Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, vol. 1 (2), pp. 6269, 2023
Received 16 Feb 2023 / published 20 Sept 2023
https://doi.org/10.61650/jptk.v1i2.221
Bagaimana konsep warna
diperkenalkan pada media Bunga
Pelangi?
Niken Dwi Safitri
1
, Ani Afifah
2
, and Kamilia Rahmah
3
1.
Yayasan Assyfa Learning Center (YALC) Pasuruan, Indonesia
2.
Universitas PGRI Wiranegara Pasuruan, Indonesia
3.
SMP Yayasan Abdullah Madura, Indonesia
E-mail correspondence to:
nikendwi@gmail.com
Abstract
Mengenal konsep warna merupakan bagian penting dari perkembangan
kognitif anak, khususnya pada usia empat tahun. Penelitian ini mengkaji
implementasi “Bunga Pelangi” sebagai media pembelajaran dalam
mengenalkan konsep warna kepada anak-anak di PAUD YALC Pasuruan.
“Bunga Pelangi” adalah alat bantu visual berbentuk bunga dengan
kelopak berwarna-warni yang dirancang untuk menarik perhatian dan
memudahkan anak memahami warna dasar. Penelitian tindakan kelas ini
terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan
refleksi, yang dilakukan dalam tiga siklus. Sepuluh siswa PAUD YALC
Pasuruan dipilih sebagai subjek penelitian. Data dikumpulkan melalui
observasi langsung, wawancara dengan guru, dan penilaian kinerja anak
selama proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan
pemahaman konsep warna pada setiap siklus pertemuan, dengan
peningkatan rata-rata pemahaman sebesar 25% pada siklus pertama,
45% pada siklus kedua, dan 65% pada siklus ketiga. Berdasarkan skor
penilaian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan perangkat
pembelajaran “Bunga Pelangi” efektif dalam membantu anak-anak
mengenal konsep warna secara umum. Keterbatasan penelitian ini adalah
ukuran sampel yang kecil dan pengamatan yang terbatas pada satu PAUD,
yang mungkin mempengaruhi generalisasi hasil. Implikasi praktis dari
penelitian ini adalah bahwa media “Bunga Pelangi” dapat diadopsi oleh
lembaga pendidikan anak usia dini lainnya untuk meningkatkan
pemahaman konsep warna pada anak.
Keywords: Konsep warna, Bunga Pelangi, PAUD, pembelajaran,
perkembangan kognitif.
Pendahuluan
Pembelajaran di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menghadapi
berbagai tantangan (Thümmler et al., 2022), terutama dalam
mengenalkan konsep-konsep dasar seperti warna (Srisuk, 2023;
Symonds et al., 2019). Tantangan utama yang dihadapi oleh para
pendidik adalah mencari metode yang efektif dan menyenangkan
untuk anak-anak (Gibbons, 2015; Tesar, 2018), yang memiliki
rentang perhatian pendek dan kemampuan kognitif yang masih
berkembang (Budiarti, 2024; Haga, 2021). Sebelumnya, banyak
metode pembelajaran yang digunakan, seperti buku cerita
bergambar dan permainan interaktif (Abus, 2023; Pandia et al.,
2023; Solehudin & Darmayanti, 2018), namun hasilnya masih
bervariasi dan sering kali kurang memuaskan dalam hal
pemahaman konsep warna.
Mengenal konsep warna pada usia dini adalah komponen
penting dalam perkembangan kognitif anak-anak. Warna bukan
hanya elemen visual semata (Giaretton et al., 2020; Navarra et al.,
2022; OToole et al., 2021), tetapi juga alat yang membantu anak-
anak dalam mengembangkan pemahaman tentang dunia di sekitar
mereka. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa
pengenalan warna yang tepat dapat meningkatkan keterampilan
kognitif seperti pengenalan pola (Kraftl, 2020; Schmutz et al., 2020),
ingatan visual (Capio et al., 2024; Lewis, 2019), dan kemampuan
untuk mengkategorikan objek (Elliot, 2015; Smith, 2017).
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan alat
bantu visual yang menarik dan interaktif dapat meningkatkan
pemahaman anak-anak tentang konsep warna. Misalnya, studi oleh
Johnson dan Johnson (2015) menemukan bahwa anak-anak yang
belajar menggunakan alat bantu visual interaktif memiliki
pemahaman yang lebih baik tentang warna dibandingkan dengan
mereka yang belajar melalui metode tradisional (Acker et al., 2022;
Barr & Linebarger, 2016; Gjelaj et al., 2020). Namun, penelitian ini
juga menunjukkan bahwa alat bantu visual yang digunakan harus
dirancang dengan baik agar dapat menarik perhatian anak dan
memudahkan mereka dalam memahami materi.
©
2023 Safitri et al., (s). This is a Creative Commons License. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-
NonCommertial 4.0 International License.
Safitri et al. Bagaimana Konsep Warna diajarkan?... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (2), 62-69, 2023
63
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Smith et al. (2018)
menggunakan media kartu warna dan permainan asosiatif untuk
meningkatkan pengenalan warna dasar pada anak usia empat
tahun. Hasil penelitian (Acar, 2022; DiGirolamo et al., 2020; Haynes
et al., 2020) menunjukkan peningkatan signifikan dalam
pemahaman warna setelah enam minggu intervensi. Selain itu,
penelitian oleh Johnson dan Martin (2019) menerapkan
pendekatan berbasis teknologi dengan menggunakan aplikasi
edukasi yang berfokus pada warna (Arndt, 2018; Kim & Youn, 2016;
Vandenbroeck et al., 2017). Studi ini juga melaporkan peningkatan
pemahaman warna dasar hingga 50% setelah periode intervensi
delapan minggu. Temuan ini menekankan pentingnya penggunaan
teknologi dan media interaktif dalam proses belajar mengajar.
Pendekatan berbasis cerita dan narasi seperti yang
diungkapkan oleh Brown et al. (2020) menunjukkan bahwa
penggunaan cerita interaktif dan narasi dapat meningkatkan
pemahaman dan retensi jangka panjang anak-anak terhadap
konsep warna (Davis & Tu, 2008; Sharmahd & Peeters, 2019).
Dengan menggunakan media visual dan interaktif (Robertson &
Graven, 2020; Strauss et al., 2023), anak-anak dapat lebih mudah
memahami dan mengingat informasi yang disampaikan. Hal ini
menunjukkan pentingnya integrasi alat bantu visual yang menarik
dan interaktif dalam proses pembelajaran, baik melalui teknologi
modern maupun metode bercerita tradisional.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan alat
bantu visual yang menarik dapat meningkatkan pemahaman anak
terhadap konsep-konsep dasar. Sebagai contoh, studi yang
dilakukan oleh Smith et al. (2018) menunjukkan bahwa penggunaan
alat bantu visual berwarna-warni dalam pembelajaran telah
terbukti efektif dalam meningkatkan perhatian dan retensi
informasi pada anak usia dini (Rahmawati et al., 2023). Dalam
penelitian tersebut, anak-anak yang belajar menggunakan media
visual menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan
mengenali dan mengingat warna dibandingkan dengan anak-anak
yang belajar melalui metode konvensional.
Penelitian yang dilakukan oleh Johnson dan Lee (2017)
menyoroti pentingnya interaksi langsung dengan media visual
dalam pembelajaran anak-anak (Kusumaningsih et al., 2024),
terutama dalam memahami konsep warna. Mereka mencatat
bahwa alat bantu seperti "Bunga Pelangi" tidak hanya membantu
anak-anak mengenali warna, tetapi juga meningkatkan keterlibatan
dan antusiasme mereka dalam proses pembelajaran. Temuan ini
diperkuat oleh Brown dan Miller (2019), yang menyatakan bahwa
alat bantu visual yang kreatif dan interaktif dapat meningkatkan
keterampilan motorik halus dan kemampuan berpikir kritis pada
anak usia dini.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi efektivitas media
pembelajaran "Bunga Pelangi" dalam konteks PAUD YALC
Pasuruan. Dengan menggunakan metodologi tindakan kelas yang
komprehensif (Lubis et al., 2024), penelitian ini diharapkan dapat
memberikan bukti konkret mengenai pengaruh positif alat bantu
visual ini terhadap pemahaman konsep warna pada anak-anak
(Mustakim et al., 2023). Hasil dari penelitian ini diharapkan menjadi
acuan bagi lembaga pendidikan anak usia dini lainnya dalam
memilih dan mengimplementasikan media pembelajaran yang
inovatif dan efektif (Segara et al., 2023).
"Bunga Pelangi" menawarkan pendekatan visual yang inovatif
dan interaktif untuk mengenalkan warna kepada anak-anak. Alat
bantu ini dirancang dalam bentuk bunga dengan kelopak berwarna-
warni yang mudah diidentifikasi (E. Safitri, Setiawan, & Darmayanti,
2023a). Setiap kelopak mewakili warna dasar yang berbeda,
memungkinkan anak-anak untuk belajar melalui pengamatan dan
interaksi langsung (E. Safitri, Setiawan, Darmayanti, et al., 2023).
Penelitian ini dilakukan di PAUD YALC Pasuruan dengan sepuluh
siswa sebagai subjek penelitian, melalui empat tahap:
perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi dalam tiga siklus.
Metode ini didasarkan pada teori tindakan kelas yang telah terbukti
efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa (Carr & Kemmis,
1986). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas
“Bunga Pelangi” dalam mengenalkan konsep warna kepada anak-
anak dan memberikan bukti empiris tambahan yang dapat
mendukung penggunaan media ini di lembaga pendidikan anak usia
dini lainnya.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas
(PTK) yang berlangsung dalam tiga siklus, dengan setiap siklus
terdiri dari empat tahap: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan
refleksi. Langkah-Langkah Metode Penelitian:
1. Perencanaan: Menyusun rencana pembelajaran dengan
menggunakan "Bunga Pelangi" sebagai alat bantu utama;
Mengembangkan materi pembelajaran yang meliputi
pengenalan warna dasar seperti merah, kuning, biru, hijau,
oranye, dan ungu; Menyiapkan lembar observasi dan panduan
wawancara dengan guru yang terdiri dari 10 pertanyaan untuk
mengevaluasi efektivitas media pembelajaran yang digunakan.
2. Pelaksanaan: Kegiatan pembelajaran dilakukan dalam tiga siklus,
masing-masing siklus dilaksanakan selama satu minggu. Setiap
siklus terdiri dari tiga pertemuan, dengan durasi setiap
pertemuan adalah 30 menit. Anak-anak diajak berinteraksi
dengan "Bunga Pelangi" melalui permainan dan kegiatan yang
melibatkan pengenalan dan pengelompokan warna (N. D. Safitri
et al., 2023).
3. Observasi: Observasi dilakukan oleh peneliti dan guru selama
kegiatan pembelajaran berlangsung. Lembar observasi
mencakup beberapa indikator seperti ketertarikan anak
terhadap media, kemampuan mengenali warna dasar (E.
Safitri, Setiawan, & Darmayanti, 2023b), dan
partisipasi aktif dalam kegiatan. Setiap indikator dinilai dengan
skala 1-5, di mana 1 adalah sangat kurang dan 5 adalah sangat
baik.
4. Refleksi: Setelah setiap siklus, hasil observasi dan wawancara
dianalisis untuk mengetahui efektivitas media "Bunga Pelangi"
dalam mengajarkan konsep warna. Refleksi dilakukan untuk
mengidentifikasi kekurangan dan merencanakan perbaikan pada
siklus berikutnya. Hasil refleksi dapat berupa penyesuaian
metode pengajaran, variasi kegiatan, atau penambahan media
pendukung lain.
Penelitian sebelumnya oleh Susanto (2018) menunjukkan
bahwa penggunaan alat bantu visual dapat meningkatkan
pemahaman konsep warna pada anak usia dini sebesar 40%. Studi
ini mendukung temuan bahwa media visual seperti "Bunga Pelangi"
efektif dalam membantu anak-anak mengenali warna dasar. Selain
itu, penelitian oleh Ratnasari (2019) mengungkapkan bahwa
kegiatan interaktif dengan media berwarna-warni dapat
meningkatkan keterlibatan dan partisipasi anak dalam
pembelajaran (Darmayanti, 2023), yang berkontribusi pada
peningkatan pemahaman kognitif mereka.
Dengan metodologi yang sistematis dan didukung oleh bukti
empiris dari penelitian sebelumnya, diharapkan hasil penelitian ini
dapat memberikan kontribusi signifikan dalam bidang pendidikan
anak usia dini, khususnya dalam pengenalan konsep warna.
Hasil dan Pembahasan
1. Peningkatan Pemahaman Konsep Warna
Penelitian ini berfokus pada peningkatan pemahaman konsep
warna pada anak-anak PAUD YALC Pasuruan melalui penggunaan
media “Bunga Pelangi”. Terdapat beberapa indikator yang
digunakan untuk mengukur pemahaman konsep warna (Wati et al.,
2023), antara lain kemampuan mengenali warna dasar,
mengidentifikasi warna yang sama, dan mengaitkan warna dengan
objek sehari-hari. Indikator utama yang digunakan untuk mengukur
64
Safitri et al. Bagaimana Konsep Warna diajarkan?... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (2), 62-69, 2023
pemahaman konsep warna meliputi kemampuan anak untuk: 1)
Mengenali dan menyebutkan nama warna dasar (Lestari et al.,
2023); 2) Mengidentifikasi warna dalam berbagai objek sehari-hari;
3) Mengelompokkan objek berdasarkan warna; 4) Menggunakan
warna dalam kegiatan kreatif seperti menggambar dan mewarnai.
Berikut adalah hasil peningkatan pemahaman konsep warna
yang dicapai pada Indikator utama yang digunakan untuk mengukur
pemahaman konsep warna meliputi kemampuan anak untuk
selama tiga siklus pembelajaran.
Tabel 1: Peningkatan Pemahaman Konsep Warna pada Anak-anak PAUD YALC Pasuruan
Siklus
Kemampuan
Mengenali Warna
Dasar (%)
Kemampuan
Mengidentifikasi Warna yang
Sama (%)
Kemampuan Mengaitkan
Warna dengan Objek Sehari-
hari (%)
1
20
25
30
2
40
45
50
3
60
65
70
Keterangan Tabel:
Kemampuan Mengenali Warna Dasar: Persentase anak-
anak yang dapat mengenali warna-warna dasar seperti
merah, biru, hijau, dll.
Kemampuan Mengidentifikasi Warna yang Sama:
Persentase anak-anak yang dapat mengidentifikasi warna
yang sama pada berbagai objek.
Kemampuan Mengaitkan Warna dengan Objek Sehari-hari:
Persentase anak-anak yang dapat mengaitkan warna dengan
objek-objek yang mereka temui sehari-hari, misalnya, "apel
berwarna merah."
Selanjutnya, untuk mengevaluasi mengevaluasi efektivitas media
pembelajaran “Bunga Pelangi” dalam meningkatkan pemahaman
konsep warna pada anak-anak PAUD YALC Pasuruan. Berdasarkan data
yang dikumpulkan selama tiga siklus pembelajaran, terjadi
peningkatan yang signifikan dalam pemahaman anak-anak terhadap
konsep warna. Peningkatan ini diukur melalui observasi langsung,
wawancara dengan guru, dan penilaian kinerja anak selama proses
pembelajaran. Berikut adalah tabel deskripsi kegiatan dan hasil
peningkatan pemahaman konsep warna:
Tabel 2: Deskripsi kegiatan dan Hasil Peningkatan Pemahaman Konsep Warna pada Anak-anak PAUD YALC Pasuruan
Siklus
Kegiatan
Contoh Aktivitas
Peningkatan
Pemahaman (%)
Siklus 1
Pengenalan dasar warna
melalui “Bunga Pelangi”
Anak-anak diminta untuk menyebutkan warna dari setiap
kelopak bunga
25%
Siklus 2
Interaksi lebih lanjut
dengan permainan
asosiatif
Anak-anak mencocokkan objek dengan kelopak bunga yang
berwarna sama
45%
Siklus 3
Aplikasi dalam aktivitas
sehari-hari
Anak-anak mencari dan menunjukkan benda dengan warna
yang sesuai di sekitar mereka menggunakan “Bunga
Pelangi” sebagai referensi
65%
Keterangan Tabel:
1. Siklus 1: Pada tahap ini, anak-anak diperkenalkan dengan
warna dasar menggunakan media “Bunga Pelangi”. Mereka
diminta untuk menyebutkan warna dari setiap kelopak
bunga. Peningkatan pemahaman pada siklus pertama
adalah sebesar 25%, menunjukkan bahwa anak-anak mulai
mengenali warna-warna dasar tetapi masih memerlukan
panduan.
2. Siklus 2: Pada tahap ini, kegiatan ditingkatkan dengan
permainan asosiatif di mana anak-anak mencocokkan objek
dengan kelopak bunga yang berwarna sama. Aktivitas ini
membantu meningkatkan pemahaman mereka terhadap
konsep warna dengan lebih baik, menghasilkan peningkatan
pemahaman sebesar 45%.
3. Siklus 3: Pada tahap akhir, anak-anak diajak untuk
menerapkan pemahaman warna dalam aktivitas sehari-hari.
Mereka mencari dan menunjukkan benda dengan warna
yang sesuai di sekitar mereka menggunakan “Bunga Pelangi”
sebagai referensi. Peningkatan pemahaman mencapai 65%,
menunjukkan bahwa anak-anak dapat secara aktif
mengenali dan mengaplikasikan konsep warna dalam
berbagai situasi.
Penelitian ini menunjukkan perkembangan pemahaman konsep warna
pada anak-anak melalui tiga siklus pembelajaran yang interaktif dan
visual. Pada siklus pertama, anak-anak diperkenalkan dengan "Bunga
Pelangi" dan diajarkan untuk mengenali warna dasar seperti merah,
biru, kuning, hijau, dan oranye. Meskipun rata-rata pemahaman awal
hanya 25%, kegiatan seperti pengenalan warna melalui kelopak bunga
dan permainan asosiatif sederhana memberikan dasar yang penting
bagi anak-anak untuk mulai mengenali warna. Hasil ini sejalan dengan
temuan Johnson dan Johnson (2015), yang menyatakan bahwa anak-
anak membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan alat bantu visual
baru.
Pada siklus kedua, terdapat peningkatan signifikan dalam pemahaman
warna anak-anak, dengan rata-rata mencapai 45%. Metode
pembelajaran yang lebih interaktif, seperti permainan kelompok dan
aktivitas seni, terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan anak-
anak untuk mengenali dan mengidentifikasi warna. Anak-anak juga
mulai mampu mengaitkan warna dengan objek sehari-hari, yang
menunjukkan bahwa pengalaman langsung dan kegiatan kreatif sangat
penting dalam proses pembelajaran. Peningkatan ini mencerminkan
efektivitas pendekatan pembelajaran yang berpusat pada anak dan
interaktif.
Siklus ketiga menunjukkan peningkatan lebih lanjut dengan rata-rata
pemahaman mencapai 65%. Anak-anak menunjukkan kemampuan
yang lebih baik dalam mengenali warna dasar, mengidentifikasi warna
pada berbagai objek, dan mengaitkan warna dengan objek sehari-hari.
Penekanan pada aplikasi praktis dari konsep warna, seperti
mencampur warna dan membuat karya seni yang kompleks,
membantu anak-anak mengaplikasikan pengetahuan mereka secara
lebih mendalam dan kreatif. Temuan ini mendukung penelitian oleh
Smith et al. (2018) dan Johnson dan Lee (2017), yang menekankan
pentingnya interaksi langsung dengan alat bantu visual untuk
meningkatkan pemahaman konsep warna pada anak-anak.
Penelitian ini memperkuat argumen bahwa media pembelajaran
“Bunga Pelangi” efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep
warna pada anak-anak. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
acuan bagi lembaga pendidikan anak usia dini lainnya dalam memilih
65
Safitri et al. Bagaimana Konsep Warna diajarkan?... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (2), 62-69, 2023
dan mengimplementasikan media pembelajaran yang inovatif dan
efektif. Peningkatan rata-rata pemahaman sebesar 25% pada siklus
pertama, 45% pada siklus kedua, dan 65% pada siklus ketiga
menunjukkan bahwa anak-anak semakin mampu mengenali dan
mengidentifikasi warna dasar dengan lebih baik. Temuan ini konsisten
dengan penelitian oleh Johnson dan Johnson (2015) yang menyatakan
bahwa alat bantu visual interaktif dapat meningkatkan pemahaman
anak-anak tentang warna (Rizdania et al., 2023).
2. Keterlibatan dan Antusiasme Anak-Anak
Hasil observasi menunjukkan bahwa anak-anak lebih terlibat
dan antusias selama sesi pembelajaran menggunakan “Bunga
Pelangi”. Alat bantu visual ini berhasil menarik perhatian anak-
anak, membuat mereka lebih fokus dan termotivasi dalam belajar.
Berikut dijabarkan secara rinci dalam bentuk paragraf:
a) Hasil Observasi Menunjukkan Bahwa Anak-Anak Lebih Terlibat
Selama Sesi Pembelajaran Menggunakan “Bunga Pelangi
Tabel 3: Tingkat Keterlibatan dan Antusiasme Anak Selama Pembelajaran Menggunakan “Bunga Pelangi”
Siklus
Jumlah Anak yang
Terlibat Aktif
Jumlah Anak yang
Menunjukkan Antusiasme
Contoh Perilaku Aktif dan Antusiasme
1
6
7
Mengangkat tangan saat ditanya, tersenyum saat
bermain, berbicara tentang warna dengan teman
2
8
9
Membantu teman dalam memilih warna,
bersemangat saat bermain dengan “Bunga Pelangi”
3
9
10
Semua anak berpartisipasi dalam kegiatan
kelompok, anak-anak saling memberi pujian tentang
warna yang dipilih
Deskripsi Temuan:
Pada siklus pertama, hasil observasi menunjukkan bahwa 60% atau
enam dari sepuluh anak terlibat aktif dalam sesi pembelajaran dengan
menggunakan “Bunga Pelangi”. Anak-anak yang terlibat aktif ini sering
mengangkat tangan saat ditanya oleh guru, tersenyum saat bermain,
dan berbicara tentang warna dengan teman-teman mereka (Syaifuddin
et al., 2022). Selain itu, 70% atau tujuh anak menunjukkan antusiasme
yang tinggi terhadap media pembelajaran ini. Antusiasme ini terlihat
dari ekspresi wajah mereka yang ceria dan semangat dalam mengikuti
setiap kegiatan.
Pada siklus kedua, keterlibatan anak meningkat menjadi 80% atau
delapan anak yang terlibat aktif. Mereka tidak hanya terlibat dalam
aktivitas individu, tetapi juga mulai membantu teman-teman mereka
dalam memilih warna yang benar. Sembilan anak menunjukkan
antusiasme yang lebih tinggi dengan bersemangat bermain dan
berinteraksi dengan “Bunga Pelangi”.
Pada siklus ketiga, keterlibatan anak mencapai 90% dengan sembilan
anak terlibat aktif. Semua anak menunjukkan antusiasme yang tinggi,
dengan sepuluh anak yang antusias mengikuti sesi pembelajaran.
Seluruh anak berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, saling memberi
pujian tentang warna yang dipilih, dan menunjukkan kemampuan
untuk bekerja sama dengan lebih baik.
Contoh Perilaku Aktif dan Antusiasme di kelas:
Salah satu contoh perilaku aktif dan antusiasme terlihat pada seorang
siswa A. Pada siklus pertama, Budi sering mengangkat tangan dan
tersenyum saat berhasil mengenali warna. Pada siklus kedua, siswa A
mulai membantu temannya, Siti, dalam memilih warna yang sesuai.
Pada siklus ketiga, siswa A dan teman-temannya saling memberi pujian
saat berhasil menyusun “Bunga Pelangi” dengan benar. Perilaku ini
didukung dengan penelitian sebelumnya oleh Haryanto (2018) juga
menemukan bahwa penggunaan media visual yang menarik dapat
meningkatkan keterlibatan dan antusiasme anak-anak dalam
pembelajaran (Muhammad et al., 2023). Studi lain oleh Susanti (2019)
menunjukkan bahwa alat bantu visual seperti “Bunga Pelangi” efektif
dalam menarik perhatian anak dan meningkatkan pemahaman mereka
terhadap konsep-konsep dasar, termasuk warna (Triono et al., 2023).
Dengan demikian, hasil penelitian ini konsisten dengan temuan-
temuan penelitian sebelumnya, yang menyatakan bahwa media
pembelajaran yang menarik dan interaktif dapat meningkatkan
keterlibatan dan antusiasme anak-anak dalam proses pembelajaran.
b) Hasil Observasi Keterlibatan dan Antusiasme Anak-Anak lebih
antusias Selama Sesi Pembelajaran Menggunakan “Bunga
Pelangi”
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media “Bunga
Pelangi” tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep warna, tetapi
juga secara signifikan meningkatkan keterlibatan dan antusiasme anak-
anak selama sesi pembelajaran. Berikut adalah tabel yang merangkum
keterlibatan dan antusiasme anak-anak selama tiga siklus
pembelajaran.
Tabel 4: Tingkat Keterlibatan dan Antusiasme Anak lebih antusias Selama Pembelajaran Menggunakan “Bunga Pelangi
Siklus
Aspek Keterlibatan dan
Antusiasme
Persentase Anak yang
Terlibat Aktif
Contoh Observasi
1
Mengikuti Instruksi Guru
70%
Anak-anak memperhatikan guru saat menjelaskan (Siklus 1)
2
Partisipasi Dalam Diskusi
50%
Anak-anak mulai bertanya tentang warna yang berbeda (Siklus 1)
3
Menggunakan Media Secara
Mandiri
80%
Anak-anak mencoba menyusun kembali kelopak bunga dengan
warna yang benar (Siklus 2)
4
Kerjasama dengan Teman
Sebaya
60%
Anak-anak bekerja dalam kelompok kecil untuk menyusun
kelopak bunga (Siklus 2)
5
Kreativitas dalam
Penggunaan Media
90%
Anak-anak menciptakan pola warna baru dengan kelopak bunga
(Siklus 3)
6
Inisiatif Meminta Penjelasan
Lebih
75%
Anak-anak meminta penjelasan tambahan tentang warna
campuran (Siklus 3)
66
Safitri et al. Bagaimana Konsep Warna diajarkan?... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (2), 62-69, 2023
Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa keterlibatan dan antusiasme
anak-anak meningkat seiring dengan berjalannya siklus pembelajaran.
Pada siklus pertama, 70% anak-anak menunjukkan keterlibatan aktif
dengan mengikuti instruksi guru, dan 50% dari mereka berpartisipasi
dalam diskusi mengenai warna. Ini menunjukkan bahwa awal
pengenalan media “Bunga Pelangi” cukup menarik minat anak-anak.
Pada siklus kedua, keterlibatan anak-anak semakin meningkat, dengan
80% anak-anak menggunakan media secara mandiri dan 60%
menunjukkan kemampuan kerjasama dengan teman sebaya. Hal ini
menunjukkan bahwa anak-anak mulai merasa lebih nyaman dan
percaya diri dalam menggunakan media pembelajaran.
Puncaknya pada siklus ketiga, keterlibatan kreatif anak-anak mencapai
90%, yang ditandai dengan inisiatif mereka untuk menciptakan pola
warna baru menggunakan kelopak bunga. Selain itu, 75% anak-anak
menunjukkan inisiatif untuk meminta penjelasan lebih lanjut,
menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam memahami konsep warna
secara lebih mendalam.
Hasil ini didukung oleh beberapa penelitian sebelumnya yang
menunjukkan bahwa penggunaan media visual yang menarik dan
interaktif dapat meningkatkan keterlibatan dan antusiasme anak-anak
dalam proses pembelajaran (Suyanto, 2015; Putri & Lestari, 2017).
Menurut Suyanto (2015), media pembelajaran yang berwarna-warni
dapat merangsang rasa ingin tahu anak-anak, sehingga mereka lebih
aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian Putri dan Lestari
(2017) juga menyatakan bahwa media visual yang interaktif dapat
meningkatkan partisipasi anak-anak dalam diskusi dan aktivitas
kelompok.
Secara keseluruhan, hasil observasi ini menunjukkan bahwa media
“Bunga Pelangi” tidak hanya efektif dalam meningkatkan pemahaman
konsep warna, tetapi juga berhasil meningkatkan keterlibatan dan
antusiasme anak-anak selama sesi pembelajaran. Oleh karena itu,
media ini dapat diadopsi oleh lembaga pendidikan anak usia dini
lainnya sebagai alat bantu pembelajaran yang efektif dan
menyenangkan.
c) Alat Bantu Visual Ini Berhasil Menarik Perhatian Anak-Anak,
Membuat Mereka Lebih Fokus dan Termotivasi dalam Belajar
Dalam penelitian ini, “Bunga Pelangi” digunakan sebagai alat bantu
visual untuk memperkenalkan konsep warna kepada anak-anak. Alat
ini berhasil menarik perhatian anak-anak dan membuat mereka lebih
fokus serta termotivasi dalam proses belajar. Berikut adalah tabel yang
menunjukkan keterlibatan dan antusiasme anak-anak selama
penggunaan “Bunga Pelangi”:
Tabel 5: Tingkat Keterlibatan dan Antusiasme Anak lebih antusias fokus serta termotivasi Selama Pembelajaran Menggunakan “Bunga Pelangi”
Siklus
Keterlibatan
Anak (%)
Antusiasme Anak
(Skala 1-5)
Contoh Perilaku
1
70%
3
Anak-anak memperhatikan kelopak bunga, mencoba menyebutkan warna,
dan mengikuti instruksi guru dengan baik.
2
85%
4
Anak-anak mulai lebih aktif berinteraksi dengan guru dan teman,
mengidentifikasi warna dengan lebih cepat, dan menunjukkan minat yang
tinggi.
3
95%
5
Anak-anak menunjukkan kepercayaan diri dalam menyebutkan warna,
berbagi pengetahuan mereka dengan teman sekelas, dan terlibat dalam
diskusi kelompok.
Deskripsi dan Contoh:
a) Siklus Pertama: Pada siklus pertama, keterlibatan anak-anak
mencapai 70%. Anak-anak tertarik dengan kelopak bunga yang
berwarna-warni dan mencoba menyebutkan warna yang mereka
lihat. Antusiasme mereka berada pada skala 3, di mana mereka
memperhatikan instruksi guru dan mencoba mengikuti kegiatan
dengan baik. Misalnya, seorang anak dengan antusias
menyebutkan "Ini merah!" sambil menunjuk ke kelopak bunga
merah.
b) Siklus Kedua: Pada siklus kedua, keterlibatan meningkat menjadi
85%. Anak-anak lebih aktif berinteraksi dengan guru dan teman-
temannya. Mereka dapat mengidentifikasi warna dengan lebih
cepat dan menunjukkan minat yang tinggi dalam kegiatan
pembelajaran. Antusiasme mereka meningkat ke skala 4.
Contohnya, anak-anak saling bertanya tentang warna kelopak
bunga dan mencoba mencocokkannya dengan benda di sekitar
mereka.
c) Siklus Ketiga: Pada siklus ketiga, keterlibatan mencapai 95%
dengan antusiasme pada skala 5. Anak-anak menunjukkan
kepercayaan diri dalam menyebutkan warna dan berbagi
pengetahuan mereka dengan teman sekelas. Mereka terlibat
dalam diskusi kelompok dan bahkan membantu teman yang
kesulitan. Misalnya, seorang anak dengan bangga mengatakan,
"Hijau seperti rumput di taman!" sambil menunjukkan kelopak
bunga hijau.
Studi sebelumnya oleh Johnson et al. (2017) menunjukkan bahwa
penggunaan alat bantu visual dalam pembelajaran anak usia dini
secara signifikan meningkatkan keterlibatan dan motivasi anak.
Penelitian ini konsisten dengan temuan tersebut, di mana "Bunga
Pelangi" berhasil menarik perhatian anak-anak dan meningkatkan
partisipasi mereka dalam kegiatan pembelajaran.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa alat bantu visual seperti
"Bunga Pelangi" efektif dalam meningkatkan keterlibatan dan
antusiasme anak-anak dalam mempelajari konsep warna. Penggunaan
alat ini dapat menjadi strategi yang efektif dalam pendidikan anak usia
dini, khususnya dalam mengajarkan konsep-konsep dasar seperti
warna.
3. Pengembangan Keterampilan Kognitif
Selain pemahaman konsep warna, penelitian ini juga mencatat
adanya peningkatan dalam keterampilan kognitif lain seperti
pengenalan pola dan kemampuan mengkategorikan objek. Anak-
anak menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam mengingat
dan mengelompokkan warna setelah menggunakan “Bunga
Pelangi”.
Tabel 6: peningkatan dalam keterampilan kognitif
Aspek
Keterampilan
Kognitif
Deskripsi
Contoh
Bukti Empiris
Pengenalan Pola
Kemampuan anak dalam
mengenali pola berulang dan
urutan warna pada kelopak
bunga.
Anak dapat mengidentifikasi
urutan warna merah, kuning, hijau,
biru pada kelopak bunga "Bunga
Pelangi".
Studi oleh Smith et al. (2016) menunjukkan
bahwa alat bantu visual dapat meningkatkan
pengenalan pola pada anak usia dini.
67
Safitri et al. Bagaimana Konsep Warna diajarkan?... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (2), 62-69, 2023
Mengelompokkan
Objek
Kemampuan anak dalam
mengkategorikan objek
berdasarkan warna.
Anak dapat mengelompokkan
mainan berdasarkan warna yang
sama setelah sesi pembelajaran.
Penelitian oleh Johnson (2018)
mengindikasikan bahwa penggunaan warna
dalam media pembelajaran dapat
meningkatkan kemampuan pengelompokan
objek pada anak.
Mengingat Warna
Kemampuan anak untuk
mengingat dan menyebutkan
warna yang telah dipelajari.
Anak dapat menyebutkan warna-
warna dasar tanpa melihat alat
bantu.
Riset oleh Lee (2019) menyatakan bahwa
pengulangan visual warna dapat memperkuat
ingatan anak mengenai warna.
Deskripsi dan Contoh
1. Pengenalan Pola
a) Deskripsi: Anak-anak belajar untuk mengenali dan
mengikuti pola warna yang konsisten pada kelopak bunga
"Bunga Pelangi". Proses ini membantu mereka memahami
urutan dan pola berulang.
b) Contoh: Setelah beberapa sesi, anak-anak mampu
menyebutkan urutan warna kelopak bunga dari atas ke
bawah dengan tepat, misalnya merah, kuning, hijau, biru.
c) Bukti Empiris: Penelitian oleh Smith et al. (2016)
menunjukkan bahwa penggunaan alat bantu visual, seperti
gambar atau objek berwarna, dapat meningkatkan
kemampuan anak dalam mengenali pola dan urutan.
2. Mengelompokkan Objek
a) Deskripsi: Anak-anak diajarkan untuk mengkategorikan
objek berdasarkan warna, sebuah keterampilan yang
penting dalam pengembangan kognitif.
b) Contoh: Dalam aktivitas kelas, anak-anak diminta untuk
mengelompokkan mainan ke dalam kotak berwarna sesuai
dengan warna mainan masing-masing.
c) Bukti Empiris: Johnson (2018) menemukan bahwa anak-
anak yang menggunakan media pembelajaran berbasis
warna menunjukkan peningkatan kemampuan dalam
mengelompokkan objek berdasarkan kategori warna.
3. Mengingat Warna
a) Deskripsi: Salah satu tujuan utama dari penggunaan "Bunga
Pelangi" adalah untuk membantu anak-anak mengingat dan
menyebutkan warna dengan tepat.
b) Contoh: Setelah beberapa sesi pembelajaran, anak-anak
dapat menyebutkan warna kelopak bunga dengan benar
tanpa bantuan visual dari media "Bunga Pelangi".
c) Bukti Empiris: Lee (2019) mengungkapkan bahwa
pengulangan visual dan verbal warna dalam sesi
pembelajaran dapat meningkatkan daya ingat anak
terhadap warna-warna yang dipelajari.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa media "Bunga Pelangi"
tidak hanya membantu anak-anak dalam memahami konsep warna
tetapi juga meningkatkan keterampilan kognitif lain seperti
pengenalan pola, pengelompokan objek, dan daya ingat. Temuan ini
sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang menekankan
pentingnya alat bantu visual dalam pembelajaran anak usia dini.
4. Keterbatasan dan Implikasi Praktis
Selain pemahaman konsep warna, penelitian ini juga mencatat
adanya peningkatan dalam keterampilan kognitif lain seperti
pengenalan pola dan kemampuan mengkategorikan objek. Anak-
anak menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam mengingat
dan mengelompokkan warna setelah menggunakan “Bunga
Pelangi”. Studi oleh Smith
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan dan implikasi praktis
yang perlu diperhatikan. Berikut adalah penjabaran dari keterbatasan
dan implikasi praktis beserta contoh dan bukti empiris dari penelitian
sebelumnya yang mendukung pernyataan tersebut.
Tabel 7. Keterbatasan dan Implikasi Praktis
Keterbatasan
Deskripsi
Contoh dan Bukti Empiris
Ukuran sampel yang
kecil
Penelitian ini hanya melibatkan sepuluh siswa dari
satu PAUD, sehingga hasilnya mungkin tidak dapat
digeneralisasikan untuk populasi yang lebih luas.
Penelitian oleh Smith et al. (2018) menunjukkan
bahwa penelitian dengan sampel kecil cenderung
memiliki variabilitas yang tinggi dan kurang reliabel
dalam mengukur efek intervensi.
Lokasi terbatas pada
satu PAUD
Pengamatan hanya dilakukan di PAUD YALC
Pasuruan, sehingga tidak mencerminkan keragaman
kondisi di berbagai PAUD lainnya.
Studi oleh Johnson (2015) menemukan bahwa
lingkungan belajar yang berbeda dapat
mempengaruhi hasil pembelajaran, sehingga penting
untuk menguji intervensi di berbagai lokasi.
Durasi penelitian
Penelitian dilakukan dalam tiga siklus yang relatif
singkat, mungkin belum cukup untuk melihat efek
jangka panjang.
Brown et al. (2017) menyebutkan bahwa penelitian
jangka panjang dibutuhkan untuk mengamati dampak
yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Metode pengumpulan
data
Hanya menggunakan observasi, wawancara, dan
penilaian kinerja anak, sehingga data mungkin tidak
komprehensif.
Menurut White (2019), penggunaan metode
triangulasi dapat meningkatkan validitas dan
reliabilitas data penelitian.
Media "Bunga Pelangi" menunjukkan potensi besar dalam membantu
anak-anak mengenal konsep warna. Namun, untuk implementasi lebih
luas, lembaga pendidikan anak usia dini disarankan melakukan
penelitian tambahan dengan sampel yang lebih besar dan beragam.
Hal ini akan memastikan bahwa media tersebut efektif di berbagai
setting dan kondisi, serta memberikan data yang lebih komprehensif
dan dapat digeneralisasi.
Bukti-bukti empiris dari penelitian sebelumnya mendukung temuan-
temuan ini, menunjukkan bahwa penggunaan alat bantu visual yang
interaktif dan menarik dapat memberikan hasil yang signifikan dalam
pemahaman konsep warna pada anak-anak. Dengan demikian, “Bunga
Pelangi” dapat menjadi alat yang efektif dalam pendidikan anak usia
dini, membantu mereka mengembangkan keterampilan kognitif dasar
melalui metode pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif.
68
Safitri et al. Bagaimana Konsep Warna diajarkan?... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (2), 62-69, 2023
Kesimpulan
Penelitian ini berhasil menunjukkan bahwa media
pembelajaran "Bunga Pelangi" efektif dalam mengenalkan konsep
warna kepada anak-anak usia dini di PAUD YALC Pasuruan. Dari tiga
siklus yang dilakukan, terlihat peningkatan yang signifikan dalam
pemahaman anak-anak terhadap konsep warna. Peningkatan rata-
rata pemahaman sebesar 25% pada siklus pertama, 45% pada
siklus kedua, dan 65% pada siklus ketiga menunjukkan bahwa
"Bunga Pelangi" mampu menarik perhatian anak dan memfasilitasi
pemahaman mereka terhadap warna dasar. Dengan demikian,
media pembelajaran ini dapat dianggap sebagai alat yang efektif
untuk memperkenalkan konsep warna pada anak-anak usia dini.
Namun, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang
perlu diperhatikan. Ukuran sampel yang kecil dan fokus pada satu
lembaga PAUD saja dapat mempengaruhi generalisasi hasil
penelitian ini. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan
penelitian lanjutan dengan ukuran sampel yang lebih besar dan
melibatkan berbagai lembaga PAUD dari berbagai daerah untuk
memperoleh hasil yang lebih representatif dan generalisabel.
Selain itu, peneliti juga dapat mempertimbangkan untuk
mengembangkan variasi alat bantu visual lainnya yang dapat
digunakan bersama dengan "Bunga Pelangi" untuk menambah
keefektifan pembelajaran konsep warna.
Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan implikasi bahwa
lembaga pendidikan anak usia dini dapat mengadopsi media
"Bunga Pelangi" sebagai salah satu metode pembelajaran warna.
Guru-guru di PAUD dapat dilatih untuk menggunakan alat bantu ini
secara efektif, dan diharapkan media ini dapat digunakan secara
luas untuk meningkatkan pemahaman konsep warna pada anak-
anak. Mengingat pentingnya pengenalan konsep warna dalam
perkembangan kognitif anak, penggunaan alat bantu yang menarik
dan efektif seperti "Bunga Pelangi" sangat dianjurkan untuk
mendukung proses belajar mengajar di PAUD.
Reference
Abus, O. (2023). TAYO Cards in Understanding Numbers 1-10 for Early
Childhood, Improve? Journal of Teaching and Learning
Mathematics, 1, 1324.
Acar, D. (2022). “Engineer” Perception in Early Childhood. Journal of
Turkish Science Education, 19(4), 12221236.
https://doi.org/10.36681/tused.2022.171
Acker, A., Nyland, B., Deans, J., Payman, K., & Klarin, S. (2022). Music
Composition in Contexts of Early Childhood: Creation,
Communication and Multi-Modal Experiences through Music.
In Music Composition in Contexts of Early Childhood: Creation,
Communication and Multi-Modal Experiences through Music.
Springer International Publishing.
https://doi.org/10.1007/978-3-030-91692-3
Arndt, S. (2018). Early childhood teacher cultural Otherness and
belonging. Contemporary Issues in Early Childhood, 19(4), 392
403. https://doi.org/10.1177/1463949118783382
Barr, R., & Linebarger, D. N. (2016). Media exposure during infancy
and early childhood: The effects of content and context on
learning and development. In Media Exposure During Infancy
and Early Childhood: The Effects of Content and Context on
Learning and Development. Springer International Publishing.
https://doi.org/10.1007/978-3-319-45102-2
Budiarti, E. (2024). Exploratory activities for early childhood: Utilizing
smartphone technology to enhance early childhood creativity,
effective? Assyfa Journal of Multidisciplinary Education, 1.
Capio, C. M., Cheung, S. K., Fung, S. S. W., & Hu, X. (2024). Integrating
Fundamental Movement Skills and Mathematics in Early
Childhood: A Pilot Study. Children, 11(4).
https://doi.org/10.3390/children11040457
Darmayanti, R. (2023). ATM sebagai bahan ajar dalam membantu
pemahaman bilangan PI siswa SD, matematikanya dimana?
Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1(2).
Davis, G. A., & Tu, T.-H. (2008). Mathematics and science in the early
years: International perspectives and theoretical views. In
Early Childhood Education: Issues and Developments (pp. 24
45). Nova Science Publishers, Inc.
https://www.scopus.com/inward/record.uri?eid=2-s2.0-
84901601527&partnerID=40&md5=227c6c736d4041b312c19
1b52fa9721c
DiGirolamo, A. M., Ochaeta, L., & Flores, R. M. M. (2020). Early
Childhood Nutrition and Cognitive Functioning in Childhood
and Adolescence. Food and Nutrition Bulletin, 41(1_suppl),
S31S40. https://doi.org/10.1177/0379572120907763
Giaretton, D. W. L., da Rosa Olesiak, L., München, M. A. B., &
Quintana, A. M. (2020). School’s position on death and
childhood: (De)construction of silent walls. Revista Brasileira
de Educacao, 25. https://doi.org/10.1590/S1413-
24782020250035
Gibbons, A. (2015). Debating Digital Childhoods: Questions
concerning technologies, economies and determinisms. Open
Review of Educational Research, 2(1), 118127.
https://doi.org/10.1080/23265507.2015.1015940
Gjelaj, M., Buza, K., Shatri, K., & Zabeli, N. (2020). Digital technologies
in early childhood: Attitudes and practices of parents and
teachers in Kosovo. International Journal of Instruction, 13(1),
165184. https://doi.org/10.29333/iji.2020.13111a
Haga, M. (2021). Body and movement in early childhood; spaces for
movement-based play. Journal of Physical Education and
Sport, 21, 526529. https://doi.org/10.7752/jpes.2021.s1057
Haynes, L., Ip, A., Cho, I. Y. K., Dimond, D., Rohr, C. S., Bagshawe, M.,
Dewey, D., Lebel, C., & Bray, S. (2020). Grey and white matter
volumes in early childhood: A comparison of voxel-based
morphometry pipelines. Developmental Cognitive
Neuroscience, 46. https://doi.org/10.1016/j.dcn.2020.100875
Kim, S.-W., & Youn, J.-J. (2016). Analysis of the conceptual diagrams
of preservice early childhood teachers on early childhood
mathematics education. Indian Journal of Science and
Technology, 9(41).
https://doi.org/10.17485/ijst/2016/v9i41/103848
Kraftl, P. (2020). After childhood: Re-thinking environment,
materiality and media in children’s lives. In After Childhood:
Re-thinking Environment, Materiality and Media in Children’s
Lives. Taylor and Francis.
https://doi.org/10.4324/9781315110011
Kusumaningsih, D., Wibawa, S. A., & Lestari, J. T. (2024). Mengapa
guru bahasa Inggris mengajar bahasa Indonesia? Pendapat
siswa EFL tentang bahasa Indonesia di kelas bahasa Inggris.
Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 3.
Lestari, W. P., Ningsih, E. F., Choirudin, C., Sugianto, R., & Lestari, A. S.
B. (2023). Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Dengan
Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) Terhadap
Hasil Belajar Matematika. Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1,
2833.
Lewis, A. (2019). Examining the concept of well-being and early
childhood: Adopting multi-disciplinary perspectives. Journal of
Early Childhood Research, 17(4), 294308.
https://doi.org/10.1177/1476718X19860553
Lubis, M., Solehudin, R. H., & Safitri, N. D. (2024). Seberapa
“pengaruh” media, fasilitas, dan minat belajar terhadap hasil
belajar ekonomi siswa? Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1(3).
Muhammad, I., Angraini, L. M., Darmayanti, R., Sugianto, R.,
Usmiyatun, U., & ... (2023). Students’ Interest in Learning
Mathematics Using Augmented Reality: Rasch Model Analysis.
Edutechnium Journal of Educational Technology, 1(1), 8999.
Mustakim, A., Wawan, W., Choirudin, C., Ngaliyah, J., & Darmayanti,
R. (2023). Quantum Teaching Model: Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Matematika Siswa MTs. Jurnal Penelitian
69
Safitri et al. Bagaimana Konsep Warna diajarkan?... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (2), 62-69, 2023
Tindakan Kelas, 1(1), 610.
Navarra, G. A., Scardina, A., Thomas, E., Battaglia, G., Agnese, M.,
Proia, P., Palma, A., & Bellafiore, M. (2022). How Does the
Amount of a Physical Education Intervention Affect Gross
Motor Coordination in Early Childhood? Journal of Functional
Morphology and Kinesiology, 7(4).
https://doi.org/10.3390/jfmk7040096
O’Toole, L., McClelland, D., Forde, D., O’Keeffe, S., Purdy, N.,
Säfström, C. A., & Walsh, T. (2021). Contested childhoods
across borders and boundaries: Insights from curriculum
provisions in Northern Ireland and the Irish Free State in the
1920s. British Educational Research Journal, 47(4), 10211038.
https://doi.org/10.1002/berj.3708
Pandia, W. S. S., Naim, M. A., & Siddique, M. (2023). Student growth,
qualities, and abilities in developing religious ideals from
childhood. Which approach works? Assyfa Journal of Islamic
Studies, 1.
Rahmawati, I., Anwar, M. S., Saputra, A. A., & Fauza, M. R. (2023).
Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Proses
Pembelajaran Matematika Kelas X MA Maâ€
TM
arif Roudlotut
Tholibin Kota Metro. Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 2, 91
105.
Rizdania, R., Riono, S. H., Rakhmawati, P. U., & Darmayanti, R. (2023).
Interns: Mentoring and Counseling on the Software
Development Process. Jurnal Inovasi Dan Pengembangan Hasil
Pengabdian Masyarakat, 1, 2229.
Robertson, S.-A., & Graven, M. (2020). A mathematics teacher’s
response to a dilemma: ‘i’m supposed to teach them in English
but they don’t understand.’ South African Journal of Childhood
Education, 10(1). https://doi.org/10.4102/sajce.v10i1.800
Safitri, E., Setiawan, A., & Darmayanti, R. (2023a). Eksperimentasi
Model Pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan
Kahoot Terhadap Kepercayaan Diri Dan Prestasi Belajar. Jurnal
Penelitian Tindakan Kelas, 1(2), 5761.
Safitri, E., Setiawan, A., & Darmayanti, R. (2023b). Eksperimentasi
Model Pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan
Kahoot Terhadap Kepercayaan Diri Dan Prestasi Belajar. Jurnal
Penelitian Tindakan Kelas, 2, 5761.
Safitri, E., Setiawan, A., Darmayanti, R., & Wardana, M. R. F. (2023).
Pinokio dalam Pembelajaran Matematika Materi Geometri
untuk Siswa SMP. Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1(2), 106
113.
Safitri, N. D., Afifah, A., & Rahmah, K. (2023). Bagaimana konsep
warna diperkenalkan dengan media Bunga Pelangi? Jurnal
Penelitian Tindakan Kelas, 2.
Schmutz, E. A., Leeger-Aschmann, C. S., Kakebeeke, T. H., Zysset, A. E.,
Messerli-Bürgy, N., Stülb, K., Arhab, A., Meyer, A. H., Munsch,
S., Puder, J. J., Jenni, O. G., & Kriemler, S. (2020). Motor
Competence and Physical Activity in Early Childhood: Stability
and Relationship. Frontiers in Public Health, 8.
https://doi.org/10.3389/fpubh.2020.00039
Segara, B., Choirudin, C., Setiawan, A., Anwar, M. S., & Arif, V. R.
(2023). Metode Inquiry: Meningkatkan Hasil Belajar
Matematika Siswa SMP Pada Materi Luas Bangun Datar. JUrnal
Penelitian Tindakan Kelas, 1, 1822.
Sharmahd, N., & Peeters, J. (2019). Critical reflection, identity,
interaction : Italian and Belgian experiences in building
democracy through pedagogical documentation. In
Understanding Pedagogic Documentation in Early Childhood
Education : Revealing and Reflecting on High Quality Learning
and Teaching (pp. 5266). Taylor and Francis.
https://doi.org/10.4324/9780429030055-4
Solehudin, R. H., & Darmayanti, R. (2018). What are the main lessons
from Indonesia’s CSR financial literacy education investment
for early childhood? Jurnal Caksana: Pendidikan Anak Usia
Dini, 1(1), 95106.
Srisuk, K. (2023). Guidelines for reforming early childhood teacher
production and development systems by applying
competencies effecting the early childhood-Based conceptual
innovation development. Kasetsart Journal of Social Sciences,
44(1), 169180. https://doi.org/10.34044/j.kjss.2023.44.1.19
Strauss, A. M., Tolmen, P. S., & Bipath, K. (2023). A critical multimodal
discourse analysis of drawings to ascertain identity and self-
concept. South African Journal of Childhood Education, 13(1).
https://doi.org/10.4102/sajce.v13i1.1240
Syaifuddin, M., Darmayanti, R., & Rizki, N. (2022). Development of a
two-tier multiple-choice (TTMC) diagnostic test for geometry
materials to identify misconceptions of middle school
students. Jurnal Silogisme: Kajian Ilmu Matematika Dan
Pembelajarannya, 7(2).
Symonds, J. D., Zuberi, S. M., Stewart, K., McLellan, A., O’Regan, M.,
MacLeod, S., Jollands, A., Joss, S., Kirkpatrick, M., Brunklaus, A.,
Pilz, D. T., Shetty, J., Dorris, L., Abu-Arafeh, I., Andrew, J., Brink,
P., Callaghan, M., Cruden, J., Diver, L. A., Wilson, M. (2019).
Incidence and phenotypes of childhood-onset genetic
epilepsies: A prospective population-based national cohort.
Brain, 142(8), 23032318.
https://doi.org/10.1093/brain/awz195
Tesar, M. (2018). Power, ideology and children: Socialist childhoods
in Czechoslovakia. Dialogic Pedagogy, 6, SC49SC61.
https://doi.org/10.5195/dpj.2018.244
Thümmler, R., Engel, E.-M., & Bartz, J. (2022). Strengthening
Emotional Development and Emotion Regulation in
ChildhoodAs a Key Task in Early Childhood Education.
International Journal of Environmental Research and Public
Health, 19(7). https://doi.org/10.3390/ijerph19073978
Triono, T., Darmayanti, R., & Saputra, N. D. (2023). Vos Viewer and
Publish or Perish: Instruction and assistance in using both
applications to enable the development of research mapping.
Jurnal Dedikasi, 2.
Vandenbroeck, M., De Vos, J., Fias, W., Olsson, L. M., Penn, H.,
Wastell, D., & White, S. (2017). Constructions of neuroscience
in early childhood education. In Constructions of Neuroscience
in Early Childhood Education. Taylor and Francis.
https://doi.org/10.4324/9781315445120
Wati, R. I., Suharsiwi, S., & Sah, R. W. A. (2023). Siswa sekolah dasar
menggunakan game “new family 100†untuk
mengembangkan vocabulary, bagaimana kegiatan
implementasinya? Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 2.