Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, vol. 1 (1), pp. 46-52, 2023
Received 16 Feb 2023 / published 20 Mar 2023
https://doi.org/10.61650/jptk.v1i1.156
Eksperimentasi Model Pembelajaran
Problem Posing Terhadap
Kemampuan Berfikir Kreatif Pada
Materi Lingkaran Berbantu Video
Animasi
Latifatul Mukaromah
1
, Eka Fitria Ningsih
2
, Choirudin
3
, and Ridina Sekaryanti
4
1.
Universitas Ma’arif Lampung, Indonesia
2.
Universitas Ma’arif Lampung, Indonesia
3.
Universitas Ma’arif Lampung, Indonesia
4.
Universitas Muhammadiyah Malang
E-mail correspondence to:
mukaromahlatifah1904@gmail.com
Abstract
Penelitian ini bermaksud membandingkan kemampuan berpikir kreatif
siswa yang diajar dengan model pembelajaran problem posing berbantu
video animasi dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran langsung
pada materi lingkaran. Riset ini merupakan riset kuantitatif dengan
mempergunakan metode eksperimen dengan rancangan penelitian
Statistik Group Comparison. Populasi riset ialah siswa kelas VIII SMP
Ma'arif 1 Metro. Chuster random sampling adalah teknik pengambilan
sampel yang dipakai dalam riset ini. Sampel diambil dari dua kelas yaitu
kelas VIIIA (kelas eksperimen) dan kelas VIIIB (kelas kontrol). Data riset
ini dikumpulkan menggunakan tes dengan instrumen berupa soal uraian
serta dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam riset ini adalah
uji-t dua sampel independen. Analisis data dengan mempergunakan uji-
t pada SPSS menghasilkan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, menolak 𝐻
0
dan
menerima H1, menunjukkan bahwa model pembelajaran problem
posing berbantu video animasi lebih efektif digunakan dibandingkan
pembelajaran langsung dalam meningkatkan kemampuan berfikir
kreatif siswa.
Keywords: Berpikir Kreatif; Problem Posing; Model Pembelajaran;
Video Animasi.
Pendahuluan
Matematika diajarkan kepada siswa dari SD sampai universitas
yang memuat objek seperti fakta (Humaidi et al., 2022; Khoiriyah et
al., 2022; Rahmad et al., 2022), konsep (Safitri et al., 2023),
prosedur (Widodo et al., 2023), dan prinsip (Ayu Gustianingrum &
Kartini, 2021). Oleh sebab itu, setiap generasi manusia memahami
pentingnya belajar matematika. Menurut (Choirudin et al., 2021)
pada proses kegiatan pembelajaran siswa harus aktif. Ketika
kegiatan pembelajaran (Sugianto et al., 2017), siswa didorong agar
bisa mencari informasi atau pengetahuannya sendiri secara lebih
aktif (Darmayanti et al., 2022), dimana guru berperan sebagai
pembimbing siswa (Hasanah et al., 2022; Hudha et al., 2023).
Hasil studi PISA 2018 mengemukakan bahwa kemampuan
membaca peserta didik di Indonesia mendapat skor rata-rata 371,
kemudian untuk matematika mendapat skor rata-rata 379, dan
sains mendapat skor rata-rata 396 (Anggraini et al., 2022;
Sekaryanti et al., 2022). Adapun berdasarkan data Rapor
Pendidikan Publik 2022 jenjang SMP/Sederajat Kota/Kabupaten
Metro Provinsi Lampung, capaian hasil belajar peserta didik
terhadap kemampuan literasi mencapai kompetensi minimum,
pada kemampuan numerasi masih di bawah kompetensi minimum,
dan pada indeks karakter berkembang (Kemendikbudristek, 2022).
Penerapan model pembelajaran hanyalah salah satu dari sekian
banyak variabel yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan
pembelajaran (Anhar & Darmayanti, 2023; Riono et al., 2023).
Model pembelajaran ialah model yang bisa digunakan untuk
memandu pembelajaran di kelas ataupun di tempat lain (Arif et al.,
2022; Mustafa et al., 2023). Sebuah model pembelajaran dapat
dipakai sebagai strategi pemilihan (Hasanah et al., 2023; Rizki et al.,
2022), yang memungkinkan guru untuk memilih model
pembelajaran terbaik untuk siswanya (Mirdad, 2018). Oleh karena
itu, untuk dapat mengatasi masalah pembelajaran tersebut, peneliti
akan menerapkan model pembelajaran yang inovatif.
©
2023 Lailatul Mukaromah et al., (s). This is a Creative Commons License. This work is licensed under a Creative Commons
Attribution-NonCommertial 4.0 International License.
Lailatul Mukaromah et al., Eksperimentasi Model Pembelajaran Problem ... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (1), 46-52, 2023
47
Aktivitas siswa ketika kegiatan pembelajaran matematika
diantaranya bertanya (Li et al., 2020), menyelesaikan soal (Dewi,
2018), menyampaikan ide gagasan (Cai, 2017), memberikan
argumen merupakan kagiatan yang dapat meningkatkan
pemahaman serta kemampuan berfikir siswa (Amalina, 2018;
Izzatul & Istiqlal, 2019). Ketika siswa sudah melakukan aktivitas
seperti yang sudah dijelaskan di atas dengan baik, maka ketika siswa
dihadapkan dengan suatu masalah, siswa akan bisa
menyelesaikannya dengan baik dan bisa menemukan suatu yang
baru yang dapat meningkatkan pengetahuannya (Ferdianto &
Ghanny, 2014; Ulfah, 2017). Dengan demikian, peneliti akan
memilih model pembelajaran yang dapat melatih peserta didik
dalam aktivitas membuat soal dan menyelesaikan soal untuk
melatih kemampuan berfikir kreatif.
Model problem posing merupakan model pembelajaran yang
menitikberatkan peserta didik untuk membuat soal berdasarkan
informasi serta kondisi yang ditujukan kepada mereka (Miranda,
2022; Setiyani, 2020). Pertanyaan sederhana yang mereka ajukan
kemudian ditukarkan dengan kelompok lain untuk dicari jawabanya
secara individu maupun berdiskusi dengan teman kelompok
(Isnani, 2020; Rochaminah, 2022). Penggunaan model
pembelajaran problem posing bisa melatih kemampuan berpikir
kreatif peserta didik.
Menurut Lestari, Rochadi, serta Maulana vidio animasi ialah
susunan gambar yang dirangkai sedemikian rupa secara berurutan
kemudian diberi kecepatan yang memadai dan ditampilkan maka
susunan gambar tersebut akan terlihat bergerak. Vidio animasi
merupakan suatu alat pembelajaran yang bisa dipakai pendidik
untuk membantu memperjelas materi pembelajaran. Nurdyansyah
mengemukakan bahwa terdapat pengelompokan media
pembelajaran yaitu media visual dan audio visual. Contoh media
pembelajaran visual ialah gambar, peta, foto, sedangkan contoh
media pembelajaran audio visual yaitu vidio, vidio animasi dan film
(Lewis, 2021; Marham, 2021). Pada riset ini, peneliti akan
mempergunakan vidio animasi dalam kegiatan pembelajaran untuk
membantu memperjelas materi pembelajaran.
Kemampuan keterampilan berpikir yang harus dikembangkan
di abad sekarang ini ialah kemampuan berpikir kreatif. Kemampuan
berfikir kreatif yaitu kemampuan pemahaman individu untuk
meningkatkan dan menghasilkan inspirasi baru, ide yang lebih baik
yang dibangun di atas yang sebelumnya. Menurut (Rahman & Ahmar,
2017) indikator yang dipakai yaitu kelancaran, kelenturan, keaslian
dan elaborasi (Fauziah, 2019; Rizky & Sritresna, 2021). Hasil pra
surve peneliti di SMP Ma’arif 01 Metro diperoleh keterampilan
berpikiran kreatif murid masih diklasifikasikan rendah, dikarenakan
dapat terlihat melalui uji coba pengerjaan soal yang memuat
kemampuan berfikir kreatif, yang mana siswa ketika mengerjakan
soal tersebut masih merasa kesulitan. Kemampuan berfikir kreatif
siswa di SMP Ma’arif 1 Metro yang masih tergolong rendah juga bisa
dilihat dari cara pemahaman materi pelajaran dan pengerjaan soal.
Mereka cenderung menyelesaikan soal dengan cara yang sama
seperti pada contoh yang pendidik berikan, dan saat mereka
ditanyai dengan soal berbeda, mereka merasa soal tersebut sulit
untuk dipecahkan.
Penelitian sebelumnya menunjukan bahwa adanya dampak
yang efektif dari penggunaan model pembelajaran problem posing
terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa (Abramovich, 2014;
Cankoy & Özder, 2017). Hasil penelitian lain juga menunjukan
bahwa adanya peningkatan kemampuan berfikir kreatif pada siswa
yang diajarkan dengan pembelajara problem posing (Schabas,
2023; Vedianty et al., 2023). Hasil penelitian lainnya juga
menyatakan bahwa suatu model pembelajaran dapat
meningkatkan hasil belajar siswanya ketika kegiatan pembelajaranya
dibantu dengan media pembelajaran (Karim & Zoker, 2023; Winson
et al., 2023).
Berdasarkan beberapa kajian penelitian yang relevan tersebut,
peneliti akan melakukan sebuah penelitian pembelajaran
matematika tehadap kemampuan berfikir kreatif siswa melalui
penerapan model pembelajaran problem posing dalam materi
lingkaran berbantu vidio animasi. Disini peneliti akan menerapkan
model pembelajaran yang kegiatan pembelajaranya tidak
didominasi oleh guru (Darmayanti, 2023; U Zahroh et al., 2023).
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Ma’arif 1 Metro dengan subjek
penelitian siswa kelas VIII (A dan B) SMP Ma'arif 1 Metro tahun
pelajaran 20222023. Riset ini merupakan riset eksperimen.
Prasetyo dan Jannah menjelaskan bahwa riset eksperimen
merupakan riset yang meneliti kelompok eksperimen dan kontrol.
Kelompok eksperimen dan kelompk kontrol akan diberi perlakuan
untuk mengetahui perbandingan hasil reaksi kedua kelompok
(Prasetyo & Miftahul Jannah, 2011). Peneliti mempergunakan
desain perbandingan kelompok statis dengan dua kelompok yang
ada (Static Group Comparison), yang dipakai dalam desain ini,
dalam desain ini tidak mempergunakan tes awal pada kedua
kelompok (Wawan, 2020).
Table1.Desain Penelitian
Kelompok
Perlakuan
Post test
I
Model pembelajaran
problem posing
𝑃
1
II
Model pembelajaran
langsung
𝑃
1
Ada dua veriabel dalam riset ini: variabel independen dan
variabel dependen. Kemampuan berpikir kreatif sebagai variabel
terikat dan model pembelajaran problem posing sebagai variabel
bebas. Peneliti mempergunakan teknik pengujian dan
pendokumentasian untuk memperoleh data. Untuk menilai
keterampilan berpikir kreatif siswa pasca-perlakuan, peneliti
memberikan post-test yang terdiri dari lima soal uraian (MZ
Mubarok et al., 2023; Pradana & Uthman, 2023).
Populasi penelitian ialah peserta didik kelas VIII SMP Ma'arif 1
Metro tahun pelajaran 20222023 (kelas VIII A dan VIII B).
Penelitian ini menggunakan teknik chuster random sampling untuk
memilih kelas eksperimen. Kelas VIII A akan diajar dengan
pembelajaran problem posing sebagai kelas eksperimen. Kelas VIII
B berfungsi sebagai kelas pembanding (pembelajaran langsung).
Uji t adalah analisis data yag dipakai dalam penelitian ini. Uji t
dilaksanakan ketika peneliti sudah memberi perlakukan pada
eksperimennya. Kemudian diakhir perlakuan peneliti melakukan
pengukuran. Selanjutnya, uji statistik parametrik yang disebut uji t
dua sampel independen dipakai data untuk melihat data apakah
ada bukti bahwa rata-rata kedua kelompok memang berbeda.
Kemudian setelah data terkumpul, peneliti akan melakukan uji
hipotesis apakah diterima atau ditolak. Sebelum data dianalisis,
peneliti melakukan uji prasyarat analisis data, yaitu uji normalitas
serta uji homogenitas. Pada riset ini uji hipotesis peneliti
mempergunakan uji t dua sampel independent.
Perbandingan hipotesis nol (𝐻
0
) dan alternatif (𝐻
1
) dapat
dilaksanakan dengan mempergunakan uji-t pada dua sampel
independen:
𝐻
0
:
𝜇
1
𝜇
2
( Model pembelajaran problem posing tidak dapat
meningkatkan kemampuan berfikir kreatif lebih baik dari pada
model pembelajaran langsung)
𝐻
1
:
𝜇
1
>
𝜇
2
(Model pembelajaran problem posing dapat
Lailatul Mukaromah et al., Eksperimentasi Model Pembelajaran Problem ... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (1), 46-52, 2023
48
meningkatkan kemampuan berfikir kreatif kreatif lebih baik
daripada model pembelajaran langsung)
Keterangan:
𝜇
1
ialah rerata nilai tes akhir setelah yang dikenai model
pembelajaran problem posing
𝜇
2
ialah rerata nilai tes akhir setelah dikenai model
pembelajaran langsung.
Hasil dan Pembahasan
Hasil
Sebelum melakukan penelitian, peneliti merancang proses
pembelajaran dengan model problem posing berbantu vidio
animasi melalui pembuatan RPP sesuai dengan model
pembelajaran yang peneliti terapkan di kelas, menyiapkan vidio
animasi sesuai dengan kompetensi dasar, silabus, prosem, dan
prota serta instrumen riset berupa soal uraian yang peneliti gunakan
sebagai alat pengumpulan data.
Sebelum peneliti dapat mempergunakan instrument dalam
riset, instrument riset terlebih dahulu di uji validitas dan
reliabelitasnya. Adapun hasil uji validitas dan reliabilitas
instruement dapat dilihat pada tabel berikut:
Table 2. Hasil Uji Validitas
Berdasarkan uji validitas di atas dapat diketahui bahwa
instrument soal uraian dari nomer satu sampai nomer lima
termasuk dalam kategori tinggi. Dilihat dari kriteria indeks validitas
Aiken nilai V termasuk pada interval V >0,80 maka secara
keseluruhan instrument tersebut mempunyai validitas yang tinggi.
Tabel 3. Uji Reliabilitas
Pemantapan alat
ukur data
𝛼
Keterangan
Reliabilitas
0,82
Reliable
aaa Tabel 2 menunjukkan bahwa Lhitung Ltabel,
menunjukkan bahwa H0 diterima dan setiap sampel diambil dari
populasi yang berdistribusi teratur. Uji homogenitas hasil belajar
matematika mengunakan hasil tes dari dua kelompok yaitu kelas
dengan memakai model Two Stay Two Stray (TS-TS) dan kelas yang
memakai model Think Pair Share (TPS) pada pengujian
homogenitas menggunakan uji Barletl dengan signifikansi 0,05. H0
ditolak jika x2hitung > x2tabel. Tabel 4 berikut menampilkan
ikhtisar hasil uji homogenitas.
Tabel 4. Ringkasan hasil uji homogenitas nilai pretest kelas TS-TS dan TPS
Nilai x2
Keputusan uji
Kesimpulan
x2hitung
x2tabel
Ho diterima
Homogen
- 424,92
3, 841
Tabel 5. Ringkasan hasil uji homogenitas nilai posttest kelas TS-TS dan TPS
Nilai x2
Keputusan uji
Kesimpulan
x2hitung
x2tabel
Ho diterima
Homogen
-221,86
3, 841
Berdasarkan tebel di atas hasil perhitungan pngukuran data
didapatkan nilai 𝛼 ialah 0,82. Hal ini berarti koefisien reliabilitas 𝛼
>
0,70 dimana instrument riset merupakan instrument yang
reliabel. Setelah dilaksanakan tes berpikir kreatif, data akhir
dikumpulkan kemudian dianalisis. Tes berpikir kreatif terdiri dari
lima soal dan seluruh soal berbentuk uraian. Tes ini diberikan
setelah diterapkannya pembelajaran dengan model pembelajaran
problem posing berbantu vidio animasi pada materi lingkaran.
Tes berpikir kreatif ini diikuti oleh 44, 24 siswa kelas eksperimen
dan 20 siswa dari kelas kontrol. Hasil tes kemampuan berpikir kreatif
siswa dari kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat disajikan pada
tabel dibawah ini.
Tabel 4. Data Hasil Post Tes Kemampuan Berfikir Kreatif
No
Statistik Deskriptif
Kelas Eksperimen
Kelas Kontrol
1
Banyak Siswa
24
20
2
Nilai Tertinggi
98
78
3
Nilai Terendah
73
50
4
Rata-rata
83,46
60,10
5
Simpangan Baku
7,47
8,29
Berdasarkan tabel di atas, hasil tes kemampuan berfikir kreatif
sisws pada materi lingkaran dapat dilihat bahwa rata-rata hasil post
tes kemampuan berpikir kreatif siswa kelas eksperimen yaitu 83,46
jauh lebih baik dibanding pada kelas kontol yang memiliki rata-rata
Lailatul Mukaromah et al., Eksperimentasi Model Pembelajaran Problem ... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (1), 46-52, 2023
49
60,10. Nilai tertinggi yang dicapai siswa terdiri dari nilai tertinggi
post tes kelas eksperimen 98 dan nilai tertinggi post tes kelas kontol
78. Sedangkan nilai terendah pada kelas eksperimen 73 dan nilai
terendah kelas kontrol 50.
Uji Normalitas
Sebelum menilai hipotesis, peneliti terlebih dahulu melakukan
uji uji normalitas dan uji homognitas. Peneliti melakukan uji
normalitas dengan aplikasi SPSS. Tujuan dari uji normalitas ialah
untuk mengetahui mengetahui apakah sampel riset berasal dari
sampel yang beristibusi normal. Berikut tabel hasil uji normalitas.
Tabel 5. Uji Normalitas
Berdasarkan tabel tersebut hasil uji normaitas kedua kelompok
eksperimen maupun kontrol dapat diartikan jika diperoleh nilai
signifikan >0,05 data berdistribusi normal. Bedasarkan tabel di atas
tingkat signifikansi post tes kelas eksperimen (problem posing)
0,200 dan tingkat signifikansi post tes kelas kontrol (pembelajaran
langsung) 0,200 maka dapat dikatakan bahwa kedua kelas tersebut
berdistribusi normal.
Uji Homogenitas
Peneliti melakukan uji prasyarat homogenitas dengan
meggunakan aplikasi SPSS. Tujuan dari uji homogenitas yaitu untuk
mengetahui apakah sampel memiliki varian yang sama. Berikut
tabel uji homogenitas.
Tabel 6. Uji Homogenitas
Hasil uji homogenitas teknik uji Levene, di mana interpretasi
statistik dipilih berdasarkan rata-rata, ditunjukkan pada Tabel 6 di
atas (Berdasarkan Mean). Tabel berikut menunjukkan bahwa uji
homogenitas setelah perlakuan memiliki signifikansi 0,680 dimana >
0,05, yang menunjukkan bahwa baik kelompok eksperimen
maupun kelompok kontrol memiliki varians yang sama dan disebut
homogen.
Data posttest ditemukan normal dan homogen, yang
ditentukan oleh analisis uji prasyarat hipotesis, dengan demikian
uji t dipakai untuk menguji hipotesis. Dua sampel independen
dipakai dalam penyelidikan ini untuk menguji hipotesis nol.
Kreteria
pengambilan
keputusan
jika
𝑡
𝑡
𝑎
𝑏
𝑒
𝑙
𝑡
𝑖
𝑡
𝑢𝑛𝑔
𝑡
𝑡
𝑎
𝑏
𝑒
𝑙
(
𝛼
/
2
)
,
maka
H0
diterima dan
jika
𝑡
𝑖
𝑡
𝑢𝑛𝑔
>
𝑡
𝑡
𝑎
𝑏
𝑒
𝑙
(
𝛼
/
2
)
maka
H0
ditolak.
Berikut
tabel
hasil
uji
t
dua
sampel
independent
dengan mempergunakan aplikasi SPSS.
Berdasarkan perhitungan uji t dua sampel independent dengan
mempergunakan aplikasi SPSS didapat bahwa nilai signifikansi 0,000
dan jika dilihat dari kreteria pengujian nilai signifikan < 0,05 maka
dapat dikatakan H1 disetujui sedangkan H0 ditolak. Hal ini
menunjukkan bahwa pembelajaran problem posing lebih besar
pengaruhnya terhadap kapasitas berpikir kreatif dibandingkan
dengan strategi pembelajaran langsung.
Pembahasan
Penelitian dilaksanakan di SMP Ma'arif 1 Metro kelas VIII A dan
VIII B. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan kelas
eksperimen dan kelas kontrol. Disini kelompok eksperimen
ditempatkan di kelas VIIIA, sedangkan kelompok kontrol
ditempatkan di kelas VIIIB. Peneliti kemudian menerapkan
perlakuan pada kelas eksperimen dengan mempergunakan model
pembelajaran problem posing, untuk menilai kemampuan
pemecahan masalah kreatif peserta didik, peneliti mempergunakan
pembelajaran problem posing pada kelas eksperimen (kelas A).
Peneliti pada awalnya merancang pembelajaran sebelum
melakukan pembelajaran, membuat RPP dengan mempergunakan
model pembelajaran problem posing dan model pembelajaran
langsung, serta menyiapkan vidio animasi yang memuat materi.
Peneliti disini dalam menyampaikan materi pembelajaran berbantu
dengan video animasi yang memuat materi lingkaran, tujuan
penggunaan vidio animasi ini ialah untuk memudahkan
pemahaman siswa saat belajar.
Lailatul Mukaromah et al., Eksperimentasi Model Pembelajaran Problem ... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (1), 46-52, 2023
50
Kelompok eksperimen mengungguli kelompok kontrol dalam
hal kemampuan berpikir kreatif, karena fakta bahwa mereka
diharuskan mempergunakan pembelajaran yang menuntut mereka
mengembangkan proses berpikirnya untuk memperkuat
pengetahuannya sendiri. Peneliti memberikan penyadaran akan
pentingnya belajar lingkaran dalam kaitannya dengan matematika
dalam kehidupan sehari-hari pada awal pertemuan di kelas
eksperimen sebelum tahapan model pembelajaran problem posing
dilaksanakan. Ini memotivasi anak-anak untuk belajar lebih banyak
tentang lingkaran. Namun, penerapan awal pembelajaran problem
posing masih belum optimal.
Pada awal penerapan pembelajaran, pserta didik dibentuk
dalam beberapa kelompok yang heterogen. Banyak siswa yang
kurang berani menuliskan ide- idenya, terdapat siswa yang ingin
melihat hasil pekerjaan teman yang mereka anggap pintar di kelas.
Peneliti berperan penting dalam membimbing peserta didik dalam
memahami materi yang diberikan, karena sebagian besar peserta
didik masih bingung untuk memahami tugas untuk membuat
pertanyaan yang diberikan oleh peneliti. Karena peserta didik masih
belum terbiasa dengan pembelajaran problem posing, peneliti
masih mendominasi kegiatan pembelajaran.
Pada pertemuan selanjutnya, siswa sudah memahami tahapan-
tahapan pembelajaran problem posing. Proses pembelajaran yang
berlangsung memberikan suasana yang nyaman pada siswa
sehingga tidak malu lagi dalam menyampaikan ide-ide mereka.
Tahapan tahapan yang dilalui yaitu accepting dan challenging.
Tahapan accepting ialah dimana siswa menerima tugas yang
diberikan. Kegiatan siswa pada tahap ini yakni menerima masalah,
membaca informasi dan memahami masalah yang diberikan. Siswa
menantang situasi yang diberikan terdapat pada tahap challenging.
Tahap yang menantang ketika siswa mencoba untuk mengajukan
pertanyaan tergantung pada keadaan. Siswa diberi kesempatan
untuk membuat pertanyaan sesuai dengan apa yang dikehendaki
dalam rangka menyelesaikan masalah yang diberikan. Variansi
pertanyaan peserta didik dapat dilihat dibawah ini.
Pada tahap challenging selain siswa mengajukan pertanyaan
sesuai situasi yang diberikan, peserta didik juga menyelesaikan soal
tersebut dengan berbagai cara penyelesaian. Hal ini mendorong
kemampuan berpikir kreatif peserta didik untuk membuat dan
menyelesaikan soal. Terlihat bahwa siswa membuat dan
menyelesaikan soal dengan langkah-langkah yag benar dan dengan
jawaban yang bervariasi
Pembelajaran problem posing yang peneliti gunakan dalam
pembelajarannya memiliki kelebihan dan kekurangan. kelebihan
mempergunakan pembelajaran problem posing dengan berbantu
video animasi ialah siswa dapat merumuskan pertanyaan dalam
istilah mereka sendiri, yang dapat berpengaruh pada keterampilan
pemecahan masalah mereka. Kegiatan pembelajaran tidak
berpusat pada guru. Namun demikian, tidak semua siswa mahir
dalam mengajukan pertanyaan, dan prosesnya memakan waktu
yang cukup lama
Hasil analisis data diperoleh perhitungan uji t dua sampel
independent dengan mempergunakan aplikasi SPSS didapat bahwa
nilai signifikansi 0,000 dan jika dilihat dari kreteria pengujian nilai
signifikan < 0,05 maka dapat dikatakan H0 ditolak dan H1 diterima.
Artinya model pembelajaran problem posing menghasilkan
kemampuan berfikir kreatif lebih baik daripada model
pembelajaran langsung. Berdasarkan analisis data dengan uji t dua
sampel independent bahwa penerapan model pembelajaran
problem posing dengan berbantu vidio animasi setelah
diberikannya post tes menunjukkan model pembelajaran problem
posing berbantu vidio animasi menghasilkan kemampuan berfikir
kreatif lebih baik dibandingkan dengan mempergunakan
pembelajaran langsung
Penelitian ini dikuatkan oleh penelitian sebelumnya
(Darmayanti et al., 2023; Isnani, 2020; Nasiha et al., 2023; Santiago
et al., 2023; Yuniarsih, 2011). Temuan beberapa penelitian
sebelumnya menunjukkan bahwa model pembelajaran problem
posing lebih unggul daripada model pembelajaran langsung, serta
dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir
kreatifnya untuk pemecahan masalah.
Kesimpulan
Penelitian ini melakukan post-test untuk menilai
kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Pada penelitian
eksperimen yang mempergunakan model pembelajaran problem
posing berbantu video animasi pada kelas eksperimen dan
pembelajaran langsung pada kelas kontrol dalam pembelajaran
matematika terhadap kemampuan berpikir kreatif pada materi
lingkaran. Kelas eksperimen setelah tes rata-rata 83,46,
sedangkan kelas kontrol setelah tes rata-rata 60,10.
Berdasarkan hasil penelitian, model pembelajaran problem
posing berbantu video animasi lebih efektif dibandingkan dengan
model pembelajaran langsung untuk meningkatkan kemampuan
berpikir kreatif siswa ketika belajar matematika. Kegiatan
pembelajaran dimana siswa diminta untuk mengembangkan dan
menjawab pertanyaannya sendiri berdampak pada efektifitas
penerapan model pembelajaran problem posing terhadap
kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Akibatnya, pembelajaran
problem posing dapat dipakai atau ditingkatkan lebih lanjut dalam
kegiatan pembelajaran.
Referensi
Abramovich, S. (2014). Revisiting mathematical problem solving and
posing in the digital era: toward pedagogically sound uses of
modern technology. International Journal of Mathematical
Education in Science and Technology, 45(7).
Figure 1. Hasil Jawaban siswa
Lailatul Mukaromah et al., Eksperimentasi Model Pembelajaran Problem ... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (1), 46-52, 2023
51
https://doi.org/10.1080/0020739X.2014.902134
Amalina, I. K. (2018). Students’ Creativity: Problem Posing in
Structured Situation. Journal of Physics: Conference Series,
947(1). https://doi.org/10.1088/1742-6596/947/1/012012
Anggraini, N. A., Ningsih, E. F., Choirudin, C., & ... (2022). Application
of the AIR Learning Model Using Song Media to Improve
Students’ Mathematical Representational Ability. AMCA
Journal of .
http://journal.amca2012.org/index.php/ajst/article/view/264
Anhar, J., & Darmayanti, R. (2023). Pengaruh Kompetensi Guru Agama
Islam Terhadap Implementasi Manajemen Sumber Daya
Manusia Di Madrasah Tsanawiyah. Assyfa Journal of Islamic
Studies, 1(1), 1323.
Arif, V. R., Darmayanti, R., & Usmiyatun, U. (2022). Designing the
Development of Canva Application-Based Audio-Visual
Teaching Materials on the Material" Point to Point Distance"
for High School Students. JEMS: Jurnal Edukasi Matematika
Dan Sains, 11(1), 286299.
Cai, J. (2017). An Analysis of Problem-Posing Tasks in Chinese and US
Elementary Mathematics Textbooks. International Journal of
Science and Mathematics Education, 15(8), 15211540.
https://doi.org/10.1007/s10763-016-9758-2
Cankoy, O., & Özder, H. (2017). Generalizability theory research on
developing a scoring rubric to assess primary school students’
problem posing skills. Eurasia Journal of Mathematics, Science
and Technology Education, 13(6).
https://doi.org/10.12973/EURASIA.2017.01233A
Choirudin, C., Darmayanti, R., Afifah, A., Karim, S., & Sugianto, R.
(2021). Mathematics Teacher Vs Media Development, What
Are the Learning Problems in MTs? AMCA Journal of Religion
and Society, 1(2).
Darmayanti, R. (2023). Gema Cow-Pu: Development of Mathematical
Crossword Puzzle Learning Media on Geometry Material on
Middle School Students’ Critical Thinking Ability. Assyfa
Learning Journal, 1(1), 3748.
Darmayanti, R., Baiduri, B., & Inganah, S. (2022). Moodle-based
learning media development of flex model in improving
mathematical hard skills of high school students. AKSIOMA:
Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika, 11(4), 2649
2665.
Darmayanti, R., Fikri, M., & Rahman, M. A. (2023). Student learning
outcomes will" improve" when using counting box media. How
significant is the impact of this media? Assyfa Journal of Islamic
Studies, 1.
Dewi, H. L. (2018). Mathematical creative thinking and problem
posing: An analysis of vocational high school students’
problem posing. Journal of Physics: Conference Series, 1097(1).
https://doi.org/10.1088/1742-6596/1097/1/012134
Fauziah, E. W. (2019). Student’s Creative Thinking Skills in
Mathematical Problem Posing Based on Lesson Study for
Learning Community. IOP Conference Series: Earth and
Environmental Science, 243(1). https://doi.org/10.1088/1755-
1315/243/1/012142
Ferdianto, F., & Ghanny, G. (2014). Meningkatkan Kemampuan
Pemahaman Matematis Siswa Melalui Problem Posing. Euclid,
1(1), 4754. https://doi.org/10.33603/e.v1i1.343
Hasanah, N., Laila, A. R. N., & Nurmalitasari, D. (2023). Development
of Audiovisual Ethnomathematics Teaching Materials Assisted
by Kinemaster Applications Algebraic Function Derivative
Application Materials for Class XI SMA. Delta-Phi: Jurnal
Pendidikan Matematika, 1(1).
Hasanah, N., Syaifuddin, M., & Darmayanti, R. (2022). Analysis of the
need for mathematics teaching materials" digital comic based
on islamic values" for class X SMA Students in Era 5.0.
Numerical: Jurnal Matematika Dan Pendidikan Matematika,
6(2), 231240.
Hudha, A. M., Ullah, K., & Darmayanti, R. (2023). Osmosis: Chewy
naked egg, in or out? Journal of Advanced Sciences and
Mathematics Education, 3(1), 114.
Humaidi, N., Darmayanti, R., & Sugianto, R. (2022). Challenges of
Muhammadiyah’s contribution in handling Covid-19 in the
MCCC program in Indonesia. Khazanah Sosial, 4(1), 176186.
Isnani. (2020). Problem posing in the proof process identifying
creative thinking in mathematics. Journal of Physics:
Conference Series, 1657(1). https://doi.org/10.1088/1742-
6596/1657/1/012066
Izzatul, W., & Istiqlal, M. (2019). Keefektifan Pembelajaran Problem
Posing Tipe Post Solution Posing terhadap Kemampuan
Pemecahan Masalah Matematik. Jurnal Matematika Kreatif -
Inovatif, 10(1), 7985.
Karim, S., & Zoker, E. M. (2023). Technology in Mathematics Teaching
and Learning: An Impact Evaluation in Selected Senior Schools
in Masingbi Town. Assyfa Learning Journal, 1(2), 6072.
Khoiriyah, B., Darmayanti, R., & Astuti, D. (2022). Design for
Development of Canva Application-Based Audio-Visual
Teaching Materials on the Thematic Subject" Myself (Me and
My New Friends)" Elementary School Students. Jurnal
Pendidikan Dan Konseling (JPDK), 4(6), 62876295.
Lewis, W. M. (2021). Fostering Mathematical Creativity Through
Problem Posing and Three-Act Tasks. Gifted Child Today, 44(3),
141150. https://doi.org/10.1177/10762175211008502
Li, X., Song, N., Hwang, S., & Cai, J. (2020). Learning to teach
mathematics through problem posing: teachers’ beliefs and
performance on problem posing. Educational Studies in
Mathematics, 105(3). https://doi.org/10.1007/s10649-020-
09981-0
Marham, M. A. (2021). A Proposed Conceptual Framework for
Conducting Problem Posing Intervention in a Classroom.
Review of International Geographical Education Online, 11(4),
873880. https://doi.org/10.33403/rigeo.8006801
Miranda, P. (2022). Appealing to Creativity through Solving and Posing
Problems in Mathematics Class. Acta Scientiae, 24(4), 109
146. https://doi.org/10.17648/acta.scientiae.7024
Mustafa, A., Darmayanti, R., & Azlamah, M. I. (2023). JEJE in improving
elementary students’ speaking skills, what learning models
and strategies are suitable? AMCA Journal of Education and
Behavioral Change, 3(1), 3943.
MZ Mubarok, Mispani, M Yusuf, & R Darmayanti. (2023). Efforts to
improve tajwid learning using the An-Nahdliyah method in
Diniyah students. Assyfa Journal of Islamic Studies, 1(1), 99
109.
Nasiha, W., Afifah, N., & Amir, A. N. (2023). Design of a website-based
arabic typing application for students of arabic language
education program at university. Assyfa Learning Journal, 1(1),
1224.
Pradana, M. D., & Uthman, Y. O. O.-O. (2023). Development of Aqidah
Akhlak Learning Media" Board Game Based on Education Fun
on the Theme of Commendable Morals (E-Fun A2M)" for High
School Students. Assyfa Learning Journal, 1(1), 2536.
Rahmad, S., Rani, D., & Annisa, N. V. (2022). Stage of cognitive
mathematics students development based on piaget’s theory
reviewing from personality type. Plusminus: Jurnal Pendidikan
Matematika, 2(1), 1726.
Rahman, A., & Ahmar, A. S. (2017). Problem Posing of High School
Mathematics Student’s Based on Their Cognitive Style.
Educational Process: International Journal, 6(1).
https://doi.org/10.22521/edupij.2017.61.1
Riono, S. H., Rakhmawati, P. U., & Darmayanti, R. (2023). Karyawan
Magang: Pendampingan dan Penyuluhan Pada Proses
Pengembangan Perangkat Lunak. Jurnal Inovasi Dan
Pengembangan Hasil Pengabdian Masyarakat, 1(1), 2128.
Rizki, N., Laila, A. R. N., Inganah, S., & Darmayanti, R. (2022). Analysis
of Mathematic Connection Ability in Mathematics Problem
Solving Reviewed from Student’s Self-Confedence. Seminar
Nasional Teknologi Pembelajaran, 2(1), 111126.
Rizky, E. N. F., & Sritresna, T. (2021). Peningkatan Kemampuan
Berpikir Kritis dan Disposisi Matematis Siswa Antara Guided
Inquiry dan Problem Posing. … Pendidikan Matematika, 1(1).
Rochaminah, S. (2022). Using Problem Posing as an Assessment Tool
for Mathematical Creative Thinking. AIP Conference
Proceedings, 2566. https://doi.org/10.1063/5.0117211
Safitri, E., Setiawan, A., & Darmayanti, R. (2023). Eksperimentasi
Lailatul Mukaromah et al., Eksperimentasi Model Pembelajaran Problem ... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (1), 46-52, 2023
52
Model Pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan
Kahoot Terhadap Kepercayaan Diri Dan Prestasi Belajar. Jurnal
Penelitian Tindakan Kelas, 1(2), 8090.
Santiago, P., Alves, F. R. V, & Darmayanti, R. (2023). GeoGebra in the
light of the Semiotic Representation Registers Theory: an
international Olympic didactic sequence. Assyfa Learning
Journal, 1(2), 7390.
Schabas, A. (2023). Game-Based Science Learning: What are the
Problems with Teachers Practicing It in Class? Assyfa Learning
Journal, 1(2).
Sekaryanti, R., Cholily, Y. M., & ... (2022). Analysis of Written
Mathematics Communication Skills in Solving Solo Taxonomy
Assisted Problems. JEMS: Jurnal . http://e-
journal.unipma.ac.id/index.php/JEMS/article/view/13707
Setiyani, S. (2020). Pendekatan Problem Posing Terhadap
Kemampuan Berpikir Matematis Siswa SMP. JNPM (Jurnal
Nasional Pendidikan Matematika), 4(1), 1.
https://doi.org/10.33603/jnpm.v4i1.2424
Sugianto, R., Darmayanti, R., Amany, D. A. L., Rachmawati, L. N.,
Hasanah, S. N., & ... (2017). Experiment on Ability to
Understand Three Dimensional Material Concepts Related to
Learning Styles Using the Geogebra-Supported STAD Learning
Model. Al-Jabar: Jurnal Pendidikan Matematika, 8(2), 205
212.
U Zahroh, NI Rachmawati, R Darmayanti, & T Tantrianingrum. (2023).
“Guidelines” for collaborative learning in 21st century
education at Madrasah Tsanawiyah. Assyfa Journal of Islamic
Studies, 1(2).
Ulfah, U. (2017). Students’ Mathematical Creative Thinking through
Problem Posing Learning. Journal of Physics: Conference Series,
895(1). https://doi.org/10.1088/1742-6596/895/1/012097
Vedianty, A. S. A., Darmayanti, R., Lestari, A. S. B., Rayungsari, M., &
da Silva Santiago, P. V. (2023). What is the need for" UBUR-
UBUR GABUT" media and its urgency in high school
mathematics learning? Assyfa International Scientific Journal,
1(1).
Widodo, T., Muhammad, I., Darmayanti, R., Nursaid, N., & Amany, D.
A. L. (2023). Manajemen keuangan pendidikan berbasis digital:
Sebuah kajian pustaka. Indonesian Journal of Educational
Management and Leadership, 1(2), 146167.
Winson, V. R. V, Arunkumar, V., & Rao, D. P. (2023). Exploring the
Landscape of Teaching and Learning English as a Second
Language in India. Assyfa Learning Journal, 1(2).
Yuniarsih, S. H. (2011). MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING
UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA
TENTANG BARISAN DAN DERET BILANGAN SISWA KELAS IX-A
SMP NEGERI 5 PURWOREJO Sri. LIMIT - Pendidikan
Matematika.