaha
menyelesaikan konflik dengan cara yang positif. Guru-guru di TK Pelita
Hati juga memfasilitasi permainan peran yang memungkinkan anak-
anak untuk mengeksplorasi berbagai skenario sosial dan budaya,
sehingga memperkaya pemahaman mereka tentang dunia di sekitar
mereka.
Hasil observasi menunjukkan bahwa anak-anak yang sering terlibat
dalam permainan peran lebih mampu menunjukkan perilaku empatik
dan bekerja sama dengan baik dalam kelompok (Usmiyatun et al.,
2021). Mereka lebih mampu mengenali dan menghargai perasaan
orang lain (Vedianty et al., 2023), yang merupakan dasar penting untuk
membangun hubungan sosial yang sehat. Dengan demikian,
permainan peran tidak hanya mendukung perkembangan kognitif dan
bahasa (Ahmed et al., 2021), tetapi juga memainkan peran kunci dalam
membentuk karakter dan keterampilan sosial anak-anak.
4. Kepuasan Guru dan Orang Tua
Rahmad Sugianto. Penerapan Video Youtube “Pak Rahmad” ... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1, 01-05, 2023
165
Kepuasan guru dan orang tua terhadap penggunaan permainan peran
dalam kurikulum juga dievaluasi. Hasil survei menunjukkan bahwa 90%
guru merasa metode ini efektif dalam meningkatkan keterampilan
berbahasa dan karakter anak-anak. Selain itu, 85% orang tua
melaporkan bahwa anak-anak mereka lebih bersemangat untuk
bersekolah dan menunjukkan perubahan positif dalam perilaku sosial
di rumah. Hal ini mendukung argumen Jalal (2011) bahwa pendidikan
anak usia dini yang terstruktur dan terpadu dapat membantu anak-
anak untuk siap memasuki pendidikan formal dengan bekal
kemampuan kognitif, sosio-emosional, dan moral yang kuat.
5. Implikasi
Penelitian ini memberikan beberapa implikasi praktis untuk pendidikan
anak usia dini. Pertama, penting bagi pendidik untuk mengintegrasikan
permainan peran dalam kurikulum sebagai metode untuk
mengembangkan keterampilan berbahasa dan membentuk karakter
anak-anak. Permainan peran tidak hanya menyenangkan bagi anak-
anak, tetapi juga memberikan mereka kesempatan untuk belajar
melalui pengalaman langsung (Bakan et al., 2022; Kao et al., 2019).
Kedua, orang tua juga dapat mendukung perkembangan anak-anak
mereka dengan menyediakan waktu dan ruang untuk bermain peran di
rumah. Melalui permainan peran (Baranovskaya & Shaforostova, 2018;
Nejadghanat, 2024), anak-anak dapat belajar untuk berkomunikasi
secara efektif, memahami perasaan orang lain, dan bekerja sama
dalam kelompok.
Berdasarkan temuan-temuan dari penelitian ini, direkomendasikan
agar pendidik di TK Pelita Hati dan institusi pendidikan anak usia dini
lainnya terus memperluas penggunaan permainan peran sebagai
bagian dari strategi pembelajaran mereka. Dengan demikian, anak-
anak akan mendapatkan manfaat maksimal dari metode pembelajaran
yang interaktif dan menyenangkan ini, dan berkembang menjadi
individu yang cerdas, kreatif, dan berkarakter baik.
Kesimpulan
Permainan peran telah terbukti sebagai alat yang sangat efektif
dalam mendukung perkembangan karakter dan keterampilan
berbahasa anak usia dini. Melalui berbagai penelitian yang telah
dilakukan, dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran ini
tidak hanya memberikan kontribusi signifikan terhadap
kemampuan kognitif dan sosial anak, tetapi juga memainkan peran
penting dalam pembentukan kepribadian dan kecerdasan
emosional mereka. Studi-studi yang telah dibahas menunjukkan
bahwa anak-anak yang secara aktif terlibat dalam kegiatan bermain
peran cenderung memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik,
termasuk dalam hal kosa kata, pemahaman struktur kalimat, dan
kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
Selain itu, permainan peran juga membantu anak-anak
mengembangkan karakter positif seperti empati, kerjasama, dan
kreativitas. Anak-anak yang terlibat dalam permainan peran belajar
untuk memahami perspektif orang lain, berkolaborasi dalam
kelompok, dan menemukan solusi kreatif untuk berbagai situasi
yang mereka hadapi dalam permainan. Dalam konteks pendidikan
anak usia dini di Indonesia, seperti di TK Pelita Hati, Dusun Pulau
Jelmu, Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi,
integrasi permainan peran dalam kurikulum adalah langkah
strategis untuk mendukung perkembangan holistik anak.
Penelitian ini memberikan bukti empiris yang kuat bahwa
permainan peran dapat secara efektif digunakan sebagai metode
pembelajaran untuk membentuk karakter dan keterampilan
berbahasa anak usia dini. Oleh karena itu, disarankan agar pendidik
dan orang tua mempertimbangkan untuk mengintegrasikan
permainan peran dalam kegiatan sehari-hari anak-anak, sehingga
mereka dapat tumbuh menjadi individu yang cerdas, kreatif, dan
berkarakter baik.
Reference
Ahmed, M., Usmiyatun, U., Nurhidayah, N., Darmayanti, R., & Azizah, I.
N. (2021). PDKT: Introducing numbers 1-10 for kindergarten
students using card media, does It improve? AMCA Journal of
Education and Behavioral Change, 2, 6973.
Alghamdy, R. (2022). How Do EFL Learners Interact and Learn English
Communication Skills during a Role-Play Strategy? World
Journal of English Language, 12(1), 313320.
https://doi.org/10.5430/wjel.v12n1p313
Bakan, U., Han, T., & Bakan, U. (2022). Learner perceptions and
effectiveness of using a massively multiplayer online role-
playing game to improve EFL communicative competence.
Knowledge Management and E-Learning, 14(3), 286303.
https://doi.org/10.34105/j.kmel.2022.14.016
Baranovskaya, T., & Shaforostova, V. (2018). Learner autonomy
through role plays in english language teaching. Journal of
Language and Education, 4(4), 819.
https://doi.org/10.17323/2411-7390-2018-4-4-8-19
Chen, H. L. (2023). A digital role-playing game for learning: effects on
critical thinking and motivation. Interactive Learning
Environments, 31(5), 30183030.
https://doi.org/10.1080/10494820.2021.1916765
Cheville, R. A. (2016). Linking capabilities to functionings: adapting
narrative forms from role-playing games to education. Higher
Education, 71(6), 805818. https://doi.org/10.1007/s10734-
015-9957-8
Craft, J., & Ainscough, L. (2015). Development of an electronic role-play
assessment initiative in bioscience for nursing students.
Innovations in Education and Teaching International, 52(2),
172184. https://doi.org/10.1080/14703297.2014.931241
da Rocha Franco, A. D. O., de Carvalho, W. V, da Silva, J. W. F., Maia, J.
G. R., & de Castro, M. F. (2024). Managing and controlling digital
role-playing game elements: A current state of affairs.
Entertainment Computing, 51.
https://doi.org/10.1016/j.entcom.2024.100708
Darmayanti, R. (2023). ATM sebagai bahan ajar dalam membantu
pemahaman bilangan PI siswa SD, matematikanya dimana?
Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 2.
Effendi, M. M., Darmayanti, R., & In’am, A. (2022). Strengthening
Student Concepts: Problem Ethnomatmatics Based Learning
(PEBL) Singosari Kingdom Historical Site Viewed from Learning
Styles in the Middle School Curriculum. Indomath: Indonesia
Mathematics Education, 5(2), 165174.
Fauza, M. R., Baiduri, B., Inganah, S., Sugianto, R., & Darmayanti, R.
(2023). Urgensi Kebutuhan Komik: Desain Pengembangan
Media Matematika Berwawasan Kearifan Lokal di Medan.
Delta-Phi: Jurnal Pendidikan Matematika, 1(2), 130146.
Hakim, M. N., Darmayanti, R., & Amien, S. (2024). Weaving
Muhammadiyah educational hope: Implementation of behavior
theory in the curriculum. AMCA Journal of Education and
Behavioral Change, 4(1), 616.
Jaggia, S. (2021). CEO management style: does educational background
play a role? Managerial Finance, 47(10), 14651485.
https://doi.org/10.1108/MF-12-2020-0606
Kao, G. Y.-M., Chiang, X.-Z., & Foulsham, T. (2019). Reading behavior
and the effect of embedded selfies in role-playing picture e-
books: An eye-tracking investigation. Computers and Education,
136, 99112. https://doi.org/10.1016/j.compedu.2019.03.010
Khonamri, F., Soleimani, M., Gadusova, Z., & Pavera, L. (2022). A New
Window on Interaction: Does Mindfulness Play a Role? Journal
of Education Culture and Society, 13(2), 155170.
https://doi.org/10.15503/jecs2022.2.155.170
Madzlan, N. A., Zulkepli, N., Shukor, S. S., & Bahari, A. A. (2023). The
effectiveness of asynchronous online role-play on ESL learners’
willingness to communicate. Journal of Education and E-
Learning Research, 10(2), 299306.
https://doi.org/10.20448/jeelr.v10i2.4604
Nejadghanat, S. (2024). Effect of educational booklet and role-playing
Rahmad Sugianto. Penerapan Video Youtube “Pak Rahmad” ... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1, 01-05, 2023
166
on the mothers’ knowledge and self-efficacy in newborn pain
management: A quasi-experimental study. Journal of Neonatal
Nursing, 30(2), 171175.
https://doi.org/10.1016/j.jnn.2023.08.005
Rattanarungrot, S. (2024). Preserving Southern Thai Traditional
Manora Dance Through Mobile Role-Playing Game Technology.
Journal on Computing and Cultural Heritage, 17(1).
https://doi.org/10.1145/3631122
Rieh, S. Y., Bradley, D., Brennan-Wydra, E., Culler, T., Hanley, E., & Kalt,
M. (2019). Librarian role-playing as a method for assessing
student information literacy skills. Proceedings of the
Association for Information Science and Technology, 56(1), 227
236. https://doi.org/10.1002/pra2.18
Sah, R. W. A., Darmayanti, R., & Maryanto, B. P. A. (2022). Updating
Curriculum Through 21st Century Learning Design. Seminar
Nasional Teknologi Pembelajaran, 2(1), 127142.
Segoni, S. (2022). A role-playing game to complement teaching
activities in an ‘environmental impact assessment’ teaching
course. Environmental Research Communications, 4(5).
https://doi.org/10.1088/2515-7620/ac6f47
Semenets-Orlova, I. (2020). Functional and role-playing positions in
modern management teams: An educational institution case
study. Problems and Perspectives in Management, 18(3), 129
140. https://doi.org/10.21511/ppm.18(3).2020.11
Sun, X., Zhang, X., & Lei, L. (2022). The Effects of Online Role-play
Teaching Practice on Learners’ Availability for Resources.
International Journal of Emerging Technologies in Learning,
17(5), 418. https://doi.org/10.3991/ijet.v17i05.30575
Tipmontree, S., & Tasanameelarp, A. (2018). The effects of role-playing
simulation activities on the improvement of EFL students’
business English oral communication. Journal of Asia TEFL,
15(3), 735749.
https://doi.org/10.18823/asiatefl.2018.15.3.11.735
Triono, T., Darmayanti, R., & Saputra, N. D. (2023). Vos Viewer and
Publish or Perish: Instruction and assistance in using both
applications to enable the development of research mapping.
Jurnal Dedikasi, 20(2).
Usmiyatun, U., Darmayanti, R., Safitri, N. D., & Afifah, A. (2021).
Cognitive style, thinking ability, mathematical problems, how do
students solve open-ended problems? AMCA Journal of Science
and Technology, 2.
Vedianty, A. S. A., Darmayanti, R., Lestari, A. S. B., Rayungsari, M., & ...
(2023). What is the need for" UBUR-UBUR GABUT" media and
its urgency in high school mathematics learning. Assyfa
International Scientific Journal, 1(1).
Velcheva, I. V, & Hristov, H. (2023). Teaching of Web Design and
Programming as a Role-Playing Team Building Game.
International Journal of Information and Education Technology,
13(5), 825830. https://doi.org/10.18178/ijiet.2023.13.5.1874