Assyfa Journal of Islamic Studies Volume 01 Nomor 02: Desember 2023 E-ISSN: 2988-7399 Journal Homepage: https://www.journal.assyfa.com/index.php/ajis/index IMPLEMENTASI PENDIDIKAN TASAWUF PADA AMALIYAH THORIQOH QODIRIYAH WA ALNAQSYABANDIYAH SESUAI KONSEP TASAWUF IMAM ALGHOZALI (Studi di Pondok Pesantren Al Yazier Desa Panggung Jaya Kecamatan Rawajitu Utara Kabupaten Mesuji) Ahmad Fajri1*, Mispani2, Muhammad Yusuf3 1, 2, 3 Universitas Ma’arif Lampung, Indoensia *Email: ahmadfajri344@gmail.com Received: 16/10/2023 Accepted: 19/10/2023 Publication: 26/11/2023 Abstrak Pengurus Pondok Pesantren Al Yazier telah berupaya melakukan pembinaan terhadap santri thoriqoh, namun berdasarkan observasi ditemukan bahwa dari 22 santri thoriqoh, terdapat 5 santri yang jarang mengamalkan dzikir yang menjadi kewajiban mereka, suatu hal yang seharusnya tidak terjadi bagi santri thoriqoh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pendidikan tasawuf pada amaliyah Thoriqoh Qodiriyah wa Al-Naqsyabandiyah sesuai dengan konsep tasawuf Imam Al-Ghozali di Pondok Pesantren Al Yazier Desa Panggung Jaya, Kecamatan Rawajitu Utara, Kabupaten Mesuji. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Setelah data terkumpul, analisis dilakukan untuk memperoleh kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, implementasi pendidikan tasawuf pada amaliyah thoriqoh Qodiriyah wa Al-Naqsyabandiyah di Pondok Pesantren Al Yazier dilakukan melalui amaliyah wirid yang dilaksanakan setiap ba’da maktubah (setelah shalat wajib). Amalan-amalan thoriqoh mencakup amalan harian, mingguan, dan bulanan, dengan dzikir sebagai kegiatan utamanya. Pendidikan tasawuf ini juga berperan dalam membentuk karakter santri melalui nilai-nilai seperti ikhlas, istiqomah, ridho, mahabbah, Zuhud, tawadhu, dan tauhid. Kata Kunci: Amaliyah Thoriqoh Qodiriyah wa Al-Naqsyabandiyah, Implementasi, Pendidikan Tasawuf, Tasawuf Imam Al-Ghozali. Abstract The management of Al Yazier Islamic Boarding School has tried to provide guidance to the thoriqoh students, but based on observations it was found that out of 22 thoriqoh students, there were 5 students who rarely practiced dhikr which was their obligation, something that should not happen to thoriqoh students. This study aims to determine the implementation of Sufism education in the amaliyah of Thoriqoh Qodiriyah wa Al-Naqsyabandiyah in accordance with the concept of Sufism of Imam Al-Ghozali at the Al Yazier Islamic Boarding School, Panggung Jaya Village, Rawajitu Utara District, Mesuji Regency. This study is a field research with a qualitative approach. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation. After the data is collected, analysis is carried out to obtain conclusions. Based on the results of the study, the implementation of Sufism education in the amaliyah of thoriqoh Qodiriyah wa Al-Naqsyabandiyah at the Al Yazier Islamic Boarding School is carried out through the amaliyah wirid which is carried out every ba'da maktubah (after obligatory prayers). The practices of thoriqoh include daily, weekly, and monthly practices, with dhikr as the main activity. This Sufism education also plays a role in shaping the character of students through values such as sincerity, istiqomah, consent, mahabbah, Zuhud, tawadhu, and tauhid. Keywords: Amaliyah Thoriqoh Qodiriyah wa Al-Naqsyabandiyah, Implementation, Sufism Education, Imam AlGhozali's Sufism. Ahmad Fajri, et. al ││ IMPLEMENTASI PENDIDIKAN TASAWUF... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(2), 2023, 171-177 PENDAHULUAN Tasawuf dalam Islam memiliki tujuan utama untuk menyucikan hati dan jiwa, sehingga seseorang bisa lebih dekat dengan Allah. Konsep ini seringkali diimplementasikan dalam bentuk amalan-amalan spiritual seperti dzikir, wirid, dan puasa sunah. Salah satu wujud tasawuf praktis yang berkembang dalam masyarakat Muslim adalah thoriqoh. Thoriqoh merupakan jalan atau metode tertentu yang dijalani oleh seorang murid (salik) di bawah bimbingan seorang guru (mursyid) dalam rangka mencapai maqam spiritual yang lebih tinggi. Di Pondok Pesantren Al Yazier Desa Panggung Jaya, Thoriqoh Qodiriyah wa Al-Naqsyabandiyah menjadi salah satu dasar dalam pembinaan spiritual santri. Namun, beberapa santri tidak melaksanakan amalan dzikir secara konsisten. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang implementasi pendidikan tasawuf di pesantren tersebut, terutama terkait kesesuaian amaliyah yang dilakukan dengan konsep tasawuf Imam Al-Ghozali. Imam Al-Ghozali, seorang ulama besar dalam tradisi Islam, menekankan bahwa pendidikan tasawuf adalah upaya untuk menghilangkan sifat-sifat tercela dari dalam diri dan menggantikannya dengan akhlak mulia. Pendidikan ini bukan hanya teori tetapi juga praktik yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bukunya Ihya Ulumuddin, Al-Ghozali menjelaskan bahwa dzikir dan wirid adalah sarana penting dalam mendekatkan diri kepada Allah. Pondok pesantren tradisional seperti Al Yazier memainkan peran penting dalam melestarikan ajaran-ajaran tasawuf, terutama dalam konteks pembentukan moral santri. Namun, jika tidak semua santri melaksanakan amaliyah dzikir dengan konsisten, ada kemungkinan bahwa terdapat masalah dalam implementasi atau pemahaman ajaran tersebut. Berdasarkan observasi di Pondok Pesantren Al Yazier, dari 22 santri thoriqoh, terdapat 5 santri yang jarang mengamalkan dzikir. Hal ini menandakan adanya masalah dalam komitmen dan motivasi santri untuk melaksanakan amalan yang seharusnya menjadi kewajiban seorang pengikut thoriqoh. Dalam tasawuf, dzikir bukan hanya sekadar rutinitas tetapi juga merupakan jalan untuk mencapai ketenangan batin dan pengampunan Allah. Ketidakkonsistenan dalam melaksanakan dzikir ini dapat menghambat proses pembentukan spiritual para santri. Masalah ini mengindikasikan adanya celah dalam implementasi pendidikan tasawuf, baik dari segi bimbingan guru, pengawasan, maupun pemahaman santri itu sendiri. Penelitian-penelitian sebelumnya telah mengkaji peran tasawuf dalam pembentukan karakter spiritual di kalangan santri. Salah satu studi oleh Arifin (2021) mengungkapkan bahwa tasawuf di pesantren mampu membentuk kepribadian santri yang lebih religius dan disiplin dalam menjalankan amalan spiritual. Namun, penelitian lain oleh Hamid (2020) menemukan bahwa keberhasilan implementasi pendidikan tasawuf sangat bergantung pada kualitas pengajaran dari This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 172 Ahmad Fajri, et. al ││ IMPLEMENTASI PENDIDIKAN TASAWUF... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(2), 2023, 171-177 mursyid (guru spiritual) dan pengawasan yang ketat terhadap santri. Studi ini relevan dengan kondisi di Pondok Pesantren Al Yazier, di mana masalah utama yang dihadapi adalah kurangnya konsistensi beberapa santri dalam melaksanakan amaliyah dzikir. Penelitian ini menawarkan kebaruan dalam hal kajian terhadap kesesuaian antara amaliyah thoriqoh Qodiriyah wa Al-Naqsyabandiyah dengan konsep tasawuf Imam Al-Ghozali, yang belum banyak dikaji dalam konteks pendidikan pondok pesantren di Indonesia. Selain itu, penelitian ini tidak hanya melihat bagaimana amaliyah thoriqoh dilaksanakan, tetapi juga mengevaluasi keberhasilan pendidikan tasawuf dalam membentuk karakter santri. Kajian ini juga memberikan kontribusi teoritis pada diskusi tentang relevansi ajaran Imam Al-Ghozali dalam dunia pendidikan modern, khususnya dalam pendidikan pondok pesantren yang mengadopsi metode thoriqoh sebagai bagian dari kurikulumnya. Thoriqoh Qodiriyah wa Al-Naqsyabandiyah adalah salah satu thoriqoh besar yang memiliki banyak pengikut di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Thoriqoh ini menekankan pentingnya dzikir, baik secara jahar (terdengar) maupun khafi (dalam hati), sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Thoriqoh ini juga mengajarkan keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Namun, kesulitan dalam menjaga konsistensi dzikir di kalangan santri thoriqoh, sebagaimana ditemukan di Pondok Pesantren Al Yazier, memerlukan analisis lebih lanjut. Studi ini akan mengkaji apakah ajaran-ajaran thoriqoh tersebut sudah disampaikan dengan efektif kepada para santri. Imam Al-Ghozali berpendapat bahwa dzikir adalah cara terbaik untuk mencapai kebersihan hati dan mendekatkan diri kepada Allah. Dzikir bukan hanya ucapan lisan tetapi harus disertai dengan kesadaran batin. Dalam tasawuf Al-Ghozali, dzikir yang dilakukan dengan ikhlas dan istiqomah akan menghasilkan kedamaian batin serta ketaatan yang lebih besar dalam menjalankan ajaran agama. Namun, pada kenyataannya, banyak pengikut thoriqoh yang tidak konsisten dalam melakukan dzikir. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pengajaran tasawuf di Pondok Pesantren Al Yazier sudah sesuai dengan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Imam Al-Ghozali. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang bertujuan untuk memahami secara mendalam pengalaman subjektif individu yang terlibat dalam praktik thoriqoh di Pondok Pesantren Al Yazier. Pendekatan fenomenologi memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi makna dari pengalaman spiritual santri thoriqoh Qodiriyah wa AlNaqsyabandiyah, khususnya dalam konteks pelaksanaan dzikir dan wirid. Pengumpulan data This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 173 Ahmad Fajri, et. al ││ IMPLEMENTASI PENDIDIKAN TASAWUF... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(2), 2023, 171-177 dilakukan melalui tiga metode utama: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi langsung terhadap pelaksanaan dzikir memberikan gambaran empiris tentang cara santri melaksanakan ritual spiritual ini dalam kehidupan sehari-hari, serta lingkungan yang mendukung kegiatan tersebut. Melalui observasi, peneliti dapat menangkap detil interaksi santri dengan kegiatan dzikir, seperti sikap tubuh, konsentrasi, dan ritme pelafalan dzikir, yang semuanya mencerminkan aspek penting dalam pendidikan tasawuf yang diajarkan di pesantren ini. Wawancara mendalam dengan 10 santri thoriqoh dan 3 pengurus pesantren membantu dalam menggali lebih jauh tentang implementasi pendidikan tasawuf dan tantangan yang dihadapi dalam praktik dzikir. Wawancara ini menyoroti bagaimana santri memahami peran dzikir dalam pengembangan spiritual mereka serta hambatan, baik internal seperti kurangnya konsentrasi, maupun eksternal seperti tekanan dari lingkungan sekitar yang kurang mendukung. Dokumentasi yang mencakup catatan amaliyah dan buku pedoman dzikir berfungsi sebagai sumber data sekunder yang memperkuat temuan dari observasi dan wawancara. Buku pedoman dzikir ini memberikan panduan yang digunakan oleh santri dalam mengamalkan wirid dan dzikir sehari-hari, yang juga mencerminkan tradisi thoriqoh Qodiriyah wa Al-Naqsyabandiyah yang dijaga dan dilestarikan di pesantren tersebut. Penelitian ini relevan dalam memberikan wawasan baru tentang pendidikan tasawuf dalam konteks modern pesantren, serta menyoroti tantangan yang dihadapi dalam menjaga praktik spiritual di tengah perubahan sosial. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pondok Pesantren Al Yazier memiliki tradisi yang kuat dalam menjalankan amaliyah dzikir sebagai bagian dari rutinitas keagamaan mereka. Dzikir dilaksanakan setiap hari setelah shalat maktubah (shalat lima waktu) yang merupakan salah satu bentuk pendekatan diri kepada Allah. Rutinitas ini dipandang sebagai cara untuk menjaga hubungan spiritual yang mendalam dengan Sang Pencipta, mengingatkan para santri akan hakikat hidup, serta menguatkan kesadaran mereka terhadap peran dan kewajiban sebagai seorang hamba Allah. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan khotaman dzikir dua kali seminggu, serta khotaman besar yang diadakan sebulan sekali, menandakan pentingnya kontinuitas dalam mengamalkan ajaran thariqah. Namun, dari hasil observasi, ditemukan bahwa terdapat lima santri yang jarang mengikuti amaliyah dzikir. Hal ini dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni kurangnya motivasi dan minimnya pemahaman terhadap pentingnya dzikir sebagai kewajiban santri thariqoh. Kurangnya motivasi ini mungkin berasal dari dalam diri santri itu sendiri, di mana mereka belum sepenuhnya memahami atau merasakan kedalaman makna spiritual yang dapat diperoleh dari dzikir. Menurut Rahman (2021), santri yang tidak memiliki motivasi spiritual yang kuat cenderung mengalami This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 174 Ahmad Fajri, et. al ││ IMPLEMENTASI PENDIDIKAN TASAWUF... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(2), 2023, 171-177 kesulitan dalam menjalankan amalan-amalan tarekat secara konsisten. Di sisi lain, pendidikan tasawuf yang diterapkan di Pondok Pesantren Al Yazier merujuk pada konsep Imam Al-Ghozali yang mengajarkan pentingnya melaksanakan dzikir dengan hati yang ikhlas, istiqomah, dan penuh keridhaan terhadap ketentuan Allah. Imam Al-Ghozali dalam Ihya 'Ulumuddin menyebutkan bahwa dzikir adalah sarana untuk mencapai kebersihan hati, yang menjadi syarat utama dalam mendekatkan diri kepada Allah (Al-Ghozali, 2010). Melalui dzikir, seorang santri diharapkan dapat mencapai kondisi spiritual yang lebih tinggi, di mana mereka mampu berZuhud (hidup sederhana dan tidak terikat dengan dunia) dan bertawadhu (rendah hati). Akan tetapi, penerapan nilai-nilai Zuhud dan tawadhu di kalangan santri masih menghadapi tantangan yang signifikan. Tidak semua santri mampu menerapkan ajaran ini secara merata. Ada yang masih terjebak dalam kehidupan duniawi, sehingga sulit bagi mereka untuk menanamkan rasa ikhlas dan istiqomah dalam beribadah. Zuhud, dalam pandangan Imam Al-Ghozali, bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, melainkan menjalani kehidupan dengan kesadaran penuh bahwa dunia bukanlah tujuan akhir (Al-Ghozali, 2010). Santri yang belum memahami ini akan merasa kesulitan untuk meninggalkan kesenangan dunia yang sementara demi kebahagiaan spiritual yang abadi. Selain itu, faktor lingkungan dan pergaulan juga turut mempengaruhi motivasi para santri dalam menjalankan dzikir. Lingkungan pesantren yang seharusnya menjadi tempat kondusif untuk tumbuhnya spiritualitas terkadang masih diwarnai dengan dinamika sosial yang tidak sepenuhnya mendukung praktik tasawuf. Menurut penelitian Hidayatullah (2022), pergaulan santri yang masih dipengaruhi oleh budaya luar dapat melemahkan komitmen mereka dalam menjalankan dzikir dan praktik-praktik spiritual lainnya. Oleh karena itu, perlu ada upaya yang lebih intensif dari pihak pesantren dalam membentuk lingkungan yang sepenuhnya mendukung implementasi nilai-nilai tasawuf. Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan pendekatan pendidikan yang lebih personal dan menyentuh hati santri. Menurut Nasution (2020), salah satu cara efektif dalam mendidik santri agar lebih memahami pentingnya dzikir adalah dengan memberikan contoh langsung dari para guru dan pengasuh pondok. Keteladanan dalam menjalankan dzikir dengan khusyuk dan konsisten akan memberikan pengaruh yang besar bagi para santri, karena dalam dunia pendidikan pesantren, guru memiliki peran sentral sebagai model perilaku. Penerapan pendidikan dzikir yang sesuai dengan konsep tasawuf Imam Al-Ghozali harus lebih difokuskan pada pemahaman batiniah, bukan hanya sekedar formalitas amalan. Santri harus dibimbing untuk merasakan bahwa dzikir bukan hanya ucapan lisan, tetapi juga proses penghayatan hati. Sebagaimana dinyatakan oleh Siregar (2021), pendidikan dzikir yang efektif This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 175 Ahmad Fajri, et. al ││ IMPLEMENTASI PENDIDIKAN TASAWUF... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(2), 2023, 171-177 adalah yang mampu menanamkan kesadaran dalam diri santri bahwa setiap lafaz yang mereka ucapkan adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekedar rutinitas ritual. Pondok pesantren juga bisa memfasilitasi forum diskusi tasawuf atau halaqah khusus yang membahas lebih dalam tentang makna dzikir, Zuhud, dan tawadhu. Menurut Aziz (2022), halaqah tasawuf yang diselenggarakan secara rutin terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman spiritual santri, karena mereka diajak untuk terlibat aktif dalam pembahasan dan refleksi bersama. Hal ini akan membantu santri yang kurang termotivasi untuk lebih memahami pentingnya dzikir dan ajaran tasawuf dalam kehidupan sehari-hari. Kesimpulannya, meskipun Pondok Pesantren Al Yazier sudah menerapkan amaliyah dzikir sesuai dengan konsep tasawuf Imam Al-Ghozali, masih ada tantangan dalam penerapan nilai-nilai Zuhud dan tawadhu di kalangan santri. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih intensif dan personal untuk membimbing santri agar lebih memahami pentingnya dzikir sebagai kewajiban spiritual dalam menjalani kehidupan thariqoh. KESIMPULAN Implementasi pendidikan tasawuf di Pondok Pesantren Al Yazier telah sesuai dengan konsep tasawuf Imam Al-Ghozali, terutama dalam aspek dzikir dan pembentukan karakter santri. Amaliyah dzikir yang dilakukan setiap hari menjadi sarana pembentukan akhlak mulia, namun masih terdapat beberapa santri yang kurang konsisten dalam pengamalan dzikir. Solusi yang ditawarkan adalah dengan memperkuat motivasi santri melalui kajian rutin tentang pentingnya dzikir dalam tasawuf. UCAPAN TERIMAKASIH Setelah terselesainya penelitian ini, peneliti mengucapkan banyak terimaksih kepada Universitas Ma’arif Lampung dan semua pihak yang telah memberikan bantuan dan bimbingan kepada penulis. DAFTAR PUSTAKA Al-Ghozali, Imam. Ihya Ulumuddin. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 2021. Arifin, Zainal. "Pendidikan Tasawuf di Pesantren Tradisional: Studi Kasus Pondok Pesantren Salafiyah." Jurnal Pendidikan Islam, vol. 12, no. 1, 2021, pp. 45-60. Auda, Jasser. Maqasid Al-Shariah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach. London: International Institute of Islamic Thought, 2020. Aziz, A. (2022). Pengaruh Halaqah Tasawuf terhadap Peningkatan Pemahaman Spiritual Santri. Jurnal Pendidikan Islam, 12(3), 223-235. Bruinessen, Martin van. Tarekat Naqsyabandiyah di Dunia Melayu. Yogyakarta: Gading This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 176 Ahmad Fajri, et. al ││ IMPLEMENTASI PENDIDIKAN TASAWUF... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(2), 2023, 171-177 Publishing, 2021. Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. Sage Publications. Hamid, Muhammad. "Pengaruh Tasawuf Terhadap Pembentukan Karakter Santri di Pesantren Modern." Jurnal Studi Agama dan Masyarakat, vol. 8, no. 2, 2020, pp. 123-140. Hidayatullah, M. (2022). Pengaruh Lingkungan dan Pergaulan terhadap Motivasi Dzikir Santri di Pesantren. Jurnal Studi Islam, 15(2), 145-160. Nasr, Seyyed Hossein. Islamic Spirituality: Foundations. New York: Routledge, 2022. Nasution, A. (2020). Keteladanan Guru sebagai Faktor Kunci dalam Pendidikan Tasawuf di Pesantren. Jurnal Pendidikan Islam, 10(1), 45-56. Nasution, Harun. Falsafah dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 2020. Rahman, F. (2021). Analisis Motivasi Spiritual dalam Pelaksanaan Amaliyah Dzikir di Pondok Pesantren. Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam, 8(1), 76-90. Siregar, R. (2021). Pendidikan Dzikir: Pendekatan Batiniah dalam Mengembangkan Spiritualitas Santri. Jurnal Ilmu Tasawuf, 9(2), 113-128. Suryana, D. (2021). Pendidikan Tasawuf: Implementasi dan Tantangan di Pesantren Modern. Jurnal Pendidikan Islam, 12(2), 157-169. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 177