Setyo Riadi, Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.. Assyfa Journal of Multidisciplinary Education, 1(2), 1-6. 2024 Assyfa Journal of Multidisciplinary Education, 2(1), pp. 1-6, 2024 Received 05 May 2024 / published 25 Augt 2024 Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Merdeka Belajar di SMPN 2 Semaka Kabupaten Tanggamus Setyo Riadi1, Imam Syefi’i2, Siti Rodhotul Jannah3 Universitas Ma’arif Lampung, Indonesia E-mail correspondence to: setyoriadi@gmail.com student intervention in introductory, core and closing activities so that the learning atmosphere both inside and outside the classroom is carried out effectively. Evaluation of Islamic Religious Education learning outcomes at SMP Negeri 2 Semaka is carried out during the learning process (Formative) and at the end of the learning objectives (Summative). Keywords: Learning, Islamic Religious Education and Character Based, Independent Learning Abstract Islamic Religious Education learning based on independent learning is the actualization of the formation of students'' character competencies. selection and use of learning media, selection and use of learning methods, skills in assessing student learning outcomes, and selecting and using learning strategies or approaches. The aim of this research is: 1) To analyze the learning planning for Islamic Religious Education based on independent learning 2) To analyze the implementation of Islamic Religious Education learning based on independent learning 3) To evaluate Islamic religious education learning. This research seeks to describe and analyze Islamic Religious Education Learning based on independent learning at SMPN 2 in Tanggamus Regency with a problem focus including planning, implementation and evaluation. This research uses a qualitative approach. This research uses case study research, and the location data obtained is not numbers but in the form of written and spoken words. Learning planning for Islamic Religious Education based on Freedom of Learning Based on observations, the results show that SMP Negeri 2 Semaka plans Islamic Religious Education learning by considering the vision, mission, goals and learning targets, as well as conducting research in each class. Implementation of Islamic Religious Education learning based on Freedom of Learning Observation results from Islamic Religious Education learning in class VII show that teachers use learning media without referring to teaching modules because learning in class is dynamic and changes according to class needs and approval. Evaluation of Islamic Religious Education learning based on independent learning Learning evaluation activities in class VII of SMP Negeri 2 Semaka show that students are motivated to better understand and use the material rather than just pursuing target grades. Implementation of Islamic Religious Education learning based on independent learning at SMP Negeri 2 Semaka holds Islamic Religious Education learning without teacher and Abstrak Pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis pembelajaran mandiri merupakan aktualisasi pembentukan kompetensi karakter siswa. pemilihan dan penggunaan media pembelajaran, pemilihan dan penggunaan metode pembelajaran, keterampilan menilai hasil belajar siswa, serta pemilihan dan penggunaan strategi atau pendekatan pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk menganalisis perencanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis pembelajaran mandiri 2) Untuk menganalisis pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis pembelajaran mandiri 3) Untuk mengevaluasi pembelajaran pendidikan agama Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis Pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis pembelajaran mandiri di SMPN 2 Kabupaten Tanggamus dengan fokus masalah meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan penelitian studi kasus, dan data lokasi yang diperoleh bukan berupa angka-angka melainkan berupa kata-kata tertulis dan lisan. Perencanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Merdeka Belajar Berdasarkan observasi diperoleh hasil bahwa SMP Negeri 2 Semaka merencanakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan mempertimbangkan visi, misi, tujuan dan sasaran pembelajaran, serta melakukan penelitian di setiap kelas. Implementasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam 1 Setyo Riadi, Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.. Assyfa Journal of Multidisciplinary Education, 1(2), 1-6. 2024 Berbasis Merdeka Belajar Hasil observasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas VII menunjukkan bahwa guru menggunakan media pembelajaran tanpa mengacu pada modul pengajaran karena pembelajaran di kelas bersifat dinamis dan berubah-ubah sesuai kebutuhan dan persetujuan kelas. Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Belajar Mandiri Kegiatan evaluasi pembelajaran di kelas VII SMP Negeri 2 Semaka menunjukkan bahwa siswa termotivasi untuk lebih memahami dan menggunakan materi daripada sekedar mengejar nilai target. Implementasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis pembelajaran mandiri di SMP Negeri 2 Semaka menyelenggarakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam tanpa campur tangan guru dan siswa pada kegiatan pendahuluan, inti dan penutup sehingga suasana pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas terlaksana secara efektif. Evaluasi hasil belajar Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Semaka dilakukan pada saat proses pembelajaran (Formatif) dan pada akhir tujuan pembelajaran (Summatif). Kata Kunci: Pembelajaran, Pendidikan Agama Islam, Merdeka Belajar. pendidikan dan diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran, serta kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, sehingga bahan kajian menjadi materi pelajaran dan pendalaman terhadap ajaran Islam dapat terwujud. Fokus capaian pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Pendidikan Agama Islam adalah agar lulusan sekolah siap menguasai keterampilan esensial dan Mutu Ketat Islam sesuai dengan derajat pengajaran yang telah diambilnya, dan menjadikannya sebagai suatu hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. adanya. Kemudian tujuan pendidikan umum sebagai semacam perspektif tujuan pembelajaran Pendidikan Ketuhanan dan Karakter Islami meliputi; Tanggung jawab, keimanan dan ketakwaan, kesantunan, akhlak mulia, ilmu pengetahuan, kemandirian, kemampuan, kreativitas, dan prinsip demokrasi tertanam dalam diri siswa. Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan memerlukan tenaga pendidik yang kreatif dan inovatif sehingga tujuan tersebut dapat dengan mudah dicapai Pendidikan Agama Islam oleh siswa karena pengalaman pendidikannya tidak melelahkan. Pendahuluan Pendidikan Agama Islam dan Karakter berperan penting dalam sistem pendidikan dengan membina karakter dan kepribadian bangsa. Berprestasi atau kecewanya sekolah yang menjadi penopang karakter masyarakat hendaknya terlihat dari apakah suatu zaman bisa bersikap moral atau sebaliknya.(Mukhtar 2003). Abdul Majid dan Dian Andayani mengutip peran pendidikan dalam pernyataan Theodore Roosevelt; Metode Penelitian Penelitian ini berupaya untuk mendeskripsikan dan menganalisis tentang Pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis merdeka belajar di SMPN 2 semaka kabupaten Tanggamus dengan fokus masalah meliputi; perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif. Berusaha memberikan pernyataaan sesuai keadaan sebenarnya dan manusia menjadi sumber data utama ketika melakukan penelitian kualitatif. Selaras dengan pernyataan Bogdan dan Taylor bahwa penelitian kualitatif secara fundamental melakukan suatu tradisi pada ilmu pengetahuan sosial yang pengamatannya berkaitan dengan kawasan manusia dan individu lain didalamnya baik pada peristilahan dan kebahasaan(Moleong 2002). Penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini, karena sifat masalah yang diteliti dinamis sesuai perkembang situasi dan kondisi lapangan. “to educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (mendidik seseorang dalam pikiran dan bukan dalam moral berarti mendidik suatu ancaman bagi masyarakat)(Abdul Majid dan Dian Andayani 2006). Al-Quran menjelaskan bahwa pendidikan dimaksudkan untuk meningkatkan akhlak, dan teladan akhlak Nabi SAW terdapat pada ayat 21 Q.S. al-Ahdzab; ‫لَقَدْ َك َن لَ م ُْك ي ِْف َر مس ْولي ي‬ ‫هللا‬ َ ‫هللا ما ْس َو ٌة َح َس َن ٌة يل َّم ْن َك َن يَ ْر مجوا‬ 21. ‫هللا َكثي ًْيا‬ َ ‫َو الْ َي ْو َم ْ َاْل يخ َر َو ّذ َك َر‬ “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Penelitian ini memakai penelitian studi kasus, dan perolehan data dilokasi bukan angka melainkan berbentuk kata-kata tertulis maupun lisan. Penentuan hubungan sebab akibat menjadi arah penelitian ini untuk mengontrol dan meramal jawaban pertanyaan dari beberapa pihak mengenai hubungan sebab akibat. Mempelajari secara Sebagai perluasan pengembangan Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Karakter, maka penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Karakter dilaksanakan di seluruh satuan 2 Setyo Riadi, Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.. Assyfa Journal of Multidisciplinary Education, 1(2), 1-6. 2024 intensif tentang beberapa unit sosial seperti kelompok, individu, masyarakat, dan lembaga menjadi tujuan penelititian ini (Riyanto 2002). Suryasubrata menyatakan bahwa tujuan studi kasus untuk mempelajari secara intensif kondisi sekarang, situasi, dan latar belakang serta unit sosial yang berinteraksi dengan perseorangan, perkelompok, masyarakat atau Lembaga dan lingkungan sekitar (Sumadi suryasubrata 1998). Hasil Peneltiian dan Pembahasan 1. Perencanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis Merdeka belajaran Berdasarkan hasil penelitian di SMP 2 Semaka Kecematan Semaka Kebupaten Tanggamus bahwa merdeka belajar yang digagas Nadiem Anwar Makarim memiliki hubungan dengan perkembangan era revolusi industri 4.0. Hal tersebut disamPendidikan Agama Islamkan pada saat kegiatan Hari Guru Nasional tahun 2019. Beliau menegaskan bahwa konsep merdeka belajar menghasilkan kemerdekaan berfikir yang tidak ditentukan oleh guru. Merdeka belajar Mendikbud Nadiem menguatkan kembali konsep Ki Hajar Dewantara tentang kemerdekaan dalam Pendidikan yang terdiri atas tiga macam sifat, diantaranya; tidak bersandar pada orang lain, dapat mengatur diri sendiri, dan independent.(Ki Hadjar Dewantara 1997). Berikut beberapa alasan mengapa peneliti mengkaji penelitian mengenai Pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis merdeka belajar menggunakan studi kasus; 1. Dalam studi kasus menyajikan informasi tentang pemahaman yang lebih luas dan hubungan antara data dengan prosesproses yang membutuhkan penjelasan. 2. Wawasan mengenai konsep-konsep dasar perilaku manusia diperoleh dari studi kasus. Peneliti melalui penyelidikan dapat menemukan hubungan dan karakteristik yang tak terduga dan diharapkan. 3. Data dan temuan pada studi kasus digunakan sebagai landasan dalam mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan dan membangun latar permasalahan perencanaan penelitian yang lebih besar(Abdul Aziz S.R 1988). Selain itu Ki Hajar Dewantara menegaskan tujuan Pendidikan adalah memanusiakan manusia agar memiliki budi pekerti luhur dan membentuk karakter ideal warga negara dengan memiliki karakter mengerti (moral knowing), merasakan (moral feeling), dan melakukan (moral action)(Dwi Wijayanti 2016). Penelitian tentang pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis merdeka belajar arahnya untuk mendeskripsikan dan menganalisis, kemudian melakukan pengamatan mendalam mengenai latar yang dialami dilakukan peneliti. Ahmad Tanzeh mengutip pendapat Bogdan dan Taylor menyatakan; Dalam rangka mewujudkan karakter tersebut diperlukan perencanaan pembelajaran dalam pendidikan, salah satunya melalui Pendidikan Agama Islam yang mampu membentuk manusia utuh sebagaimana pandangan Ahmad Tafsir(Tafsir 1992), dan membentuk peserta didik berakhlak mulia, mulia, taat beragama, rajin beribadah, cerdas, berpengetahuan, jujur, adil, produktif, santun, etis, toleran, dan disiplin (Hamdan, n.d.).Oleh karana itu dalam memaksimalkan Pendidikan Agama Islam berbasis merdeka belajar, diperlukan perencanaan pembelajaran berbasis merdeka belajar pula dalam mencapainya. Perencanaan pembelajaran di SMP 1 Semaka didasarkan pada visi dan misi, tujuan dan target belajar serta melakukan riset di kelas masingmasing. Sementara dalam pandangan Guru Besar IKIP Bandung Mohammad Fakky Gaffar berpendapat bahwa perencanaan dalam pembelajaran disusun untuk mencapai tujuan pembelajaran (Hamzah B. Uno 2008). Adapun perencanan pembelajaran di SMP 2 Semaka terdiri atas: “pendekatan kualitatif secara langsung menunjukan setting dan individu dalam setting itu secara keseluruhan, serta dipersempit menjadi variabel yang terpisah atau menjadi hipotesis”(Ahmad Tanzeh 2011). Sedangkan Salvin menjelaskan bahwa yang ditampilkan hasil penelitian adalah objek penelitian tidak ada perlakuan khusus atau manipulasi, sebab terdapat empat karakteristik seperti; kerja lapangan, naturalistik, manusia sebagai instrumen utama, dan deskriptif. Alasan lain, penelitian ini dilakukan di sekolah yang berlatar belakang pendidikan umum, tapi mampu melaksanakan pembelajaran baik mengenai pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis merdeka belajar. 3 Setyo Riadi, Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.. Assyfa Journal of Multidisciplinary Education, 1(2), 1-6. 2024 1. Membentuk Tim Khusus mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PA) 2. Pembentukan tim khusus pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPN 2 Semaka memudahkan kordinasi antar guru agama. Selain itu merancang perencanaan pembelajaran, melakukan riset, menemukan solusi, serta berbagi ilmu baru untuk mencaPendidikan Agama Islam tujuan pembelajaran. Sementara di dalam teori peneliti tidak menguraikan adanya aktifitas pembentukan tim khusus dalm menyusun perencanaan pemebelajaran Pendidikan Agama Islam. Namun merdeka belajar dalam menyusun perencanaan pembelajaran tidak perlu belajar kepada ahli atau pakar, tetapi belajar kepada sesama guru atau melakukan koordinasi sesama dalam menyusun perencanaan pembelajaran dapat menjadi bagian dari aktifitas merdeka belajar(Najelaa Shihab dan Komunitas Guru Belajar 2020). Penyusunan perangkat pembelajaran 2. Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis Merdeka belajar Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru dan siswa di SMPN 2 Semaka bertanggung jawab sepenuhnya atas pelaksanaan pembelajaran. Sekolah hanya memungkinkan guru dan siswa untuk berkreasi dan berelaborasi. Seperti halnya strategi, metode, dan pendekatan pembelajaran, tidak ada yang menetapkan bagaimana hal itu digunakan. namun, sekolah tetap memberikan aturan dalam bentuk kebijakan kepada guru untuk diikuti. Namun, pendidik memiliki kebebasan untuk mengubah cara mereka mengajar. Hal ini sejalan dengan pendapat Najelaa Shihab bahwa impovisasi dapat diberikan dalam proses pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan Panduan Pembelajaran dan Asesmen. Adapun langkah-langkah pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPN 2 Semaka terdiri atas: a) pendahuluan b) kegiatan inti c) kegiatan penutup. 3. Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti berbasis Merdeka belajar Dalam penyusunan perangkat pembelajaran meliputi pengembangan silabus, kalender pendidikan, program tahunan, program semester, dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Pada dasarnya, evaluasi adalah proses menilai tingkah laku yang terjadi dan terus berubah. Dalam kegiatan ini, guru menganggap penilaian sebagai bagian dari proses pembelajaran. Ini karena tujuan pembelajaran digunakan sebagai barometer perencanaan dan pengembangan dan alat untuk mengukur pencapaian tujuan tujuan. Pada kurikulum 2013 perencanaan pembelajaran dirancang guru dalam bentuk silabus serta Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada standar isi (Kunandar 2013). Sementara di SMPN 2 Semaka perangkat pembelajaran disusun oleh tim Kurikulum sekolah pada awal tahun ajaran baru untuk program dalam satu semester. Tim kurikulum sekolah mengkategorikan dalam tiga kategori mata pelajaran yang disesuaikan dengan Pancakarkter education system (PKES) untuk menyusun kalender pendidikan, program tahunan, program semester, silabus, dan RPP. Adapun ketiga kategori tersebut terdiri dari esensi sangat penting bermuatan akidah dan akhlak, materi penting berkaitan ibadah/mualamah, dan cukup penting berkaitan materi muatan lokal serta umum. Selain itu dalam perencanaan pembelajaran SMPN 2 Semaka melibatkan pendidik dan peserta didik. Siswa dilibatkan kesempatan untuk memilih strategi pembelajaran yang digunakan Guru untuk menghindarkannya dari kejenuhan belajar. Selain itu siswa juga mendapatkan hak untuk meminta materi tambahan dari materi pembelajaran yang akan dipelajari. Angket sebaya, lembar pengamatan, refleksi, catatan anekdot, dan rekaman adalah alat yang digunakan untuk menilai proses pembelajaran. Selain itu, evaluasi hasil pembelajaran dilakukan dengan menggunakan tes tulis dan tes lisan atau sikap. Seperti yang ditunjukkan di SMPN 2 Semaka, alat penilian tidak cukup dengan tes tulis dan lisan, tetapi alat refleksi juga digunakan untuk menilai proses pembelajaran siswa. Adanya contoh dari lingkungan sekitar adalah indikator utama apakah siswa akan terdidik secara reflektif (Najelaa Shihab dan Komunitas Guru Belajar 2020). Misalkan seorang guru yang reflektif dalam praktiknya atau orang tua yang reflektif dalam mendidik anak mereka. Sebagian orang cenderung menutup mata, dengan berbagai alasan untuk menolak untuk melihat diri mereka sendiri. Banyak orang percaya bahwa anak-anak tidak mengerti, bahwa orang tua mereka menentang mereka, dan bahwa mereka tidak memahami masyarakat mereka. Namun, fakta ini membuat anak-anak takut untuk melakukan perubahan sendiri. Kelihatannya sederhana, tetapi 4 Setyo Riadi, Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.. Assyfa Journal of Multidisciplinary Education, 1(2), 1-6. 2024 bercermin adalah cara untuk melihat apa yang baik dan buruk. Untuk melakukannya, Anda harus berani. efektif. Evaluasi hasil belajar Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Semaka dilakukan pada saat proses pembelajaran (Formatif) dan pada akhir tujuan pembelajaran (Summatif). Seseorang yang tidak berani berpikir kembali karena dia tahu pada saat melihat cermin itu betapa buruknya keadaannya. Karena itu, hampir tidak ada kesempatan untuk bertemu dengan orang lain yang melihat kritik sebagai bantuan atau dukungan, terutama jika mereka dengan sengaja mengamati dan mencari umpan balik terhadap tindakan mereka. Namun, untuk memiliki cerminan yang utuh, perlu bekerja sama dengan orang lain. Artinya, seseorang harus tahu bagaimana, berdasarkan penilaian diri sendiri, mencerminkan bagaimana orang lain melihat kita. . Daftar Pustaka Abdul Aziz S.R, Menmahami. 1988. “Fenomena Sosial Melalui Studi Kasus; Kumpulan Materi, Pelatian Metode Penelitian Kualitatif.” Surabaya: BMPTS Wilayah VII. Abdul Majid dan Dian Andayani. 2006. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi (Konsep Dan Implementasi Kurikulum 2004). Bandung: Remaja Rosdakarya. Refleksi sering kali gagal dicontohkan karena sikap antipati pada kesalahan atau kegagalan. Padahal kegagalan merupakan salah satu kesempatan berharga yang tersedia bahkan berlimpah dalam proses belajar, tapi jarang sekali dimanfaatkan. Semua pelaku pendidikan butuh belajar bahwa kekeliruan itu tidak permanen, untuk diperbaiki serta harga diri tidak tidetuntukan dengan hal itu, sebab fokus refleksi bukan menyalahkan atau mencari kesalahan. Refleksi tidak akan mucul bila prosesnya dihantui ketakutan harus benar, objektif, sesuai dengan standar dan harapan. Jika memerdekakan merupakan tuuan pendidikan, maka refleksi tidak sekedar menjadi adat dalam ujian akhir semester dan akhir tahun (ujian kenaikan dan kelulusan pada ajaran baru), tapi menjadi prioritas sejak dini yang dibiasakan. Banyak anggapan bahwa ujian sebagai kesempatan terakhir menilai anak, tanpa melihat fungsi utama untuk menyusun rencana aksi ke depan. Ujian apapun tidak mungkin efektif memotivasi anak, apalagi bila dorongannya sekedar penilaian eksternal dengan standar orang lain, bukan refleksi untuk pengembangan diri. Hubungan reflektif dalam pendidikan itu menular dan berkesinambungan, kepala sekolah yang membudayakan refleksi bersama guru-guru di sekolah akan menumbuhkan murid-murid yang berani berefleksi. Ahmad Munir Saifulloh. 2011. “Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) Di Sekolah Menengah Atas (SMA). Studi Multikasus Di SMA Negeri Lumajang Dan SMA Jendral Sudirman., Tesis, (Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam,.” Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ahmad Tanzeh. 2011. “Metodologi Penelitian Praktis.” Yogyakarta: Teras. Dwi Wijayanti. 2016. “Pendidikan Yang Memanusiakan Manusia (Konsep Karakter Warga Negara Ideal Ki Hajar Dewantara) Dalam Prosiding Konferensi Nasional Kewarganegaraan Ke-2.” Yogyakarta: FIS UNY. Halida Bunga, Nadiem Makarim: n.d. “Merdeka Belajar Adalah Kemerdekaan Berpikir.” Tempo.Co. https://nasional.tempo.co/read/1283493/nadi em-makarim-merdeka%02belajar-adalahkemerdekaan-berpikir/full&view=ok. Hamdan. n.d. “Pengembangan Dan Pembinanaan Kurikulum (Teori Dan Praktek Kurikulum PAI).” Hamzah B. Uno. 2008. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Ki Hadjar Dewantara. 1997. Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Kesimpulan Implementasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis pembelajaran mandiri di SMP Negeri 2 Semaka menyelenggarakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam tanpa campur tangan guru dan siswa pada kegiatan pendahuluan, inti dan penutup sehingga suasana pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas terlaksana secara Kunandar. 2013. Penilaian Autentik Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Moleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 5 Setyo Riadi, Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.. Assyfa Journal of Multidisciplinary Education, 1(2), 1-6. 2024 Mukhtar. 2003. Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Misaka Galiza. Pendidikan.” Surabaya: Penerbit SIC. Sumadi suryasubrata. 1998. “Metodologi Penelitian.” Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada. Najelaa Shihab dan Komunitas Guru Belajar. 2020. Merdeka Belajar Di Ruang Kelas. Tangerang Selatan: Penerbit Literati. Riyanto, Yatim. 2002. “Metodologi Tafsir, Ahmad. 1992. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakary Penelitian 6