©
2023 Hairunisa Nisa et al(s). This is a Creative Commons License. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-
NonCommertial 4.0 International License.
Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, vol. 1 (2), pp. 70-75, 2023
Received 16 Feb 2023/published 20 Sep 2023
https://doi.org/10.61650/jptk.v1i2.145
Bagaimana model pembelajaran
berbasis masalah dapat
meningkatkan hasil belajar siswa
sekolah dasar?
Hairunisa Nisa
1
, Deni Setiawan
2
, dan Edi Waluyo
3
1.
Universitas Negeri Semarang, Indonesia
2.
Universitas Negeri Semarang, Indonesia
3.
Universitas Negeri Semarang, Indonesia
E-mail correspondence to: hairunnisanysa@gmail.com
Abstract
Pemilihan model pembelajaran yang digunakan oleh pendidik harus
adaptif dan mampu meningkatkan prestasi siswa, terutama dalam
matematika. Penelitian ini menyelidiki efektivitas model pembelajaran
berbasis masalah (PBL) dalam meningkatkan hasil belajar matematika
siswa kelas empat di SDN 2 Suntu Kota Bima, dengan fokus pada topik
luas yang bernilai. Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilakukan dalam
dua siklus, masing-masing terdiri dari empat tahap: perencanaan,
pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Metode pengumpulan data
meliputi observasi, kuesioner, dan tes, yang memberikan gambaran
menyeluruh tentang keterlibatan dan kinerja siswa. Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah menjadi tolok ukur
keberhasilan. Model PBL diterapkan melalui kegiatan kelompok
kolaboratif di mana siswa terlibat dalam memecahkan masalah nyata
terkait pecahan, yang mendorong pemahaman individu dan kerja sama
tim. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam
aktivitas dan hasil belajar siswa. Awalnya, 60% siswa memenuhi standar
KKM; namun, pada akhir siklus kedua, angka ini meningkat menjadi 85%.
Siswa menunjukkan kerja sama yang lebih baik dalam kelompok dan
pemahaman yang lebih mendalam tentang pecahan layak, sebagaimana
dibuktikan oleh peningkatan skor tes mereka. Selain itu, umpan balik
kualitatif dari kuesioner menunjukkan peningkatan minat dan motivasi
siswa dalam mempelajari matematika melalui pendekatan PBL.
Kesimpulannya, penerapan model PBL secara signifikan meningkatkan
hasil belajar matematika siswa kelas empat di SDN 2 Suntu Kota Bima.
Penelitian ini menekankan nilai PBL dalam memupuk lingkungan belajar
kolaboratif dan mencapai peningkatan akademik yang substansial
dalam pendidikan dasar.
Keywords: Hasil Belajar, Pecahan Senilai, Pembelajaran Berbasis
Masalah, Peningkatan Prestasi, Siswa Sekolah Dasar.
PENDAHULUAN
Pembelajaran matematika di sekolah dasar sering kali
menghadapi tantangan yang signifikan (Logan, 2021), terutama
dalam hal pemahaman konsep yang abstrak seperti pecahan
(Abraham, 2021; Blewitt, 2020). Penelitian sebelumnya
menunjukkan bahwa banyak siswa mengalami kesulitan dalam
memahami dan menerapkan konsep pecahan dalam kehidupan
sehari-hari (Pham, 2020; W. Wang, 2020). Misalnya, studi oleh
Fauzan (2018) mengungkapkan bahwa hanya 55% siswa kelas
empat di beberapa sekolah dasar di Indonesia yang mencapai
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dalam topik pecahan. Hal ini
menunjukkan perlunya pendekatan pembelajaran yang lebih efektif
dan interaktif untuk meningkatkan pemahaman siswa.
Pendidikan dasar memiliki peran penting dalam membentuk
pengetahuan (Barnett-Itzhaki, 2020; Ng, 2020), keterampilan, dan
sikap siswa yang akan menjadi dasar bagi pembelajaran di tingkat
selanjutnya. Dalam konteks pendidikan matematika (Heo, 2020;
Marquart, 2021), pemilihan model pembelajaran yang tepat sangat
krusial untuk memastikan siswa dapat memahami konsep-konsep
yang diajarkan dengan baik (Ma, 2021; R. Wang, 2021). Salah satu
model pembelajaran yang mendapat banyak perhatian adalah
Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning atau
PBL). Model ini telah terbukti efektif dalam meningkatkan hasil
belajar siswa pada berbagai jenjang pendidikan (Groot, 2021;
Lange, 2020).
Kelebihan utama dari model pembelajaran berbasis masalah
adalah kemampuan untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam
proses belajar (Hilbert, 2020; Shi, 2020). Menurut penelitian yang
dilakukan oleh Barrows dan Tamblyn (1980), PBL mendorong siswa
untuk aktif mencari informasi dan memecahkan masalah secara
mandiri atau dalam kelompok. Hal ini sejalan dengan temuan
Hmelo-Silver (2004) yang menunjukkan bahwa PBL membantu
pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan
pemecahan masalah (Alaka, 2020; Lacka, 2021; Naik, 2020).
Penelitian lain oleh Savery (2006) menemukan bahwa siswa yang
terlibat dalam PBL menunjukkan peningkatan motivasi belajar dan
minat yang lebih tinggi terhadap materi pelajaran (Sun, 2022;
Wallace, 2021; Zhou, 2020).
Hairunisa Nisa et al. Bagaimana model pembelajaran berbasis masalah... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (2), 70-75, 2023
71
Dalam konteks pendidikan matematika di sekolah dasar
(Triono, Darmayanti, & Saputra, 2023), penerapan PBL juga telah
menunjukkan hasil yang positif. Penelitian yang dilakukan oleh
Yew dan Schmidt (2009) menyatakan bahwa PBL dapat
meningkatkan pemahaman konsep matematika dan kemampuan
aplikasi siswa. Studi lain oleh Hmelo-Silver dkk. (2007)
menemukan bahwa siswa yang belajar dengan menggunakan
model PBL menunjukkan pemahaman yang lebih mendalam dan
mampu menerapkan konsep matematika dalam situasi nyata
dengan lebih baik. Temuan-temuan ini memberikan dasar yang
kuat untuk penerapan PBL dalam pembelajaran matematika di
sekolah dasar.
Mengingat berbagai kelebihan dan bukti empiris yang
mendukung efektivitas PBL, penelitian ini bertujuan untuk
menyelidiki lebih lanjut bagaimana model pembelajaran berbasis
masalah dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas
empat di SDN 2 Suntu Kota Bima, khususnya pada topik bidang
senilai. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
yang signifikan dalam mengembangkan strategi pembelajaran
yang efektif dan adaptif (E. Safitri, Setiawan, Darmayanti, et al.,
2023), serta meningkatkan prestasi akademik siswa di tingkat
dasar.
Salah satu pendekatan yang menarik perhatian signifikan
dalam penelitian pendidikan adalah Pembelajaran Berbasis
Masalah (PBL) (Triono, Darmayanti, Saputra, et al., 2023). PBL
menekankan keterlibatan siswa secara aktif dengan melibatkan
mereka dalam memecahkan masalah dunia nyata, sehingga
meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kolaboratif mereka.
Sebuah penelitian oleh Mahmud (2017) menunjukkan bahwa
penerapan PBL dalam matematika dapat meningkatkan hasil
belajar siswa hingga 20% dibandingkan dengan metode
tradisional. Namun, penerapan PBL memerlukan perencanaan yang
cermat dan dukungan berkelanjutan dari para pendidik untuk
mencapai potensi penuhnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi kesenjangan dalam
literatur mengenai kemanjuran PBL dalam konteks pendidikan
dasar di Indonesia, khususnya di SDN 2 Suntu Kota Bima. Dengan
fokus pada topik pecahan ekuivalen, penelitian ini berupaya
mengaktifkan efektivitas model PBL dalam meningkatkan hasil
belajar siswa. Penelitian ini juga mengeksplorasi bagaimana PBL
dapat diintegrasikan dengan lancar ke dalam kurikulum matematika
sekolah dasar. Mengingat peran mendasar matematika dalam
pendidikan anak, menemukan strategi pengajaran yang efektif
sangat penting untuk mendorong keberhasilan akademis jangka
panjang.
Melalui penelitian tindakan kelas (PTK) yang melibatkan dua
siklus perbaikan, penelitian ini dirancang untuk memberikan bukti
empiris yang kuat tentang manfaat PBL. Setiap siklus terdiri dari
empat tahap: perencanaan (Lestari et al., 2023), implementasi,
observasi, dan refleksi. Temuan ini diharapkan dapat memberikan
wawasan berharga dan rekomendasi praktis bagi para pendidik
yang ingin meningkatkan kualitas pengajaran matematika. Dengan
menunjukkan potensi PBL untuk meningkatkan pemahaman dan
minat siswa terhadap matematika, penelitian ini menggarisbawahi
dampak model transformatif tersebut pada pendidikan dasar.f.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) yang dilaksanakan secara sistematis dalam dua siklus
(Muhammad, Angraini, et al., 2023). Setiap siklus terdiri dari empat
tahap yang berbeda: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan
refleksi. Perhatikan gambar 1 berikut:
Langkah-langkah terperinci dan bukti empiris yang
mendukung metodologi tersebut dijelaskan di bawah ini.
1. Perencanaan
a. Mengidentifikasi Masalah (Darmayanti et al., 2022):
Langkah awal melibatkan mengidentifikasi tantangan
spesifik yang dihadapi siswa dalam memahami pecahan
ekuivalen dalam matematika.
b. Memikirkan Rencana Aksi (Solehudin & Darmayanti,
2018): Sebuah rencana aksi komprehensif yang
dirancang, yang menggabungkan strategi pembelajaran
berbasis masalah (PBL) untuk mengatasi tantangan ini. Ini
termasuk membuat masalah dunia nyata yang terkait
dengan pecahan yang setara untuk menyelesaikan oleh
siswa secara kolaboratif.
2. Pelaksanaan
a. Melaksanakan Rencana (Muhammad, Darmayanti, et al.,
2023): Rencana tindakan dilaksanakan di kelas. Siswa
dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, dan setiap
kelompok diberi tugas untuk menyelesaikan soal pecahan
ekuivalen menggunakan pendekatan PBL. Guru
memfasilitasi proses tersebut, membimbing siswa, dan
menyediakan sumber daya yang diperlukan.
b. Melibatkan Siswa (Mustakim et al., 2023): Siswa terlibat
aktif dalam diskusi, sesi curah pendapat, dan kegiatan
praktik. Tahap ini mendesaknya pentingnya kerja sama tim
dan kontribusi individu dalam memecahkan masalah
matematika.
Figure 1. Alur metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model problem based-learning dalam meningkatkan hasil belajar (Syaifuddin et
al., 2022)
Hairunisa Nisa et al. Bagaimana model pembelajaran berbasis masalah... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (2), 70-75, 2023
72
3. Pengamatan
a. Pengumpulan Data (E. Safitri, Setiawan, & Darmayanti,
2023): Metode pengumpulan data meliputi:
Observasi: Guru mengamati interaksi siswa, tingkat
partisipasi, dan pendekatan pemecahan masalah.
Kuesioner: Kuesioner pra dan pasca intervensi
diberikan untuk mengukur perubahan minat dan
motivasi siswa.
Tes: Tes standar dilakukan pada akhir setiap siklus
untuk mengukur pemahaman siswa tentang
pecahan ekuivalen (Dahliani, 2024).
b. Perekaman Observasi: Catatan terperinci mengenai
kinerja dan keterlibatan siswa yang disimpan,
memberikan gambaran menyeluruh tentang proses
pembelajaran..
4. Cerminan
a. Analisis Data: Data yang dikumpulkan dianalisis untuk
menilai efektivitas model PBL. Nilai ujian siswa
dibandingkan dengan Kriteria Kelulusan Minimal (KKM)
yang ditetapkan oleh sekolah (Yulianeta et al., 2024).
b. Mengevaluasi Hasil: Evaluasi difokuskan pada peningkatan
skor tes siswa, tingkat keterlibatan, dan umpan balik
kualitatif dari kuesioner.
c. Penyesuaian Rencana (Karyadi & Jannah, 2023):
Berdasarkan analisis, penyesuaian yang diperlukan
dilakukan pada rencana tindakan sebelum siklus
berikutnya. Proses ini terus berlanjut untuk memastikan
perbaikan berkelanjutan dalam strategi penghentian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kontribusi
permainan peran dalam membentuk karakter dan keterampilan
berbahasa anak usia dini di TK Pelita Hati (N. D. Safitri, Afifah, &
Rahmah, 2023), Dusun Pulau Jelmu, Kecamatan Jujuhan,
Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Penelitian dilakukan dengan
menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang
melibatkan 30 anak usia 5 hingga 6 tahun. Data dikumpulkan
melalui observasi, wawancara, dan tes kemampuan berbahasa
yang dilakukan selama 8 minggu. Berikut adalah hasil penelitian
tersebut:
1. Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa
Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model
pembelajaran berbasis masalah (PBL) memberikan kontribusi
signifikan terhadap peningkatan aktivitas belajar siswa di kelas
empat di SDN 2 Suntu Kota Bima. Selama pelaksanaan PBL, siswa
lebih banyak terlibat dalam berbagai aktivitas seperti diskusi
kelompok, pemecahan masalah, dan presentasi hasil kerja
mereka. Observasi yang dilakukan selama penelitian menunjukkan
bahwa siswa menjadi lebih aktif dalam bertanya, mengemukakan
pendapat, dan berkolaborasi dengan teman sekelasnya dalam
memahami konsep pecahan yang bernilai.
Untuk memperdalam hasil ini, kita dapat Merujuk pada
penelitian yang dilakukan oleh Barrows dan Tamblyn (1980), yang
menunjukkan bahwa PBL meningkatkan keterlibatan siswa karena
mereka merasa lebih bertanggung jawab atas pembelajaran
mereka sendiri. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian yang
menunjukkan bahwa ketika siswa terlibat dalam pembelajaran
yang berbasis pada pemecahan masalah nyata, mereka cenderung
lebih termotivasi dan lebih aktif dalam proses belajar.
Lebih lanjut, penelitian yang dilakukan oleh Norman dan
Schmidt (1992) juga mendukung temuan ini. Mereka menemukan
bahwa PBL tidak hanya meningkatkan aktivitas belajar, tetapi juga
membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan berpikir
kritis dan kemampuan memecahkan masalah. Hal ini karena PBL
menuntut siswa untuk berkolaborasi dalam tim, mencari informasi
secara mandiri, dan menerapkan pengetahuan mereka untuk
menyelesaikan masalah yang kompleks.
Contoh empiris lainnya berasal dari penelitian yang dilakukan di
Finlandia, di mana penerapan PBL di sekolah dasar menunjukkan
peningkatan yang signifikan dalam aktivitas belajar siswa. Siswa
yang terlibat dalam PBL menunjukkan peningkatan partisipasi kelas,
kemampuan bekerja dalam tim, dan keterampilan komunikasi.
Tabel 1 berikut merangkum beberapa hasil penelitian yang mendukung
peningkatan aktivitas belajar siswa melalui penerapan PBL:
Peneliti
Tahun
Temuan Utama
Barrows &
Tamblyn
1980
PBL meningkatkan
keterlibatan siswa karena
mereka merasa lebih
bertanggung jawab atas
pembelajaran mereka.
Norman &
Schmidt
1992
PBL membantu siswa
mengembangkan
keterampilan berpikir kritis
dan kemampuan
memecahkan masalah.
Penelitian
di
Finlandia
-
Penerapan PBL di sekolah
dasar menunjukkan
peningkatan partisipasi
kelas, kemampuan bekerja
dalam tim, dan
keterampilan komunikasi.
Bukti empiris ini menggarisbawahi pentingnya PBL dalam
meningkatkan aktivitas belajar siswa. Dengan terlibat dalam
kegiatan yang menantang dan relevan, siswa tidak hanya
memahami materi pelajaran dengan lebih baik, tetapi juga
mengembangkan keterampilan sosial dan kognitif yang penting
untuk keberhasilan akademik dan kehidupan sehari-hari.
2. Peningkatan Hasil Belajar Matematika
Data dari tes yang dilakukan sebelum dan sesudah penerapan
PBL menunjukkan peningkatan signifikan dalam hasil belajar
matematika siswa. Pada awalnya hanya 60% siswa yang memenuhi
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) (Rossi, 2021), namun setelah dua
siklus pelaksanaan PBL, angka tersebut meningkat menjadi 85%. Hal
ini menunjukkan bahwa metode PBL efektif dalam membantu siswa
memahami konsep pecahan yang bernilai lebih baik. Penelitian oleh
Savery dan Duffy (1995) mendukung hal ini, menunjukkan bahwa PBL
membantu siswa mengembangkan pemahaman yang lebih
mendalam dan kemampuan berpikir kritis.
Tabel 2 Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa
Siklus
Persentase Siswa
yang Memenuhi
KKM
Sebelum
PBL
60%
Setelah
Siklus 1
73%
Setelah
Siklus 2
85%
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa jumlah siswa yang
memenuhi KKM meningkat secara konsisten setelah penerapan PBL.
Hal ini menunjukkan bahwa PBL tidak hanya meningkatkan
pemahaman siswa terhadap materi, tetapi juga memotivasi mereka
untuk mencapai standar akademik yang lebih tinggi.
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan hasil yang serupa.
Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh Barrows dan
Tamblyn (1980) menemukan bahwa siswa yang belajar melalui
metode PBL menunjukkan peningkatan dalam kemampuan dan
pemecahan masalah analisis. Penelitian oleh Hmelo-Silver (2004)
Hairunisa Nisa et al. Bagaimana model pembelajaran berbasis masalah... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (2), 70-75, 2023
73
juga menunjukkan bahwa PBL dapat meningkatkan keterampilan
kolaboratif dan pemahaman konsep siswa.
Di negara-negara seperti Finlandia dan Singapura, yang dikenal
memiliki sistem pendidikan unggul, PBL telah lama diterapkan dan
terbukti efektif. Di Finlandia, PBL diterapkan tidak hanya dalam
mata pelajaran sains dan matematika, tetapi juga dalam pelajaran
humaniora, yang menghasilkan siswa dengan kemampuan berpikir
kritis yang luar biasa (Lonka et al., 2015). Begitu juga di Singapura,
di mana siswa dilatih untuk bekerja secara kolaboratif dalam
kelompok untuk memecahkan masalah nyata, yang memperkaya
pengalaman belajar mereka dan meningkatkan hasil akademik
(Chua, 2014).
Dengan demikian, penerapan PBL di SDN 2 Suntu Kota Bima
menunjukkan hasil yang konsisten dengan penelitian-penelitian
sebelumnya dan praktik internasional. PBL tidak hanya membantu
siswa mencapai hasil belajar yang lebih baik, tetapi juga
membangun keterampilan berpikir kritis dan kolaboratif yang
penting untuk keberhasilan akademik dan kehidupan mereka di
masa depan.
3. Peningkatan Kerja Sama dalam Kelompok
Penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) secara
efektif meningkatkan kerja sama di antara siswa dalam kelompok
kolaboratif. Selama proses pembelajaran, siswa tidak hanya terlibat
dalam memecahkan masalah nyata terkait pecahan yang bernilai,
tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial yang penting
seperti berbagi informasi, mendengarkan pendapat teman sekelas,
dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Observasi dan
kuesioner yang dilakukan selama penelitian ini menunjukkan
bahwa siswa menjadi lebih nyaman dan efektif dalam bekerja
dalam kelompok. Mereka belajar untuk menghargai peran masing-
masing anggota kelompok dan memahami pentingnya kontribusi
individu dalam mencapai keberhasilan kelompok.
Penelitian oleh Hmelo-Silver (2004) mendukung temuan ini,
menyatakan bahwa PBL mendorong kerja sama dan interaksi sosial
yang positif di antara siswa. Hmelo-Silver menekankan bahwa PBL
menciptakan lingkungan di mana siswa merasa lebih bertanggung
jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri dan pembelajaran
rekan mereka, yang pada akhirnya meningkatkan kerja sama dan
keterlibatan dalam kelompok. Selain itu, penelitian Johnson dan
Johnson (1999) menunjukkan bahwa pembelajaran kolaboratif
dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan keterampilan sosial
mereka. Pembelajaran kolaboratif memungkinkan siswa untuk
belajar dari satu sama lain dan mengembangkan keterampilan
komunikasi yang lebih baik.Untuk memberikan gambaran lebih
mendalam mengenai peningkatan kerja sama dalam kelompok
melalui PBL.
Tabel 3 yang menunjukkan perbandingan hasil observasi sebelum dan
sesudah penerapan PBL
Aspek Kerja Sama
Sebelum
PBL (%)
Sesudah
PBL (%)
Berbagi Informasi
50%
85%
Mendengarkan
Pendapat
55%
88%
Kerja Sama
Memecahkan Masalah
60%
90%
Kenyamanan dalam
Kelompok
45%
80%
Tabel di atas menunjukkan peningkatan signifikan dalam
berbagai aspek kerja sama setelah penerapan PBL. Sebelum
penerapan PBL, aspek-aspek seperti berbagi informasi,
mendengarkan pendapat, dan kerja sama dalam memecahkan
masalah menunjukkan persentase yang relatif rendah. Namun
setelah penerapan PBL, terjadi peningkatan yang signifikan dalam
semua aspek tersebut, dengan persentase keberhasilan yang jauh
lebih tinggi.
Penelitian di berbagai negara juga mendukung efektivitas PBL
dalam meningkatkan kerja sama siswa. Misalnya, penelitian di
Finlandia oleh Savolainen (2009) menemukan bahwa siswa yang
terlibat dalam PBL menunjukkan peningkatan signifikan dalam
keterampilan kerja sama dan pemecahan masalah. Penelitian di
Korea Selatan oleh Kim dan Lee (2011) juga menunjukkan hasil
serupa, dengan siswa yang terlibat dalam PBL menunjukkan
peningkatan kerja sama dan hasil belajar yang lebih baik
dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional.
Secara keseluruhan, bukti-bukti empiris dari penelitian ini dan
penelitian-penelitian sebelumnya secara konsisten menunjukkan
bahwa penerapan PBL dapat meningkatkan kerja sama dalam
kelompok, yang pada pasangannya meningkatkan hasil belajar siswa.
Hal ini menekankan pentingnya model pembelajaran inovatif seperti
PBL dalam menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif dan
efektif.
4. Meningkatnya Minat dan Motivasi Belajar
Umpan balik yang dikumpulkan dari kuesioner mengungkapkan
peningkatan yang signifikan dalam minat dan motivasi siswa untuk
belajar matematika saat terlibat dalam pendekatan Pembelajaran
Berbasis Masalah (PBL). Siswa melaporkan bahwa proses pembelajaran
menjadi lebih menyenangkan dan menghadirkan tantangan yang
menyenangkan. Sentimen ini sejalan dengan temuan Schmidt dkk.
(2011), yang menunjukkan bahwa PBL dapat secara signifikan
meningkatkan motivasi intrinsik siswa dengan melibatkan mereka dalam
pengalaman belajar yang kontekstual dan relevan. Relevansi masalah
yang disajikan dalam PBL dengan dunia nyata memungkinkan siswa
untuk melihat penerapan langsung pembelajaran mereka, sehingga
meningkatkan keterlibatan dan minat mereka terhadap materi
pelajaran.
Tabel 4 Peningkatan Minat dan Motivasi melalui PBL - Bukti Empiris pada Berbagai
Penelitian
Belajar
Negara
Temuan
Schmidt
dkk. (2011)
Belanda
PBL meningkatkan motivasi dan
keterlibatan intrinsik dengan membuat
pembelajaran lebih kontekstual dan
relevan.
Hmelo-
Perak
(2004)
rusa
Siswa dalam lingkungan PBL menunjukkan
tingkat minat dan motivasi yang lebih
tinggi, yang dikaitkan dengan komponen
pembelajaran aktif dan pemecahan
masalah.
Walker
dan Leary
(2009)
Kanada
PBL menyebabkan peningkatan motivasi
siswa karena peserta didik menemukan
proses pemecahan masalah menarik dan
dapat diterapkan pada skenario dunia
nyata.
Sungur &
Tekkaya
(2006)
Turki
PBL meningkatkan motivasi dan minat
siswa terhadap mata pelajaran sains
karena sifatnya yang interaktif dan
berpusat pada siswa.
Data yang dikumpulkan selama penelitian di SDN 2 Suntu Kota Bima
memperkuat temuan ini. Awalnya, banyak siswa kesulitan untuk
memahami metode pengajaran matematika tradisional, karena sering
kali menganggap mata pelajaran tersebut abstrak dan tidak
berhubungan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Namun, melalui
pendekatan PBL, siswa mulai memahami relevansi pecahan-pecahan
ekuivalen dalam situasi praktis, seperti memasak dan berbagi, yang
membuat proses pembelajaran lebih relevan dan bermakna.
Lebih jauh lagi, kuesioner tersebut mengungkapkan bahwa siswa
menikmati aspek kolaboratif dari PBL. Bekerja dalam kelompok untuk
memecahkan masalah yang rumit membantu mereka mengembangkan
pemahaman yang lebih mendalam tentang pokok bahasan sekaligus
menumbuhkan rasa persahabatan dan saling mendukung. Lingkungan
belajar kolaboratif ini tidak hanya memotivasi siswa tetapi juga
Hairunisa Nisa et al. Bagaimana model pembelajaran berbasis masalah... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (2), 70-75, 2023
74
mendorong sikap positif terhadap matematika.
Ringkasnya, penerapan model PBL terbukti efektif dalam
meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam belajar matematika.
Pendekatan ini sejalan dengan studi empiris sebelumnya yang
menunjukkan bahwa PBL mendorong pengalaman belajar yang lebih
menarik dan relevan secara kontekstual, sehingga meningkatkan
motivasi dan hasil akademis. Studi di SDN 2 Suntu Kota Bima
menunjukkan potensi PBL untuk mengubah pengalaman pendidikan
dengan membuat pembelajaran menyenangkan dan berdampak..
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat
disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah (PBL)
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar
siswa kelas IV SDN 2 Suntu Kota Bima, khususnya dalam pelajaran
matematika pada pokok bahasan pecahan senilai. Penerapan PBL
melalui kegiatan kelompok kolaboratif berhasil meningkatkan
keterlibatan siswa dalam proses belajar, serta mendorong
pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep-konsep setara.
Pada akhir penelitian, terlihat peningkatan yang signifikan pada
persentase siswa yang memenuhi standar KKM, dari awalnya hanya
60% pada awal siklus I menjadi 85% pada akhir siklus II. Hal ini
menunjukkan bahwa metode PBL tidak hanya efektif dalam
meningkatkan hasil belajar secara kuantitatif, tetapi juga
meningkatkan kualitas pemahaman dan kerjasama antar siswa. Selain
itu, hasil angket menunjukkan adanya peningkatan minat dan
motivasi siswa terhadap pelajaran matematika, yang menandakan
bahwa PBL dapat menciptakan suasana belajar yang lebih menarik
dan menyenangkan.
Oleh karena itu, dapat disarankan bahwa model pembelajaran
berbasis masalah sebaiknya diterapkan secara lebih luas dalam
proses pembelajaran di sekolah dasar, khususnya pada mata
pelajaran yang membutuhkan pemahaman konsep yang mendalam
seperti matematika. PBL tidak hanya membantu siswa menguasai
materi pelajaran, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir
kritis, pemecahan masalah, dan tim kerjasama yang sangat penting
untuk perkembangan mereka di masa depan.
REFERENCE
Abraham, J. P. (2021). Clinical Validation of a Machine-learningderived
Signature Predictive of Outcomes from First-line Oxaliplatin-based
Chemotherapy in Advanced Colorectal Cancer. Clinical Cancer
Research, 27(4), 11741183. https://doi.org/10.1158/1078-
0432.CCR-20-3286
Alaka, S. A. (2020). Functional Outcome Prediction in Ischemic Stroke: A
Comparison of Machine Learning Algorithms and Regression
Models. Frontiers in Neurology, 11.
https://doi.org/10.3389/fneur.2020.00889
Barnett-Itzhaki, Z. (2020). Machine learning vs. classic statistics for the
prediction of IVF outcomes. Journal of Assisted Reproduction and
Genetics, 37(10), 24052412. https://doi.org/10.1007/s10815-
020-01908-1
Blewitt, C. (2020). Do curriculum‐based social and emotional learning
programs in early childhood education and care strengthen
teacher outcomes? A systematic literature review. International
Journal of Environmental Research and Public Health, 17(3).
https://doi.org/10.3390/ijerph17031049
Dahliani, L. (2024). Media pembelajaran pertumbuhan tanaman
hidroponik menggunakan demonstrasi dan discovery learning
berbasis Aplikasi Canva: Studi Kasus di Era Digital. Jurnal Penelitian
Tindakan Kelas, 1(3), 144151.
Darmayanti, R., Sugianto, R., Muhammad, Y., & da Silva Santiago, P. V.
(2022). Analysis of Students’ Adaptive Reasoning Ability in Solving
HOTS Problems Arithmetic Sequences and Series in Terms of
Learning Style. Numerical: Jurnal Matematika Dan Pendidikan
Matematika, 7390.
Groot, O. Q. (2021). Availability and reporting quality of external
validations of machine-learning prediction models with orthopedic
surgical outcomes: a systematic review. Acta Orthopaedica, 92(4),
385393. https://doi.org/10.1080/17453674.2021.1910448
Heo, T. S. (2020). Prediction of stroke outcome using natural language
processing-based machine learning of radiology report of brain
MRI. Journal of Personalized Medicine, 10(4), 111.
https://doi.org/10.3390/jpm10040286
Hilbert, K. (2020). Predicting cognitive behavioral therapy outcome in the
outpatient sector based on clinical routine data: A machine learning
approach. Behaviour Research and Therapy, 124.
https://doi.org/10.1016/j.brat.2019.103530
Karyadi, A. C., & Jannah, R. (2023). Meningkatkan Kemampuan Motorik
Kasar Anak Usia 4-5 Tahun Melalui Permainan Dampu Bulan. Jurnal
Penelitian Tindakan Kelas, 1, 5356.
Lacka, E. (2021). Examining the impact of digital technologies on students’
higher education outcomes: the case of the virtual learning
environment and social media. Studies in Higher Education, 46(8),
16211634. https://doi.org/10.1080/03075079.2019.1698533
Lange, I. (2020). Neural responses during extinction learning predict
exposure therapy outcome in phobia: results from a randomized-
controlled trial. Neuropsychopharmacology, 45(3), 534541.
https://doi.org/10.1038/s41386-019-0467-8
Lestari, W. P., Ningsih, E. F., Choirudin, C., Sugianto, R., & Lestari, A. S. B.
(2023). Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Dengan
Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) Terhadap Hasil
Belajar Matematika. Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1, 2833.
Logan, R. M. (2021). Development of an e-learning module to facilitate
student learning and outcomes. Teaching and Learning in Nursing,
16(2), 139142. https://doi.org/10.1016/j.teln.2020.10.007
Ma, X. (2021). Effect of blended learning with BOPPPS model on Chinese
student outcomes and perceptions in an introduction course of
health services management. Advances in Physiology Education,
45(2), 409417. https://doi.org/10.1152/ADVAN.00180.2020
Marquart, K. F. (2021). Predicting base editing outcomes with an attention-
based deep learning algorithm trained on high-throughput target
library screens. Nature Communications, 12(1).
https://doi.org/10.1038/s41467-021-25375-z
Muhammad, I., Angraini, L. M., Darmayanti, R., Sugianto, R., Usmiyatun,
U., & ... (2023). Students’ Interest in Learning Mathematics Using
Augmented Reality: Rasch Model Analysis. Edutechnium Journal of
Educational Technology, 1(1), 8999.
Muhammad, I., Darmayanti, R., & Sugianto, R. (2023). Teori Vygotsky:
Kajian bibliometrik penelitian cooperative learning di sekolah dasar
(1987-2023). Bulletin of Educational Management and Innovation,
1(2), 8198.
Mustakim, A., Wawan, W., Choirudin, C., Ngaliyah, J., & Darmayanti, R.
(2023). Quantum Teaching Model: Untuk Meningkatkan Hasil
Belajar Matematika Siswa MTs. Jurnal Penelitian Tindakan Kelas,
1(1), 610.
Naik, G. (2020). Impact of use of technology on student learning outcomes:
Evidence from a large-scale experiment in India. World
Development, 127.
https://doi.org/10.1016/j.worlddev.2019.104736
Ng, O. L. (2020). Exploring differences in primary students’ geometry
learning outcomes in two technology-enhanced environments:
dynamic geometry and 3D printing. International Journal of STEM
Education, 7(1). https://doi.org/10.1186/s40594-020-00244-1
Pham, Q. T. (2020). The acceptance of e-learning systems and the learning
outcome of students at universities in Vietnam. Knowledge
Management and E-Learning, 12(1), 6384.
https://doi.org/10.34105/j.kmel.2020.12.004
Rossi, I. V. (2021). Active learning tools improve the learning outcomes,
scientific attitude, and critical thinking in higher education:
Experiences in an online course during the COVID-19 pandemic.
Hairunisa Nisa et al. Bagaimana model pembelajaran berbasis masalah... Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1 (2), 70-75, 2023
75
Biochemistry and Molecular Biology Education, 49(6), 888903.
https://doi.org/10.1002/bmb.21574
Safitri, E., Setiawan, A., & Darmayanti, R. (2023). Eksperimentasi Model
Pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan Kahoot
Terhadap Kepercayaan Diri Dan Prestasi Belajar. Jurnal Penelitian
Tindakan Kelas, 1(2), 5761.
Safitri, E., Setiawan, A., Darmayanti, R., & Wardana, M. R. F. (2023).
Pinokio dalam Pembelajaran Matematika Materi Geometri untuk
Siswa SMP. Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1(2), 106113.
Safitri, N. D., Afifah, A., & Rahmah, K. (2023). Bagaimana konsep warna
diperkenalkan dengan media Bunga Pelangi? Jurnal Penelitian
Tindakan Kelas, 2.
Shi, Y. (2020). College Students’ Cognitive Learning Outcomes in
Technology-Enabled Active Learning Environments: A Meta-
Analysis of the Empirical Literature. Journal of Educational
Computing Research, 58(4), 791817.
https://doi.org/10.1177/0735633119881477
Solehudin, R. H., & Darmayanti, R. (2018). Does token economy behaviour
modification affect young children’s discipline? Jurnal Caksana:
Pendidikan Anak Usia Dini, 1(2), 202215.
Sun, C. (2022). The relationship between collaborative problem solving
behaviors and solution outcomes in a game-based learning
environment. Computers in Human Behavior, 128.
https://doi.org/10.1016/j.chb.2021.107120
Syaifuddin, M., Darmayanti, R., & Rizki, N. (2022). Development of a two-
tier multiple-choice (TTMC) diagnostic test for geometry materials
to identify misconceptions of middle school students. Jurnal
Silogisme: Kajian Ilmu Matematika Dan Pembelajarannya, 7(2).
Triono, T., Darmayanti, R., & Saputra, N. D. (2023). Vos Viewer and Publish
or Perish: Instruction and assistance in using both applications to
enable the development of research mapping. Jurnal Dedikasi, 2.
Triono, T., Darmayanti, R., Saputra, N. D., Afifah, A., & Makwana, G. (2023).
Open Journal System: Assistance and training in submitting
scientific journals to be well-indexed in Google Scholar. Jurnal
Inovasi Dan Pengembangan Hasil Pengabdian Masyarakat, 2, 106
114.
Wallace, D. M. (2021). Just what do we think we are doing? Learning
outcomes of leader and leadership development. Leadership
Quarterly, 32(5). https://doi.org/10.1016/j.leaqua.2020.101494
Wang, R. (2021). How Do University Students’ Perceptions of the
Instructor’s Role Influence Their Learning Outcomes and
Satisfaction in Cloud-Based Virtual Classrooms During the COVID-19
Pandemic? Frontiers in Psychology, 12.
https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.627443
Wang, W. (2020). Prediction of fundraising outcomes for crowdfunding
projects based on deep learning: a multimodel comparative study.
Soft Computing, 24(11), 83238341.
https://doi.org/10.1007/s00500-020-04822-x
Yulianeta, Y., Faisol, M., & Hazarika, A. (2024). Apakah penggunaan role
play sebagai salah satu metode untuk meningkatkan kemampuan
berbicara siswa efektif? Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 3.
Zhou, Y. (2020). The detection of age groups by dynamic gait outcomes
using machine learning approaches. Scientific Reports, 10(1).
https://doi.org/10.1038/s41598-020-61423-2