Assyfa Journal of Islamic Studies E-ISSN: 2988-7399 Journal Homepage: https://www.journal.assyfa.com/index.php/ajis/index INTEGRASI KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM PONDOK PESANTREN DARUL ULUM DAN SMA Fajrun Najah Ahmad1*, Mispani2, Muhammad Yusuf3 1, 2, 3 Universitas Ma’arif Lampung *Email: fajrunajahmad22@gmail.com Received: 16/06/2023 Accepted: 05/07/2023 Publication: 25/07/2023 Abstrak Kurikulum kepesantrenan di Pondok Pesantren juga mewarnai kurikulum SMA Ma’arif Seputih Banyak yang mana masih di bawah naungan Pondok Pesantren Darul Ulum. Dilihat dari segi pengelolaan kurikulum dirasa sudah cukup baik, itu terbukti dari berjalan dengan lancarnya kegiatan pembelajaran di Pondok Pesantren Darul Ulum dan SMA Ma’arif Seputih Banyak. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang dilakukan di Pondok Pesantren Darul Ulum dan SMA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah berkaitan dengan integrasi kurikulum pendidikan Islam. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Perencanaan kurikulum berbasis pesantren di SMA Ma’arif Seputih Banyak meliputi beberapa kegiatan diantaranya:penentuan tujuan, menentukan isi kurikulum, menentukan strategi pembelajaran, dan menentukan evaluasi pembelajaran. Pelaksanaan integrasi kurikulum pesantren di SMA Ma’arif Seputih Banyak sangat didukung oleh kemampuan guru yang mengajar. Pelaksanaan kurikulum berbasis pesantren juga tampak adanya kitab-kitab salaf (kitab kuning) sebagai sumber belajar beserta metode pembelajaran pesantren seperti bandongan. Sehingga dalam pelaksanaannya SMA Ma’arif Seputih Banyak benarbenar menerapkan pembelajaran layaknya di pesantren. Evaluasi integrasi kurikulum pesantren di SMA Ma’arif Seputih Banyak dilaksanakan dengan didasarkan pada tuntutan masyarakat atau lapangan serta kebutuhan bagi para peserta didik sekarang ini. Kata Kunci: Integrasi, Kurikulum Pendidikan Islam, Pondok Pesantren Abstract The Islamic boarding school curriculum at the Islamic Boarding School also colors the curriculum at Ma'arif Seputih Banyak High School, which is still under the auspices of the Darul Ulum Islamic Boarding School. In terms of curriculum management, it is felt to be quite good, this is proven by the smooth running of learning activities at the Darul Ulum Islamic Boarding School and Ma'arif Seputih Banyak High School. This research is field research conducted at the Darul Ulum Islamic Boarding School and Ma'arif Seputih Banyak High School, Central Lampung, related to the integration of the Islamic education curriculum. Based on the research results, it can be concluded that Islamic boarding school-based curriculum planning at SMA Ma'arif Seputih Banyak includes several activities including: determining objectives, determining curriculum content, determining learning strategies, and determining learning evaluation. The implementation of Islamic boarding school curriculum integration at Ma'arif Seputih Banyak High School is strongly supported by the ability of the teachers who teach. The implementation of the Islamic boarding school-based curriculum also shows the existence of Salaf books (Kitab Kuning) as a learning resource along with Islamic boarding school learning methods such as bandongan. So that in its implementation, Ma'arif Seputih Banyak High School really applies learning like in Islamic boarding schools. Evaluation of the integration of the Islamic boarding school curriculum at SMA Ma'arif Seputih Banyak is carried out based on the demands of society or the field as well as the needs of current students. Keywords: Integration, Islamic Education Curriculum, Islamic Boarding Fajrun Najah Ahmad, Mispani, Muhammad Yusuf ││ INTEGRASI KURIKULUM... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 73-86 PENDAHULUAN Pendidikan adalah suatu proses yang dilakukan agar: “mampu mengarahkan kemampuan dari dalam diri manusia menjadi suatu kegiatan hidup yang berhubungan dengan Tuhan (Penciptanya), baik kegiatan itu bersifat pribadi maupun kegiatan sosial”. 1 Guru dalam Islam sebagai pemegang jabatan profesional membawa misi ganda dalam waktu yang bersamaan, yaitu misi agama dan misi ilmu pengetahuan. Misi agama menuntut guru untuk menyampaikan nilai-nilai ajaran agama kepada anak didik, sehingga anak didik dapat menjalankan kehidupan sesuai dengan norma-norma agama tersebut. Misi ilmu pengetahuan menuntut guru menyampaikan ilmu sesuai dengan perkembangan zaman. 2 Allah berfirman dalam Al-Qur’an, sebagai berikut: ِ ِ ِ ِِ ‫ث فِي ِهم رسوالً ِمن أَن ُف ِس ِهم ي ْت لُو علَي ِهم‬ ِِ ‫اب‬ َ ‫اّللُ َعلَى الْ ُمؤمن‬ ‫لََق ْد َم َّن ه‬ َ َ‫آَيته َويَُزهكي ِه ْم َويُ َعله ُم ُه ُم الْكت‬ َ ْ َْ َ ْ ْ ‫ني إِ ْذ بَ َع َ ْ َ ُ ه‬ ِ ِْ ‫و‬ ٍ ‫ض‬ ٍ ِ‫الل ُّمب‬ ﴾١٦٤﴿ ‫ني‬ َ ‫ْمةَ َوإِن َكانُواْ ِمن قَ ْب ُل لَفي‬ َ ‫اْلك‬ َ Artinya: “Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rosul dari golongan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka al-kitab dan al-hikmah. Dan sesungguhnya sebelum kedatangan Nabi itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata (QS. Ali Imran, 3: 164)3 Berkenaan dengan ayat di atas, Imam Ibnu Katsir menafsirkannya sebagai berikut: Yaitu dari jenis mereka sendiri supaya mereka dapat berkomunikasi, bertanya-jawab, berdampingan, serta mengambil manfaat darinya. Ini adalah karunia yang paling besar, dimana Rasul yang diutus kepada mereka itu adalah dari jenis mereka sendiri, sehingga dengan demikian mereka akan dapat berkomunikasi dan menjadikannya tempat rujukan dalam memahami firman-firman-Nya. Oleh karena itu Allah SWT berfirman ﴾ ‫علَ ْي ِه ْم آ َيا ِت ِه‬ َ ‫“ ﴿ َيتْلُو‬yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah.” Yakni Al-Qur’an. ﴾ ‫“ ﴿ َويُزَ ِكي ِه ْم‬membersihkan jiwa mereka.” Yakni memerintahkan mereka mengerjakan kebajikan dan mencegah mereka dari perbuatan munkar, agar dengan demikian mereka dapat menyucikan diri mereka dari kotoran dan najis yang menyelimuti mereka ketika masih dalam keadaan Jahiliyyah yang diliputi dengan kemusyrikan.4 Berdasarkan ayat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Rasulullah selain Nabi juga sebagai pendidik (guru). Oleh karena itu tugas utama guru yaitu 1) Penyucian, yakni Pengaruh, pembersihan dan pengangkatan jiwa kepada pencipta-Nya, menjauhkan diri dari kejahatan dan menjaga diri agar tetap berada pada fitrah. 2) Pengajaran, yakni pengalihan berbagai pengetahuan dan akidah kepada akal dan hati agar merealisasikannya dalam tingkat laku kehidupan. Jadi tugas guru dalam Islam tidak hanya mengajar dalam kelas, tetapi juga sebagai norm drager (pembawa norma) agama di tengah-tengah masyarakat. Jika manusia lahir membawa kebaikan-kebaikan (fitrah) maka tugas pendidikan harus mengembangkan elemen-elemen (baik) tersebut yang dibawanya sejak lahir. Dengan begitu apapun yang diajarkan di sekolah jangan sampai bertentangan dengan prinsip-prinsip fitrahnya tersebut. Ajaran Islam tidak memisahkan antara iman dan amal shaleh. Oleh karena itu, pendidikan Islam adalah sekaligus pendidikan iman dan pendidikan amal dan juga karena ajaran Islam berisi tentang ajaran sikap dan tingkah laku pribadi masyarakat menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama, maka Pendidikan Islam merupakan suatu "bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua 1 Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), hlm. 14. Agus Maimun, et.al, Madrasah For Tomorrow, (Jakarta: Dirjen. Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, 2012), hlm. 28. 3 Al-Quran (3) : 164. 4 Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, terj. M. Abdul Ghoffar, Abdurrahim Mu’thi, Abu Ihsan Al-Atsari, Jilid 2, (Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2004), hlm. 180-181. 2 This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 74 Fajrun Najah Ahmad, Mispani, Muhammad Yusuf ││ INTEGRASI KURIKULUM... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 73-86 ajaran Islam”.5 Islam juga menganjurkan umatnya untuk terus belajar selama masih hidup. Berkatian dengan belajar, Hamalik menjelaskan bahwa “Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni menglami. Hasil belajar bukan suatu penguasan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan”.6 Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkunganya. 7 Menurut Watson, seperti yang dikutip oleh Djaali mengemukakan bahwa “belajar merupakan proses terjadi refleks atau respons bersyarat melalui stimulus pengganti. Manusia dilahirkan dengan beberapa refleks dan reaksi emosional berupa takut, cinta, dan marah. Semua tingkah laku lainnya terbentuk oleh hubungan stimulus respons baru melalui conditioning.8 Pernyataan-pernyataan di atas mengindikasikan bahwa ilmu, belajar dan pendidikan merupakan suatu rangkaian proses yang sangat penting dijalani dan dimiliki orang setiap orang. Antara seseorang yang berpendidikan dan berilmu sudah pasti berbeda dengan orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Hal ini sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat al-Mujadalah ayat 11: ِ ِ ِ ِ ِ ِ ِ‫يل لَ ُك ْم تَ َف َّس ُحوا ِِف الْ َم َجال‬ ‫انشُزوا‬ َّ ‫س فَافْ َس ُحوا يَ ْف َس ِح‬ ُ َ‫انشُزوا ف‬ ُ ‫يل‬ َ ‫ين‬ َ ‫ََي أَيُّ َها الَّذ‬ َ ‫اّللُ لَ ُك ْم َوإ َذا ق‬ َ ‫آمنُوا إ َذا ق‬ ٍ ‫اّلل الَّ ِذين آمنُوا ِمن ُكم والَّ ِذين أُوتُوا الْعِلْم درج‬ ﴾١١﴿ ٌ‫اّللُ ِِبَا تَ ْع َملُو َن َخبِري‬ َّ ‫ات َو‬ َ ََ َ َ َ َُّ ‫يَْرفَ ِع‬ َ َْ Artinya : Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. 9 Berkenaan dengan ayat di atas, Imam Ibnu Katsir menafsirkannya sebagai berikut: Allah SWT berfirman seraya mendidik hamba-hamba-Nya yang beriman seraya memerintahkan kepada mereka untuk saling berbuat baik kepada sesama mereka di dalam majelis, ‫﴿ َيا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا ِإذَا‬ ﴾ ‫س ُحوا فِي ا ْل َم َجال ِِس‬ َّ َ‫“ قِي َل لَكُ ْم تَف‬Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapanglapanglah dalam majlis.” Dan dibaca. ﴾‫﴿فِي ا ْل َمجْ ل ِِس‬ َّ ‫ح‬ ﴾‫َّللاُ لَكُ ْم‬ َ ‫س ُحوا يَ ْف‬ َ ‫“ ﴿فَا ْف‬Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.” ِ ‫س‬ Yang demikian itu karena balasan itu sesuai dengan perbuatan. 10 Demi mencapai tujuan pendidikan di atas, maka diuraikan menjadi program kegiatan belajar dalam rangka pengembangan kemampuan dasar yang meliputi daya cipta, Bahasa, daya pikir, ketrampilan, dan jasmani. Pendidikan dan pengajaran adalah suatu proses yang sadar tujuan yang dengan sistematis terarah pada perubahan tingkah laku menuju ke kedewasaan anak didik.11 Imam As-Syafi’i mengatakan: ‫ َوَم ْن أ ََر َاد ْاْل ِخَرةَ فَ َعلَْي ِه ِِبلْعِلْ ِم‬, ‫َم ْن أ ََر َاد الدُّنْيَا فَ َعلَْي ِه ِِبلْعِلْ ِم‬ 5 Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, hlm. 15 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), hlm. 36. 7 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cpta, 2010, hal. 2 8 Djaali, Psikologi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta, 2013, Cet. Ke-7, hlm. 86 9 Al-Kausar, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2010), hlm. 793. 10 Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, terj. M. Abdul Ghoffar, Abdurrahim Mu’thi, Abu Ihsan Al-Atsari, Jilid 8, hlm. 88. 11 Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), hlm. 12. 6 This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 75 Fajrun Najah Ahmad, Mispani, Muhammad Yusuf ││ INTEGRASI KURIKULUM... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 73-86 Artinya: “Barang siapa menghendaki (kebaikan) dunia, maka hendaknya ia menggunakan ilmu, dan barang siapa menghendaki kebaikan akhirat, maka hendaknya menggunakan ilmu”. 12 Selanjutnya, untuk menjawab tuntutan kemajuan zaman, dewasa ini telah banyak dilaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan nasional. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya usaha-usaha perubahan dan perbaikan-perbaikan pada sistem pendidikan. Dimana usaha perbaikan dan perubahan ini mencakup dari berbagai aspek seperti: kebijakkan, kurikulum, segi matrial, kesejahteraan para guru dan penempatan guru profesional di daerah terpencil. 13 Guru sebagai tenaga pendidikan harus dapat mengembangkan potensi peserta didik secara optimal dengan kemampuan untuk berkreasi, mandiri, bertanggung jawab, dan dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi, sehingga nantinya dapat melaksanakan fungsinya sebagai warga negara. Dalam memberdayakan peserta didik secara optimal maka tidak terlepas dari pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.14 Demi mewujudkan peserta didik yang kompetitif tersebut, keberadaan suatu kurikulum senantiasa dievaluasi dan diperbaharui. Keberadaan suatu kurikulum seperti perubahan KTSP 2006 ke Kurikulum 2013 adalah sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan nasional di tengah masyarakat dunia yang dinamis dan kompetitif. 15 Pada perkembangan pendidikan di Indonesia, kurikulum yang terakhir digunakan adalah kurikulum 2013. Salah satu landasan adanya kurikulum 2013 adalah tujuan pendidikan Nasional yang tercantum pada pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003 yang berbunyi: Mengembangkan potensi peseta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.16 Berdasarkan hal tersebut di atas, maka kompotensi lulusan pada kurikulum 2013 mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan. Dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No 81 A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum 2013 meliputi: “(1) Peningkatan iman, takwa, dan akhlak mulia; (2) kebutuhan kompotensi masa depan; (3) peningkatan potensi kecerdasan dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik; (4) keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan; (5) tuntunan pembangunan daerah dan nasional; (6) tuntunan dunia kerja; (7) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; (8) agama; (9) dinamika perkembangan global; (10) persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan; (11) kondisi sosial budaya masyarakat setempat; (12) kesetaraan gender; (13) karakteristik satuan pendidikan.17 Kurikulum tidak hanya berlaku di sekolah umum, di pesantren juga memiliki sistem kurikulum dalam menjalankan sistem pendidikannya. Pondok pesantren pada dasarnya memiliki fungsi meningkatkan kecerdasan bangsa, baik ilmu pengetahuan, keterampilan maupun moral. Namun fungsi kontrol moral dan pengetahuan agamalah yang selama ini melekat dengan sistem pendidikan Pondok Pesantren. Fungsi ini juga telah mengantarkan Pondok Pesantren menjadi institusi penting yang dilirik oleh semua kalangan masyarakat dalam menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan derasnya arus informasi di era globalisasi. Apalagi, kemajuan pengetahuan pada masyarakat modern berdampak besar terhadap pergeseran nilai-nilai An-Nawawi, Al-Majmu‘ ala Syarh al-Muhadzab, Juz. 1. (Kairo: Maktabah al-Muniriyah, tt), hlm. 40-41. Agus Maimun, et.al, Madrasah For Tomorrow, hlm. 28. 14 Ahmad Sopian, “Tugas, Peran, dan Fungsi Guru dalam Pendidikan”, Raudhah Proud To Be Professionals Jurnal Tarbiyah Islamiyah, Vol. 1, No. 1, (Juni 2016), hlm. 90 15 Syafaruddin, Amiruddin, Manajemen Kurikulum, (Medan: Perdana Publishing, 2017), hlm. 185. 16 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 17 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No 81 A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum 2013 12 13 This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 76 Fajrun Najah Ahmad, Mispani, Muhammad Yusuf ││ INTEGRASI KURIKULUM... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 73-86 agama, budaya dan moral.18 Berdasarkan survei awal yang peneliti lakukan diketahui bahwa sistem evaluasi pembelajaran yang ada di Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak Lampung Tengah ini berjalan dengan menggunakan Kurikulum Kepesantrenan. Isi Kurikulum tersebut dikembangkan berdasarkan pada tujuan yang akan dicapai. Rumusan tujuan mencakup berbagai aspek perubahan prilaku yang diharapkan dapat dicapai oleh santri, baik pengetahuan, ketrampilan maupun sikap. Kriteria isi kurikulum harus dapat dipelajari para santri dan menjadikan pembiasaan sehingga membentuk sebuah karakter yang melekat pada diri santri. Kurikulum kepesantrenan di Pondok Pesantren juga mewarnai kurikulum SMA Ma’arif Seputih Banyak yang mana masih di bawah naungan Pondok Pesantren Darul Ulum. Berdasarkan observasi awal didapatkan data bahwa dilihat dari segi pengelolaan kurikulum dirasa sudah cukup baik, itu terbukti dari berjalan dengan lancarnya kegiatan pembelajaran di Pondok Pesantren Darul Ulum dan SMA Ma’arif Seputih Banyak. Dari segi inovasi kurikulum yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Darul Ulum dan SMA Ma’arif Seputih Banyak yang diarahkan pada penguatan agama peserta didik dirasa hasilnya sudah cukup baik. Itu dibuktikan dengan keseharian para peserta didik yang mampu menghormati satu sama lain dan berperilaku sopan. METODE Jenis penelitian ini adalah peneilitian lapangan (field research), yaitu penelitian kasus bertujuan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang dan interiaksi lingkungan sesuatu unit sosial, individu, kelompok, lembaga atau masyarakat. 19 Dalam hal ini, peneliti ingin mempelajari dan menggali informasi mengenai integrasi kurikulum pendidikan Islam di Pondok Pesantren Darul Ulum dan SMA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Metode penelitian kualitatif yaitu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen), yaitu peneliti sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi. 20 Dengan demikian maka peneliti mendeskripsikan atau menguraikan data-data yang berkaitan dengan integrasi kurikulum pendidikan Islam di Pondok Pesantren Darul Ulum dan SMA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah, kemudian peneliti menganalisanya guna untuk mendapatkan suatu pandangan atau kesimpulan berupa kata-kata yang relevan pada saat ini Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini yakni lurah dan pengurus Pondok Pesantren Darul Ulum, Kepala dan guru SMA Ma’arif Seputih Banyak, serta beberapa santri/siswa. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian dan pengujian tersebut akan disimpulkan dalam bentuk deskripsi sebagai hasil pemecahan permasalahan yang ada. Analisis dan pengolahan data, peneliti lakukan dengan cara analisis induktif yaitu membuat kesimpulan yang khusus dari masalah yang umum. Analisis induktif, yaitu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Kurikulum yang diterapkan di SMA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah merupakan kurikulum perpaduan antara kurikulum yang ditetapkan oleh Kemendiknas dan kurikulum pesantren. Dengan kata lain kurikulum di SMA Ma’arif Seputih Banyak adalah kurikulum berbasis pesantren. Adapun prinsip pengembangan Kurikulum SMP Ma’arif Seputih Banyak ini dikembangkan mengacu pada SI dan SKL serta berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP serta memperhatikan pertimbangan Komite Sekolah.21 1. Pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Islam di Pondok Pesantren Darul Ulum dan SMA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah Perencanaan integrasi kurikulum pesantren di SMA Ma’arif Seputih Banyak dilaksanakan dalam sebuah manajemen kurikulum yaitu setiap menjelang tahun ajaran baru. Perencanaan Luluk Firdausiyah, Imam Nasa’I, M. Yunus Abu Bakar, “Sistem Evaluasi Pembelajaran Kurikulum Kepesantrenan di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Jombang”, Jurnal Studi, Sosial, dan Ekonomi, Vol. 3, No. 1, (Januari 2022), hlm. 11. 19 Cholid Narbuko dan Abu Ahmadi, Metiodoliogi Penelitian, (Jakarta; Bumi Aksara, 2013), hlm. 46 20 Beni Ahmad Saebani, Metode Penelitian, cet. 1 (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008.), hlm. 122. 21 Fajar Rifa’i, Kepala MA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 28 Maret 2023. 18 This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 77 Fajrun Najah Ahmad, Mispani, Muhammad Yusuf ││ INTEGRASI KURIKULUM... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 73-86 kurikulum ini sebagai wujud tindak lanjut hasil evaluasi yang dilaksanakan setiap akhir tahun ajaran. Perencanaan pengintegrasian kurikulum ini melibatkan seluruh elemen sekolah yang meliputi kepala sekolah, wakil kepala bagian kurikulum, wakil kepala bidang sarana dan prasarana, wakil kepala bagian kesiswaan, guru pendidik, dan koordinator komite sekolah. 22 Kemudian hal-hal yang penting dan sangat diperhatikan dalam perencanaan integrasi kurikulum di SMA Ma’arif Seputih Banyak ialah tenaga pendidik. Di SMA Ma’arif Seputih Banyak semuanya memegang peranan masing-masing sesuai dengan latar belakang pendidikannya, hal ini bertujuan tercapainya visi, misi, dan tujuan SMA Ma’arif Seputih Banyak. Adapun tenaga pendidik yang disiapkan harus memenuhi persyaratan yang telah dibuat oleh pihak sekolah SMA Ma’arif Seputih Banyak. 23 Dalam proses perencanaan integrasi kurikulum pesantren di SMA Ma’arif Seputih Banyak ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan. Dalam hal ini Fajar Rifa’i menjelaskan hal yang harus diperhatikan pada saat perencanaan pengintegrasian kurikulum adalah tujuan. Tujuan yang baik harus sesuai dengan visi dan misi sekolah.24 Sebagai data penguat berikut peneliti paparkan kelompok mata pelajaran berbasis pesantren: Adapun konten/isi kurikulum yang didesain di SMA Ma’arif 01 Seputih Banyak merupakan struktur khusus yang disusun untuk memberikan pelayanan yang maksimal terhadap perkembangan kompetensi yang dimiliki siswa. Selanjutnya untuk rincian materi pelajaran yang diajarkan di SMA Ma’arif 01 Seputih Banyak berbasis pesantri dari kelas X, XI dan XII adalah sebagai berikut: a. Fiqih 1) Kelas X : Kitab Mabadi’ul Fiqhiyah juz 1 2) Kelas XI : Kitab Mabadi’ul Fiqhiyah juz 2 3) Kelas XII : Kitab Mabadi’ul Fiqhiyah juz 3 b. Tauhid 1) Kelas X : Kitab Aqoidud Diniyyah juz 1 2) Kelas XI : Kitab Aqoidud Diniyyah juz 2 3) Kelas XII : Kitab Aqoidud Diniyyah juz 3 c. Al-Qur’an Hadits d. Aswaja e. Tilawah f. BTQ 22 Zainal Hakim Ali, Kepala Pondok, Wawancara pada tanggal 29 Maret 2023. Fajar Rifa’i, Kepala MA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 28 Maret 2023. 24 Fajar Rifa’i, Kepala MA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 28 Maret 2023. 23 This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 78 Fajrun Najah Ahmad, Mispani, Muhammad Yusuf ││ INTEGRASI KURIKULUM... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 73-86 Sesuai misi sekolah yaitu Terwujudnya pendidikan yang demokratis dan Qur’ani serta Unggul dalam Prestasi diberbagai bidang pengetahuan berdasarkan Iman dan Taqwa. Dalam sekolah kita terdapat program khusus karena takhasus ya berarti ada program takhasusnya. yaitu pertama program takhtim, yaitu dikhususkan untuk siswa yang belum khatam al-qur’an. Kedua program takhtim yaitu khusus siswa yang bacaan Al-Qur’an nya belum lancar dan takhfid yaitu program menghafal al-qur’an untuk siswa yang sudah khatam al-qur’an serta pelajaran yang keagamaan yang memakai rujukan kitab pesantren. 25 Secara spesifik tujuan diterapkannya kurikulum pesantren di SMA Ma’arif Seputih Banyak diantaranya untuk tetap melanjutkan ciri khas pendidikan pesantren pada sekolah sebagaimana pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di nusantara. Lebih lanjut M. Ma’ruf, salah satu pengurus Pondok Pesantren Darul Ulum dan juga pendidik di SMA Ma’arif Seputih Banyak menyebutkan bahwa tujuan mengajarkan pelajaran pesantren di SMA Ma’arif Seputih Banyak adalah untuk melestarikan budaya lama yang baik dan mengambil budaya baru yang lebih baik.26 Strategi yang digunakan sekolah untuk melaksanakan kurikulum berbasis pesantren yaitu melalui proses kegiatan belajar mengajar di kelas terkait dengan cara yang digunakan pada proses kegiatan belajar mengajar, setiap guru yang mengajar pada mata pelajaran pesantren menggunakan metode pembelajaran yang bermacam-macam disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan. Dan cara penilaian yang dilakukan yaitu dengan mengadakan penilaian dari tugas siswa, ulangan harian yang dilakukan setiap selesai per bab materi yang diajarkan, selain itu juga ulangan mid semester, ulangan semesteran.27 Dalam wawancara yang dilakukan dengan guru pengajar fiqih yaitu M. Ma’ruf bahwasanya dalam melakukan pembelajaran di kelas biasanya menggunkan metode bandungan dengan hafalan. Yaitu seorang guru membacakan kitab kemudian para siswa menyimak dan mendengarkan. 28 Pelaksanaan kurikulum di SMA Ma’arif berjalan dibawah pengawasan dan tanggung jawab kepala sekolah dan dibantu oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Kepala sekolah dan wakil kepala sekolah menjalankan tugas pelaksanaan kurikulum ditingkat sekolah seperti melakukan koordinasi kegiatan guru-guru, membimbing guru dalam pelaksanaan kurikulum tingkat kelas, serta melaksanakan segala kegitan yang telah direncanakan sebagai usaha mencapai tujuan kurikulum. Sedangkan pelaksanaan kurikulum tingkat kelas menjadi tanggung jawab dari masingmasing guru. Hal ini sesuai yang disampaikan oleh kepala sekolah yang kutipannya sebagai berikut: “Dalam pelaksanaan kurikulum saya bertanggung jawab supaya kurikulum dapat terlaksana di sekolah, bersama dengan wakakurikulum saya menjalankan kurikulum ditingkat sekolah serta membina guru dalam menjalankan kurikulum ditingkat kelas.” 29 Senada dengan yang disampaikan oleh kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum juga menyampaikan hal yang sama, yaitu: “Saya sebagai wakakurikulum dalam pelaksanaan kurikulum membantu kepala sekolah dalam mengelola kurikulum ditingkat sekolah, sedangkan pelaksanaan pembelajaran di kelas menjadi tanggung jawab masing-masing guru.30 Kemudian, kurikulum SMA Ma’arif yang telah direncanakan kemudian dilaksanakan dalam bentuk kegiatan-kegiatan pembelajaran. Maka dari itu, di dalam kelaslah kurikulum itu diuji, dalam pembelajaran semua fasilitas alat, kemampuan guru, dan metode yang digunakan oleh SMA Ma’arif Seputih Banyak dilaksanakan, tetapi dalam pelaksanaanya kurikulum yang paling berperan di SMA Ma’arif Seputih Banyak adalah guru. Pada tahap ini, guru memiliki beberapa tugas seperti membuat rencana program untuk satu Fajar Rifa’i, Kepala MA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 28 Maret 2023. M. Ma’ruf, Seksi Pendidikan Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 29 Maret 2023. 27 Fajar Rifa’i, Kepala MA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 28 Maret 2023. 28 M. Ma’ruf, Seksi Pendidikan Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 29 Maret 2023. 29 Fajar Rifa’i, Kepala MA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 28 Maret 2023. 30 Anang Anshori, Waka Kurikulum MA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 30 Maret 2023. 25 26 This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 79 Fajrun Najah Ahmad, Mispani, Muhammad Yusuf ││ INTEGRASI KURIKULUM... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 73-86 tahun (prota), program satu semester (promes), dan membuuat rencana pembelajaran (RPP). Akan tetapi khusus untuk mata pelajaran tambahan basis pesantren guru tidak diwajibkan untuk membuat RPP dikarenakan rujukan yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran memakai kitab kuning tetapi tetap mempersiapkan materi dan metode apa yang akan digunakan. Senada dengan yang telah disebutkan diatas M. Ma’ruf selaku guru Fiqih menyampaikan hal yang sama bahwa: “Setiap guru memiliki ciri khusus masing-masing dalam menentukan metode dan strategi yang digunakan, semua bergantung pada kebutuhan yang sesuai dengan materi belajar. Misalnya saya, mengajar fiqih, dalam pelajaran pembelajarannya fiqih memakai rujukan kitab Mabadiul Fiqih, jadi saya tidak membuat RPP hanya saja tetap menentukan materi dan metode yang akan digunakan dalam pembelajaran.”31 Dalam hal ini, untuk melaksanakan dan menguji kurikulum dalam kegiatan pembelajaran di kelas merupakan perwujudan bentuk kurikulum yang nyata, maka pelaksanaan kurikulum merupakan bentuk kegiatan pelaksanaan belajar mengajar di kelas yang merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah. Berdasarkan penelitian yang sudah dilaksanakan proses pembelajaran di SMA Ma’arif Seputih Banyak dilaksanakan pada jam 07.00-13.50 WIB.19 Sebelum proses belajar mengajar dimulai, para siswa terlebih dahulu dibiasakan untuk membaca do’a sa’altu dan membaca Asmaul Husna serta nadhoman yang dipelajari di masing-masing kelas. Terkait kebiasaan ini M. Ma’ruf mengatakan: “Biyasanya siswa membaca nadhom an aqidatul awwam, bertujuan agar para siswa mampu menghafal nadzam melalui kebiasaan membaca, karena kalau kita sering membaca, maka lamalama kita akan bisa hafal dengan sendirinya, kata M. Ma’ruf selaku guru mata pelajaran Fiqih.32 Pelaksanaan kurikulum di SMA Ma’arif Seputih Banyak tidak dapat dipisahkan dengan karakteristik sekolah yang memiliki corak pesantren. Hal itu bisa dilihat pada saat proses pembelajaran, terutama pada saat penyampaian materi dengan menggunakan kitab kuning sebagai referensi pembelajaran. Biasanya guru membacakan kitab, kemudian menerjemahkan, menjelaskan dan menguraikan isi kitab. Sedangkan siswa hanya mendengarkan dan menulis penjelasan gurunya. Hal ini menyerupai salah satu metode pembelajaran di pesantren yang disebut dengan metode bandongan.33 Berdasarkan hasil observasi peneliti dalam proses pembelajaran di kelas, metode pembelajaran yang digunakan untuk mata pelajaran kepesantrenan menggunakan metode pembelajaran pesantren salaf, dimana pembelajaran menggunakan kitab kuning, siswa wajib memiki kitab yang digunakan dalam kegiatan pemeblajaran, guru membacakan isi kitab dengan diikuti arti dalam bahasa jawa, kemudian arti kitab tersebut siswa tulis di bawah kalimat yang diartikan dengan menggunakan huruf pegon. Selain pembelajaran yang telah disebutkan di atas, kurikulum berbasis pesantren di SMA Ma’arif juga didukung dengan berbagai kegiatan, diantaranya shalat Dhuha berjamaah setiap pagi, solat dhuhur berjamaah, serta setoran nadhom setiap hari sabtu dan hafalaan al-qur’an. Pelaksanaan kurikulum di SMP Takhasus Al-Qur’an Seputih Banyak tidak dapat dipisahkan dengan karakteristik sekolah yang memiliki corak pesantren. Hal itu bisa dilihat pada saat proses pembelajaran, terutama pada saat penyampaian materi dengan menggunakan kitab kuning sebagai referensi pembelajaran. Biasanya guru membacakan kitab, kemudian menerjemahkan, menjelaskan dan menguraikan isi kitab. Sedangkan santri hanya mendengarkan dan menulis penjelasan gurunya. Hal ini menyerupai salah satu metode pembelajaran di pesantren yang disebut dengan metode bandongan.34 M. Ma’ruf, Seksi Pendidikan Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 29 Maret 2023. 32 M. Ma’ruf, Seksi Pendidikan Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 29 Maret 2023. 33 M. Ma’ruf, Seksi Pendidikan Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 29 Maret 2023. 34 Anang Anshori, Waka Kurikulum MA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 30 Maret 2023. 31 This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 80 Fajrun Najah Ahmad, Mispani, Muhammad Yusuf ││ INTEGRASI KURIKULUM... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 73-86 Selain pembelajaran yang telah disebutkan di atas, integrasi kurikulum pesantren di SMA Ma’arif Seputih Banyak juga didukung dengan berbagai kegiatan, diantaranya shalat Dhuha berjamaah setiap pagi, solat dhuhur berjamaah. 35 Proses sangat berhubungan dengan pelaksanaan suatu program dalam hal ini adalah proses pembelajaran sebagai wujud implementasi kurikulum berbasis pesantren di SMP Takhasus Al-Qur’an Seputih Banyak. Untuk mengevaluasi proses pembelajaran SMA Ma’arif Seputih Banyak evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan di SMA Ma’arif Seputih Banyak ada dua bentuk yaitu tes dan non tes. Evaluasi dalam bentuk tes digunakan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik menguasai materi yang telah disampaikan oleh bapak/ ibu gurunya dalam proses pembelajaran. Sedangkan non tes biasanya berupa pengamatan terhadap sikap siswa setelah menerima pelajaran tertentu. Pelaksanaan kurikulum berbasis pesantren di SMA Ma’arif Seputih Banyak sangat didukung oleh pesantren Al-Amin selaku induk dari sekolah ini. Sampai sekarang kerjasama antara pesantren AlAmin dengan SMA Ma’arif Seputih Banyak masih berjalan baik terutama dalam hal penentuan kitab apa yang akan dijadikan referensi utama dalam mata pelajaran tertentu. 2. Hasil dari Penerapan Kurikulum Pendidikan Islam di Pondok Pesantren Darul Ulum dan SMA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah Selain pelaksanaan pembelajaran, dalam pelaksanaan kurikulum SMA Ma’arif juga terdapat beberapa macam kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan Ekstrakurikuler atau Pengembangan diri merupakan kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri dibawah bimbingan konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karier peserta didik serta kegiatan ekstrakurikuler, seperti kepramukaan, kepemimpinan, kelompok seni-budaya, kelompok tim olahraga, dan kelompok ilmiah remaja. Ekstrakurikuler di SMP TQ 97 Seputih Banyak terdiri dari: pramuka, PMR, paskibra, Pagarnusa, jurnalistik, paduan suara, dan seni baca al-qur’an. Dalam bentuk tes, ada dua jenis tes yang diterapkan di SMA Ma’arif Seputih Banyak, yaitu tes sumatif dan tes formatif. Tes sumatif dilaksanakan pada tiap akhir semester, sedangkan tes formatif dilaksanakan dalam bentuk ulangan harian, baik secara tertulis maupun lisan. Anang Anshori selaku Waka Kurikulum SMA Ma’arif Seputih Banyak menambahkan bahwa selain dalam bentuk tes dan non tes, evaluasi pembelajaran di SMA Ma’arif Seputih Banyak juga menggunakan sistem ujian takhassus. Adapun sasaran ujian takhassus ini adalah kemampuan siswa dalam membaca dan memahami kitab-kitab kuning. Hal ini tentunya untuk mewujudkan standar lulusan SMP Takhasus Al-Qur’an Seputih Banyak minimal sudah bisa baca kitab kuning.36 3. Evaluasi Kurikulum Pendidikan Islam di Pondok Pesantren Darul Ulum dan SMA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah Evaluasi integrasi pesantren di SMA Ma’arif Seputih Banyak dilaksanakan setiap akhir tahun pelajaran biasanya pada bulan Juni. Ada beberapa pihak yang terlibat yaitu Pihak interen yang bertanggung jawab dalam evaluasi kurikulum adalah semua warga sekolah mulai dari pengasuh, kepala sekolah, waka kurikulum, dan guru.37 Anang Anshori, Waka Kurikulum MA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 30 Maret 2023. 36 Anang Anshori, Waka Kurikulum MA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 30 Maret 2023. 37 Anang Anshori, Waka Kurikulum MA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 30 Maret 2023. 35 This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 81 Fajrun Najah Ahmad, Mispani, Muhammad Yusuf ││ INTEGRASI KURIKULUM... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 73-86 Selanjutnya Bapak Anang Anshori menjelaskan lebih lanjut sebagai berikut: “saat ini perbandingan siswa yang nyantri di pesantren dengan siswa yang tinggal di rumah jumlahnya tak seimbang 70:30, sehingga ini juga berpengaruh pada proses pembelajaran. Siswa yang nyantri lebih mudah untuk menerima pembelajaran yang berbasis pesantren. Katakanlah mata pelajaran tauhid kitab yang digunakan untuk kelas 1 aqidatul awwam, kelas 2 khoiridatul bahiyah dan kelas 3 syubul iman. Ini menjadi bukti bahwa input siswa memberikan pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kurikulum berbasis pesantren di SMA Ma’arif Seputih Banyak ini. Walaupun demikian SMA Ma’arif Seputih Banyak tetap mampu mempertahankan salafinya saja sudah bagus.”38 Kurikulum berbasis pesantren di SMA Ma’arif Seputih Banyak dilaksanakan oleh pendidik yang memiliki kemampuan sebagaimana yang dibutuhkan oleh SMA Ma’arif Seputih Banyak itu sendiri. Sebagian besar pendidiknya adalah alumni lulusan pesantren sehingga para pendidik sudah mampu dalam proses pembelajaran.39 Adapun permasalahan yang muncul adalah terkait kelengkapan perangkat pembelajaran. Hal ini diakui oleh kepala sekolah dan waka kurikulum SMA Ma’arif Seputih Banyak bahwa bagi pendidikpendidik yang memang tidak mengenyam perguruan tinggi, tidak kami tuntut untuk membuat perangkat pembelajaran sebagaimana guru-guru lain. lain halnya guru muda terlebih yang sudah bersertifikasi maka pembuatan perangkat pembelajaran sangat diwajibkan.40 Berdasarkan penelitian yang sudah dilaksanakan proses pembelajaran di SMA Ma’arif Seputih Banyak dilaksanakan pada jam 07.00-13.50 WIB. Sebelum proses belajar mengajar dimulai, para siswa terlebih dahulu dibiasakan untuk membaca do’a sa’altu dan membaca nadzam Asmaul Husna. Terkait kebiasaan ini M. Ma’ruf mengatakan: “tikrar (membaca berulang-ulang) Aqidatul Awwam ini bertujuan agar para siswa mampu menghafal nadzam melalui kebiasaan membaca. “karena kalau kita sering membaca, maka lama-lama kita akan bisa hafal dengan sendirinya”, kata M. Ma’ruf selaku guru mata pelajaran Fiqih. 41 Manajemen kurikulum pesantren memiliki makna proses pengelolaaan kurikulum di sekolah yang diintegrasikan dengan kurikulum secara kooperatif, sistematik untuk mewujudkan tujuan kurikulum secara efektif dan efisien, SMA Ma’arif Seputih Banyak merupakan lembaga pendidikan formal yang menerapkan sistem kurikulum berbasis pesantren karena selain mengikuti kurikulum yang telah ditentukan oleh Kementerian Dinas, SMA Ma’arif Seputih Banyak juga memasukkan kurikulum pesantren untuk diajarkan kepada peserta didiknya. Hal ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh Ridlwan Nasir dalam bukunya, yang menyebutkan bahwa Kurikulum sekolah berbasis pesantren dapat dibagi menjadi dua, yaitu: 1. Seluruh kurikulumnya diprogramkan dan diatur oleh pondok pesantren sendiri. 2. Mata pelajaran umum sesuai dengan kurikulum madrasah SKB3 menteri, sedangkan mata pelajaran agama diprogramkan dan diatur oleh pondok, dengan tetap memperhatikan kurikulum madrasah SKB 3 menteri. Karena itu mereka diikutkan ujian negara. Sebagaimana yang telah disebutkan terdahulu bahwa tujuan SMA Ma’arif Seputih Banyak menerapkan sistem integrasi kurikulum pesantren adalah untuk membekali siswa dengan pengetahuan keagamaan yang lebih matang dengan pola pendidikan model pesantren. Hal ini dikarenakan pesantren yang merupakan lembaga pendidikan islam pertama di nusantara mampu mencetak generasi yang religius dan berakhlakul karimah. Selain hal tersebut keberadaan pesantren juga diyakini memiliki kesamaan tujuan Anang Anshori, Waka Kurikulum MA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 30 Maret 2023. 39 Anang Anshori, Waka Kurikulum MA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 30 Maret 2023. 40 Anang Anshori, Waka Kurikulum MA Ma’arif Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 30 Maret 2023. 41 M. Ma’ruf, Seksi Pendidikan Pondok Pesantren Darul Ulum Seputih Banyak Lampung Tengah, Wawancara pada tanggal 29 Maret 2023. 38 This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 82 Fajrun Najah Ahmad, Mispani, Muhammad Yusuf ││ INTEGRASI KURIKULUM... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 73-86 dengan pendidikan nasional. Organisasi pengalaman belajar merupakan hal yang nantinya akan menentukan materi apa saja yang akan disampaikan kepada peserta didik dengan kata lain menentukan organisasi pengalaman belajar berarti kita juga menentukan isi kurikulum. SMA Ma’arif Seputih Banyak dalam implementasi kurikulum PAI selain mengikuti ketetapan pemerintah juga menambahkan kitab kuning sebagai referensi utama beserta metode menerjemahkan dengan makna gandul ciri khas pesantren. Belakangan ini banyak yang beranggapan bahwa makna gandul ala pesantren dianggap metode yang sangat tradisional dan kurang begitu efektif. Semua itu karena di masa modern dengan munculnya teknologi yang serba canggih penggunaan metode tersebut sudah mulai ditinggalkan. Terlepas dari itu semua dengan menggunakan makna gandul yang biasa digunakan di pesantren bukan hanya sebatas memahami isi dalam kitab kuning semata, tetapi makna gandul yang kental akan bahasa jawa halus (krama alus) secara tidak langsung juga membiasakan siswa untuk memiliki tata krama dalam berakhlak terutama dalam berbicara. Kurikulum pesantren di SMA Ma’arif Seputih Banyak semakin tampak jelas ketika dilihat dari kurikulum muatan lokal di sekolah tersebut. Kurikulum muatan lokal yang terdiri dari pelajaran Tauhid, Bahasa Arab, Al-Qur’an Hadist, Fiqih, Aswaja dan BTQ diajarkan secara tersendiri di SMA Ma’arif Seputih Banyak bertujuan agar para siswa di SMA Ma’arif Seputih Banyak memiliki kemampuan yang mendalam tentang ilmu-ilmu agama layaknya di pesantren. Jika kita mengkaji kurikulum muatan lokal di SMA Ma’arif Seputih Banyak tersebut berarti disusun dengan pola Separated Subject Curriculum (mata pelajaran yang terpisah-pisah).40 Bentuk kurikulum ini sudah lama digunakan dalam dunia pendidikan karena memiliki karakteristik yang sangat sederhana dan mudah dilaksanakan. Walau demikian selamanya yang dianggap mudah dan sederhana tersebut akan mendukung efektifitas dan efisiensi pendidikan yang sesuai dengan perkembangan sosial. Separated Subject Curriculum bertujuan agar generasi muda mengenal hasil-hasil kebudayaan dan pengetahuan umat manusia yang telah dikumpulkan selama berabad-abad, agar mereka tak perlu mencari dan menemukan kembali apa yang telah diperoleh generasi terdahulu. Implementasi integrasi kurikulum pesantren di SMA Ma’arif Seputih Banyak semakin lengkap dengan proses pembelajaran dengan menerapkan metode yang digunakan. Layaknya pendidikan pesantren, SMA Ma’arif juga menggunakan metode ala pesantren antara lain bandongan, halaqah, dan musyawarah. Berdasarkan implementasi kurikulum berbasis pesantren di SMA Ma’arif sebagaimana diuraikan di atas, sesuai dengan prinsip-prinsip implementasi kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pelaksanaan kurikulum di SMA Ma’arif Seputih Banyak yang mencerminkan pembelajaran di pesantren adalah penggunaan kitab-kitab salaf (kitab kuning) sebagai sumber balajar. Disebut kitab kuning karena biasanya kitab-kitab itu dicetak di atas kertas berwarna kuning, sebagaimana yang lazimnya tersedia pada masa dulu. Kitab tersebut biassanya ditulis dengan huruf arab gundul (tanpa harakat atau syakal). Penggunaan kitab salaf ini sangat memperkaya pengetahuan siswa karena kitab ini memang ditulis oleh para ulama’ terdahulu yang sudah diyakini kebenarannya dan dijadikan landasan hukum oleh para ulama’ di era modern sekalipun. SMA Ma’arif Seputih Banyak selain mengikuti kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah juga menerapkan kurikulum berbasis pesantren. Sehingga idealnya juga harus ada evaluasi layaknya evaluasi pembelajaran di pesantren. Dalam hal ini, dalam rangka mengevaluasi pembelajaran yang diikuti oleh peserta didik SMA Ma’arif Seputih Banyak juga melakukan evaluasi berdasarkan kemampuan siswa dalam membaca kitab kuning dan lancar membaca Al-Qur’an. Artinya salah satu tolak ukur siswa yang tuntas dalam pembelajaran adalah dilihat dari sisi kemampuan membaca kitab kuning layaknya di pesantren. Bentuk evaluasi pembelajaran ala pesantren yang juga diterapkan di SMA Ma’arif Seputih Banyak adalah keberhasilan belajar di SMA Ma’arif Seputih Banyak ditentukan oleh kemampuan mengajarkan ilmu yang telah diterima kepada orang lain. Teknik evaluasi ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Mastuhu sebagaimana dikutip oleh Ahmad Muthohar yang menyebutkan: “dalam hal evaluasi, keberhasilan belajar di pesantren ditentukan oleh penampilan kemampuan mengajarkan kitab kepada orang lain. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 83 Fajrun Najah Ahmad, Mispani, Muhammad Yusuf ││ INTEGRASI KURIKULUM... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 73-86 Implementasi integrasi kurikulum pesantren di SMA Ma’arif Seputih Banyak semakin lengkap dengan proses pembelajaran dengan menerapkan metode yang digunakan. Layaknya pendidikan pesantren, SMA Ma’arif juga menggunakan metode ala pesantren antara lain bandongan, halaqah, dan musyawarah. Berdasarkan implementasi kurikulum berbasis pesantren di SMA Ma’arif sebagaimana diuraikan di atas, sesuai dengan prinsip-prinsip implementasi kurikulum di setiap satuan pendidikan. KESIMPULAN Berdasarkan pemaparan di atas, dapat peneliti paparkan beberapa kesimpulan yaitu; 1) Perencanaan kurikulum berbasis pesantren di SMA Ma’arif Seputih Banyak meliputi beberapa kegiatan diantaranya:penentuan tujuan, menentukan isi kurikulum, menentukan strategi pembelajaran, dan menentukan evaluasi pembelajaran. 2) Pelaksanaan integrasi kurikulum pesantren di SMA Ma’arif Seputih Banyak sangat didukung oleh kemampuan guru yang mengajar. Pelaksanaan kurikulum berbasis pesantren juga tampak adanya kitab-kitab salaf (kitab kuning) sebagai sumber belajar beserta metode pembelajaran pesantren seperti bandongan. Sehingga dalam pelaksanaannya SMA Ma’arif Seputih Banyak benar-benar menerapkan pembelajaran layaknya di pesantren. 3) Evaluasi integrasi kurikulum pesantren di SMA Ma’arif Seputih Banyak dilaksanakan dengan didasarkan pada tuntutan masyarakat atau lapangan serta kebutuhan bagi para peserta didik sekarang ini. DAFTAR PUSTAKA Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011 Achmad Muchaddam Fahham, Pendidikan Pesantren: Pola Pengasuhan, Pembentukan Karakter, dan Perlindungan Anak, (Jakarta: P3DI, 2015. Agus Maimun, et.al, Madrasah For Tomorrow, (Jakarta: Dirjen. Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, 2012. Ahmad Ahwan, Dimensi Etika Belajar-Mengajar dalam Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Gama Media, 2010. Ahmad Sopian, “Tugas, Peran, dan Fungsi Guru dalam Pendidikan”, Raudhah Proud To Be Professionals Jurnal Tarbiyah Islamiyah, Vol. 1, No. 1, (Juni 2016 Al-Kausar, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2010. Ann Osborne O’Hagan & Rory V. O’Connor, “Towards an Understanding of Game Software Development Processes: A Case Study”, Dublin City University, Ireland: Springer-Verlag Berlin Heidelberg, 2011, dalam https://www.researchgate.net/figure/Grounded-Theory-DataAnalysis-Steps_fig1_282943329 An-Nawawi, Al-Majmu‘ ala Syarh al-Muhadzab, Juz. 1. (Kairo: Maktabah al-Muniriyah, tt. Beni Ahmad Saebani & Hendra Akhdiyat, Ilmu Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2009 Cholid Narbuko dan Abu Ahmadi, Metiodoliogi Penelitian, (Jakarta; Bumi Aksara, 2013 Dewi Mar’atus sholehah, Pengembalian Sisa Pembayaran Dalam Transaksi Jual Beli Dengan Barang Perspektif Ekonomi Islam (Study Kasus Pondok Pesantrn Darul A’mal Kota Metro), Skripsi Institut Agama Islam Maarif NU, Metro Lampung, 2018. Djaali, Psikologi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta, 2013 Ibnu Abd. Ghofur, DEWA, Ta’bir-ta’bir Sekaligus Keterangan Permasalahan Aktual,, (Kediri: Pustaka ‘Azm, 2007. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 84 Fajrun Najah Ahmad, Mispani, Muhammad Yusuf ││ INTEGRASI KURIKULUM... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 73-86 Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, terj. M. Abdul Ghoffar, Abdurrahim Mu’thi, Abu Ihsan Al-Atsari, Jilid 2, (Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2004. Khoirun Nisa, “Peran Guru dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam”, Inovatif, Vol. 4, No. 2, 2018 Luluk Firdausiyah, Imam Nasa’I, M. Yunus Abu Bakar, “Sistem Evaluasi Pembelajaran Kurikulum Kepesantrenan di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Jombang”, Jurnal Studi, Sosial, dan Ekonomi, Vol. 3, No. 1, (Januari 2022. M. Shodiq, “Pesantren dan Perubahan Sosial”, (Jurnal Falasifa, Vol. 2, No. 2, 2011. Mo’tasim, “Fenomena Ta’zir di Pesantren”, dalam Jurnal Pendidikan Agama Islam STIT Al-Ibrohimy, Vol. 3, No. 2, 2015. Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011. Muhammad Latif Nawawi, “Pengembangan Madrasah Unggul Berbasis Pesantren di MA Unggulan Darul Ulum Jombang”, Jurnal Taujih: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 4, No. 01, (Juni 2022. Muhammad Nurul Huda, “Pelanggaran Santri terhadap Peraturan Tata Tertib Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah Kranji Lamongan”, dalam Jurnal Kajian Moral dan Kewarganegaraan FIS UNESA, Vol. 02, No. 03, 2015. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011. Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012. Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum Di Sekolah, (Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset, 2013 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remana Rosdakarya, 2009. Nana Sudjana, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2011. Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010 Oemar Hamalik, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No 81 A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum 2013 Restu Sani Izzati, “Implementasi Kurikulum 2013 Bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus di Sekolah Dasar Inklusif”, dalam Jurnal Pendidikan Khusus, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya Tahun 2015. Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011. Siswanto, Pendidikan Islam dalam Dialektika Perubahan, (Yogyakarta: SUKA-Press, 2012 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cpta, 2010 Sugiyonoi, Metode Penelitian Kuantitatiif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2016 Syafaruddin, Amiruddin, Manajemen Kurikulum, (Medan: Perdana Publishing, 2017. Syaiful Sagala, Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2011. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 85 Fajrun Najah Ahmad, Mispani, Muhammad Yusuf ││ INTEGRASI KURIKULUM... Assyfa Journal of Islamic Studies, v(1)n(1), 2023, 73-86 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Uyoh Sadulloh, Pedagogik (Ilmu Mendidik), (Bandung: Alfabeta, 2011. Yaya Suryana dan Firman Yuda Pratama, “Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 di Madrasah”, dalam Jurnal Isema (Islamic Education Manajemen), Vol. 3, No. 1, 2018, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Zainal Hakim Ali, Kepala Pondok, Wawancara pada tanggal 29 Maret 2023. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License 86