Assyfa Journal of Islamic Studies E-ISSN: 2988-7399 Journal Homepage: https://www.journal.assyfa.com/index.php/ajis/index NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM PUASA NGROWOT M. Ikhwannudin1, Mispani2, Muhammad Yusuf3 1, 2, 3 Universitas Ma’arif Lampung *Email: muhammadikhwannudin25@gmail.com Received: 16/06/2023 Accepted: 05/07/2023 Publication: 25/07/2023 Abstrak Puasa ngrowot merupakan salah satu tradisi pesantren salaf yang mana puasa ini tidak mengharuskan seseorang untuk sahur dan berbuka, melainkan seseorang bisa makan, minum layaknya orang pada umunya namun terdapat makanan tertentu yang dilarang untuk dikonsumsi. Salah satu tujuan dilaksanakannya puasa ngrowot menurut keyakinan di kalangan para santri merupakan faktor penunjang agar mudah memahami pelajaran. Karena sebagaimana diketahui bahwa gaya belajar masing-masing peserta didik adalah berbeda antara satu dengan yang lain begitu pula dalam pemahamannya. Tujuan diadakannya penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan dan menganalisis pemahaman santri tentang tradisi puasa ngrowot serta nilai-nilai pendidikan yang ada di dalamnya. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang dilakukan di Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan Islam dalam puasa ngrowot santri. Peneliti dalam mengumpulkan data-data yang diperlukan sebagai sumber informasi, menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari data yang diperoleh, kemudian dikumpulkan dan diolah agar dapat ditarik suatu kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pengamalan tirakat puasa ngrowot disertai dengan alasan yang sangat jelas yaitu untuk alasan ilmiah, amaliah serta maliyah. Alasan tersebut tentunya sangat sesuai dengan tujuan yang akan dicapai seseorang dalam kehidupan mereka. Dimana alasan ilmiah yang dimaksudkan adalah sesuatu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, alasan amaliah yaitu berkaitan dengan amal perbuatau ataupun akhlaq seseorang, sedangkan maliyah yaitu dengan harta yang menentukan kesetabilan ekonomi seseorang. Keywords: Nilai-nilai Pendidikan, Puasa Ngrowot, Tradisi Abstract Ngrowot fasting is one of the traditions of the Salaf Islamic boarding schools where this fast does not require a person to eat and break the fast, but one can eat and drink like people in general, but there are certain foods that are prohibited from being consumed. One of the goals of carrying out ngrowot fasting according to the beliefs among the students is a supporting factor so that it is easy to understand the lesson. Because as it is known that the learning styles of each learner are different from one another as well as in their understanding. The purpose of this research is to describe and analyze students' understanding of the ngrowot fasting tradition and the educational values contained in it. This research is a field research conducted at the Darul Ulum Seputih Islamic Boarding School. It has a lot to do with the values of Islamic education in students' ngrowot fasting. Researchers in collecting the necessary data as a source of information, using observation techniques, interviews and documentation. From the data obtained, then collected and processed so that a conclusion can be drawn. Based on the results of the study, it can be concluded that the practice of ngrowot fasting is accompanied by very clear reasons, namely for scientific, amaliah and maliyah reasons. These reasons are certainly in accordance with the goals that someone will achieve in their life. Where the intended scientific reason is something related to science, the amaliyah reason is related to one's deeds or morals, while maliyah is with assets that determine one's economic stability. Keywords: Educational Values, Ngrowot Fasting, Traditions M. Ikhwannudin, Mispani, Muhammad Yusuf ││ NILAI-NILAI PENDIDIKAN... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 41-50 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan hal yang penting bagi setiap manusia, tidak terkecuali pendidikan yang bernuansa agama yang saat ini banyak dikembangkan di hampir seluruh lembaga pendidikan di Indonesia (Ma’Arif, 2022; Zaki et al., 2020). Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi pun secara terpadu mengajarkan mata pelajaran yang memiliki nilai keagamaan (Ihsan, 2021; Zaki et al., 2019). Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan (Inganah & Rizki, n.d.; Mustafa, 2018), pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Hanya dengan melalui proses pendidikan manusia akan dapat dimanusiakan sebagai hamba Tuhan yang mampu menaati ajaran agama-Nya dengan melalui ilmu pendidikan, sebagaimana firman Allah SWT: ِ ‫… قُل َهل يستَ ِوي الَّ ِذين ي ْعلَمو َن والَّ ِذين ََل ي ْعلَمو َن إََِّّنَا ي تَ َذ َّكر أُولُوا ْاْلَلْب‬ ﴾٩﴿ ‫اب‬ َ ْ ُ َ ُ َ َ َ ُ ََ َْ ْ ْ Artinya: “…Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS Az Zumar: 9). Berkaitan dengan ayat di atas, Imam Ibnu Katsir menafsirkannya sebagai berikut: Firman Allah Ta’ala, ﴿ َ‫“ ﴾ قُلْ َهلْ يَ ْستَ ِوي الَّذِينَ يَ ْعلَ ُمونَ َوالَّذِينَ ََل يَ ْعلَ ُمون‬Katakanlah: "Adakah sama orangorang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Yaitu, apakah orang ini sama dengan orang yang menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalanNya? ﴿ ِ‫ ﴾انَّ َما َيتَذَ َّك ُر أ ُ ْولُوا ْاْل َ ْل َباب‬Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” Yaitu , yang mengetahui perbedaan antara orang ini dengan orang itu hanyalah orang yang memiliki inti pemikiran, yaitu akal. Secara substansial, pendidikan Islam berpadu dalam pendidikan ruhiyah, fikriyah dan amaliyah (aktivitas) (Fathurrochman et al., 2020; Mustafa et al., 2018). Nilai Islam ditanamkan dalam individu membutuhkan tahapan-tahapan selanjutnya dikembangkan kepada pemberdayaan di segala sektor kehidupan manusia. Potensi yang dikembangkan kemudian diarahkan kepada pengaktualan potensi dengan memasuki berbagai bidang kehidupan. Selanjutnya, syariat Islam tidak akan dihayati dan diamalkan orang kalau hanya diajarkan saja, tetapi harus diajarkan melalui proses pendidikan nabi sesuai ajaran Islam dengan berbagai metode dan pendekatan dari satu segi kita lihat bahwa pendidikan Islam itu lebih banyak ditujukan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan baik bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain (Fazis et al., 2019; Sulaiman, 2019). Dari segi lainnya, pendidikan Islam tidak bersifat teoritis saja, tetapi juga praktis. Ajaran Islam tidak memisahkan antara iman dan amal shaleh. Oleh karena itu, pendidikan Islam adalah pendidikan iman dan pendidikan amal dan juga karena ajaran Islam berisi tentang ajaran sikap dan tingkah laku pribadi masyarakat menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama, maka “pendidikan Islam adalah pendidikan individu dan pendidikan masyarakat. Semula yang bertugas mendidik adalah para Nabi dan Rasul selanjutnya para ulama, dan cerdik pandailah sebagai penerus tugas, dan kewajiban mereka”. Sebagaimana diketahui bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (memiliki kemampuan dasar) untuk berkembang sesuai dengan pengaruh yang diterimanya. Jika pengaruh yang diterimanya baik, maka anak tersebut akan tumbuh menjadi baik. Sebaliknya jika pengaruh yang diterimanya buruk, maka ia akan tumbuh menjadi buruk (Jaya et al., 2021; Saleh & Satriawan, 2020). Oleh sebab itu fitrah anak memerlukan pembinaan kearah yang baik agar jangan sampai fitrah untuk melakukan keburukan tumbuh melebihi fitrah untuk melakukan kebaikan. Pembinaan terhadap fitrah itu merupakan tanggung jawab para pendidik utamanya adalah orang tua dalam rumah tangga, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits sebagai berikut: ِ ُ ‫ال رس‬ ‫صلَّى هللاُ َعلَْي ِه َو َسلَّ َم َما ِم ْن َم ْولُْوٍد إَِلَّ يُ ْولَ ُد َعلَى الْ ِفطَْرةِ فَأَبَ َواهُ يُ َه ِو َدانِِه‬ َ َ‫َع ْن اَِ ِْب ُهَريْ َرةَ َر ِض َي هللاُ َعْنهُ ق‬ َ ‫ول هللا‬ ُ َ َ َ‫ال ق‬ ِ َ‫وي ن‬ َ‫صَرانِِه أ َْو ُيَُ ِج َسانِِه َك َما تُنْ تَ ُج اْلبَ ِهْي َمةُ ََبِْي َمةً َجَْ َعاءَ َه ْل ُُِت ُّس ْو َن فِْي َها ِم ْن َج ْد َعاءَ ُُثَّ يَ ُق ْو ُل أَبُ ْو ُهَريْ َرةَ َر ِض َي هللاُ َعنْهُ فِطَْرة‬ ُ This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 42 M. Ikhwannudin, Mispani, Muhammad Yusuf ││ NILAI-NILAI PENDIDIKAN... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 41-50 ِ ‫هللاِ الَِِّت فَطَر النَّاس علَي ها َلَ تَب ِديل ِِللْ ِق هللاِ ذَلِك‬ )‫الديْ ُن اْل َقيِ ُم (متفق عليه‬ َ َ َْ ْ َْ َ َ َ Artinya: ”Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada dari seorang anak (Adam) melainkan dilahirkan atas fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya beragama Yahudi atau beragama Nasrani atau beragama Majusi. Bagaikan seekor binatang yang melahirkan seekor anak. Bagaimana pendapatmu, apakah didapati kekurangan? Kemudian Abu Hurairah membaca firman Allah (Q.S. ar-Rum: 30). (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (agama Allah) (HR. Muttafaq ‘Alaih) Menurut Al Ghazali, Nafs ada 2 pengertian, pengertian Pertama yaitu kekuatan amarah dan nafsu syahwat. Pengertian kedua yaitu yang halus (Latifah) yang telah kami sebutkan dimana pada hakikatnya adalah manusia dan zat–zatnya. Didalam diri manusia pada dasarnya terdapat hati yang haruslah selalu dijaga. Dalam hadist Rasulullah SAW: Dari Nu’man bin Basyir berkata: saya mendengar Rasululloh bersabda; ْ َ‫سد‬ ْ ‫صلَ َح‬ ‫ب‬ ْ ‫س ِد ُم‬ ُ ‫ِي ْالقَ ْل‬ َ ‫سدَ ْال َج‬ َ َ‫ت ف‬ َ َ‫سدُ كُلُّهُ َوإِذَا ف‬ َ ‫صلَ َح ْال َج‬ َ ‫أََلَ َوإِ َّن فِي ْال َج‬ َ ‫ت‬ َ ‫ضغَةً إِذَا‬ َ ‫سدُ كُلُّهُ أََلَ َوه‬ Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah “Qolbu” yaitu hati “ (Hadis Riwayat Bukhori). Pada dasarnya ajaran yang terdapat dalam agama Islam secara umum mengajarkan manusia agar membersihkan dan menyucikan jiwanya (Hidayat, 2017; Ismail, 2016). Contoh konkrit tentang rukun iman. Syariat Islam mewajibkan umatnya untuk melaksanakan Sholat lima waktu, esensi sholat sendiri mengendalikan serta membersihkan jiwa dari perbuatan yang keji dan munkar (Anhar et al., 2023; Hasanah, Syaifuddin, et al., 2022), sholat merupakan induk dari segala amal perbuatan, dengan sholat manusia bisa terarah dan diarahkan sesuai dengan syariat, dengan sholat pula manusia akan memiliki jiwajiwa yang tenang. Sebagaimana diketahui bahwa musuh paling besar bagi setiap orang adalah nafsunya sendiri. Nafsu tersebut cenderung pada hal-hal negatif seperti maksiat dan malas beribadah serta lebih berorientasi pada kehidupan duniawi (Humaidi et al., 2022; Sugianto et al., 2022). Riyaḍhah bertujuan untuk melatih diri agar tidak terbawa arus nafsu dan justru mengendalikan nafsu tersebut, sehingga ibadah yang dilakukan menjadi lebih maksimal dan lebih bernilai (Angraini et al., 2023; Soraya et al., 2023). Dalam proses merubah perilaku dan akhlak seseorang dibutuhkan berbagai unsur dalam pendidikan. Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memiliki tujuan menjadikan manusia yang berakhlak mulia dengan senantiasa bertakwa kepada Tuhannya. Untuk mewujudkan tujuan tersebut terdapat berbagai amalan yang mana santri bisa memilih semua atau beberapa amalan tersebut, salah satunya ialah puasa ngrowot (Fauza et al., 2023; Hasanah, In’am, et al., 2022). Puasa ngrowot merupakan salah satu tradisi pesantren salaf yang mana puasa ini tidak mengharuskan seseorang untuk sahur dan berbuka, melainkan seseorang bisa makan, minum layaknya orang pada umunya namun terdapat makanan tertentu yang dilarang untuk dikonsumsi (Behaghel, 2017; Ubaidillah, 2020). Sedangkan anjuran puasa ngrowot dan amalan-amalannya dilakukan atas dasar ijazah Kyai untuk tujuan semata mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pelaksanaan puasa ngrowot sangat efektif diamalkan untuk membersihkan hati agar bentuk-bentuk penyakit jiwa dalam bahasa psikologi dapat diminimalisir (GC Pratama et al., 2023; Safitri et al., 2023). Karena itulah kesadaran beragama adalah aspek mental atau aktivitas agama, sedangkan pengalaman agama adalah unsur perasaan dan kesadaran beragama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (amaliah). Salah satu tujuan dilaksanakannya puasa ngrowot menurut keyakinan di kalangan para santri merupakan faktor penunjang agar mudah memahami pelajaran (Faridatul et al., 2023; Segara et al., 2023). Karena sebagaimana diketahui bahwa gaya belajar masing-masing peserta didik adalah berbeda antara satu dengan yang lain begitu pula dalam pemahamannya. Kemampuan seseorang untuk memahami dan menyerap pelajaran (BPA Maryanto et al., 2023; Yulfi, 2022), ada yang cepat, sedang dan ada pula yang sangat lambat. Karenanya, mereka seringkali harus menempuh cara berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajaran yang sama. Berdasarkan data pra survei yang peneliti peroleh dapat dijelaskan bahwa praktik puasa ngorwot di Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak telah diamalkan oleh beberapa santri. Santri-santri penghayat ngrowot tersebut sebelumnya sowan kepada kiai untuk diberikan amalan ijazah ngrowot. Tirakat ngorowot yang dilaksanakan oleh santri Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak lebih This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 43 M. Ikhwannudin, Mispani, Muhammad Yusuf ││ NILAI-NILAI PENDIDIKAN... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 41-50 condong pada hal makanan, dimana santri tidak mengkonsumsi nasi dan semua makanan yang terbuat dari beras. Sebagai gantinya santri penghayat ngrowot mengkonsumsi ubi-ubian, singkong, thiwul, jagung, sayur dan lain sebagainya. Puasa ngrowot yang diamalkan oleh santri Darul Ulum yakni boleh makan minum kapanpun asalkan tidak memakan nasi baik siang maupun malam. Hal tersebut sebagaimana keterangan salah satu santri penghayat ngrowot yang menjelaskan bahwa puasa ngrowot diamalkan oleh santri-santri yang memang ingin menjalani puasa tersebut. Jadi tidak semua santri mengamalkannya. Sebelum berpuasa, santri-santri yang ingin berpuasa terlebih dahulu sowan menghadap kyai untuk diijazahi dan memperoleh wejangan-wejangan dari kyai. Puasa ngrowot diamalkan tergantung kekuatan dan keinginan masing-masing santri karena di dalamnya ada beberapa pilihan jangka waktu menempuh puasa ngrowot. Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik lebih lanjut untuk melakukan penelitian dengan judul “Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Puasa Ngrowot (Studi Pada Santri Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak)”. METODE Jenis penelitian ini adalah peneilitian lapangan (field research), yaitu penelitian kasus bertujuan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang dan interiaksi lingkungan sesuatu unit sosial, individu, kelompok, lembaga atau masyarakat. Penelitian lapangan (field research) merupakan penelitian dimana peneliti menggali segala informasi yang dibutuhkan dalam penelitian dari informan atau narasumber yang ada dilakukan yang dianggap paham dan tahu tentang permasalahan yang terjadi dengan menggunakan suatu alat pengumpul data yang telah disiapkan. Dalam penelitian ini, peneliti langsung terjun ke lapangan untuk mempelajari dan menggali informasi mengenai nilai-nilai pendidikan Islam dalam puasa ngrowot santri di Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak. Penelitian yang akan peneliti laksanakan merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang mengungkapkan gejala-gejala yang tampak dan mencari fakta-fakta khususnya mengenai masalah yang akan peneliti teliti dalam penelitian ini yaitu nilai-nilai pendidikan Islam dalam puasa ngrowot di Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak. Informan dalam penelitian ini yaitu orang-orang yang dianggap tahu dan paham tentang pembahasan yang diteliti. Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini yaitu, lurah, pengurus, dan santri Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak. Data yang peneliti butuhkan didapatkan dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang sudah terkumpul kemudian diolah agar dapat ditarik suatu kesimpulan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Temuan Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak Lampung Tengah. Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan pada pembahasan tentang nilai-nilai pendidikan Islam dalam puasa ngrowot. Adapun pihak-pihak yang peneliti wawancara yakni lurah, pengurus, dan santri Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak. Sampel yang digunakan adalah teknik insidental sampling yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/incidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Sebagai bahan informasi bahwa pelaku ngrowot di Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak Lampung Tengah hanya sebanyak 10 santri. Jawaban yang disampaikan oleh santri-santri pelaku puasa ngrowot tersebut hampir sama. Oleh karena itu, peneliti hanya menyajikan hasil wawancara beberapa santri saja, tidak semuanya. Karena santri Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak yang menjalani tirakat ngrowot hanya 10 santri saja. Melalui wawancara dengan salah satu santriwan yang melakukan puasa ngrowot dimana puasa ini tidak mengharuskan seseorang untuk sahur dan berbuka, melainkan seseorang bisa makan, minum layaknya orang pada umunya namun terdapat makanan tertentu yang dilarang untuk dikonsumsi. Sedangkan anjuran puasa ngrowot dan amalan-amalannya dilakukan atas dasar ijazah Kyai. Seperti halnya penuturan Kang Ilham, salah santri pelaku ngrowot yang menjelaskan: “Saya ngrowot sudah 1 tahun ini, kang. Ya itu karna saya denger kyai pernah ngendiko kalo santri itu sebaiknya menjalani tirakat supaya ilmu yang dipelajari mudah dipahami dan mudah dihafal. Kata pak This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 44 M. Ikhwannudin, Mispani, Muhammad Yusuf ││ NILAI-NILAI PENDIDIKAN... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 41-50 kyai salah satu tirakat santri dulu itu ngrowot. Ya sudah saya ikut aja, kang puasa ngrowot dengan tidak makan nasi karena memang saya punya pemikiran begini dengan kyai, tidak mungkin kyai memerintahkan sesuatu yang sia-sia, maksudnya dengan tidak ada tujuannya dan kyai itu tidak mungkin ingin muridnya sengsara, mungkin awalnya iya, nanti hasilnya pasti tidak, ya kalau sekarang saya nggak boleh makan nasi, dengan hal yang tidak sewajarnya orang ya saya yakin nanti ada sesuatu yang akan lebih baik yang akan saya dapatkan karena memang tidak mungkin kyai memerintahkan sesuatu tanpa tujuan”. Keterangan Ilham di atas menjelaskan bahwa tirakat marupakan salah satu sarana pendukung bagi para penuntut ilmu khususnya santri agar lebih mudah memahami dan menghafal pelajaran. Tirakat ngrowot dipercaya memiliki manfaat yang besar bagi pelakunya. Memperkuat pernyataan Kang Ilham di atas, peneliti melakukan wawancara dengan Kang Haris. Saat diwawancara ia menjelaskan: “Di Pesantren Darul Ulum ini memang ada kang yang ngrowot, tapi yang nggak banyak. Paling sekitar 9 sampai 10 santri. Pelaksanaan ngrowot di sini itu minta ijazah dulu sama kyai terus dikasih amaliahnya kemudian baru santri mengamalkannya. Puasa ngrowot yang dilakukan santri itu nggak pakek puasa, mas. Ya cuma ngindari makan nasi dan makanan yang ada campuran berasnya. Jadi nggak perlu ada buka dan sahur segala. Kalo tujuan ngrowot itu selain sebagai upaya tirakat dan wujud prihatin sebagai penuntut ilmu, juga amalan agar dalam belajar mudah paham dan hafal. Selain itu sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah dan melatih hawa nafsu”. Berdasarkan keterangan Haris di atas dapat dipahami bahwa puasa ngrowot ada baiknya dirobith/sambungkan melalui kyai dengan cara meminta kepada kyai untuk diijazahi. Puasa di sini maksudnya adalah tidak memakan makanan yang mengandung beras. Selain agar mudah memahami dan menghafal pelajaran, puasa ngrowot juga diyakini sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah. Berbeda dengan pendapat Kang Ilham dan Kang Haris di atas, keterangan dari Kang Misbah saat diwawancara menjelaskan: “Saya puasa ngrowot itu selain bentuk tirakat juga sebagai bentuk hemat. Karena saya mondok itu pakek biaya sendiri, maka saya harus bisa mengatur keuangan dengan sebaik-baiknya. Selama saya mondok, orang tua sebenarnya sering tapi sedikit, kang. Jadi kalo malam saya ikut ngaji, dan kalo siang saya kerja buat biaya makan dan sehari-hari. Tapi dengan puasa ngrowot yang saya lakukan banyak sekali manfaat yang saya dapatkan, kang, seperti mudah paham ketika guru menjelaskan, bisa belajar sabar, bisa menahan gojlokan (ejekan), dan yang pastinya bisa menghemat pengeluaran”. Keterangan Misbah di atas menjelaskan bahwa ada beberapa alasan seorang santri menjalani tirakat ngrowot diantaranya agar lebih hemat, kiriman tidak mencukupi, agar mudah paham dan hafal pelajaran, dan lain sebagainya. Menuut keterangan informan selanjutnya yakni Muhafidzin, saat diwawancara ia menjelaskan: “Saya menjalani puasa ngrowot udah lama mas, hamir 1,5 tahun. Menurut saya ngrowot itu suatu amalan untuk melatih santri agar prihatin selama menuntut ilmu. Saya mengamalkan puasa ngrowot karena saya ingin melatih hawa nafsu. Ya kita kan tahun ya mas kalo nasi itu kan salah satu makanan pokok orang Indonesia, nah saya pengen mencoba melatih kepinginan memakan nasi mas. Dalam puasa ngrowot itu nggak kayak puasa seperti biasanya mas. Jadi nggak ada istilah puasa dan sahur. Makannya ya kapan saja bisa yang penting tidak makan yang berbahan beras. Kalo hubungannya jelas ada mas. Puasa secara umum itu kan artinya menahan sesuatu yang diinginkan. Dengan kita melatih hawa nafsu itu hati kita nantinya menjadi tenang. Kalo hati dan pikiran kita sudah tenang, nantinya akan mudah paham pelajaran yang dipelajari. Alhamdulillah setelah saya menjalani tirakat ngrowot saya mudah ketika saya ingin menghafal suatu pelajaran mas. Yang menjadi kendala ketika laku tirakat ngrowot itu kalo pulang kerumah mas. Dilingkungan tempat tinggal saya nyari tiwul itu susah mas. Misalkan ada itu biasanya harganya dua kali lipat harga beras”. Berdasarkan keterangan Muhafidzin tersebut diketahui bahwa ia melaksanakan tirakat ngrowot sebagai sikap prihatin karena sedang menuntut ilmu dan sebagai upaya melatih hawa nafsu. Kendala yang ia hadapi yakni ketika pulang ke kampung halaman yang mana sulit mencari tiwul. Setelah wawancara dengan Muhafidzin, peneliti melakukan wawancara dengan Anshori. Saat diwawancara ia menjelaskan: “Saya ngrowot sudah hampir 1 tahun, mas. Saya ngrowot karena menurut saya ngrowot itu merupakan salah satu bentuk tirakat yang pas diamalkan oleh seorang santri. Alasan saya ngrowot itu supaya mudah paham ketika belajar. Pelaksanaan tirakat ngrowot nggak sama kayak puasa biasanya, mas. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 45 M. Ikhwannudin, Mispani, Muhammad Yusuf ││ NILAI-NILAI PENDIDIKAN... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 41-50 Makannya kapan aja yang penting nggak makan makanan yang mengandung bahan beras. Dengan tirakat ngrowot hati saya menjadi tenang karena tidak ada rasa menginginkan suatu makanan. Setelah puasa ngrowot saya merasa mudah ketika ingin menghafal sesuatu, terutama menghafal dan memahami ilmu nahwu”. Penuturan Anshori di atas menjelaskan bahwa puasa ngrowot berbeda dengan puasa pada umumnya. Puasa ngrowot juga diyakini sebagai perantara agar mudah dalam memahami dan menghafal suatu pelajaran. Wawancara selanjutnya peneliti lakukan dengan Muhyiddin yang juga salah satu santri pelaku tirakat ngrowot. Saat diwawancara ia menjelaskan: “Ngrowot itu menurut saya tirakat yang nggak makan nasi atau beras mas. Saya sendiri mengamalkan ngrowot sudah 1 bulan lebih. Saya ngrowot karena pengen nyoba hal baru aja, sekalian melatih diri saya kuat apa tidak. Caranya mudah mas, nggak pakek hal-hal kayak puasa biasanya. Jam makannya terserah jadi nggak ada buka puasa dan sahur. Dengan melakukan tirakat ngrowot saya menjadi lebih mudah paham pelajaran. Selain itu saya juga mudah ketika menghafal bait-bait dalam ilmu nahwu. Masalah yang biasa saya alami ketika ngrowot itu kadang saya merasa minder sama teman-teman yang maka nasi mas”. Berbeda dengan pernyataan informan di atas, Khumaidi yang juga santri yang menjalani tirakat puasa ngrowot menjelaskan sebagai berikut: “Saya ngrowot itu karena pernah denger kyai ngendiko santri dulu itu banyak yang ngrowot. Katanya sih biar hatinya tentram. Saya tirakat ngrowot sudah hampir 4 bulan, mas. Puasanya enak kok, tinggal makan-makan aja kapan pun. Yang penting makanannya tidak mengandung beras atau nasi. Setelah saya menjalani tirakat ngrowot ternyata saya mudah paham dengan penjelasan yang ustadz sampaikan. Susahnya itu kalo pulang ke rumah. Di desa saya agak susah nyari tiwul dan oyek. Palingpaling kalo nggak nemu tiwul atau gaplek saya merebus atau menggoreng singkong, mas”. Setelah peneliti melakukan wawancara dengan pelaku ngrowot di atas, peneliti melakukan wawancara dengan salah satu pengurus yakni Bapak Hafidz Saifullah. Menurut penuturannya saat diwawancara beliau menjelaskan sebagai berikut: “Ya namanya santri itu menurut saya harus menjalani yang namanya tirakat. Tujuannya untuk melatih kesabaran dan hawa nafsu, serta menggembleng diri. Sebagaimana yang sampean tahu kang, salah satu tirakat yang dijalankan santri sini itu ngrowot. Nah ngrowot ini tirakat dengan cara menjauhi nasi sebagai makanan pokok. Gantinya biasanya makanan yang berasal dari singkong seperti gaplek, tiwul dan lain sebagainya yang tidak mengandung beras”. Berdasarkan hasil wawancara dengan para responden di atas dapat dipahami bahwa laku puasa ngrowot sudah dijalankan oleh santri Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak Lampung Tengah. Namun demikian, masih sedikit yang menjalani jenis tirakat ini. Para santri yang menjalani tirakat ngrowot memiliki niat dan tujuan yang sama. Walaupun ada beberapa santri pelaku ngrowot yang memiliki tujuan agak berbeda yakni sebagai langkah menghemat pengeluaran, namun hakikat tujuan dari amaliyah ngrowot yang dijalaninya tidak berubah yakni melatih hawa nafsu, melatih kesabaran dan sebagai upaya tirakat sebagai penuntut ilmu. PEMBAHASAN Karakter yang baik terdiri dari mengetahui hal yang baik, menginginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik, - kebiasaan dalam cara berpikir, kebiasaan dalam hati, dan kebiasaan dalam tindakan. Ketiga hal ini diperlukan untuk mengarahkan suatu kehidupan moral, ketiganya ini membentuk kedewasaan moral. Apabila dikorelasikan dengan budaya ngrowot maka ketiga wilayah karakter yang diasah melalui pendidikan karakter dengan metode ngrowot ini mendapatkan implikasinya akibat ngrowot ini. Dalam konteks pengetahuan moral ngrowot merupakan proses menggunakan pemikiran untuk melihat suatu situasi yang memerlukan penilaian moral dan memahami informasi dari permasalahan yang bersangkutan. Persoalan moralitas yang terjadi didekati dengan pendekatan budaya Islami yang berupa ngrowot, dimana dari kesadaran dan tindakan ini membawa akibat positif dalam perubahan perilaku bagi penghayat ngrowot. Ngrowot juga merupakan pemahaman yang mendalam mengenai nilai-nilai moral dalam Islam bagi pelaku budaya ngrowot ini. Penghayat ngrowot mengetahui secara mendalam mengenai nilai moral, seperti menghargai kehidupan dan kemerdekaan, tanggung jawab terhadap orang lain, kejujuran, keadilan, This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 46 M. Ikhwannudin, Mispani, Muhammad Yusuf ││ NILAI-NILAI PENDIDIKAN... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 41-50 toleransi, penghormatan, dan semua nilai yang menyangkut cara menjadi pribadi yang baik. Bukan hanya mengetahui saja melainkan juga memahami cara menerapkan nilai yang bersangkutan dalam berbagai macam situasi. Berdasarkan data yang peneliti dapatkan diketahui bahwa ada beberapa aspek yang terkandung dalam puasa ngrowot yang dijalankan oleh santri yaitu: Spiritual Spiritualitas merupakan dorongan yang menghidupkan semangat jiwa seseorang untuk sampai kepada hidup yang bermakna dan berharga. Tentu hal ini sulit didefinisikan dengan perhitungan materil, bahkan kekosongan yang dirasakan ketika manusia justru telah mencapai kemakmuran seolah mengajarkan betapa kebahagiaan sesungguhnya tidak terletak di sana, melainkan di bagian yang lebih bersifat rohani/spiritual. Para santri Darul Ulum yang menjalankan tirakat puasa ngrowot percaya bahwa seorang kyai adalah orang yang dipercaya dekat dengan Tuhan. Oleh sebab itu, kyai di kalangan santri dianggap dapat melakukan komunikasi yang lebih baik dengan Tuhan sehingga segala nasihatnya sudah pasti diikuti dan dilaksanakan. Berangkat dari kepercayaan tersebut, para santri yakin bahwa dengan puasa ngrowot yang mana kyai sudah pernah menjalani, akan setidaknya sedikit bisa membantu meningkatkan daya ingat mereka dan pemahaman terhadap pelajaran. Selain itu, puasa ngrowot diyakini oleh santri penghayat ngrowot sebagai salah satu sarana mendekatkan diri kepada Allah. Kepasrahan/Tawakal Kepasrahan merupkan proses pelepasan akan beban seseorang terhadap suatu hal yang telah diusahakan. Pasrah terjadi setelah seseorang berusaha melakukan usaha dengan optimal sambil menunggu hasil yang didambakan seseorang mengiringi kepasrahan atau tawakkal sebagai usaha untuk menyadari bahwa kehendak manusia bukanlah segala-galanya serta mengurangi rasa sakit yang berlebihan ketika hasil tidak sesuai dengan ekspektasi seseorang. Kepasrahan juga mampu menurunkan stress yang berlebihan dari suatu tekanan. Berdasarkan data yang peneliti dapatkan dapat dijelaskan bahwa para santri Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak yang melaksanakan puasa ngrowot mendasari tirakat yang dijalani sebagai upaya tawakal kepada Allah sebagai hamba yang sedang mencari ilmu. Dengan berpasrah diri kepada Allah, para santri semakin percaya diri saat belajar dan mengaji akan lebih mudah memahami karena mereka yakin Allah akan membantu hamba-Nya yang mau berusaha. Dan puasa ngrowot merupakan bentuk usaha yang dilakukan sebagai faktor pendukung dalam upaya mencari ilmu. Dukungan Sosial Hubungan sosial akan menghasilkan dukungan sosial yang positif atau sebaliknya. Dalam temuan ini subjek mendapati faktor dukungan sosial sebagai pengaruh yang besar untuk memelihara kesejahteraan santri. Seperti kyai, orangtua, lingkungan pertemanan merupakan aspek penting bagi santri. Bagi santri Pondok Pesantren Darul Ulum, sosok kyai adalah orang yang sangat dikagumi, dita’dhimi dan dijadikan sebagai teladan. Apa yang didawuhkan (dikatakan) oleh kyai sudah pasti santri melaksanakannya. Kyai selaku orang nomor satu di pesantren selalu menganjurkan santrinya untuk tirakat, prihatin dan lain sebagainya. Oleh karena itu, para santri pelaku tirakat ngrowot pun menjalani laku tirakat tersebut karena ingin menjadi seperti orang yang diidolakan yaitu kyai. Tujuan Hidup Tujuan hidup merupakan arah keberlangkahan seseorang yang akan mempengaruhi performa, pengabdian, dan konsep seseorang. Tujuan hidup manusia yang sebenarnya adalah beribadah kepada Allah SWT. Bagi santri Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak, menuntut ilmu merupakan salah satu ibadah. Agar dalam menuntut ilmu memperoleh keberkahan dan keberhasilan, maka dibutuhkan sesuatu yang bisa menunjang dalam pelaksanaannya. Salah satunya yakni dengan melaksanakan tirakat berupa puasa ngrowot. Para santri pelaku puasa ngrowot di Pondok Pesantren Darul Ulum meyakini bahwa dengan puasa ngrowot akan memperoleh keberkahan dalam menuntut ilmu yang dipelajarinya. Penghayat ngrowot selain dia melakukan penggemblengan jiwa, tetapi juga memiliki kemampuan dalam pengambilan keputusan, dimana seseorang mampu memikirkan cara seseorang bertindak melalui permasalahan moral, dengan cara ini merupakan keahlian-keahlian pengambilan keputusan reflektif. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 47 M. Ikhwannudin, Mispani, Muhammad Yusuf ││ NILAI-NILAI PENDIDIKAN... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 41-50 Perilaku penghayat ngrowot ini juga merupakan tindakan moral kritis dimana keahlian untuk mengulas kelakuan sendiri dan mengevaluasi perilaku tersebut secara kritis diasah selama ngrowot dilakukan. Dengan perangkat keahlian berpikir dan pengambilan keputusan yang dimiliki penghayat ngrowot ini, persoalan moralitas yang mengancam setiap individu dapat dengan mudah diidentifikasi dan segera disikapi dengan keputusan yang substansial. Data yang peneliti peroleh selama penelitian menunjukkan bahwa antara santri penghayat ngrowot dengan santri yang tidak melaksanakan tirakat ngrowot memiliki beberapa perbedaan. Bagi santri pelaku ngrowot terlihat bijak dalam bertindak, lebih tenang, serta prestasinya pun lebih unggul daripada santri yang lain. Selain hal tersebut, santri pelaku ngrowot lebih hemat dalam pengeluaran dan menjaga perilakunya dimanapun berada. Perilaku penghayat ngrowot merupakan kemampuan untuk mengubah penilaian dan perasaan moral kedalam tindakan moral yang efektif. Pengenalan diri yang dilandasi oleh ajaran teologis yang dikuasainya merupakan instrumen dalam penilaian karakter dalam diri penghayat ngrowot yang berlanjut pada sikap dan keputusan yang berupa tindakan moral yang memikiki efek dalam pengembangan dan membangun moralitas dalam diri melalui ngrowot ini. Keinginan yang baik dalam membangun diri yang dimiliki oleh penghayat moral juga merupakan suatu pergerakan energi moral untuk melakukan apa yang dipikirkan harus dilakukan. Dalam pembentukan perilaku yang dilakukan oleh penghayat ngrowot menjadi sebuah kebudayaan dijembatani melalui pembiasaan sehingga perilaku ini menjadi budaya. Pembiasaan dan rutinitas ini merupakan pengalaman yang diulangi dalam melakukan apa yang membantu, apa yang jujur, apa yang ramah, dan apa yang adil dalam membangun moralitas diri penghayat ngrowot. Puasa ngrowot sebenarnya hanyalah istilah yang diungkapkan oleh masyarakat Jawa karena dalam prekteknya ngrowot adalah memkan makanan yang bukan berasal dari beras, melainkan makan sayuran, buah-buahan serta umbi-umbian. Dalam bahasa yang lain, ngrowot bisa juga diartikan dengan vegetarian. Dalam pengamalannya puasa ngrowot disertai dengan alasan yang sangat jelas yaitu untuk alasan ilmiah, amaliah serta maliyah. Alasan tersebut tentunya sangat sesuai dengan tujuan yang akan dicapai seseorang dalam kehidupan mereka. Dimana alasan ilmiah yang dimaksudkan adalah sesuatu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, alasan amaliah yaitu berkaitan dengan amal perbuatau ataupun akhlaq seseorang, sedangkan maliyah yaitu dengan harta yang menentukan kestabilan ekonomi seseorang. Puasa ngrowot juga memunculkan beberapa terapi yang besar manfaatnya, diantaranya sebagai sarana untuk latihan mengendalikan hawa nafsu. Puasa ngrowot mempunyai makna dan fungsi penting, beberapa makna yang dirasakan yaitu makna sosial-ekonomi serta makna tasawuf. Sedangkan untuk fungsinya cenderung kepada latihan riyadhoh nafsu serta memperoleh ketenangan batin bagi yang mengamalkannya dengan sungguh-sungguh. Selain itu, puasa ngrowot mempunyai makna dan fungsi yang kompleks. Diantara maknanya terdiri dari beberapa aspek yaitu aspek jasmani, rohani serta sosial. Fungsi puasa ngrowot sendiri erat kaitannya dengan makna yang peroleh yakni menjernihkan fikiran sehingga mudah menerima pelajaran, serta timbulnya rasa kepedulian dan persaudaraan. KESIMPULAN Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa budaya ngrowot di Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak diamalkan oleh para santri dengan menjaga pola makan seperti umbi-umbian dan thiwul dengan menjadikan makanan yang mengandung beras sebagai pantangan. Bagi santri pelaku atau penghayat ngrowot di Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak, ngrowot merupakan laku tirakat atau prihatin dalam menuntut ilmu yang dilaksanakan melalui puasa. Puasa dalam hal ini bukan berarti puasa pada umumnya, akan tetapi puasa dengan cara meninggalkan makanan yang mengandung beras, dan beralih ke makanan yang lain, yang biasanya berupa makanan singkong seperti thiwul, oyek dan lain sebagainya. Pengamalan tirakat puasa ngrowot disertai dengan alasan yang sangat jelas yaitu untuk alasan ilmiah, amaliah serta maliyah. Alasan tersebut tentunya sangat sesuai dengan tujuan yang akan dicapai seseorang dalam kehidupan mereka. Dimana alasan ilmiah yang dimaksudkan adalah sesuatu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, alasan amaliah yaitu berkaitan dengan amal perbuatau ataupun akhlaq seseorang, sedangkan maliyah yaitu dengan harta yang menentukan kesetabilan ekonomi seseorang. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 48 M. Ikhwannudin, Mispani, Muhammad Yusuf ││ NILAI-NILAI PENDIDIKAN... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 41-50 DAFTAR PUSTAKA Angraini, L. M., Yolanda, F., & Muhammad, I. (2023). Augmented Reality : The Improvement of Computational Thinking Based on Students ’ Initial Mathematical Ability. International Journal of Instruction, 16(3), 1033–1054. Anhar, J., Darmayanti, R., & Usmiyatun, U. (2023). Pengaruh Kompetensi Guru Agama Islam Terhadap Implementasi Manajemen Sumber Daya Manusia Di Madrasah Tsanawiyah. Assyfa Journal of Islamic Studies, 1(1), 13–23. https://www.journal.assyfa.com/index.php/ajis/index Behaghel, L. (2017). Ready for boarding? The effects of a boarding school for disadvantaged students. American Economic Journal: Applied Economics, 9(1), 140–164. https://doi.org/10.1257/app.20150090 BPA Maryanto, LN Rachmawati, Muhammad, I., & Sugiyanto, R. (2023). Kajian Literatur: Problematika Pembelajaran Matematika Di Sekolah. Delta-Phi: Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1(2), 93–106. Faridatul, I., Afifah, A., & Nurmalitasari, D. (2023). Penerapan Media Komik Matematika Islam Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis. Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1(1), 28–34. https://www.journal.assyfa.com/index.php/JPTK/ Fathurrochman, I., Ristianti, D. H., & Arif, M. A. S. bin M. (2020). Revitalization of Islamic Boarding School Management to Foster the Spirit of Islamic Moderation in Indonesia. Jurnal Pendidikan Islam, 8(2). https://doi.org/10.14421/jpi.2019.82.239-258 Fauza, M., Inganah, S., Sugianto, R., & Darmayanti, R. (2023). Urgensi Kebutuhan Komik: Desain Pengembangan Media Matematika Berwawasan Kearifan Lokal di Medan. Delta-Phi: Jurnal Pendidikan Matematika, 1(2), 130–146. http://www.journal.com/index.php/dpjpm Fazis, M., Sujanto, B., & Akbar, M. (2019). Changed management of Islamic boarding schools (Phenomenology study at the Sumatra Thawalib Parabek Islamic boarding school). International Journal of Innovative Technology and Exploring Engineering, 8(6). https://doi.org/10.4108/eai.2111-2018.2282226 GC Pratama, Waluyo, E., & Setiawan, D. (2023). Upaya Peningkatan Hasil Belajar Matematika Menggunakan Media Musik Pada Materi Mengahafal Rumus Bangun Datar Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1(1), 35–40. https://www.journal.assyfa.com/index.php/JPTK/ Hasanah, N., In’am, A., Darmayanti, R., Choirudin, C., Nurmalitasari, D., & Usmiyatun, U. (2022). DEVELOPMENT OF AL-QUR’AN CONTEXT MATH E-MODULE ON INVERS FUNCTION MATERIALS USING BOOK CREATOR APPLICATION. AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika, 11(4). https://doi.org/10.24127/ajpm.v11i4.5647 Hasanah, N., Syaifuddin, M., & Darmayanti, R. (2022). Analysis of the Need for Mathematics Teaching Materials “Digital Comic Based on Islamic Values” for Class X SMA Students in Era 5.0. Numerical: Jurnal Matematika Dan Pendidikan Matematika, 6(2). http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/al-jabar/index Hidayat, M. (2017). Model Komunikasi Kyai Dengan Santri di Pesantren. Jurnal ASPIKOM, 2(6), 385. https://doi.org/10.24329/aspikom.v2i6.89 Humaidi, N., Darmayanti, R., & Sugianto, R. (2022). Challenges of Muhammadiyah’s Contribution in Handling Covid-19 in The MCCC Program in Indonesia. Khazanah Sosial, 4(1), 176–186. https://doi.org/10.15575/ks.v4i1.17201 Ihsan. (2021). Pancasila and islamic education: The deradicalization model of madrasahs based on islamic boarding schools in central java. Qudus International Journal of Islamic Studies, 9(1), 245–278. https://doi.org/10.21043/QIJIS.V9I1.8941 Inganah, S., & Rizki, N. (n.d.). Integration of Islamic Values, Mathematics, and Career Readiness Competencies of Prospective Teachers in Islamic Universities. http://www.journal.com/index.php/dpjpm Ismail, Moh. (2016). Demokratisasi Pendidikan Islam Dalam Pandangan Kh. Abdul Wahid Hasyim. Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies), 4(2), 315. https://doi.org/10.15642/jpai.2016.4.2.315-336 Jaya, E. P., Syukri, A., & Us, K. A. (2021). The Role of Public Relations Management Islamic Boarding School in Maintaining Existence Salafiyah Islamic Boarding School in Jambi Province. International Journal of Progressive Sciences …, 20. Ma’Arif, M. A. (2022). Improving Islamic Self-Motivation for Professional Development (Study in This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 49 M. Ikhwannudin, Mispani, Muhammad Yusuf ││ NILAI-NILAI PENDIDIKAN... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 41-50 Islamic Boarding Schools). Supporting Modern Teaching in Islamic Schools: Pedagogical Best Practice for Teachers, 123–134. https://doi.org/10.4324/9781003193432-12 Mustafa, M. (2018). Implementation of islamic values in houses around darul istiqamah islamic boarding school in Maccopa, Maros. Pertanika Journal of Social Sciences and Humanities, 26(4), 2731–2746. Mustafa, M., Yudono, A., Wikantari, R., & Harisah, A. (2018). Implementation of islamic values in houses around darul istiqamah islamic boarding school in Maccopa, Maros. Pertanika Journal of Social Sciences and Humanities, 26(4). Safitri, E., Wawan, W., Setiawan, A., & Darmayanti, R. (2023). Eksperimentasi Model Pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan Kahoot Terhadap Kepercayaan Diri Dan Prestasi Belajar. Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1(1), 80–90. https://kahoot.com. Saleh, M., & Satriawan, L. A. (2020). The Model of Islamic Boarding School Economic Development In Hidayatullah Islamic Boarding School Mataram City and Darussalam West Lombok. IQTISHODUNA: Jurnal Ekonomi Islam, 9(1). https://doi.org/10.36835/iqtishoduna.v9i1.474 Segara, B., Choirudin, C., Setiawan, A., & Risnanda Arif, V. (2023). Metode Inquiry: Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa SMP Pada Materi Luas Bangun Datar. JUrnal Penelitian Tindakan Kelas, 1(1), 19–27. https://www.journal.assyfa.com/index.php/JPTK/ Soraya, S. M., Kurjono, & Muhammad, I. (2023). Analisis Bibliometrik : Penelitian Literasi Digital dan Hasil Belajar pada Database Scopus ( 2009-2023 ). EDUKASIA: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 4(20), 387–398. Sugianto, R., Darmayanti, R., & Humaidi, M. N. (2022). MUHAMMADIYAH EDUCATION’S READINESS IN THE SOCIETY 5.0 ERA. Al’Adalah, 25(1). https://doi.org/10.35719/aladalah.v25i1.155 Sulaiman, S. (2019). Implementation of Student’s Rules on Punishment In Islamic Perspective. ALHAYAT: Journal of Islamic Education, 3(1). https://doi.org/10.35723/ajie.v3i1.40 Ubaidillah, A. F. (2020). Cultivating marine leadership character through multicultural boarding-school system. Cakrawala Pendidikan, 39(1), 191–206. https://doi.org/10.21831/cp.v39i1.28344 Yulfi, H. (2022). Scabies infection among boarding school students in Medan, Indonesia: Epidemiology, Risk Factors, and Recommended Prevention. Tropical Parasitology, 12(1), 34–40. https://doi.org/10.4103/tp.tp_57_21 Zaki, I., Mawardi, I., Widiastuti, T., Hendratmi, A., & Anova, D. F. (2019). Business network strategy in islamic micro finance institution of islamic boarding school. Humanities and Social Sciences Reviews, 7(4). https://doi.org/10.18510/hssr.2019.7435 Zaki, I., Widiastuti, T., Yudha, A. T. R. C., Wijayanti, I., & Mi’raj, D. A. (2020). Implementation of Islamic entrepreneurial culture in Islamic boarding schools. International Journal of Innovation, Creativity and Change, 11(11). This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 50