Rizky Hidayatullah, Implementasi AI dalam Proses... Assyfa Journal of Multidisciplinary Education, 2(1), 13-18. 2024 Assyfa Journal of Multidisciplinary Education, 2(1), pp. 19-, 2024 Received 05 Sep 2024 / published 12 Nov 2024 Esensi Nilai Pendidikan Agama Islam Dalam Profil Pelajar Pancasila Abdul Sakir1 1 Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Indonesia E-mail correspondence to: nuryaqin88@gmail.com Bergotong-royong, Mandiri, Bernalar kritis, Kreatif. Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilainilai Pancasila. Kata Kunci: Strategi, Perwujudan, Profil Pelajar Pancasila. Abstract The Pancasila Student Profile is designed to answer one big question, namely "Students with a profile (competence) like what the Indonesian education system wants to produce" "Indonesian students are lifelong students who are competent, have character, and behave according to the values of Pancasila." This statement relates to two things, namely the competence to become a democratic Indonesian citizen and to become a superior and productive human being in the 21st Century. In this case, Indonesian students are expected to be able to participate in global development that is sustainable and resilient in facing various challenges. The Pancasila Student Profile has six competencies which are formulated as key dimensions. The six dimensions are: Faith, fear of God Almighty, and noble character. Global diversity, Mutual cooperation, Independent, Critical reasoning, Creative. Pancasila students are the embodiment of Indonesian students as lifelong students who have global competence and behave in accordance with the values of Pancasila. Keywords: Strategy, Realizing, Pancasila Student Profile Pendahuluan Dalam dunia ini, pendidikan adalah sesuatu yang dibutuhkan karena banyak manfaat yang diberikan oleh pendidikan. Ini sesuai dengan fungsi pendidikan nasional diatur dengan undang-undang No. 20 Tahun 2003, Pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), yang berbunyi: “Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi orang yang beriman dan taat kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara negara yang demokratis dan bertanggung jawab.” Peran pendidikan nasional untuk meningkatkan potensi dan kompetensi, membangun karakter bangsa yang memiliki martabat dan sopan santun, yang bertujuan memperkaya kehidupan suatu bangsa.” Oleh karena itu, pendidikan tidak hanya terkait dengan kapasitas belajar, tetapi juga pembentukan karakter siswa. Kesuksesan seseorang tidak hanya tergantung pada wawasan dan kompetensi keterampilan teknis (hard skill), tetapi juga pada keterampilan managemen diri sendiri serta orang lain (soft skill). (Juliani & Bastian, 2021). Abstrak Profil Pelajar Pancasila dirancang untuk menjawab satu pertanyaan besar, yaitu “Pelajar dengan profil (kompetensi) seperti apa yang ingin dihasilkan oleh sistem pendidikan Indonesia” “Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.” Pernyataan ini berkaitan dengan dua hal, yaitu kompetensi untuk menjadi warga negara Indonesia yang demokratis dan untuk menjadi manusia unggul dan produktif di Abad ke-21. Dalam hal ini, peserta didik Indonesia diharapkan dapat berpartisipasi dalam pembangunan global yang berkelanjutan serta tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan Profil Pelajar Pancasila memiliki enam kompetensi yang dirumuskan sebagai dimensi kunci, Keenam dimensi tersebut adalah: Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Berkebhinekaan global, Kemajuan teknologi terutama di era disrupsi saat ini tidak bisa dihindari dalam budaya dan peradaban manusia. Indratmoko (2017) menjelaskan bahwa masuknya unsur-unsur globalisasi yang sangat 19 Rizky Hidayatullah, Implementasi AI dalam Proses... Assyfa Journal of Multidisciplinary Education, 2(1), 13-18. 2024 masiv dalam waktu yang begitu cepat akan mengakibatkan terjadinya perubahan sosial budaya secara susul terus menerus. Dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa bersifat positif dan negatif, salah satu yang paling sulit adalah dari sisi negatif yakni pola kehidupan perilaku manusia menyimpang dari nilai-nilai, norma-norma, dan moral. Sebuah peradaban manusia mengalami perubahan signifikan dari era agraris, bergeser ke industri, dan sekarang menuju digital. (Anif Istianah, Sukron Mazid, Sholihun Hakim, 2021). perhatian utama yang harus diprhatikan dan harus dipahamkan kepada seluruh masyarakat dan kepada seluruh sekolah. Terdapat beberapa alasan mendasar yang melatari pentingnya pembangunan karakter bangsa, baik secara filosofis, ideologis, normatif, maupun sosiokultural. Secara filosofis, pembangunan karakter bangsa merupakan suatu kebutuhan asasi dalam proses berbangsa dikarenakan hanya bangsa yang memiliki karakter dan jati diri yang kuat yang akan survive sebagai suatu bangsa. Secara ideologis, pembangunan karakter merupakan upaya mengejawantahkan ideologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Adapun secara normatif, pembangunan karakter bangsa merupakan wujud nyata langkah mencapai tujuan bangsa yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Secara historis, pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah dinamika inti proses kebangsaan yang terjadi tanpa henti dalam kurung sejarah, baik pada zaman penjajahan maupun di zaman kemerdekaan. Sedangkan secara kultural, pembangunan karakter bangsa merupakan suatu keharusan dari suatu bangsa yang multicultural (Ismail et al., 2021). Dengan tantangan ini, dunia pendidikan harus mampu menghadirkan sebuah pendekatan baru tanpa harus mengesampingkan Pancasila sebagai nilai dasar pendidikan (Siregar & Naelofaria, 2020). Seiring pasca merebaknya Covid-19 yang menyerang warga di berbagai negara, tentunya membawa dampak pengaruh terhadap dunia pendidikan. Imbauan untuk tidak berada di tengahtengah kerumunan membuat seluruh lapisan masyarakat merasa perlu mengisolasi diri. Sekolah yang dikenal sebagai tempat berkumpul puluhan hingga ratusan anak didik menjadi momok yang menjadi perhatian pemerintah. Pancasila merupakan cara pandang bangsa Indonesia di segala aspek termasuk pendidikan, terlebih Pancasila saat ini harus mampu ditransformasikan dalam pembelajaran di era Normalitas Baru sebagai akibat pandemi Covid-19. nilai-nilai Pancasila dirasakan sudah mulai sulit ditemukan dalam kehidupan sehari hari, baik dalam masyarakat maupun pada siswa sekolah yang seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat sekitarnya. Untuk itulah diperlukan gerakan untuk membumikan nilai-nilai Pancasila, khususnya dalam dunia pendidikan di Indonesia, salah satunya dengan cara menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kurikulum, metode pengajaran sehingga nilai-nilai Pancasila akan menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari siswa. memasukkan materi pendidikan moral Pancasila di setiap jenjang pendidikan dan menghidupkan kembali program penataran P4 dengan wajah baru dan selera generasi milenial (Kurniawaty, 2021). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dalam rencana strategis tahun 2020-2024 mengadopsi prinsip Pelajar Pancasila sebagai salah Visi dan Misi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Pelajar Pancasila merupakan salah satu perwujudan belajar sepanjang hayat bagi pelajar di Indonesia yang mampu memiliki kompetensi-kompetensi global serta berperilaku yang berpedoman kepada nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Pelajar Pancasila memiliki enam ciri utama yaitu: bertaqwa dan beriman kepada Tuhan serta berakhlak mulia, bergotong toyong, mandiri, kreatif, bernalar kritis, dan berkebinekaan global (Depan et al., 2019). Dari uraian latar belakang di atas dapat diketahui bahwa pendidikan harus turut serta mengambil peran dalam meningkatkan sumber daya manusia dalam upaya mewujudkan kualitas sumber daya manusia. Kurikulum yang mampu merespon zaman. Uraian ini bertujuan menjelasakan strategi mewujudkan profil pelajar pancasila pada SMA Negeri 1 Tanjung Palas Barat, sehingga terbentuk sumber daya manusia maju dan berkarakter serta religius nasionalis. Pancasila merupakan ideologi bangsa tanpa ada perkecualian. Kehidupan beragama masyarakat Indonesia juga telah diatur di dalamnya seperti pada sila pertama yang berbunyi “ketuhanan yang maha esa”. Dalam sila pertama tersebut mengandung arti bahwa kehidupan beragama menjadi dasar pedoman berperilaku masyarakat karena diletakan di awal dari kelima butir sila dalam pancasila. (Hakim & Ekapti, 2019). Poin inilah yang menjadi 20 Rizky Hidayatullah, Implementasi AI dalam Proses... Assyfa Journal of Multidisciplinary Education, 2(1), 13-18. 2024 dari bagaimana dia terus menerus belajar dan melakukan perbaikan dari pembelajarannya. Pengertian ini merupakan manifesto abadi. Sehingga pendidikan dasar meresponnya dengan memperkuat manifesto pendidikan ini melalui internalisasi nilai Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia (Zuchron, 2021). Metode Penelitian Penelitian ini merupakan jenis tulisan yang digunakan adalah litertur penelitian kepustakaan. Yaitu penelitian yang dilakukan mencari referensi teritis terkait kasus atau masalah yang ditemukan. Acuan teoretis termasuk hasil penelitian baik yang telah maupun yang belum dipublikasikan. Profil Pelajar Pancasila memiliki enam kompetensi yang dirumuskan sebagai dimensi kunci. Keenamnya saling berkaitan dan menguatkan sehingga upaya mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang utuh membutuhkan berkembangnya keenam dimensi tersebut secara bersamaan, tidak parsial. Keenam dimensi tersebut adalah: Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Berkebhinekaan global, Bergotong-royong, Mandiri, Bernalar kritis, Kreatif. Tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional telah juga merumuskan karakter yang harus dicapai oleh peserta didik yakni, manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Hasudungan & Abidin, 2020). Metode kepustakaan dilakukan dengan mencari dan membaca terlebih dahulu sumber-sumber bacaan yang relevan. Sumber bacaan dapat berupa jurnal, artikel ilmiah, tesis, disertasi, skripsi, makalah, serta sumber lain yang pernah dibuat sebelumnya. Data-data yang sudah diperoleh kemudian dianalisis menggunakan metode kualitatif yaitu deskriptif pustaka dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis, tidak hanya menguraikan, melainkan juga memberikan pemahaman dan penjelasan secukupnya tentang topik yang diangkat oleh penulis mengenai strategi mewujudkan profil pelajar pancasila di sekolah. Hasil Peneltiian dan Pembahasan Profil Pelajar Pancasila Profil Pelajar Pancasila dirancang untuk menjawab satu pertanyaan besar, yaitu “Pelajar dengan profil (kompetensi) seperti apa yang ingin dihasilkan oleh sistem pendidikan Indonesia?” “Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.” Pernyataan ini berkaitan dengan dua hal, yaitu kompetensi untuk menjadi warga negara Indonesia yang demokratis dan untuk menjadi manusia unggul dan produktif di Abad ke-21. Dalam hal ini, peserta didik Indonesia diharapkan dapat berpartisipasi dalam pembangunan global yang berkelanjutan serta tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan (Kemendikbud Ristek, 2020). Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Pengertian ini merupakan manifestasi dari hakikat pendidikan yang selaras dengan fitrah manusia sebagai makhluk pembelajar. Sepanjang hayatnya pelajar Indonesia memiliki kemampuan untuk memaknai hidupnya yang fana untuk mencapai kedudukannya secara paripurna. Bahwa hakikat manusia dilihat penguatan Profil Pelajar Pancasila memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk “mengalami pengetahuan” sebagai proses penguatan karakter sekaligus kesempatan untuk belajar dari lingkungan sekitarnya. Dalam kegiatan projek ini, peserta didik memiliki kesempatan untuk mempelajari tema-tema atau isu penting seperti perubahan iklim, antiradikalisme, kesehatan Projek 21 Rizky Hidayatullah, Implementasi AI dalam Proses... Assyfa Journal of Multidisciplinary Education, 2(1), 13-18. 2024 mental, budaya, wirausaha, teknologi, dan kehidupan berdemokrasi sehingga peserta didik bisa melakukan aksi nyata dalam menjawab isu-isu tersebut sesuai dengan tahapan belajar dan kebutuhannya. Projek penguatan ini juga dapat menginspirasi peserta didik untuk memberikan kontribusi dan dampak bagi lingkungan sekitarnya (Kemendikbud Ristek, 2020). kolaborasi, kepedulian, dan berbagi. 4. Mandiri Mandiri bermakna pelajar Indonesia merupakan pelajar mandiri, yaitu pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Elemen kunci dari mandiri terdiri dari kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi serta regulasi diri. 5. Bernalar Kritis Bernalar kritis bermakna pelajar yang bernalar kritis mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya. Elemen-elemen dari bernalar kritis adalah memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, merefleksi pemikiran dan proses berpikir, dan mengambil keputusan. Dikutip dari Kompas dalam pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim, menjabarkan 6 Profil Pelajar Pancasila, yakni: bernalar Kritis dan dapat memecahkan masalah, kemandirian, kreatif, gotong royong, sikap kebhinekaan, dan berakhlak mulia (Siregar & Naelofaria, 2020). Profil Pelajar Pancasila adalah sebuah profil ideal karakter pelajar di Indonesia yang harus diwujudkan oleh semua pihak melalui enam elemen kunci. Keenam ciri tersebut dijabarkan sebagai berikut : 6. Kreatif Kreatif bermakna pelajar yang kreatif mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak. Elemen kunci dari kreatif terdiri dari menghasilkan gagasan yang orisinal serta menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal. 1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia Memiliki makna pelajar Indonesia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Ia memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupannya seharihari. Ada lima elemen kunci beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia: akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada manusia, akhlak kepada alam dan akhlak bernegara. Kemendikbud menguraikan lebih jauh rumusan Profil Pelajar Pancasila dalam lingkup kebijakan meliputi aspek pembelajaran murid, pembelajaran dan kompetensi guru, kepemimpinan pendidikan, evaluasi dan dan perbaikan sistem serta kemitraan dengan pihak luar seperti Pemda, ormas, Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI). Secara internal dunia pendidikan juga mempersiapkan terwujudnya Profil Pelajar Pancasila melalui proses pembelajaran yang terpadu dan menyeluruh melalui akselerasi penciptaan budaya sekolah yang mendukung ekosistem pendidikan. Keterpaduan dan skema holistik lingkungan pendidikan terwujud dalam integrasi dimensi intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler. (Zuchron, 2021) 2. Berkebinekaan Global Bermakna pelajar Indonesia mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitasnya, dan tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya budaya baru yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa. Elemen kunci dari berkebinekaan global meliputi mengenal dan menghargai budaya, kemampuan komunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama, dan refleksi dan tanggung jawab terhadap pengamalan kebinekaan. Dalam rangka mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, maka diperlukannya pendidikan yang tidak terlepas dari ajaran Pancasila sebagai dasar untuk melaksanakan pendidikan di Indonesia. Pancasila memiliki serangkaian nilai, yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Kelima nilai tersebut 3. Bergotong Royong Bergotong royong bermakna pelajar Indonesia memiliki kemampuan bergotong royong, yaitu kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah dan ringan. Elemen-elemen dari bergotong royong adalah 22 Rizky Hidayatullah, Implementasi AI dalam Proses... Assyfa Journal of Multidisciplinary Education, 2(1), 13-18. 2024 merupakan satu kesatuan yang utuh dimana mengacu dalam tujuan yang satu. Nilai-nilai dasar Pancasila seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan yang bersifat universal, objektif, artinya nilai-nilai tersebut dapat dipakai dan diakui oleh negara-negara lain (Asmaroini, 2016). perpecahan. Menurut Rajasa (2007), generasi muda harus mengembangkan karakter nasionalisme melalui tiga proses yaitu: Pembangun Karakter (character builder) yaitu generasi muda berperan membangun karakter positifr bangasa melalui kemauan keras, untuk menjunjung nilai-nilai moral serta menginternalisasikannya pada kehidupan nyata. Permasalahan yang dihadapi Paradigma baru pendidikan Pancasila harus fokuskan diri dalam upaya membentuk peserta didik sebagai masyarakat kewargaan (civil society) dengan memberdayakan warga negara melalui proses pendidikan agar dapat berpartisipasi aktif dalam sistem pemerintahan negara yang demokratis (Bramastia & Sadjiarto, 2021). a. Pemberdaya Karakter (character enabler), generasi muda menjadi role model dari pengembangan karakter bangsa yang positif, dengan berinisiatif membangun kesadaran kolektif denhgan kohesivitas tinggi, misalnya menyerukan penyelesaian konflik. b. Perekayasa karakter (character engineer) yaitu generasi muda berperan dan berprestasi dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan, serta terlibat dalam proses pembelajaran dalam pengembangan karakter positif banmgsa sesuai dengan perkembangan zaman (Anggraini et al., 2020). Di Indonesia pendidikan karakter saat ini sedang banyak diperbincangkan. Penurunan karakter menjadi penyebab pentingnya pendidikan karakter dalam dunia pendidikan di Indonesia. Hal ini seperti dijelaskan Jasrudin, dkk.,Krisis multidimensional yang menerpa Indonesia pada tahun 1998 membawa perubahan yang signifikan dan dampak yang luas terhadap kehidupan masyarakat Indonesia(Depan et al., 2019). Karakter negatif lain yang juga menghinggapi pada sebagian oknum guru adalah hilangnya idealisme sebagai guru. Interaksi antara guru dengan siswa. Permasalahan yang timbul dalam pembentukan Profil Pelajar Pancasila berasal dari peserta didik dan guru salah satunya, yang mana faktor penghambat dan pendorong berasal dari keterikatan peserta didik dan guru.(Sekolah, 2021), Tentunya dengan tetap memperhatikan nilai-nilai Pancasila dalam pelaksanaan pembelajaran. Nilainilai Pancasila diterapkan dalam kegiatan pembelajaran maupun aturan kelas (Siregar & Naelofaria, 2020). Kelangsungan hidup negara dan bangsa Indonesia di era globlalisasi, mengharuskan kita untuk melestarikan nilai-nilai Pancasila, agar generasi penerus bangsa tetap dapat menghayati dan mengamalkannya dan agar intisari nilai-nilai yang luhur itu tetap terjaga dan menjadi pedoman bangsa Indonesia sepanjang masa. (Puji Asmaroini, 2017), komunikasi berkesan juga adalah penting bagi menggalakkan peningkatan kemahiran mendengar, kemahiran kefahaman dan penghasilan bahasa serta menggalakkan penglibatan murid secara aktif di dalam kelas (Haris & Khairuddin, 2021). Menerapkan Pancasila dalam kehidupan dan perilaku sehari-hari, salah satu kedudukan Pancasila bagi bangsa Indonesia adalah sebagai pandangan hidup berbangsa. Yakni mengandung pengertian bahwa nilai-nilai Pancasila merupakan pegangan dalam mengatur sikap dan tingkah laku yang menjadi pedoman. Bangsa Indonesia harus menghayati dan mengamalkan nilai-nilai kebenarannya. Jika tidak diamalkan maka pandangan hidup tersebut tidak bermanfaat sama sekali dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keadaan tersebut, bangsa Indonesia akan mudah dimanfaatkan pihak-pihak tertentu sehingga terjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus berupaya mempersiapkan dan menerapkan kebijakan yang tepat untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggagas “Profil Pelajar Pancasila” yang memuat karakter yang mengacu pada Pancasila, berimplikasi pada ketahanan pribadi siswa, dimana Profil Pelajar Pancasila mengarahkan siswa untuk menjadi pribadi yang berkarakter sesuai dengan Pancasila yang terangkum dalam sebuah “Profil Pelajar Pancasila” (Rusnaini et al., 2021). Media pembelajaran dapat berperan dalam proses pembelajaran Pancasila dan kewarganegaraan 23 Rizky Hidayatullah, Implementasi AI dalam Proses... Assyfa Journal of Multidisciplinary Education, 2(1), 13-18. 2024 membentuk karakter siswa dalam tujuan profil pelajar Pancasila tentunya mengalami perubahan zaman dan daya tarik tersendiri untuk belajar sehingga siswa dapat mengkonstruksi pemahaman melalui media yang dikembangkan (Iasha et al., 2018) bagaimana konseptual pengimplementasian pofil pelajar Pancasila mencakup 6 poin, (Lampiran – Lampiran 119, n.d.) yaitu dengan memberikan penerapan serta mencontohkan prilaku profil pelajar pancasila setiap hari sebagai figur bagi peserta didik. bahwa orang tua juga memiliki peran sebagai pembelajar anak, pemenuh kebutuhan anak, pemahaman spiritual, pengawasan, motivasi, dan penyedia fasilitas anak. Pendampingan belajar anak terlihat dari cara orang tua membantu kesulitan tugas anak, menjelaskan materi yang tidak dimengerti anak, dan merespon dengan baik semua pembelajaran (Yulianingsih et al., 2020). Indonesia. Untuk materi masih mencakup 5 elemen yaitu: Al-Quran-hadis, akidah, akhlak, fiqih, dan sejarah peradaban Islam (Nur‘Inayah, 2021). Dengan demikian, pendidikan agama yang merupakan titik strategis dalam pembinaan moral harus berbenah dan mengukur kembali peran sertanya dalam persoalan tersebut. Di sinilah pentingnya revitalisasi strategi pendidikan agama Islam (PAI) dalam rangka meminimalisir dekadensi moral yang semakin hari semakin memperhatikan (Mochammad, 2016). Bagaimanapun, sistem pendidikan Islam Indonesia memiliki menjadi bagian dari Sistem Pendidikan Nasional dan Negara Kesatuan Republik. (Latief et al., 2021), mengajarkan ilmu pengetahuan agama Islam sebagai pokok pengajaran, dan juga mengajarkan pengetahuan umum sekurang-kurangnya; Bahasa Indonesia, berhitung dan membaca serta menulis huruf latin (Nasir, 2017). Pendidikan Agama membentuk Profil Pelajar Pancasila Dengan keterampilan dalam mengembangkan manajemen, seorang pengajar akan lebih siap mengelola pembelajaran sehingga dapat mengesuaikan dengan kebutuhan serta perkembangan dunia pendidikan. tenaga pendidik selalu memberi motivasi, dan mengembangkan minat siswa untuk belajar dan berprestasi (Simamora et al., 2020). Pandangan tersebut sesuai dengan pendapat Gilmour et al (2018) bahwa dengan keterampilan pengelolaan kelas yang dimiliki guru, bermanfaat mendukung penggunaan strategi manajemen kelas yang baik (Hidayah, 2021). Peserta didik mampu mandiri sesuai dengan aspek profil pelajar Pancasila yang mengharuskan peserta didik untuk bernalar kritis, berakhlak mulia, kreatif, gotong royong, berkebhinekaan global, bernalar kritis dan mandiri (Sibagariang et al., 2021). Pada kurikulum merdeka belajar ini penekanan utamanya berada pada pembentukan karakter siswa yang sesuai dengan profil pelajar Pancasila. kurikulum dapat dilakukan dengan empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, serta implikasi pada sekolah, guru, orang tua, dan siswa (Istiningsih & Dharma, 2021). Terdapat enam dimensi profil pelajar Pancasila yang harus terintegrasi pada setiap mata pelajaran. Pelajaran agama tidak hanya membahas hubungan manusia dengan Allah (ḥabl min Allah), namun juga hubungan dengan diri sendiri, sesama warga negara, sesama manusia (ḥabl min al-nas) dan alam semesta (habl min al-alam) (Nur‘Inayah, 2021). Kehidupan beragama masyarakat Indonesia juga telah diatur di dalamnya seperti pada sila pertama yang berbunyi “ketuhanan yang maha esa”. Dalam sila pertama tersebut mengandung arti bahwa kehidupan beragama menjadi dasar pedoman berperilaku masyarakat karena diletakan di awal dari kelima butir sila dalam pancasila (Hakim & Ekapti, 2019). Budi pekerti luhur, kesantunan, dan relegiusitas yang dijunjung tinggi dan menjadi budaya bangsa Indonesia (Al-ulum & Karakter, 2013). Tantangan masyarakat dan peserta didik dalam revolusi industri 4.0 adalah setiap anak manusia disentuh dan bersentuhan dengan teknologi sejak dia lahir tantangan masa depan dalam revolusi indutri 4.0 ini antara lain berkaitan dengan akselerasi teknologi dan sains, tren politik kekuatan ekonomi, tren social budaya modern, perubahan peta pengetahuan dan era post-modern yang menuntut berbagai perubahan pendidikan. Menghadapi tantangan tersebut, pendidikan harus memperluas orientasi pada standar kompetensi pendidikan, agar berbagai perubahan dapat direalisasikan (Darise, 2019). Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Pendidikan Agama Islam (PAI) secara bertahap dan holistik diarahkan untuk menyiapkan peserta didik agar mantap secara spiritual, berakhlak mulia, dan memiliki pemahaman akan dasar-dasar agama Islam serta cara penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dalam wadah Negara Kesatuan Republik Kesimpulan Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang 24 Rizky Hidayatullah, Implementasi AI dalam Proses... Assyfa Journal of Multidisciplinary Education, 2(1), 13-18. 2024 memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Pengertian ini merupakan manifestasi dari hakikat pendidikan yang selaras dengan fitrah manusia sebagai makhluk pembelajar. Sepanjang hayatnya pelajar Indonesia memiliki kemampuan untuk memaknai hidupnya yang fana untuk mencapai kedudukannya secara paripurna. Pengertian ini merupakan manifesto abadi. Sehingga pendidikan dasar meresponnya dengan memperkuat manifesto pendidikan ini melalui internalisasi nilai Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia, Profil Pelajar Pancasila memiliki enam kompetensi yang dirumuskan sebagai dimensi kunci. Keenamnya saling berkaitan dan menguatkan sehingga upaya mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang utuh membutuhkan berkembangnya keenam dimensi tersebut secara bersamaan, tidak parsial. Keenam dimensi tersebut adalah: Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, Berkebinekaan global, Bergotong-royong, Mandiri, Bernalar kritis, Kreatif. Tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional telah juga merumuskan karakter yang harus dicapai oleh peserta didik yakni, manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pelajaran agama tidak hanya membahas hubungan manusia dengan Allah (ḥabl min Allah), namun juga hubungan dengan diri sendiri, sesama warga negara, sesama manusia (ḥabl min al-nas) dan alam semesta (habl min alalam), Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Pendidikan Agama Islam (PAI) secara bertahap dan holistik diarahkan untuk menyiapkan peserta didik agar mantap secara spiritual, berakhlak mulia, dan memiliki pemahaman akan dasar-dasar agama Islam serta cara penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk materi masih mencakup 5 elemen yaitu: Al-Quran-hadis, akidah, akhlak, fiqih, dan sejarah peradaban Islam. Agama Islam Nur Ainiyah Universitas Negeri Semarang Jawa Tengah. Agama Islam. Anggraini, D., Fathari, F., Anggara, J. W., & Ardi Al Amin, M. D. (2020). Pengamalan Nilai-Nilai Pancasila Bagi Generasi Milenial. Jurnal Inovasi Ilmu Sosial Dan Politik, 2(1), 11. https://doi.org/10.33474/jisop.v2i1.4945 Anif Istianah, Sukron Mazid, Sholihun Hakim, R. P. S. (2021). “Integrasi Nilai-Nilai Pancasila untuk Membangun Karakter Pelajar Pancasila di Lingkungan Kampus.” Gatra Nusantara, 19 No.1(Jurnal Politik, Hukum, Sosial Budaya dan Pendidikan), 59–68. Asmaroini, A. P. (2016). Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Bagi Siswa di Era Globalisasi. Citizenship Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, 4(2), 440. https://doi.org/10.25273/citizenship.v4i2.1076 Ismail, S., Suhana, S., & Zakiah, Q. Y. (2021). “Analisis Kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter dalam Mewujudkan Pelajar Pancasila di Sekolah.” Jurnal Manajemen Pendidikan …, 2(1), 76–84. https://dinastirev.org/JMPIS/article/view/388 Mochammad, I. (2016). Dekadensi moral di kalangan pelajar (revitalisasi strategi PAI dalam menumbuhkan moralitas generasi bangsa). Edukasia Islamika, 1(1), 1–20. http://ejournal.iainpekalongan.ac.id/index.php/edukasi aislamika/article/view/766 Nur‘Inayah, N. (2021). Integrasi Dimensi Profil Pelajar Pancasila dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Menghadapi Era 4.0 di SMK Negeri Tambakboyo. Gerasi: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 1(1), 1–13. Puji Asmaroini, A. (2017). Menjaga Eksistensi Pancasila Dan Penerapannya Bagi Masyarakat Di Era Globalisasi. Jurnal Pancasila Dan Kewarganegaraan, 2(1), 59–72. https://doi.org/10.24269/v2.n1.2017.59-72 Sekolah, D. I. (2021). Analisis faktor pendukung dan penghambat pembentukan profil pelajar pancasila di sekolah. Sibagariang, D., Sihotang, H., Murniarti, E., & Indonesia, U. K. (2021). Peran Guru Penggerak Dalam Pendidikan. Dinamika Pendidikan, 14(2). Zuchron, D. (2021). Tunas Pancasila 2021. 1–82. https://ditpsd.kemdikbud.go.id/upload/fileman ager/download/BUKU-TUNAS-PANCASILA.pdf. Daftar Pustaka Al-ulum, J., & Karakter, P. (2013). Melalui Pendidikan 25