Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, vol. 1 (3), pp. 135-143, 2024
Received 16 Nov 2023 / published 02 Des 2023
https://doi.org/10.61650/jptk.v1i3..268
Pemanfaatan Kebun Pangan
Universitas Sebagai Sarana
Pengajaran Hortikultura: Belajar dari
Pengalaman Proyek
Eny Dyah Yuniwati
Universitas Wisnu Wardhana Malang, Indonesia
E-mail correspondence to:
nieyuniwati@gmail.com
Abstract
Teknologi Produksi Hortikultura Maju merupakan mata kuliah pilihan
Program Studi Agroteknologi. Pengembangan produk hortikultura
Indonesia terhambat oleh peraturan perundang-undangan dan
pengembangan teknis yang tidak efisien, keterbatasan kemampuan
sumber daya manusia, lemahnya kelembagaan hortikultura, dan inovasi
teknologi yang kurang optimal. Topik ini memotivasi dan meningkatkan
mahasiswa Teknologi Pascapanen Hortikultura. Kursus ini mengajarkan
mahasiswa bagaimana menggunakan agronomi, pemuliaan tanaman,
perlindungan tanaman, ilmu tanah, dan ilmu sosial untuk meningkatkan
efisiensi, kualitas, dan keberlanjutan sumber daya melalui praktik
pertanian. Produk hortikultura tropis, termasuk sayuran, tanaman hias,
obat-obatan, rempah-rempah, dan buah-buahan, akan terkena
dampaknya. Fokus penelitian ini pada komoditas, morfologi, lingkungan
tanaman, varietas tanaman, dan metodologi pertumbuhan tanaman
sayuran tomat membatasi hal tersebut. Mahasiswa mengikuti FGBL
offline-online. Identitas ditentukan melalui kuesioner pengantar. Setiap
tahapan kegiatan FGBL dinilai melalui angket, brainstorming,
penugasan, dan observasi media laporan. Untuk memperoleh
keterampilan ini, gunakan pembelajaran berbasis proyek (FGBL). FGBL
melibatkan pembuatan rencana dan jadwal proyek, meninjau kualitas
pelajar, membuat pertanyaan terpandu untuk desain eksperimental,
memantau kemajuan melalui laporan, bertukar pikiran, dan
mengevaluasi proyek. Banyak faktor yang mengukur motivasi belajar
mahasiswa, termasuk keterlibatan perkuliahan dan keterlibatan curah
pendapat dan hasil penelitian dibahas didalam artikel ini secara rinci.
Keywords: Hasil Belajar; Food Garden; Model Project-Based Learning;
Prestasi Belajar; Hortikultura.
Pendahuluan
Meskipun food garden kampus banyak terdapat di kampus-
kampus di Indonesia, namun hal ini jarang terjadi di seluruh negeri.
Taman dapat memiliki beragam wujud, termasuk taman komunitas
sukarelawan yang diperuntukkan bagi universitas atau komunitas
yang lebih luas (Jannah, 2015; Pierre, 2019; Wicaksono, 2015) atau
taman pembelajaran layanan (Arsa et al., 2021; C. F. Hadi & Sartika,
2019; Pribadi, 2023), yang berfungsi sebagai pameran upaya
keberlanjutan Universitas atau sebagai lokasi pengajaran dan
penelitian resmi (Darlis & Amalia, 2018; F. C. F. Hadi, 2019;
Kurniasih & Adianto, 2018; Lestari et al., 2023). Banyak kampus di
Indonesia yang memiliki kebun pangan (Kaiser, 2015; Lal, 2020)
atau kebun raya (Spilková, 2018; Torrijos, 2021; Ullevig, 2021).
Perdosenan tinggi di Indonesia belum sepenuhnya memanfaatkan
kebun pangan sebagai aset berharga untuk pengajaran dan
penelitian. Meskipun beberapa kampus mungkin memiliki kebun
pangan atau botani (Gramazio, 2018; Pohl, 2019; Sokoloff, 2021),
budidaya pangan di luar biologi atau fisika jarang diintegrasikan ke
dalam kurikulum dan secara tegas dimasukkan ke dalam mata
kuliah tertentu.
Teknologi Produksi Hortikultura Tingkat Lanjut merupakan
mata kuliah pilihan yang ditawarkan pada Program Studi
Agroteknologi di lingkungan Fakultas Pertanian (Kuhar & Doughty,
2018; Manickam, 2021; Satishchandra, 2019). Kontribusi program
studi Agroteknologi terhadap kompetensi kelulusan ditentukan
oleh perolehan keterampilan belajar pada kelulusan. Mahasiswa
dapat berpartisipasi dalam proyek kerja sama dan menunjukkan
kesadaran sosial dan dedikasi mereka terhadap tujuan sosial dan
lingkungan (Hlaing, 2018; Sun, 2022; Zhang, 2018). Pengetahuan
mereka meliputi gagasan teoretis dan keahlian dalam teknologi
budidaya (Kozai, 2016; Yang, 2019; Yuniwati, 2022), media dan
teknologi tanam (Knežević, 2017; Shamshiri, 2018), ilmu dan
teknologi lingkunga (Brown, 2016; Carolan, 2020) n, serta produksi
tanaman tropis basah yang berkelanjutan (Armanda, 2019; Nadal,
2017; Xia, 2016). Mahasiswa dapat menumbuhkan kemampuan
berpikir logis (Sudiantini et al., 2023; E. Y. Zhao, 2016), kritis (Cakir
& Lambiotte, 2014; Varghese, 2018), sistemat (Linn, 2019; Otten et
al., 2022) is, dan inovatif dengan menekankan dan menggunakan
kemajuan ilmiah, teknis, dan berbasis pengetahuan (Fernández-
Batanero, 2022; Förtsch, 2018; Korber, 2018; Quispe, 2021).
©
2024 Eny Dyah Yuniwati (s). This is a Creative Commons License. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-
NonCommertial 4.0 International License.
Eny Dyah Yuniwati, Pemanfaatan Kebun Pangan Universitas ... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (3), 135-143, 2024
136
Lebih jauh lagi, mereka menggarisbawahi pentingnya nilai-nilai
kemanusiaan dalam bidang keahlian mereka. Anak-anak dapat
secara mandiri dan efektif menunjukkan keterampilan dan prestasi
mereka dengan cara yang dapat dilihat dan dievaluasi. Mahasiswa
dapat berpartisipasi dalam penyelidikan ilmiah agronomi,
pemuliaan tanaman (Liu, 2018), perlindungan tanaman (Sundin &
Wang, 2018), tanah (Berendsen, 2018), dan ilmu-ilmu sosial
(Hassan, 2021; He, 2021; Plat, 2019). Mereka akan memperoleh
pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakan sumber daya
secara efisien dan ramah lingkungan dengan menggunakan teknik
pertanian yang optim (Arsyad, 2014; Hidayat, 2016; Noor, 2014;
Sujana, 2015) al. Dosen dapat meningkatkan motivasi mahasiswa
untuk belajar dengan menggunakan pendekatan "kebun makanan"
dalam kursus mereka, sehingga upaya ini lebih dapat dicapai.
Berdasarkan observasi lapangan, mata kuliah di atas mencakup
berbagai komoditas hortikultura tropis, antara lain sayuran,
tanaman hias, tanaman obat dan herbal, serta buah-buahan.
Sangat ideal jika tanaman ini tersedia bagi mahasiswa dan
dikumpulkan dengan cepat, sehingga memungkinkan mereka untuk
dipraktikkan secara mandiri di rumah mereka. Subtopik utama
pembahasan berkisar pada prospek komoditas, morfologi, kondisi
pertumbuhan, varietas tanaman, dan teknik budidaya tertentu
seperti pembibitan, penyiapan tanah, penanaman, pemeliharaan,
pemupukan, pengendalian herbisida, pengelolaan penyakit
tanaman, pemanenan, dan sistem perbanyakan.
Beberapa tahun terakhir, pendekatan pembelajaran pada mata
kuliah Teknologi Produksi Hortikultura Lanjut (AHPT)
mengutamakan penyampaian isi perkuliahan melalui jam kontak,
presentasi mahasiswa, elaborasi perkuliahan, dan penilaian.
Mengutamakan Ujian Tengah Semester, Ujian Akhir Semester,
Tugas Perorangan, Tugas Mandiri, dan Tugas Kelompok sudah
dirasa sudah tidak cocok lagi. Terlibat langsung dalam mengolah
satu atau dua komoditas tanpa melibatkan kelompok, desain
eksperimen, dan brainstorming tidak akan efektif meningkatkan
bakat mahasiswa.
Meskipun ada upaya untuk mengintegrasikan pembelajaran
berdasarkan pengalaman ke dalam kurikulum universita (Egerer,
2019; Green & Duhn, 2015) s, sebagian besar pengajaran dan
penelitian di pendidikan tinggi, khususnya di bidang seni, hukum,
dan ilmu sosial, terus memprioritaskan pendekatan berbasis buku
tradisional (Aftandilian & Dart, 2013; Baur, 2022). Kecuali biologi
dan fisika, sebagian besar disiplin ilmu dan gelar tidak memiliki
komponen praktis, apalagi komponen yang diajarkan secara
eksternal (Majewska, 2020; Marsh, 2020). Banyak faktor yang
berkontribusi terhadap fenomena ini (Mcata, 2019), termasuk
pengukuran penelitian (Fitriana, 2019), kebijakan dan promosi
jangka panjang, serta gagasan yang sudah mendarah daging
tentang intelektualisme dan pengetahuan (Classens, 2015; Joy,
2014; Samson, 2012).
Selama lima tahun terakhir, seiring dengan semakin maraknya
pembelajaran online-offline, mahasiswa dituntut untuk memiliki
literasi digital dan menyelesaikan pekerjaan mereka dari jarak jauh
dan ada yang menyelesaikannya didalam kelas offline mereka.
Akibatnya, diskusi kelompok dan presentasi belum maksimal dan
terhenti. Batasan tersebut terutama disebabkan oleh kendala
teknis, seperti hilangnya hotspot akibat pemadaman listrik, kendala
jaringan, pulsa telepon tidak mencukupi, dan kebisingan yang
mengganggu sehingga mengganggu pembelajaran daring.
Permasalahan umum yang dialami sebagian besar mahasiswa
adalah perlunya lebih banyak konsentrasi saat mengikuti proses
pembelajaran melalui platform Zoom. Bahkan dalam pembelajaran
secara offline belum bisa membawa kelas online dengan maksimal.
Selain kebiasaan mahasiswa yang lebih menyukai kelas daring
sebagai efek dari kelas pembelajaran ketika terdampak pandemi
beberapa tahun yang lalu, ditemukannya fakta bahwa belum bisa
memaksimalkan literasi bahkan kemampuan mahasiswa dalam
pengetahuan dalam praktik ketika perkuliahan dilakukan secara
offline.
Selama perkuliahan Zoom selama pandemi, para dosen
menghadapi tantangan dalam melibatkan mahasiswa dan
menumbuhkan semangat mereka untuk berpartisipasi aktif dalam
proses pembelajaran dan diskusi. Penggunaan Zoom yang
berlebihan dan terus-menerus setiap hari telah diidentifikasi
sebagai faktor penyebab terjadinya hal tersebut. Kurangnya
konsentrasi mahasiswa menyebabkan evaluasi yang digunakan
selama ini tidak sesuai. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan
untuk lebih menunjukkan minat dan motivasi dalam pendekatan
Pembelajaran berbasis proyek (PJBL) in (Gary, 2015; Krajcik, 2014;
X. Zhao, 2018) i. Mereka akan mengalami penurunan tingkat stres
yang terkait dengan tantangan teknis dan akan mampu
menumbuhkan pola pikir kewirausahaan (Amamou, 2018; Capraro,
2013; Morales, 2018).
PJBL merupakan pendekatan pendidikan yang menempatkan
suatu proyek (kegiatan) sebagai pusat pembelajaran (Jumaat, 2017;
Paluszek, 2020; Svihla, 2016). Pada pembelajaran PBL, mahasiswa
ditugaskan untuk membuat suatu proyek yang berpusat pada
pengembangan produk pertunjukan pertunjukan (Duke, 2021;
Kusumaningsih et al., 2024; Lin, 2016). Ini melibatkan melakukan
studi atau penelitian, mengatasi suatu masalah, dan mensintesis
pengetahuan yang dikumpulkan. Hasil proses pembelajaran
merupakan puncak dari usaha kolektif kerja kelompok mahasiswa.
Strategi food garden bersinergi dengan model Project Learning
(food garden based-learning/FGBL) atau pembelajaran berbasis
lingkungan dengan memanfaatkan taman sebagai instrumen
pendidikan, dimana anak aktif melakukan aktivitas seperti
menanam, memupuk, menyiram, dan merawat tanaman.
Pendekatan ini menawarkan pengalaman dan motivasi langsung
bagi anak-anak untuk mengembangkan literasi ekologi dan
menumbuhkan pemahaman tentang konservasi lingkungan
(Beaumont, 2014; Lin, 2018; Sefira et al., 2024). Tujuan dari
menumbuhkan kesadaran lingkungan di kalangan mahasiswa
adalah untuk menjamin kelestarian alam dan mendorong
pembangunan berkelanjutan, yang penting bagi masyarakat dan
bidang pendidikan. Lanskap yang Dapat Dimakan Merangsang
kecenderungan anak-anak untuk memperoleh pengetahuan
dengan menawarkan mereka kesempatan untuk melakukan
eksplorasi dan penemuan, dengan dukungan dan arahan orang
dewasa, di berbagai lingkungan seperti kebun dan taman.
(Somerset & Markwell, 2009), dan (Gwinner et al., 1988)
berpendapat bahwa model food garden based-learning lebih
komprehensif dan dapat diterapkan pada kebutuhan masa kini.
Fokusnya adalah pada literasi lingkungan, mata pencaharian
berkelanjutan, kebiasaan makan sehat, pendidikan gizi, dan
keterampilan hidup. Model ini memprioritaskan pengalaman
pendidikan, menggabungkan berbagai disiplin ilmu, dan memiliki
dampak luas pada sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Pembelajaran berbasis kebun pangan mencakup lebih dari sekedar
memanfaatkan kebun sebagai alat pengajara (Biebach et al., 1994;
Kos & Jerman, 2012) n. Ini melibatkan memberikan mahasiswa
pengalaman mendalam yang mendorong literasi ekologi dan
pembangunan berkelanjutan.
Selain itu, Teknologi Produksi Hortikultura Maju merupakan
mata kuliah pilihan Program Studi Agroteknologi yang dapat
dilakukan dengan mengembangkan sebuah produk. Namun
faktanya pengembangan produk hortikultura Indonesia terhambat
oleh peraturan perundang-undangan. Selain itu pengembangan
teknis yang digunakan dalam mengembangkan produk tidak
efisien. Hal lainnya ialah keterbatasan kemampuan sumber daya
manusia, dan lemahnya kelembagaan hortikultura, serta inovasi
teknologi yang kurang optimal. Sehingga tujuan penelitian ini
adalah untuk memotivasi dan meningkatkan mahasiswa fakultas
pertanian dalam kegiatan Pascapanen Hortikultura.
Penelitian yang sama telah banya dilakukan dengan
memasukkan food garden didalam kelasnya. Namun, perbedaan
penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah karena Kursus
ini mengajarkan mahasiswa bagaimana menggunakan beberapa
Eny Dyah Yuniwati, Pemanfaatan Kebun Pangan Universitas ... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (3), 135-143, 2024
137
komponen materi seperti agronomi, pemuliaan tanaman,
perlindungan tanaman, dan beberapa pengetahuan terkait ilmu
tanah, dan ilmu sosial. Komponen dalam materi-materi tersebut
diperlukan untuk meningkatkan efisiensi, dan kualitas, serta
keberlanjutan sumber daya melalui praktik pertanian.
Prakti pertanian yang dilakukan nanti akan menghasil produk
hortikultura tropis yakni sayuran. Fokus penelitian ini pada
komoditas, morfologi, lingkungan tanaman, varietas tanaman, dan
metodologi pertumbuhan pada tanaman sayuran tomat membatasi
hal tersebut. Mahasiswa Program Studi Agroteknologi semester
lima Fakultas Wisnuwardhana Malang, Indonesia, mengikuti FGBL
offline-online dalam kelas Hortikultura. Lebih lanjut kegiatan FGBL
yang dilakukan disinergikan dengan Strategi food garden. Sehingga
penelitian ini penting untuk dilakukan, dan akan menjadi
keterbaharuan dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan untuk
mengkaji bagaimana model pembelajaran terpadu berbasis strategi
kebun pangan mengembangkan kecerdasan naturalis pada
mahasiswa Program Studi Agroteknologi semester lima Fakultas
Wisnuwardhana Malang, Indonesia, pada tahun 2022/2023.
Penelitian tindakan yang menggunakan Kemmis dan McTaggart
digunakan. Peneliti bekerja dengan dosen kelas dalam teknik
penelitian tindakan kolaboratif ini sepanjang pembelajaran.
Bersama-sama, peneliti dan dosen kelas membuat dan
melaksanakan kegiatan belajar. Mereka juga melakukan refleksi
bersama setelah setiap langkah.
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan
yang dikembangkan oleh Kemmis dan McTaggart, yang diadopsi
dari The George Lucas Educational Foundation (2005) (Brassart,
2015). Perancangannya mencakup mengajukan pertanyaan dasar,
membuat rencana proyek, menetapkan garis waktu, memantau
kemajuan siswa dan proyek, mengevaluasi hasil, dan menilai
keseluruhan pengalaman. Penelitian tindakan kelas ini
menggunakan siklus kegiatan pertama, kedua, dan ketiga. Peneliti
memperoleh persetujuan dari Ketua Kaprodi dan mengamati
kemajuan akademik mahasiswa Program Studi sebelum memulai
kegiatan siklus. Dua pekerjaan dengan empat tahap kemudian
dilakukan setiap iterasi. Penelitian tindakan kelas ini melibatkan
peneliti, dosen, dan mahasiswa dengan melibatkan 32 partisipan
14 pria dan 18 wanita. Lokasi Penelitian Jalan. Danau Sentani Raya
Nomor sembilan puluh sembilan, Kelurahan Madyopuro, dan
Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur.
Pembelajaran food garden Berbasis Proyek secara online dan
offline digunakan oleh siswa. Kuesioner pertama mengkonfirmasi
identifikasi. Setiap level FGBL dinilai menggunakan kuesioner,
brainstorming, tugas, dan laporan media. Pembelajaran FGBL
melibatkan pembuatan rencana dan jadwal proyek, menganalisis
kualitas siswa, membuat pertanyaan terpandu untuk desain
eksperimental, dan memantau kemajuan melalui pelaporan,
brainstorming, dan mengevaluasi proyek. Banyak faktor yang dapat
menentukan motivasi belajar siswa, termasuk keterlibatan
perkuliahan dan keterlibatan curah pendapat. Peneliti
mengumpulkan data dengan cara pencatatan, observasi perilaku,
dan wawancara partisipan dalam penelitian ini (Cheang, 2017).
Penelitian ini menggunakan analisis data untuk mengetahui
metode pembelajaran berbasis taman berdasarkan teori
pembelajaran konstruktif. Metode ini mencakup siswa belajar dari
pengalaman mereka. Pembelajaran berbasis taman mendorong
siswa untuk belajar mandiri. Pembelajaran kolaboratif, khususnya
dalam kelompok kecil, menerapkan proyeksi. Menurut
konstruktivisme sosial Vygotsky, hubungan interpersonal yang lebih
kuat meningkatkan perkembangan kognitif. Berbagi perspektif,
mendengarkan orang lain, dan merenungkan percakapan
memberdayakan orang. Pembelajaran berbasis proyek
menyediakan lingkungan otentik di mana perkuliahan membantu
siswa mengembangkan keterampilan profesional dan pemecahan
masalah kolaboratif.
Saldana (2009) menambahkan bahwa data penelitian diberi
kode. Pengkodean dan kategorisasi, tema, dan konsep menjadi
kesimpulan penelitian. Dosen harus menetapkan standar
kompetensi pembahasan mata kuliah. Keterampilan yang
dibutuhkan mencakup dasar-dasar program. Dosen harus
mengajukan pertanyaan, mengatur, dan melaksanakan kegiatan
produksi proyek/pekerjaan dengan siswa. Dosen dan siswa
bertukar catatan untuk membantu mengatasi permasalahan
tersebut.
Hasil dan Pembahasan
1. Sebelum Implementasi: Profil Mahasiswa dan Mahasiswa
Fakultas Pertanian Wisnuwardhana Malang Strategi
Pembelajaran Berbasis Kebun
Yayasan Pendidikan dan Sosial (YPS) Wisnuwardhana Malang
mendirikan Unidha, sebuah perguruan tinggi swasta (PTS) di
Malang, Jawa Timur, pada tanggal 20 Mei 1981. Unidha
memanfaatkan kebun pangan kampus dan luar kampuskurang
dimanfaatkannya produksi pangan karena ketidakamanan.
Program keberlanjutan Unidha Malang mengedepankan
pendidikan lingkungan hidup lintas disiplin ilmu. Keberlanjutan
adalah “prioritas utama” untuk operasi, infrastruktur, pendidikan,
dan penelitian. Institut Keberlanjutan mengajarkan keberlanjutan
dan memprakarsai Rencana Keberlanjutan 8 tahun Universitas.
Kebun pangan organik Institut mengajarkan mahasiswa dan
masyarakat tentang pertanian pangan berkelanjutan dan pola
makan sehat, serta pembelajaran pengabdian. Mereka
mengoptimalkan pemanfaatan lahan dengan pertanian sayuran
organik.
Unidha Malang memanfaatkan pekarangan untuk mengatasi
masalah pertanian dan memberdayakan masyarakat untuk
membantu inisiatif ketahanan pangan dan kemandirian
pemerintah. Ketahanan pangan telah menjadi isu global selama 20
tahun, termasuk Indonesia. Ketahanan pangan berarti setiap rumah
tangga memiliki pangan yang aman, terjangkau, dan adil. Gizi bagi
setiap keluarga sangat penting bagi ketahanan pangan nasional.
Setiap rumah harus memaksimalkan sumber dayanya, termasuk
pekarangannya, untuk memberi makan keluarga. Meskipun ada
upaya universitas untuk menambahkan pembelajaran praktis,
sebagian besar pengajaran dan penelitian sebagian besar gelar,
kecuali biologi dan fisika, tidak memiliki komponen berharga atau
diajarkan secara eksternal. Struktur dan budaya mencakup
penelitian, perekrutan, promosi, dan asumsi intelektual atau
pembelajaran.
Pembelajaran dimana dosen mampu mengalihkan siswa yang
mampu secara akademis dari kursus kejuruan ke institusi yang
berfokus pada teori akan menghasilkan orang-orang yang “buta
teknologi dan tidak kompeten secara teknologi” (Orr, 1994). Orang
yang tidak memiliki keterampilan mungkin mengenali manfaat
teknologi, namun tidak menyadari kelemahannya. Orr menegaskan
bahwa institusi-institusi telah menghasilkan puluhan ribu lulusan
yang “berkualifikasi tinggi” tanpa menyadari dampak
lingkungannya. Mahasiswa di Indonesia jarang bercocok tanam
atau hidup dari lahan tersebut. Budidaya pangan telah mengajarkan
masyarakat untuk memahami kelangkaan alam, sehingga
mempengaruhi literasi ekologi (Cattivelli, 2022; Patel, 2022).
Kelangsungan hidup kita bergantung pada tanaman. Urbanisasi
mengurangi hubungan ini bagi penduduk kota. Hanya dengan
mempelajari sistem alam “kira-kira seperti yang kita alami” maka
universitas dapat menghasilkan mahasiswa yang melek ekologi
(Orr, 1994). Siswa harus memahami alam melalui pengalaman.
Setelah melakukan wawancara dan observasi terhadap dosen,
dilakukan penelitian tindakan kelas untuk mengetahui apakah
mahasiswa dapat melakukan praktik agronomi (Hellinger et al.,
2022), pemuliaan tanaman (Kiup, 2017), ilmu tanaman (Glowa et
al., 2019), tanah (Cherukuri & Parthasarathy, 2023), dan sosial
untuk mencapai efektivitas, efisiensi perlindungan, mutu, dan
Eny Dyah Yuniwati, Pemanfaatan Kebun Pangan Universitas ... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (3), 135-143, 2024
138
keberlanjutan sumber daya sesuai dengan praktik pertanian yang
baik (KK1). Keterlibatan dalam perkuliahan dan brainstorming
menunjukkan gairah belajar siswa.
2. Merencanakan Pembelajaran Teknologi Produksi Hortikultura
Maju: Program perkuliahan dan proyek
Mata kuliah AHPT berbasis FGBL sangat ideal bagi mahasiswa
yang ingin mempelajari keterampilan praktis di bidang pertanian
yang menekankan pada efektivitas, efisiensi, perlindungan, dan
kualitas. Pelatihan ini menekankan pada kelestarian sumber daya
yang diselaraskan dengan praktik pertanian unggul (KK1). Siswa
harus menghasilkan lima komoditas utama tropis. Sayuran tomat
adalah contohnya. Komoditas sayur-sayuran dihasilkan dari
perbanyakan tanaman artifisial, budidaya tanaman multi guna dan
exis, tanaman buah, dan tanaman obat. Siswa akan belajar banyak
tentang topik tersebut, mengembangkannya dengan baik, dan
memecahkan masalah budidaya selama produksi. Tim FGBL
Hortikultura Lanjutan bertemu untuk merancang teknis
pelaksanaan kursus untuk memenuhi tujuan yang disebutkan.
Perencanaan pembelajaran meliputi identifikasi tujuan yang
diproyeksikan, analisis karakteristik siswa, penentuan teknik
pembelajaran, pengelolaan LKS, perancangan kebutuhan sumber
belajar, dan pembuatan instrumen penilaian (Sherry, 2022). Tim
mendiskusikan proyek model FGBL dengan siswa untuk
menjelaskannya dan meminta pendapat mereka setelah dirilis dan
mempertimbangkan waktu. Pertemuan tersebut menegaskan
bahwa proyek siswa dan rencana kegiatan sesuai dengan Gambar
1.
3. Implementasi Pembelajaran Teknologi Produksi Hortikultura
Maju: Program perkuliahan dan proyek
Dalam implementasi pembelajaran FGBL, dosen perlu untuk
mengevaluasi bagaimana lokasi domisili, lahan, ketinggian tempat,
dan persediaan benih memungkinkan proyek Hortikultura Lanjutan
FGBL dapat berkembang. Beberapa tanaman dataran rendah
tumbuh subur, namun tidak ada yang sempurnapertumbuhan
tanaman tahunan di asrama siswa. Tim akan merekomendasikan
tambahan tanaman tomat yang dapat disesuaikan pada daerah
masing-masing mahasiswa untuk ditanam siswa. Perlu dikatehui
sebelumnya bahwa kegiatan perkuliahan ini dilakukan secara
online-offline, sehingga memungkinkan kegiatan FGBL akan
berdampak pada pemilihan jenis varietas tomat. Jadi, tim FGBL
harus mengajukan penyelidikan atas informasi tersebut. Oleh
sebab itu, untuk kegiatan evaluasi yakni dengan memberikan
kuesioner pada seluruh mahasiswa dalam kelas FGBL. Hasil
menunjukkan kuesioner yang telah diisi mahasiswa. Google Earth
memperkirakan ketinggian. Tim pengajar dan siswa menganalisis
kuesioner untuk menentukan apakah komoditas yang ditanam
memenuhi kekhawatiran siswa. Hasil analisis menunjukkan bahwa
seluruh mahasiswa berada didaerah dataran rendah. Dengan
demikian dosen dan mahasiswa memutuskan tanamat tomat
dengan jenis Kultivar tomat Mirah, Opal, dan Zamrut. Tiga jenis
varietas tersebut sangat cocok ditanam di dataran rendah dan
memiliki toleransi yang tinggi terhadap penyakit layu bakteri.
Kultivar berkualitas tinggi ini memiliki potensi hasil berkisar antara
30 hingga 35 ton per hektar. Selain itu, tomat ini mempunyai
kapasitas penyimpanan buah selama 8 hingga 9 hari, dan tomatnya
sendiri mempunyai ciri khas dari ukurannya yang besar, dengan
berat masing-masing 35 dan 60 gram.
Langkah selanjutnya setelah selesai menentukan jenis tanaman
tomat, dosen membagi kelompok dengan satu jenis varietas tomat.
Hal ini dilakukan agar masing-masing kelompok dapat vokus pada 1
jenis saja. Setelah itu, uji lapanganpun dapat dilakukan. Selama uji
lapangan dosen memberikan pertanyaan panduan. Perkuliahan
Hortikultura memberikan mahasiswa bimbingan yang dapat diukur
melalui desain eksperimen. Pertanyaan-pertanyaan utama Thomas
harus dijawab oleh masing-masing kelompok (Wena, 2009).
Figure 1. Rencana Perkuliahan dan Proyek Mahasiswa (Adaptasi (Kristina et al., 2022))
Eny Dyah Yuniwati, Pemanfaatan Kebun Pangan Universitas ... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (3), 135-143, 2024
139
Pertanyaan Panduan Pertanyaan adalah pembelajaran berbasis
proyeksi (Bouvier, 2012). Pekerjaan yang diantisipasi siswa berasal
dari pertanyaan atau masalah yang membantu mereka dalam
memahami dasar-dasar suatu mata pelajaran. Pekerjaan siswa
memotivasi mereka untuk bekerja sendiri. Pertanyaan pertama
adalah tentang desain eksperimen. “Pengobatan apa yang harus
diberikan, dan berapa tingkat pengobatannya?” Setiap percobaan
diulang berapa kali? Hal ini akan meningkatkan kemampuan siswa
dalam bidang pupuk dan pupuk kandang, desain percobaan,
produksi tanaman, ilmu fisiologi tanaman, dan “ilmu
agroklimatologi, serta ilmu tanah. Pendekatan ideasi klasik akan
digunakan untuk menilai hasil percakapan kelompok untuk
membangun desain eksperimental.
4. Evaluasi dan Brainstorming Motivasi Belajar Siswa dalam
Pembelajaran Teknologi Produksi Hortikultura Maju: Program
perkuliahan dan proyek
Menurut Sudirman (2013), Guarana mengakui Pembelajaran
Berbasis Proyek sebagai strategi yang berpusat pada siswa yang
dapat melibatkan siswa dengan menekankan sifat dan inisiatif.
Mahasiswa dalam masing-masing kelompok disetiap kegiatan
diminta untuk mengumpulkan hasil perkembangan tanaman tomat
kepada dosen. Buku catatan yang dikumpulkan menunjukkan tim
pengajar melacak kemajuan siswa selama proyek berlangsung.
Pemantauannya mudah di setiap fase. Fasilitator FGBL dapat
mengonfirmasi data dan fakta dokumentasi iLearn dan Google
Classroom melalui ide real-time tentang penaburan dan
penanaman tanah. Pemantauan akan memberi informasi kepada
tim yang mengadakan pertemuan tentang kondisi tanaman dan
kemajuan proyek. Siswa dapat menggunakan kreativitas untuk
memecahkan masalah dan memahami ilmu budidaya tanaman.
Pembelajaran instruktur terdiri dari aktivitas visual dan laporan
kemajuan yang diprediksi. Siswa mengidentifikasi benih,
pertumbuhan vegetatif, dan sumber suara melalui curah pendapat.
Penggarap, kios pupuk, atau penyedia internet dapat
menyediakannya. Tim penyelenggara harus memverifikasi tanggal
kadaluwarsa kemasan benih atau menghubungi petani atau
pedagang asal.
Dosen mengajarkan dengan mengevaluasi hasil laporan proyek
mereka. Jika benih tidak dapat berkecambah tanpa imbibisi atau
sinar matahari. Tomat membutuhkan cahaya untuk tumbuh. Untuk
tumbuh subur, tomat memerlukan ekstraksi benih. Beberapa
kelompok kesulitan dalam ekstrasi benih, sehingga dalam
menyediakan benih tomat menjadi terkendala. Ekstraksi basah
memurnikan biji tomat dengan memisahkannya dari daging dan
daging buah (Manickam, 2021; Satishchandra, 2019). Sumber yang
diekstraksi dengan buruk memperlambat perkecambahan,
meningkatkan kontaminasi mikroba, dan memperlambat
pertumbuhan tanaman (Arnal, 2018; Hlaing, 2018; Maeda-
Gutiérrez, 2020). Adanya lendir dan ampas pada biji tomat serta
warna kuning kusam menunjukkan ekstraksi tomat yang tidak tepat
(Abbas, 2021; Barchi, 2019; Rosa-Martínez, 2021). Sumber pulp
yang tidak bersih rentan terhadap kontaminasi mikroba (Araújo,
2018), menyebabkan kerusakan akar yang cepat dan
perkecambahan yang lambat. Daging buah tomat mengandung
asam absisat yang menghambat perkecambahan dan
perkembangbiakan bij (Dlamini et al., 2020; Luna, 2018; Marco,
2018) i.
Semua pekebun tomat mengalami kendala pengeringan.
Kualitas benih juga dipengaruhi oleh pengeringan. Pengeringan
secara alami dengan sinar matahari, pengeringan oven pada suhu
tertentu, dan pengeringan dengan kipas angin merupakan cara
yang umum dilakukan (Sanwal, 2022). Setelah ekstraksi, benih
dikeringkan untuk mengurangi kelembapan sebelum
dikecambahkan atau disimpan (Chen, 2021). Pengeringan alami
lebih meningkatkan viabilitas benih tomat dibandingkan
pengeringan oven (Gadekallu, 2021). Penjemuran dengan sinar
matahari pada suhu 27°C hingga 32°C merupakan cara sederhana
untuk mengeringkan benih. Prosedur ini biasanya memakan waktu
3-4 hari (Chanan, 2004). Pengeringan benih secara modern dapat
dilakukan dalam satu hari pada suhu 420C di dalam oven (Fauzah,
2014).
Pekebun tomat pada kelombok B mengalami kendala dalam
perkecambahan, hal ini ditunjukkan dengan kulit luar pada benih
tomat kelompok B mengeras. Kulit luar benih memulai proses
pemadatan, sedangkan bagian dalam sumbernya mempertahankan
kelembapan, menghambat perkecambahan dan menunjukkan
bahwa sumbernya menjadi kedap air. Hasanah (2002) menyatakan
bahwa proses pengeringan dalam oven merupakan cara yang paling
praktis karena suhunya selalu tinggi sehingga menjamin
pengeringan benih secara merata. Namun demikian, prosedur ini
dapat mengakibatkan impermeabilitas benih, ditandai dengan
lapisan luar sumber menjadi rumit sedangkan bagian dalam tetap
lembab. Petani kelompok B mengalami kondisi akar tanaman kerdil
sehingga kulit biji tidak tahan air dan menghambat perkecambahan
biji.
Banyak kalangan yang membutuhkan bibit tomat dengan
varietas Mirah. Jadi, pemilik sumber sebelumnya dihubungi untuk
membantu menemukannya. Akibat kesalahan seleksi yang
dilakukan oleh kelompok tertentu, maka bahan perbanyakan yang
digunakan untuk menanam tomat mirah di polibag sebagai media
tanam harus diubah. Beberapa siswa yang membaca materi merasa
kesulitan dalam menanam tomat dengan melakukan pengeringan
dengan menggunakan oven terlebih dalam kegiatan ekstraksi. Tim
merekomendasikan untuk menggunakan senyawa yang memiliki
kandungan klorida agar dapat mempercepat perkecambahan, yakni
dengan menggunakan senyawa kimia NaOcl.
Beberapa kelompok menutupi perkecambahan untuk waktu
yang lama, mematikannya atau memberikan perlindungan selama
pemotongan untuk menghindari sinar matahari. Oleh karena itu,
etiolasi membuat benih rentan terhadap kematian akibat
transplantasi. Dalam beberapa kasus, kontak dengan air dalam
waktu lama dapat merusak benih dan perkecambahan tomat Setiap
siswa harus membudidayakan tanaman. Cangkok atau okultasi
dapat mengungkapnya. Okulasi dan okultasi perlu memperhatikan
pohon bagian bawah dan kompetensinya.
Siswa merefleksikan pembelajaran individu atau kelompok
selama pembuatan ide. Siswa harus mengungkapkan pemikiran
mereka, mengevaluasi apa yang berhasil dan berubah, dan
memperdebatkan Pertanyaan Pertanyaan yang baru. Siswa
memerlukan brainstorming untuk meningkatkan keterampilan
sosialnya. Mahasiswa mendengarkan, bertanya, dan belajar
tentang budidaya tanaman yang meliputi penjahitan dan
penanaman dalam perkuliahan.
Pembelajaran berbasis proyek memerlukan keinginan siswa
untuk bertahan lama. Landasan siswa untuk angket pertanyaan
satu (P1) ditunjukkan 70,62% siswa menyatakan setuju. Menjawab
petanyaan ketiga (P3) diperlukan brainstorming yang aktif. 69,50%
siswa setuju. Setelah mendengar tanggapan dosen P7, 78,70% dan
22,30% mahasiswa memutuskan. Pertanyaan 10 (P10) mengatakan
saya berusaha menghadiri sesi brainstorming tepat waktu. Ide
tersebut didukung oleh 81,25% siswa setuju, dan 18.75%
mengerjakan tugas ide diagram. Kami menyimpulkan bahwa
kreativitas FGBL meningkatkan pembelajaran.
Evaluasi eksperimen lapangan yang sistematis, terkontrol, dan
empiris secara ilmiah menghasilkan hasil yang objektif dan dapat
diandalkan. Data ini digunakan untuk menemukan, memprediksi,
menguji, dan mengelola fenomena sosial untuk memahami,
mengantisipasi, dan mengatasi permasalahan di lapangan [9].
Eksperimen di luar ruangan menawarkan siswa kemampuan
menanam tanaman terbaik. Pada aspek eksperimen lapangan baru
yang membantu mahasiswa memahaminya. Statistik menunjukkan
64,50% siswa setuju dan 32,40% sangat setuju. Untuk menjawab
P15, saya menggunakan FGBL daripada teknik konvensional.
Penegasan tersebut didukung oleh 61,70% siswa menyatakan
bahwa “Saya memiliki pemahaman yang komprehensif tentang
Eny Dyah Yuniwati, Pemanfaatan Kebun Pangan Universitas ... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (3), 135-143, 2024
140
penggergajian dan penanaman di lapangan.” Berdasarkan data
kami, 49,60% siswa sangat setuju, dan 34,30% setuju. Eksperimen
lapangan memberikan manfaat bagi 68% siswa, dan 36% sangat
setuju. Proyeksi pembelajaran mengajarkan siswa tentang
pertanian tomat. Siswa mendapat manfaat paling besar dari
pembelajaran berbasis proyek, diantaranya (Bortolini, 2017;
Muljono, 2021; Young, 2016): (1) meningkatkan kehadiran,
kemandirian, dan sikap belajar positif; (2) memberikan manfaat
akademis yang setara atau hasil yang lebih baik melalui model
alternatif di mana siswa yang berpartisipasi dalam proyek lebih
bertanggung jawab atas pendidikan mereka; (3) mengembangkan
keterampilan kompleks seperti berpikir kritis, pemecahan masalah,
kolaborasi, dan komunikasi; dan (4) memperluas kesempatan
siswa.
Berikut hasil dokumentasi dari kegiatan FGBL yang dapat dilihat
pada gambar2.
Kesimpulan
Teknik FGBL pada mata kuliah Teknologi Produksi Hortikultura
Tingkat Lanjut dimulai dengan perencanaan proyek dan jadwal
waktu, dilanjutkan dengan analisis karakteristik mahasiswa,
perumusan pertanyaan panduan desain eksperimen, pemantauan
laporan kemajuan, pertukaran ide, dan evaluasi hasil. proyek.
Penentuan motivasi belajar siswa berasal dari beberapa faktor,
antara lain tingkat perhatian siswa terhadap instruktur,
kemampuan konsentrasi, dan keterlibatan aktif dalam kegiatan
brainstorming. Temuan penelitian menunjukkan bahwa terlibat
dalam brainstorming dalam lingkungan FGBL (Pembelajaran food
garden Berbasis proyek) memupuk disposisi yang menguntungkan
terhadap proses perolehan pengetahuan. Eksperimen lapangan
mempunyai potensi untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan siswa. Siswa mendapatkan pemahaman yang lebih
mendalam tentang gagasan tumbuhan dan perkembangan
keanekaragaman spesies hortikultura.
Referensi
Abbas, A. (2021). Tomato plant disease detection using transfer
learning with C-GAN synthetic images. Computers and
Electronics in Agriculture, 187.
https://doi.org/10.1016/j.compag.2021.106279
Aftandilian, D., & Dart, L. (2013). Using garden-based service-learning
to work toward food justice, better educate students, and
strengthen campus-community ties. Journal of Community
Engagement and .
https://account.jces.ua.edu/index.php/jces/article/download/
364/354
Amamou, S. (2018). Tutoring in Project-Based Learning. Procedia
Computer Science, 126, 176185.
https://doi.org/10.1016/j.procS.2018.07.221
Araújo, J. M. S. (2018). A Cassava StarchChitosan Edible Coating
Enriched with Lippia sidoides Cham. Essential Oil and
Pomegranate Peel Extract for Preservation of Italian Tomatoes
(Lycopersicon esculentum Mill.) Stored at Room Temperature.
Food and Bioprocess Technology, 11(9), 17501760.
https://doi.org/10.1007/s11947-018-2139-9
Armanda, D. T. (2019). The second green revolution: Innovative urban
agriculture’s contribution to food security and sustainability – A
review. Global Food Security, 22, 1324.
https://doi.org/10.1016/j.gfs.2019.08.002
Arnal, Á. J. (2018). Implementation of PEF treatment at real-scale
tomatoes processing considering LCA methodology as an
innovation strategy in the agri-food sector. Sustainability
(Switzerland), 10(4). https://doi.org/10.3390/su10040979
Arsa, M. F., Abdullah, A. S., & Rejito, J. (2021). Pengembangan Sistem
Informasi Geografis Kebun Binatang Berbasis Progressive Web
Application (PWA) dengan Metode Prototype (Studi Kasus
Kebun …. Jurnal Nasional Teknologi Dan .
https://www.academia.edu/download/80982126/pdf.pdf
Arsyad, D. M. (2014). Pengembangan inovasi pertanian di lahan rawa
pasang surut mendukung kedaulatan pangan. Pengembangan
Inovasi Pertanian.
https://www.neliti.com/publications/30890/pengembangan-
inovasi-pertanian-di-lahan-rawa-pasang-surut-mendukung-
kedaulatan-p
Barchi, L. (2019). Single Primer Enrichment Technology (SPET) for High-
Throughput Genotyping in Tomato and Eggplant Germplasm.
Figure 2. Dokumentasi hasil produk tanaman dalam pembelajaran food garden-based
learning di Universitas Wisnuwardhana Malang
Eny Dyah Yuniwati, Pemanfaatan Kebun Pangan Universitas ... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (3), 135-143, 2024
141
Frontiers in Plant Science, 10.
https://doi.org/10.3389/fpls.2019.01005
Baur, J. (2022). Campus community gardens and student health: A case
study of a campus garden and student well-being. Journal of
American College Health, 70(2), 377384.
https://doi.org/10.1080/07448481.2020.1751174
Beaumont, C. (2014). Evaluating a Second Life Problem-Based Learning
(PBL) demonstrator project: What can we learn? Interactive
Learning Environments, 22(1), 125141.
https://doi.org/10.1080/10494820.2011.641681
Berendsen, R. L. (2018). Disease-induced assemblage of a plant-
beneficial bacterial consortium. ISME Journal, 12(6), 1496
1507. https://doi.org/10.1038/s41396-018-0093-1
Biebach, H., Krebs, J. R., & Falk, H. (1994). Time-place learning, food
availability and the exploitation of patches in garden warblers,
Sylvia borin. Animal Behaviour.
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S00033472
84712413
Bortolini, L. (2017). The experimental and educational rain gardens of
the Agripolis Campus (north-east Italy): Preliminary results on
hydrological and plant behavior. Acta Horticulturae, 1189, 531
536. https://doi.org/10.17660/ActaHortic.2017.1189.106
Bouvier, J. (2012). The Symbolic Garden: an intersection of the Food
Movement and the First Amendment. Me. L. Rev.
https://heinonline.org/hol-cgi-
bin/get_pdf.cgi?handle=hein.journals/maine65&section=25
Brassart, E. (2015). Enhancing the Communication Abilities of
Preschoolers at Risk for Behavior Problems: Effectiveness of a
Parent-Implemented Language Intervention. Infants and Young
Children, 28(4), 337354.
https://doi.org/10.1097/IYC.0000000000000049
Brown, S. (2016). Lead in urban soils: A real or perceived concern for
urban agriculture? Journal of Environmental Quality, 45(1), 26
36. https://doi.org/10.2134/jeq2015.07.0376
Cakir, C. S., & Lambiotte, R. (2014). Fluctuations drive viral memes in
online social media:" Integrating criticality into network
science". Netsci 2014.
https://researchportal.unamur.be/en/publications/fluctuation
s-drive-viral-memes-in-online-social-media-integrating
Capraro, M. M. (2013). INTERDISCIPLINARY STEM PROJECT-BASED
LEARNING. STEM Project-Based Learning: An Integrated
Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM)
Approach, Second Edition, 5158. https://doi.org/10.1007/978-
94-6209-143-6_6
Carolan, M. (2020). “Urban Farming Is Going High Tech”: Digital Urban
Agriculture’s Links to Gentrification and Land Use. Journal of the
American Planning Association, 86(1), 4759.
https://doi.org/10.1080/01944363.2019.1660205
Cattivelli, V. (2022). The contribution of urban garden cultivation to
food self-sufficiency in areas at risk of food desertification
during the Covid-19 pandemic. Land Use Policy.
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S02648377
22002423
Cheang, C. (2017). Education for sustainability using a campus eco-
garden as a learning environment. International Journal of
Sustainability in Higher Education, 18(2), 242262.
https://doi.org/10.1108/IJSHE-10-2015-0174
Chen, L. m. (2021). Comparative biochemical and transcriptome
analyses in tomato and eggplant reveal their differential
responses to Tuta absoluta infestation. Genomics, 113(4), 2108
2121. https://doi.org/10.1016/j.ygeno.2021.05.002
Cherukuri, N. R., & Parthasarathy, P. (2023). Impact of sequential
hybrid pretreatment in anaerobic digestion of food waste and
garden waste co-digestion on waste characteristics and biogas
production. Journal of Material Cycles and Waste .
https://doi.org/10.1007/s10163-023-01727-3
Classens, M. (2015). The nature of urban gardens: toward a political
ecology of urban agriculture. Agriculture and Human Values,
32(2), 229239. https://doi.org/10.1007/s10460-014-9540-4
Darlis, D., & Amalia, G. I. (2018). RANCANG BANGUN PENAMPIL
INFORMASI KEBUN BINATANG BERBASIS KOMPUTER PERSONAL
MINI. Jurnal Teknologi Informasi Dan Terapan.
http://jtit.polije.ac.id/index.php/jtit/article/view/91
Dlamini, B. E., Dlamini, N., & Masarirambi, M. T. (2020). Control of the
tomato leaf miner,(Meyrick)(Lepidoptera: Gelechiidae) larvae in
laboratory using entomopathogenic nematodes from
subtropical environment. Journal of Nematology.
https://doi.org/10.21307/jofnem-2020-013
Duke, N. K. (2021). Putting PjBL to the Test: The Impact of Project-
Based Learning on Second Graders’ Social Studies and Literacy
Learning and Motivation in Low-SES School Settings. American
Educational Research Journal, 58(1), 160200.
https://doi.org/10.3102/0002831220929638
Egerer, M. H. (2019). Temperature variability influences urban garden
plant richness and gardener water use behavior, but not
planting decisions. Science of the Total Environment, 646, 111
120. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2018.07.270
Fernández-Batanero, J. M. (2022). Digital competences for teacher
professional development. Systematic review. European Journal
of Teacher Education, 45(4), 513531.
https://doi.org/10.1080/02619768.2020.1827389
Fitriana, N. N. (2019). Sistem Informasi Pengelolaan Data Simpan
Pinjam Pada Koperasi Gardenia Berbasis Web Di Kebun Raya
Cibodas. elibrary.unikom.ac.id.
https://elibrary.unikom.ac.id/id/eprint/674/
Förtsch, C. (2018). Systematizing professional knowledge of medical
doctors and teachers: Development of an interdisciplinary
framework in the context of diagnostic competences. Education
Sciences, 8(4). https://doi.org/10.3390/educsci8040207
Gadekallu, T. R. (2021). A novel PCAwhale optimization-based deep
neural network model for classification of tomato plant diseases
using GPU. Journal of Real-Time Image Processing, 18(4), 1383
1396. https://doi.org/10.1007/s11554-020-00987-8
Gary, K. (2015). Project-Based Learning. Computer, 48(9), 98100.
https://doi.org/10.1109/MC.2015.268
Glowa, K. M., Egerer, M., & Jones, V. (2019). Agroecologies of
displacement: a study of land access, dislocation, and migration
in relation to sustainable food production in the Beach Flats
Community Garden. Agroecology and Sustainable Food .
https://doi.org/10.1080/21683565.2018.1515143
Gramazio, P. (2018). Genomic tools for the enhancement of vegetable
crops: A case in eggplant. Notulae Botanicae Horti Agrobotanici
Cluj-Napoca, 46(1), 113.
https://doi.org/10.15835/nbha46110936
Green, M., & Duhn, I. (2015). The force of gardening: investigating
children’s learning in a food garden. Australian Journal of
Environmental Education.
https://www.cambridge.org/core/journals/australian-journal-
of-environmental-education/article/force-of-gardening-
investigating-childrens-learning-in-a-food-
garden/107DE114B4F2C9F59A85F842EF767EED
Gwinner, E., Schwabl, H., & Schwabl-Benzinger, I. (1988). Effects of
food-deprivation on migratory restlessness and diurnal activity
in the garden warbler Sylvia borin. Oecologia.
https://doi.org/10.1007/BF00378037
Hadi, C. F., & Sartika, D. (2019). Rancang Kendali Berbasis Android Pada
Penyinaran Kebun Buah Naga. SinarFe7.
Hadi, F. C. F. (2019). RANCANG KENDALI BERBASIS ANDROID PADA
PENYINARAN KEBUN BUAH NAGA. Seminar Nasional Fortei7-2.
http://repository.unibabwi.ac.id/id/eprint/293/1/Rancang%20
Kendali%20Berbasis%20Android%20Pada%20Penyinaran%20K
ebun%20Buah%20Naga.pdf
Hassan, S. M. (2021). Identification of plant-leaf diseases using cnn and
transfer-learning approach. Electronics (Switzerland), 10(12).
https://doi.org/10.3390/electronics10121388
He, L. (2021). Evaluation of the agricultural water resource carrying
capacity and optimization of a planting-raising structure.
Agricultural Water Management, 243.
https://doi.org/10.1016/j.agwat.2020.106456
Hellinger, F., Benkowitz, D., & Lindemann-Matthies, P. (2022). Do
Radishes and Carrots Grow in a Bunch? Students’ Knowledge
about the Growth of Food Plants and Their Ideas of a School
Eny Dyah Yuniwati, Pemanfaatan Kebun Pangan Universitas ... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (3), 135-143, 2024
142
Garden Design. Education Sciences.
https://www.mdpi.com/2227-7102/12/5/299
Hidayat, T. (2016). Dinamika pengetahuan lokal petani Banjar dalam
sistem pertanian modern di lahan rawa pasang surut. Lambung
Mangkurat University Press. http://eprints.ulm.ac.id/2756/
Hlaing, C. S. (2018). Tomato Plant Diseases Classification Using
Statistical Texture Feature and Color Feature. Proceedings - 17th
IEEE/ACIS International Conference on Computer and
Information Science, ICIS 2018, 439444.
https://doi.org/10.1109/ICIS.2018.8466483
Jannah, D. M. (2015). PETA DIGITAL KEBUN RAYA DAN KEBUN
BINATANG GEMBIRA LOKA YOGYAKARTA BERBASIS
MULTIMEDIA. Universitas AMIKOM Yogyakarta.
Joy, L. M. (2014). Start a Community Food Garden: The Essential
Handbook. Timber Press.
Jumaat, N. (2017). Project-based learning from constructivism point of
view. Advanced Science Letters, 23(8), 79047906.
https://doi.org/10.1166/asl.2017.9605
Kaiser, M. L. (2015). When vacant lots become urban gardens:
Characterizing the perceived and actual food safety concerns of
urban agriculture in Ohio. Journal of Food Protection, 78(11),
20702080. https://doi.org/10.4315/0362-028X.JFP-15-181
Kiup, E. (2017). Maximizing nutrient utilisation and soil fertility in
smallholder coffee and food garden systems in Papua New
Guinea by managing nutrient stocks and movement.
researchonline.jcu.edu.au.
https://researchonline.jcu.edu.au/51229/
Knežević, G. (2017). Does the board gender diversity impact financial
performance in agriculture? Case of serbian agriculture
companies listed on stock exchange. Custos e Agronegocio,
13(3), 220.
Korber, S. (2018). Resilience and entrepreneurship: a systematic
literature review. International Journal of Entrepreneurial
Behaviour and Research, 24(7), 11291154.
https://doi.org/10.1108/IJEBR-10-2016-0356
Kos, M., & Jerman, J. (2012). Preschool children learning about the
origin of food, on local farms and in the preschool garden.
Nutrition &Food Science.
https://doi.org/10.1108/00346651211266836
Kozai, T. (2016). Why LED lighting for Urban agriculture? LED Lighting
for Urban Agriculture, 318. https://doi.org/10.1007/978-981-
10-1848-0_1
Krajcik, J. S. (2014). Project-based learning. The Cambridge Handbook
of the Learning Sciences, Second Edition, 275297.
https://doi.org/10.1017/CBO9781139519526.018
Kristina, N., Warnita, W., & Resigia, E. (2022). Project Based Learning
Horticultural Course at Faculty of Agriculture, Andalas
University. Advances in Social Science, Education and
Humanities Research, 236244.
Kuhar, T. P., & Doughty, H. (2018). Evaluation of Foliar Insecticides for
the Control of Lepidopteran Larvae in Tomatoes, 2016.
Arthropod Management Tests.
https://academic.oup.com/amt/article-
abstract/43/1/tsy082/5067975
Kurniasih, D. E., & Adianto, J. (2018). Kebun gizi sebagai strategi
berbasis masyarakat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi.
Berita Kedokteran Masyarakat.
Kusumaningsih, D., Darmayanti, R., & Latipun, L. (2024). Mendeley
Software improves students’ scientific writing: Mentorship and
training. Jurnal Inovasi Dan Pengembangan Hasil Pengabdian
Masyarakat, 2(1).
Lal, R. (2020). Home gardening and urban agriculture for advancing
food and nutritional security in response to the COVID-19
pandemic. Food Security, 12(4), 871876.
https://doi.org/10.1007/s12571-020-01058-3
Lestari, D. I., Amintarti, S., & Ajizah, A. (2023). Pengembangan Media
Pembelajaran Materi Pteridophyta Kelas X SMA Berbasis Hasil
Penelitian Di Kebun Wisata Durian Banjarbaru Dalam Bentuk
Aplikasi Android. JUPEIS: Jurnal Pendidikan .
http://jurnal.jomparnd.com/index.php/jp/article/view/849
Lin, J. W. (2016). The impact of an online project-based learning
environment with group awareness support on students with
different self-regulation levels: An extended-period experiment.
Computers and Education, 99, 2838.
https://doi.org/10.1016/j.compedu.2016.04.005
Lin, J. W. (2018). Effects of an online team project-based learning
environment with group awareness and peer evaluation on
socially shared regulation of learning and self-regulated
learning. Behaviour and Information Technology, 37(5), 445
461. https://doi.org/10.1080/0144929X.2018.1451558
Linn, K. (2019). Development of communicative abilities in infants with
down syndrome after systematized training in gestural
communication. Revista Chilena de Pediatria, 90(2), 175185.
https://doi.org/10.32641/rchped.v90i2.670
Liu, K. (2018). Mixtures of plant-growth-promoting rhizobacteria
enhance biological control of multiple plant diseases and plant-
growth promotion in the presence of pathogens. Plant Disease,
102(1), 6772. https://doi.org/10.1094/PDIS-04-17-0478-RE
Luna, R. G. De. (2018). Automated Image Capturing System for Deep
Learning-based Tomato Plant Leaf Disease Detection and
Recognition. IEEE Region 10 Annual International Conference,
Proceedings/TENCON, 2018, 14141419.
https://doi.org/10.1109/TENCON.2018.8650088
Maeda-Gutiérrez, V. (2020). Comparison of convolutional neural
network architectures for classification of tomato plant
diseases. Applied Sciences (Switzerland), 10(4).
https://doi.org/10.3390/app10041245
Majewska, A. A. (2020). Planting gardens to support insect pollinators.
Conservation Biology, 34(1), 1525.
https://doi.org/10.1111/cobi.13271
Manickam, R. (2021). Evaluation of different bacterialwilt resistant
eggplant rootstocks for grafting tomato. Plants, 10(1), 112.
https://doi.org/10.3390/plants10010075
Marco, I. De. (2018). Uncertainty of input parameters and sensitivity
analysis in life cycle assessment: An Italian processed tomato
product. Journal of Cleaner Production, 177, 315325.
https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2017.12.258
Marsh, P. (2020). Trust, connection and equity: Can understanding
context help to establish successful campus community
gardens? International Journal of Environmental Research and
Public Health, 17(20), 125.
https://doi.org/10.3390/ijerph17207476
Mcata, B. (2019). Garden ownership as a solution to food insecurity in
urban areas of South Africa: Case of food gardens in Alice town,
Eastern Cape province. Journal of Agribusiness and Rural
Development. https://bibliotekanauki.pl/articles/43154.pdf
Morales, P. T. (2018). Project-based learning: A university experience.
Profesorado, 22(2), 471491.
https://doi.org/10.30827/PROFESORADO.V22I2.7733
Muljono, A. G. (2021). Understanding pocket garden users’ perspective
for urban campus garden sustainability. IOP Conference Series:
Earth and Environmental Science, 716(1).
https://doi.org/10.1088/1755-1315/716/1/012123
Nadal, A. (2017). Urban planning and agriculture. Methodology for
assessing rooftop greenhouse potential of non-residential areas
using airborne sensors. Science of the Total Environment, 601,
493507. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2017.03.214
Noor, M. (2014). Teknologi pengelolaan air menunjang optimalisasi
lahan dan intensifikasi pertanian di lahan rawa pasang surut.
Pengembangan Inovasi Pertanian.
https://garuda.kemdikbud.go.id/documents/detail/1177339
Otten, C., Nash, R., & Patterson, K. (2022). Professional development
in health education for primary school teachers: A systematised
review of the literature. Development in Education.
https://doi.org/10.1080/19415257.2022.2038233
Paluszek, M. (2020). Practical MATLAB deep learning: A project-based
approach. Practical MATLAB Deep Learning: A Project-Based
Approach, 1252. https://doi.org/10.1007/978-1-4842-5124-9
Patel, A. (2022). The role of an on-campus herb garden in facilitating
teaching and learning for students enroled in a naturopathic and
herbal medicine degree. Advances in Integrative Medicine, 9(3),
191196. https://doi.org/10.1016/j.aimed.2022.06.003
Eny Dyah Yuniwati, Pemanfaatan Kebun Pangan Universitas ... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (3), 135-143, 2024
143
Pierre, J. (2019). Cartoforum A map-based discussion forum with
applications in the planning of cycle lanes, community food
gardens and campus sustainability. GI_Forum, 7(1), 171184.
https://doi.org/10.1553/GISCIENCE2019_01_S171
Plat, J. (2019). Plant-based sterols and stanols in health & disease:
“Consequences of human development in a plant-based
environment?” Progress in Lipid Research, 74, 87102.
https://doi.org/10.1016/j.plipres.2019.02.003
Pohl, A. (2019). The eggplant yield and fruit composition as affected by
genetic factor and biostimulant application. Notulae Botanicae
Horti Agrobotanici Cluj-Napoca, 47(3), 929938.
https://doi.org/10.15835/nbha47311468
Pribadi, B. (2023). Implementasi layanan Jasa Tukang Kebun Berbasis
Aplikasi. Merkurius: Jurnal Riset Sistem Informasi Dan Teknik ….
https://journal.ateii.or.id/index.php/Merkurius/article/view/1
5
Quispe, A. M. (2021). Scientific writing series: Systematic review.
Revista Del Cuerpo Medico Hospital Nacional Almanzor
Aguinaga Asenjo, 14(1), 9499.
https://doi.org/10.35434/rcmhnaaa.2021.141.906
Rosa-Martínez, E. (2021). Fruit composition profile of pepper, tomato
and eggplant varieties grown under uniform conditions. Food
Research International, 147.
https://doi.org/10.1016/j.foodres.2021.110531
Samson, A. (2012). Locus amoenus: gardens and horticulture in the
Renaissance. books.google.com.
https://books.google.com/books?hl=en&lr=&id=LVyjRyw0mIo
C&oi=fnd&pg=PR9&dq=horticulture&ots=I9ptzI9x1U&sig=soTj
Z77fYydTxKAUhsnlADEZQwY
Sanwal, S. K. (2022). Salt Tolerant Eggplant Rootstocks Modulate
Sodium Partitioning in Tomato Scion and Improve Performance
under Saline Conditions. Agriculture (Switzerland), 12(2).
https://doi.org/10.3390/agriculture12020183
Satishchandra, N. K. (2019). Population growth potential of Tuta
absoluta (Meyrick) (Lepidoptera: Gelechiidae) on tomato,
potato, and eggplant. Journal of Applied Entomology, 143(5),
518526. https://doi.org/10.1111/jen.12622
Sefira, R., Setiawan, A., Hidayatullah, R., & Darmayanti, R. (2024). The
Influence of the Snowball Throwing Learning Model on
Pythagorean Theorem Material on Learning Outcomes.
Edutechnium Journal of Educational Technology, 2(1), 17.
Shamshiri, R. R. (2018). Advances in greenhouse automation and
controlled environment agriculture: A transition to plant
factories and urban agriculture. International Journal of
Agricultural and Biological Engineering, 11(1), 122.
https://doi.org/10.25165/j.ijabe.20181101.3210
Sherry, C. (2022). Learning from the Dirt: Initiating university food
gardens as a cross-disciplinary tertiary teaching tool. Journal of
Outdoor and Environmental Education, 25(2), 199217.
https://doi.org/10.1007/s42322-022-00100-6
Sokoloff, D. D. (2021). Plant anatomy: At the heart of modern botany.
Botanical Journal of the Linnean Society, 195(3), 249253.
https://doi.org/10.1093/botlinnean/boaa110
Somerset, S., & Markwell, K. (2009). Impact of a school-based food
garden on attitudes and identification skills regarding
vegetables and fruit: a 12-month intervention trial. Public
Health Nutrition.
https://www.cambridge.org/core/journals/public-health-
nutrition/article/impact-of-a-schoolbased-food-garden-on-
attitudes-and-identification-skills-regarding-vegetables-and-
fruit-a-12month-intervention-
trial/97893704F2180E391EA1F76DDAC315F3
Spilková, J. (2018). Food gardens as important elements of urban
agriculture: Spatio-developmental trends and future prospects
for urban gardening in Czechia. Norsk Geografisk Tidsskrift,
72(1), 112. https://doi.org/10.1080/00291951.2017.1404489
Sudiantini, D., Wulandari, I., Devianti, F. F., Sudirman, M., Gunawan, N.
A., & Diah, A. (2023). ANALISIS PENGARUH GLOBALISASI
TERHADAP STRATEGI LOGISTIK PADA PERUSAHAAN
MULTINASIONAL (PT KAI LOGISTIK). Musytari Neraca
Manajemen, Akuntasi, Ekonomi, 1(6), 3140.
Sujana, I. P. (2015). Pengelolaan tanah ultisol dengan pemberian
pembenah organik biochar menuju pertanian berkelanjutan.
Agrimeta.
https://www.neliti.com/publications/89640/pengelolaan-
tanah-ultisol-dengan-pemberian-pembenah-organik-biochar-
menuju-perta
Sun, H. (2022). Carbon aerogels derived from waste paper for pipette-
tip solid-phase extraction of triazole fungicides in tomato, apple
and pear. Food Chemistry, 395.
https://doi.org/10.1016/j.foodchem.2022.133633
Sundin, G. W., & Wang, N. (2018). Antibiotic resistance in plant-
pathogenic bacteria. Annual Review of Phytopathology.
https://doi.org/10.1146/annurev-phyto-080417-045946
Svihla, V. (2016). Facilitating problem framing in project-based
learning. Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning,
10(2). https://doi.org/10.7771/1541-5015.1603
Torrijos, V. (2021). Integration of food waste composting and vegetable
gardens in a university campus. Journal of Cleaner Production,
315. https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2021.128175
Ullevig, S. L. (2021). Establishing a campus garden and food pantry to
address food insecurity: lessons learned. Journal of American
College Health, 69(6), 684688.
https://doi.org/10.1080/07448481.2019.1705830
Varghese, M. M. (2018). Critically Examining the Agency and
Professional Identity Development of Novice Dual Language
Teachers Through Figured Worlds. International Multilingual
Research Journal, 12(3), 145159.
https://doi.org/10.1080/19313152.2018.1474060
Wicaksono, I. W. (2015). PERANCANGAN APLIKASI PETA KEBUN
BINATANG DAN KEBUN RAYA GEMBIRA LOKA YOGYAKARTA
BERBASIS ANDROID. Universitas AMIKOM Yogyakarta.
Xia, Y. (2016). Linking river nutrient concentrations to land use and
rainfall in a paddy agricultureurban area gradient watershed in
southeast China. Science of the Total Environment, 566, 1094
1105. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2016.05.134
Yang, L. (2019). The impacts of farmers’ livelihood capitals on planting
decisions: A case study of Zhagana Agriculture-Forestry-Animal
Husbandry Composite System. Land Use Policy, 86, 208217.
https://doi.org/10.1016/j.landusepol.2019.04.030
Young, R. De. (2016). Student interest in campus community gardens:
Sowing the seeds for direct engagement with sustainability.
World Sustainability Series, 161175.
https://doi.org/10.1007/978-3-319-26866-8_10
Yuniwati, E. D. (2022). Land Husbandry Technology on Potato
Cultivation for Sustainable Agriculture". Poster Internasional.
Zhang, S. (2018). Knockout of SlMAPK3 Reduced Disease Resistance to
Botrytis cinerea in Tomato Plants. Journal of Agricultural and
Food Chemistry, 66(34), 89498956.
https://doi.org/10.1021/acs.jafc.8b02191
Zhao, E. Y. (2016). An institutional logics approach to social
entrepreneurship: Market logic, religious diversity, and
resource acquisition by microfinance organizations. Journal of
Business Venturing, 31(6), 643662.
https://doi.org/10.1016/j.jbusvent.2016.09.001
Zhao, X. (2018). Linear Regularity and Linear Convergence of
Projection-Based Methods for Solving Convex Feasibility
Problems. Applied Mathematics and Optimization, 78(3), 613
641. https://doi.org/10.1007/s00245-017-9417-1