Assyfa Journal of Islamic Studies Volume 02 Nomor 01: Juni 2024 E-ISSN: 2988-7399 Journal Homepage: https://www.journal.assyfa.com/index.php/ajis/index STRATEGI PERAN GURU PAI DALAM MENINGKATKAN AKHLAK SISWA DI SDN 20 NEGERIKATON KABUPATEN PESAWARAN Puji Utami1*, Amirudin2, Dedi Setiawan3, Ahmad Muslimin4, Jaenullah5 1, 2, 3, 4, 5 Universitas Ma’arif Lampung, Indonesia *Email: pujiutami167@gmail.com Received: 29/03/2024 Accepted: 04/04/2024 Publication: 15/04/2024 Abstrak Permasalahan di bidang pendidikan akhlak merupakan tanggung jawab seorang guru. Permasalahan yang diamati dalam penelitian ini adalah apa yang harus dilakukan guru agar pendidikan agama islam untuk meningkatkan akhlak tidak hanya untuk dipahami oleh siswa tetapi mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena akhlak merupakan hal yang sangat penting dalam islam. Penelitian ini bertujun untuk mengetahui peran Guru PAI dalam meningkatan akhlak siswa, juga untuk mengetahui upaya apa saja yang dapat dilakukan guru PAI dalam meningkatkan akhlak siswa, serta untuk mengetahui faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat dalam meningkatkan akhlak siswa di SDN 20 Negerikaton Kabupaten Pesawaran. Penelitian ini merupakan penelitian Kualitatif dengan pendekatan Deskriptif. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bagwa dalam peningkatan akhlak siswa disekolah guru PAI memiliki peran yang sangat penting yaitu guru sebagai pemngajar, guru sebagai pendidik, guru sebagai pembimbing dan guru sebagai pelatih atau Pembina. Kata Kunci: Akhlak Siswa, Peran Guru, Strategi. Abstract Problems in the field of moral education are the responsibility of a teacher. The problem observed in this research is what teachers must do so that Islamic religious education to improve morals is not only understood by students but can be applied in everyday life. Because morals are very important in Islam. This research aims to find out the role of PAI teachers in improving student morals, also to find out what efforts PAI teachers can make to improve student morals, and to find out what factors are supporting and inhibiting students' morals at SDN 20 Negerikaton, Pesawaran Regency. This research is qualitative research with a descriptive approach. The results of this research can be concluded that in improving the morals of students in schools PAI teachers have a very important role, namely teachers as teachers, teachers as educators, teachers as mentors and teachers as trainers or coaches. Keywords: Student Morals, Teacher's Role, Strategy. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan hal utama yang menentukan keberhasilan dalam pembangunan suatu Negara. Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu usaha yang dilakukan manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai didalam masyarakat.Menurut John Dewe dalam (Andrianto, 2019) menyatakan bahwa pendidikan sebagai salah satu kebutuhan, fungsi sosial, sebagai bimbingan, sarana pertumbuhan yang mempersiapkan dan membukakan serta membentuk disiplin hidup. Guru merupakan faktor utama penentu keberhasilan dalam pendidikan. Guru berperan penting dalam dalam membentuk karakter generasi muda. Guru juga berperan sebagai tokoh, panutan, dan identifikasi bagi peserta didik dan lingkungannya.Karena memainkan peran yang sangat penting, guru wajib memiliki standar kualitas tertentu yaitu tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin (Aris Kurniawan 2023). Untuk mengembangkan Pendidikan Agama Islam maka diperlukannya peran guru Agama Islam. Akan tetapi peranan guru Pendidikan Agama Islam selain berusaha memindahkan ilmu, juga harus menanamkan nilai-nilai agama Islam kepada siswa agar mereka bisa mengaitkan antara ajaran agama dan ilmu pengetahuan umum (Mulyasa, 2019). Puji Utami, et. al ││ PERAN GURU... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(2)n(1), 2024, 26-31 Berdasarkan penelitian yang dilakukan di SDN 20 Negerikaton Kabupaten Pesawaran, teridentifikasi bahwa akhlak siswa pada sekolah tersebut masih sangat perlu untuk ditingkatkan. Contoh nya adalah ketika siswa diberikan perintah oleh guru, siswa membantah, memberikan jawaban yang kurang pantas dan tidak bertutur kata dengan lembut. Saat pembelajaran didalam kelas, siswa kurang memperhatikan penjelasan guru, dan tidak mengucapkan salam saat bertemu guru diluar sekolah. Beberapa upaya yang dapat dilakukan guru PAI dalam untuk meningkatkan akhlak siswa yaitu menanamkan dan membangkitkan keyakinan beragama, menanamkan etika pergaulan serta menanamkan kebiasaan yang baik. Adapun penelitian yang berhubungan dengan peningkatan akhlak yaitu penelitian Aan Afriyawan, tahun 2016 yang menjelaskan bahwa upaya yang dilalukukan guru PAI dalam membina akhlak diantaranya memberikan nasehat, membangun pembiasaan, memberikan teladan, menyediakan fasilitas yang mendukung dan berkomunikasi dengan berrbagai pihak. kedua yaitu penelitian yang dilakukan oleh Yeca Wilda Ningsih Tahun 2019, hasil penelitian ini bahwa bentuk-bentuk pembinaan akhlak siswa dilakukan melalui program-program keagamaan yaitu membaca surat yasin, kultum, sholat dhuha, dan sholat dzuhur seara berjamaah. Ketiga adalah penelitian yang dilakukan oleh Syahrir male, hasil penelitian ini bahwa faktor pendukung penanaman akhlak mulia peserta didik adalah adanya keteladanan kepala sekolah dan guru, tersedianya sarana pra sarana dan adanya dukungan orang tua pesereta didik. Ketiga penelitin tersebut sama-sama membahas tentang bagaimana menjadikan siswa mempunyai akhlak mulia dan menggunakan metode pengaruh terhadap kebiasaan yang baik. ketiga penelitian ini belum mengacu pada indikator peran guru sebagai pengajar, guru sebagai pendidik, guru sebagai pembimbing serta guru sebagai Pembina. sehingga masih diperlukan kajian terkait peran guru PAI dealam meningkatkan akhlak peserta didik di satuan pendidikan formal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran guru PAI dalam meningkatkan akhlak siswa di SDN 20 Negerikaton Kabupaten Pesawaran. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode kualitatif deskriptif yakni penyusunan data untuk kemudian dijelaskan dan dianalisis serta dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data maupun sesudah pengumpulan data. Analisis deskriptif ini dimaksudkan untuk menemukan dan mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat peningkatan akhlak peserta didik serta peranan guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatan akhlak siswa di SDN 20 Negerikaton Kabupaten Pesawaran. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, dokumentasi dan observasi. Peneliti melakukan wawancara kepada Kepala Sekolah dan Guru PAI, kemudian untuk dokumentasi yaitu kegiatan Pesantern ramadhan. Sedangkan untuk observasi peneliti mengamati proses belajar mengajar siswa didalam kelas serta mengamati perilaku siswa siswi SDN 20 Negerikaton. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan wawancara dengan Bapak Kamidin, S. Pd. selaku Guru Pendidikan Agama Islam di UPTD SDN 20 Negerikaton, yang telah dilaksankan pada hari Selasa 20 Februari 2024: This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 27 Puji Utami, et. al ││ PERAN GURU... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(2)n(1), 2024, 26-31 a. Guru sebagai Pendidik Menurut Bapak Kamidin Selaku Guru PAI di UPTD SD N 20 Negerikaton, Dijelaskannya, tugas mengajar lebih sulit dibandingkan mengajar. Dalam mengajar, guru hanya menyampaikan ilmu kepada peserta didik sesuai dengan bahan ajar, tetapi pendidikan adalah meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan, dan nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan mendidik siswa memiliki tujuan untuk mengubah tingkah laku siswa menjadi lebih baik. Peran Guru sebagai pendidik harus mampu memberikan kemudahan dalam situasi pendidikan yang sesuai dengan perkembangan peserta didik. dengan demikian pribadi guru itu sendiri merupakan perwujudan nilai-nilai yang akan ditranfer sehingga guru tidak hanya berperan sebagai pengajar tetapi juga pendidik. Guru bukan saja pembawa ilmu pengetahuan tetapi juga menjadi contoh serta teladan yang baik bagi peserta didiknya. (Bapak Kamidin, 2024). b. Guru sebagai Pembimbing Berdasarkan hasil wawancara dengan Guru PAI yang dilakukan penulis, dijelaskan bahwa dalam proses pendidikan, kegiatan mengajar, mendidik dan membimbing tidak dapat dipisahkan. dalam peningkatan akhlak mulia peserta didik, tidak saja terdapat dalam proses pembelajaran disekolah tetapi juga terdapat di luar sekolah. Membimbing adalah kegiatan menuntun peserta didik dalam perkembangan dengan jalan memberikan lingkungan dan arah yang sesuai dengan jalan memberikan lingkungan yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Oleh karena itu guru harus membimbing yaitu menuntun dan menggerakkan anak ke arah yang lebih baik. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah suatu proses bantuan yang diberikan kepada seseorang agar mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki. Mengenali dirinya sendiri dapat mengatasi persoalan-persoalan sehingga mereka dapat menentukan jalan hidupnya sendiri secara bertanggung jawab tanpa tergantung pada orang lain untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia. c. Guru sebagai Pelatih atau Pembina Hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan dengan Guru PAI, bahwa guru sebagai Pembina atau pelatih adalah orang yang mengajar seorang agar terbiasa melakukan sesuatu atau membiasakan diri. kebiasaan adalah pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya secara berulang-ulang untuk hal yang sama. Dalam proses pendidikan seorang guru disamping menanamkan aspek kognitif dan aspek afektif dalam diri anak, maka guru dituntut perlu mengembangkan aspek psikomotor atau ketrampilan. Karena itu guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pelatih bertujuan untuk mencapai tingkat trampil dalam diri anak didik. Bapak Kamidin, S.Pd, mengatakan bahwa untuk membimbing anak agar mempunyai sifat terpuji tidaklah mungkin dengan penjelasan pengertian saja, namun perlu latihan untuk membiasakannya melakukan yang baik, karena dengan latihan dan pembiasaan itu cenderung membuat dia untuk melakukan yang baik dan meninggalkan yang tidak baik. untuk itu hendaknya semua pendidik menyadari bahwa dalam pembinaan peserta didik menjadi manusia yang berakhlak mulia sangat diperlukan latihan-latihan untuk pembiasaan yang cocok dan sesuai dengan perkembangan jiwa peserta didik. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 28 Puji Utami, et. al ││ PERAN GURU... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(2)n(1), 2024, 26-31 d. Guru sebagai Teladan Menurut bapak Kamidin, menjadi teladan merupakan sifat dasar kegiatan pembelajaran. Guru harus mampu memberikan contoh baik yang berhubungan dengan sikap, perilaku, mental, maupun yang terkait dengan akhlak moral bak yang patut dijadikan contoh oleh muridnya. Halhal yang perlu diterapkan guru dalam memberi keteladanan, yiatu sikap dasar, bicara dengan gaya bicara, kebiasaan bekerja, sikap melalui pengalaman dan kesalahan, pakaian, hubungan sosial, proses berfikir, perilaku, serta gaya hidup secara umum. Apapun yang ada pada diri guru akan tercermin melalui kerendahan hati, tindakan dan kepribadiannya. Kepribadian dan keteladanan diri seorang guru tentu akan menjadi tantangan tersendiri bagi guru, mengingat segala aktivitas apapun yang menyangkut guru akan menjadi sorotan bagi peserta didik bahkan juga asyarakat sekitarnya dimana guru itu berada. Ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian guru dalam proses kegiatan belajar mengajar, yaitu: 1) Sikap mendasar: merupakan salah satu yang menyangkut dengan aspek psikologis yang akan Nampak jelas tentang permasalahan yang penting, seperti kegagalan, kebanaran, dan keberhasilan. 2) Gaya dan Nada bicara: Guru dalam menggunakan bahasa dalam berkomunikasi karena merupakan alat dalam berfikir dan bersikap. 3) Cara berpenampilan: merupakan perlengkapan pribadi yang amat penting dan menampakkan ekspresi seluruh kepribadian. 4) Hubungan interaksi Sosial: sikap guru dalam berinteraksi harus dilakukan dengan hubungan yang baik, beretika dan bermoral. 5) Proses berfikir: guru dalam memecahkan sebuah permasalahan harus melalui proses berfikir yang komprehensif dan integrative. e. Guru Sebagai Motivator Proses pembelajaran dapat dikategorikan berhasil jika siswa nya mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh karena itu Guru PAI perlu menumbuhkan semangat atau motivasi belajar siswa. Untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal, guru PAI dituntut kreatif dan inovatif membangkitkan motivasi belajar siswa, sehingga terbentuk perilaku belajar yang efektif. Berdasaran hasil wawancara dengan Bapak Kamidin, Guru sangat penting dalam memberikan motivasi, mendorong dan memberikan respon positif guna membangkitkan semangat siswa yang mulai menurun. Yaitu dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya: 1) Bersikap terbuka yaitu bahwa guru PAI harus bisa mendoronng siswa untuk berani memberikan pendapat dan menanggapinya dengan positif. Juga harus bisa menerima segala kekurangan dan kelebihan siswa. Dalam batasan tertentu guru berusaha memahami masalah-masalah pribadi siswanya yaitu dengan menunjukan perhatian terhadap permasalahan yang dihadapi dan menujukan sikap ramah serta penuh pengertian terhadap siswa. 2) Membantu agar siswa mampu memahami dan memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya. Maksudnya bahwa dalam proses penemuan bakat terkadang tidak semudah yang dibayangkan. Harus sesuai dengan karkter setiap siswa. dalam pengembangan bakatnya, siswa sangat membutuhkan motivasi dari seorang guru sehingga dapat meraih prestasi yang membanggakan. 3) Menciptakan hubungan yang serasi dan penuh semangat dalam proses pembelajaran. Dengan cara memberikan tanggapan secara positif tentang perilaku siswa, menunjukan semangat dalam mengajar, murah senyum, mampu mengendalikan emosi, dan mampu bersifat proporsional sehingga berbagai masalah pribadi dari guru dapat di letakkan pada tempatnya. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 29 Puji Utami, et. al ││ PERAN GURU... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(2)n(1), 2024, 26-31 Dari hasil wawancara dengan guru PAI di UPTD SDN 20 Negerikaton, ada tiga hal yang diidentifikasi oleh penulis untuk sebagai upaya yang dapat dilakukan oleh guru PAI dalam meningkatkan akhlak peserta didik yaitu: Menanamkan dan membangkitkan kekayaan beragama, Menanamkan etika pergaulan dan Menanamkan kebiasaan yang baik. Adapun hal-hal yang menjadi faktor pendukung dalam proses peningkatan akhlak yang dilakukan guru PAI di UPTD SDN 20 Negerikaton adalah:Kurikulum, Tenaga Guru dan warga sekolah, Peran serta orang tua Siswa. Selain faktor pendukung, ada pula faktor penghambat dalam meningkatkan akhlak siswa UPTD SDN 20 Negerikaton, Yang teridentifikasi oleh penulis, yaitu: 1) Faktor internal berupa peningkatan akhlak pada siswa hanya dilakukan sebatas disekolah saja dan belum adanya tindak lanjutnya, 2) Adapun faktor eksternal meliputi lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan arus globalisasi modern. KESIMPULAN Peningkatan akhlak siswa, seorang guru PAI hendaknya mampu menyampaikan, menanamkan pendidikan Akhlak dalam diri siswa, serta memberikan contoh teladan yang mencerminkan Aklak mulia pula. Selain itu, guru juga harus menentukan metode pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan akhlak siswa.Pendidikan di Sekolah Dasar Negeri biasanya lebih menekankan pada pendidikan yang bersifat umum, oleh karenanya pendidikan akhlak mulia harus menjadi prioritas guru PAI guna meningkatan nakhlak siswa. Peran Guru PAI dalam meningkatkan akhlak siswa adalah Guru sebagai Pendidik, Guru sebagai Pembimbing, dan Guru sebagai Pelatih atau Pembina, Guru sebagai Teladan dan Guru sebagai Motivator. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terimakasih ditujukan kepada Universitas Ma’arif Lampung dan SDN 20 Negerikaton Kabupaten Pesawaran yang sstelah memfasilitasi penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Ahmad, Nurul Qomariyah, Asdiana Asdiana, and Seni Jayatimar. (2019). Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menghadapi Kenakalan Remaja Pada Masa Pubertas. Jurnal As-Salam 3(2): 9–17. Al-Mishri. S.M., (2019). Ensiklopedia Akhak Rasulullah, Jakarta. Pustaka Al Kausar. Anonimus, (1996). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Anton, M. Mulyono. (2021). Aktifitas Belajar. Bandung: Yrama. Asmani, Jamal Ma’mur. (2012). Tips Menjadi Guru Inspiratif, Jreatif dan Inovatif, Yogyakarta: Diva Press. Damanhuri, (2004). Akhlak Prespektif Tasawuf Syeikh Abdurrauf As-Singkili, Jakarta: Lectura Press. Departemen Agama RI, (2006). Al-Qur’anul Al-Karim dan Terjemah Bahasa Indonesia, Kudus: Menara Kudus. Djamarah, Syaiful Bahri. Pola Komunikasi Orang Tua&Anak dalam Keluarga. Jakarta: PT Rineka Cipta 2014). This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 30 Puji Utami, et. al ││ PERAN GURU... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(2)n(1), 2024, 26-31 Djamarah. S.B. (2020). Guru dan Anak Didik dalam interaksi eduktif”. Jakarta:Rineka Cipta. E. Mulyasa. (2019). Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara. Fadjar, A. Malik. (2018). Visi Pembaruan Pendidikan. Yogyakarta: Lembaga Pengemban. Hamalik, Oemar. (2005). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. Hanifah dan Suhana. (2012). Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama Hasan, M. Ali. (2018). Tununan Akhlak. Jakarta; Bulan Bintang. Hawi, Akmal. (2019). Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Departemen Pendidikan dan kebudayaan. Kuswanto, Edi. Peran Guru PAI dalam menumbuhkan Konsep CERIA (Cerdas, Energik, Religius, Ilmiah, Amaliah) Pada Peserta Didik di Mansuruh Kabupaten Semarang Tahun Pelajarn 2016-2017. Mahmud dan Ija Suntana, (2012). Antropologi Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia. Muh. Ruddin Emang, (2002). Pensisikan Agama Islam. Makasar: Yayasan Fatiyah Makassar. Muyaharjo, Redja. Pengantar Pendidikan. (Jakarta:Rajagrafindo Persada 2010). Naim, N., (2015). Menjadi Guru InspiratifIlmu Pendidikan Islam; Study kasus terhadap struktur ilmu, kurikulum, metodologi dan Kelembagaan Pendidikan Islam. Jakarta:Raja Grafindo Persada. Nasharuddin, Akhlak”Ciri Manusia Paripurna”. Jakarta:Lectura Press. (2004), hlm28-28 Nata, Abuddin. (2022). Akhlak Tasawuf. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Nurdin, M., (2018). Kiat Menjadu Guru Profesional, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, Robingatun, (2012). Peran Tarekat Dalam Membangun Karakter Bangsa, Empirisma. Rush, Abidin Ibnu. (2018). Pemikiran Al-Ghozali Tentang Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sardiman. AM, (2016). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers. Soekanto, S., (2012). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada, Syambudi, M. Hasyim. (2015). Akhlak Tasawuf: Dalam Konstruksi Piramida Ilmu Islam. Bandung: Madani Media. Taniredja, Tukiran; Sumedi, H. Pudjo; Abduh. Muhammad, (2017). Guru Yang Profesional. Bandung: Alfabeta Tatangpangarsa, Humaidi. (2019). Akhlak yang Mulia. Surabaya: PT. Bina Ilmu. Toto Suharto, dkk, Rekontruksi dan Modernisasi Lembaga Pendidikan Islam (Yogyakarta:Glob al Pustaka Utama, 2005. Usman Moch Uzer. (2020). Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT Remaja Rosdakarya UU Sikdiknas, (2003). Dasar, Fungsi, dab tujuan Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas. Zuhairi, dkk, (2013). Metode Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Usaha Nasional. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 31