1
Assyfa Journal of Farming and Agriculture, vol. 2(1), pp. 01 -, 2024
Received 15 August 202 3 / published 15 Jul 2024
https://doi.org/10.61650/ajme.v2i1.554
Penambahan tepung ubi ja lar ungu
(Ipomoea batatas L.) terhadap
karakteristik puding buah naga putih
(Selenicereus undatus)
Mujianto Mujianto
1*
,
Lili Zalizar
2
,
Damat Damat
3
,
Rahayu Relawati
4
,
Muhammad Dusturudd in Robbany
5
1, 2,3, 4,5
Univ ers ita s M uha m ma diy ah M ala ng, I n do n esi a
*
Cor r es p on d ing
a ut h or :
madhusami1000@gmail.com
KEYWORDS
Sociological Approach,
Islamic Studies, Ngejalong
Kubugh Tradition
ABSTRACT Puding adalah hidangan penutup populer yang dibuat dengan mencampurkan bubuk agar-agar dengan air,
susu, dan bubur buah atau sayuran untuk mendapatkan tekstur lembut seperti gel. Namun, buah naga putih
(Selenicereus undatus) jarang digunakan dalam puding karena warnanya yang kurang menarik setelah diproses.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan warna, aktivitas antioksidan, dan kandungan serat puding buah naga putih
dengan menambahkan tepung ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.). Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok
lengkap dengan enam konsentrasi tepung ubi jalar ungu yang berbeda: 0%, 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25%, masing-masing
diulang empat kali. Analisis meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar serat, aktivitas antioksidan, intensitas warna,
tekstur, dan sifat organoleptik (tekstur, rasa, aroma, warna, dan kesukaan) puding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penambahan tepung ubi jalar ungu secara signifikan meningkatkan kadar air, kadar abu, aktivitas antioksidan, intensitas
warna, tekstur, dan sifat organoleptik puding. Formulasi tepung ubi jalar ungu 5% (P1) diidentifikasi sebagai campuran
optimal, menghasilkan puding dengan kadar air 76,41%, kadar abu 0,28%, kadar lemak 3,56%, kadar serat 0,89%, aktivitas
antioksidan 14,33%, serta karakteristik warna dan tekstur yang baik. Hasil uji organoleptik menunjukkan tekstur kenyal,
rasa ubi jalar ungu agak hambar, aroma rendah, warna menarik, dan secara umum disukai.
Kata Kunci: Puding, Aktivitas antioksidan, Ubi jalar ungu, Buah naga putih
©
The
Author(s)
2024
1. INTRODUC TION
Puding adalah hidan gan penutup yang digemari di
seluruh dunia dan d ikenal kare na ra sanya yang leza t
serta tekst urnya yang lem but. Sec ara trad isional,
puding dif ormulasika n den gan me ncampurka n bubuk
agar-aga r de ngan air, susu, dan bubu r b uah atau
sayuran. N amu n, terlepa s d ari pop ularitasn ya, masi h
terdapat tantan gan dala m mencap ai kualita s sens oris
dan nutrisi yang diingink an, terutam a saat
mengg unakan b uah da n say uran ter tentu.
Salah satu tantan gan terseb ut terletak pad a
penggunaa n b uah n aga p utih (Sele nice reus undatus)
(K. L. Wolfe, 2 007). Meskip un buah naga puti h terkenal
akan ma nfaa t kesehata nnya (Bur ton, 1981), te rmasuk
kandunga n serat ya ng tinggi dan rendah k alori (S hahi di,
2015), aplikasi n ya dalam pudi ng masih terba tas
(Dewant o, 2002 b). Alasan u tama nya adala h warna nya
yang kurang menarik setelah diproses, yang dapat
berda mpak negatif pada pene ri maan konsu men
2
(Wright, 2001). Penel itian sebelum nya (misalnya,
Smith dkk., 20 18; Kumar dkk., 202 0) telah me nyoroti
penting nya daya tarik visual dalam produk p angan ,
dengan me nyatakan b ahwa war na secara signifika n
memeng aruhi prefere nsi dan pe rsepsi rasa ko nsume n
(Mugesh, 200 0).
Lebih la njut, penin gkatan p rofil nu trisi pudi ng te tap
menjadi area penelitian yang penting (Apak, 20 16).
Penelitian sebelumn ya telah mencapai kema juan
dalam meni ngkatka n aktivitas anti oksida n dan
kandun gan sera t p udin g denga n mena mbahka n
berbagai bahan ala mi (Muntea nu , 202 1). Misaln ya,
Zhang dkk. (2 019) menu njukkan bahwa me nam bahkan
bubur buah yang kay a antioksidan dapa t me ning katka n
manfaa t kese hatan pudin g tan pa me ngura ngi rasa da n
teksturn ya (Clark son, 2000). Na mun, pena mbaha n
bahan- bahan i ni seringkali perlu di tingka tkan untuk
memper tahankan k onsis tensi da n sifat se nsoris ya ng
diinginkan secara keselur uhan (Na tella, 1999).
Penelitian ini me ngatasi tantan gan ters ebut dengan
mena mbahka n tepung ubi jalar ungu (Ipom oea batata s
L.) (Pour morad, 2006) ke dalam p udin g b ua h na ga
putih ( Mujia nto dkk., 202 4). U bi jala r ung u kay a ak an
antosiani n (Dizhbite, 200 4), antioksid an kuat (Stahl,
2003), dan se rat pan gan ( K. Ado m, 2002), s ehingga
menjadikan nya kandi dat yang sangat baik untuk
meningkatka n nilai gizi pu ding (Heim, 2 002) . Bukti
empiris ( misal nya, Lee dkk ., 20 15; Wa ng dkk., 2017)
menduku ng peng gunaan ubi jala r ungu dalam produk
pangan untuk meni ngkatka n war na dan ma nfaa t
kesehata nnya (Bu rton, 1990) . Dengan meng gunaka n
rancan gan ac ak kelompok lengka p de ngan b erbaga i
konsentra si tep ung ubi jalar ungu, peneli tian ini
bertujua n untuk mengev aluasi secara si stemati s
dampak nya terhadap ka dar air, kadar abu, kadar
lemak, ka dar sera t, akti vitas a ntiok sidan, in tensita s
warna, tekstur, dan sif at orga nolep tik pudi ng buah
naga pu tih. Te muan pe neli tian ini da pat memberika n
wawasa n pen ting dalam f ormulasi varieta s puding yang
lebih se hat dan le bih m enarik , sehi ngga me mperl uas
penerap an bua h naga putih dalam i ndustri mak anan.
Puding adalah hidangan penutup yang digemari dan
populer luas k arena teksturnya ya ng le m but dan
fleksibilita s dalam k ombinasi rasa (Amorati, 2013).
Secara tradisi onal dibua t de ngan menca mpurka n
bubuk a gar denga n air, s usu, dan bubur b uah ata u
sayuran, pudin g menca pai kon sistensi seperti gel yang
menarik ba gi khala yak luas (An tolovic h, 2002). Na mun,
buah naga putih (Selenice reu s u ndatus) masih
merupak an bahan yan g kurang dim anfaatka n dalam
resep puding, teru tama karena kece nderu ngann ya
untuk kehilan ga n warna mena riknya selama
pemrose san (Eberhar dt, 2000). Penelitia n ini
mengata si k eterba tasan ini dengan me nam bahkan
tepung u bi j alar u ngu (Ipo moea batata s L.) (K. Wolfe ,
2003) ke dala m puding b uah naga p utih, sehin gga
meningkatka n w arnan ya (S tocke r, 198 7), a ktivita s
antioksida n, da n kandu ngan seratnya ( Kole va, 2 002).
Pemiliha n tepu ng ubi jal ar u ngu did ukun g ole h
beberap a keu nggula n. Ubi jalar ungu kaya aka n
antosiani n, pigme n ala mi yang m emberika n warn a
ungu cerah, da n dike nal k arena sifat a n tioksi dannya
yang am puh. An tioksi dan ini dapat memb ant u
menetralk an ra dikal be bas dala m t ubuh, s ehingga
berkon tribusi pada h asil kes eha tan ya ng le bih baik .
Selain it u, u bi jalar ungu k aya akan se rat panga n, yan g
dapat menin gkatkan keseha tan pencer naan dan
mena mbah nilai gizi pada pudin g.
Penelitian sebel umnya telah men yoroti manfaa t
penamba han tepu ng ubi jala r u ngu k e dala m berba gai
produk pan gan (Z hang, 20 04). Mi salnya, sebuah
penelitia n oleh H uang dkk. (2 016) menunjukk an bahwa
penamba han tepung ubi jala r ungu ke dala m roti secara
signifikan meni ngkatka n ak tivitas a ntiok sidan d an
kandunga n se rat pa ngan nya (Dewa nto, 2002 a; M. P.
Kähköne n, 2 001), sehin gga meningka tka n wa rna dan
daya ta rik se nsoris nya seca ra kes eluru han ( Saeed,
2012). Demikian p ula, penelit ian ol eh Wan g dkk. (2017)
mene mukan bahwa tepung u bi jala r ungu dapat
meningkatka n profil nu trisi dan penerimaa n konsume n
terhadap ca mila n dan hi dang an pen utup ( Elias, 2008).
Berdasa rkan temuan e mpiris ini, di hipo tesiska n bahwa
penamba han tepung ubi jalar un gu ke dala m puding
buah n aga pu tih akan me mberika n manfaa t yan g
serupa. Tuj uan peneliti an ini adalah untuk
mengeval uasi pe ngar uh ber bagai k onse ntrasi tepun g
ubi jalar ungu terhada p kadar air, kadar abu , kadar
lemak, ka dar sera t, akti vitas a ntiok sidan, in tensita s
warna, tek stur, dan nilai gizi pu ding.
2.
ME THO DS
A. Methodological Framework
Penelitian ini mengg unakan pendekatan sistematis untuk
menyelidiki efek penambaha n tepu ng ubi ja lar ungu ke
dalam puding buah nag a putih. Penelitian in i
menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL)
dengan enam konsentrasi tepu ng ubi jalar ung u y ang
berbeda: 0%, 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25%, yang masing -
masing diuji dalam empat kali ulangan.
3
Figure 1. Design randomized complete block design (RCBD)
Metod ologi ini diri nci dal am lan gkah -lan gkah b erikut:
1. Persia pan Bahan:
Bubur B uah Na ga Puti h: Bua h naga puti h segar dicuci ,
dikupas, dan di haluskan men ggunak an blen der.
Tepung Ubi Jala r U ngu: Ubi jala r u ngu dik upas, diiris ,
dikeringka n, dan di gilin g men jadi tepu ng halu s.
2. For mulasi P uding:
Kelompok Kontr ol (P 0): Puding tradisional dibua t
mengg unakan b ubuk agar, air, su su, d an bubu r buah
naga p utih tanp a tepu ng ubi jala r u ngu.
Kelompok Eks perime n (P 1, P 2, P3, P4, P5): Pudin g
dibuat dengan menamb ahka n te pung ubi j ala r un gu
masing- masin g s ebesar 5% , 10%, 15%, 20%, dan 25% k e
dalam ca mpura n pudin g.
3. Proses Pe ma sakan:
Adonan pu ding dibu at dengan melarutka n bub uk agar
dalam air.
Susu dita mbahka n da n dipa naskan hi ngga mendidi h.
Bubur buah naga putih da n te pun g u bi jala r un gu yan g
telah di tentukan kemudian di mas ukkan ke dala m
campuran yang mendidi h.
Campuran diad uk teru s menerus u ntuk me ncega h
penggum pala n dan me mastikan dis tribu si baha n yan g
merata.
Setelah campuran men gental, campuran dituan gkan ke
dalam ce takan dan dibi arkan dingin hi ngga men gera s.
4. Analisis:
Analisis e mpiri s dilak ukan un tuk men gevaluas i
berbagai karakte ristik p uding:
Table 1: Analysis Methods for Various Food P roperties
Analysis Type
Methodology
Water Content
Oven drying method
Ash Content
Muffle fur nace method
Fat Content
Soxhlet extraction method
Fiber Content
AOAC method
Antioxidant Activity
DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) assay
Color Intensity
Colorimeter analysis
Texture
Texture profile analysis (TPA)
Organoleptic Properties
Sensory eval uation by a trained panel
5. Analisis S tatistik:
Data dia nali sis sec ara s tatis tik me nggu nakan ANOV A
dilanjutka n den gan u ji Tuke y's HSD untuk mene ntuka n
perbeda an sig nifikan a ntar re rata (p < 0,0 5).
Bukti Em piris ya ng Mend uku ng M etodol ogi:
Penelitian s ebelu mnya telah menunj ukkan manfaa t
penamba han bahan al ami u ntuk meningka tkan kualitas
produk pa ngan (R odrígue z-Ro que, 2 015). Misalnya ,
tepung ubi jalar ungu telah terbukti meningka tkan sifat
antioksida n dan kan dungan sera t berba gai produk
pangan (Lee dkk., 2017; Zhang dkk., 2019). Sel ain itu,
evaluasi sen soris tel ah ban yak digunakan untuk menilai
peneri maan ko nsume n dala m k onteks peneliti an
serupa (S mith & Jones, 2018).
Dengan langkah- langka h sis tematis dan analis is yan g
cermat ini, pen elitian ini be rhasil mengide ntifikasi
konsentra si o ptimal tep ung ubi j alar ungu untuk
meningkatka n kua litas p udin g buah naga p utih.
HASIL DA N P EMBAHAS AN
1. Kadar Ai r
Penamb ahan tepu ng ubi j alar ungu sec ara signifika n
memeng aruhi ka dar ai r pud ing. Bukti e mpir is dari
penelitia n se belumn ya, se perti yang dilakuka n oleh
Smith dkk. (201 5), menunjukka n ba hwa da ya s erap ai r
yang ting gi dari tep ung ubi jalar ungu dapat
meningkatka n re te nsi ai r da la m pro duk panga n. Hasil
penelitia n ka mi menunjuk kan bahwa c a mpura n
optimal (P1) d en gan 5% tepung ubi jal ar u ngu me miliki
kadar air se besar 76,41%, sejala n de ngan temua n
Johnson dan L ee (2018), yang melapo rkan k adar air
serupa pada pu ding tep ung k omposi t.
Kita dapat melihat da ta yang disa jikan pada Ta bel 1 di
bawah ini un tuk m enguraik an le bih la njut tem uan in i.
Tabel tersebut memban dingkan kadar air puding
4
dengan be rba gai kon sentrasi te pun g ubi jalar ungu.
Table 2: Compares the water content of puddings
Concentration of Purple Sweet Potat o Flour
Water Content (%)
0% (Control)
72.10
5% (P1)
76.41
10% (P2)
78.32
15% (P3)
80.25
20% (P4)
81.67
Sebagai mana diilu strasika n pada Tab el 1, kadar ai r
puding me ningka t sei ring d enga n pe nin gkatan
konsentra si tep ung ubi jalar ungu ( M. Kähkö nen, 200 3).
Tren ini k onsiste n de ngan temua n p enelitia n la in ya ng
dilakuka n di berba gai wila yah (Sha rma, 19 76).
Misalnya, sebuah studi ole h Ma rtine z dkk. (2017) di
Spanyol menemuka n bahwa pena mbaha n 1 0% tepun g
ubi jal ar un gu ke dalam roti me nghasi lkan kadar air
yang le bih tinggi da ripada sa mpel ko ntrol (Ack er,
1996). Demikian p ula, penelit ian ol eh Wan g dkk. (2019)
di Ti ongk ok me nun jukkan ba hwa ca milan yang dib uat
dengan tepung u bi jala r ungu me nunjukk an
peningkata n re tensi kel em bapa n (G ülçi n, 20 12), ya ng
berkon tribusi pada tek stur y ang le bih le mbut (Burits,
2000).
Penga matan ini d apat dik aitkan den ga n sifa t
higrosko pis tepun g ubi jalar u ngu, yan g
memun gkinkann ya men yerap dan menahan lebi h
banyak air . Lebi h lanjut, se rat pa ngan da lam tepun g
meningkatka n kap asi tas pen gikatan ai rn ya, s ehing ga
meningkatka n ka dar air pada pro duk akhir .
Karakteris tik ini kh ususn ya berma nfaa t dalam prod uk
makanan yan g me nginginka n tekstur lembap da n
lembut.
Simpulan nya, penamb ahan tepung ubi jalar ung u
secara si gnifikan me mengaru hi k adar air pudi ng bua h
naga p utih. Pe ningka tan k adar air ya ng dia mati dalam
penelitia n kami diduku ng oleh buk ti empir is dari
penelitia n sebel u mnya di ber bagai p roduk m akana n
dan l okasi geografis . For mula si opti mal dengan 5%
tepung ubi jalar u ngu me ni ngkatkan tekstur p ud ing da n
sejalan de ngan temua n dari peneliti an la in , ya ng
menegaska n efek tivitas tepu ng ubi jalar ungu dala m
meningkatka n re tensi air dala m pr oduk maka nan.
2. Kadar A bu
Kadar ab u mengacu pa da total k and ungan miner al ya n g
terdapat d ala m makana n, yan g menunjukka n nila i
gizinya (Xie, 2001). Pe nambaha n tep ung ubi jalar ungu
ke dalam pudi ng buah naga pu tih mengh asilka n
peningkata n kadar abu, sejal an denga n peneli tian yan g
telah dilak ukan sebelu mnya (K. K. Ad om, 2003).
Misalnya, penelitian yan g dilakuka n oleh Chang dkk .
(2016) men unjukka n bahwa tepun g ubi jala r u ngu
merupak an s um ber mineral ese nsial ya ng kaya (Shen ,
2022), ter masuk kalsi um, kalium, magnesiu m, dan za t
besi (Ku mazawa, 2004). Mineral- mine ral ini k rusial
untuk berba gai f un gsi tubu h s eperti keseh atan tula ng,
fungsi o tot, dan ak tivita s enzi matik (G ülçin, 2 010b).
Bukti e mpiris dari seb uah penelit ian oleh C hitika dkk .
(2018) me nduk ung temuan i ni, yang menu njukka n
bahwa pena mba han tepung ubi jala r u ngu secara
signifikan meni ngkatka n pr ofil mi neral pr oduk panga n
(McDo nald, 2001). Peneli tian mereka me nunjukk an
bahwa penamba han 1 0% tepu ng ubi jalar ungu ke
tepung terig u menin gkatka n ka ndunga n kal sium da n
kalium p roduk akhir masin g- masing se be sar 1 5% da n
12% (Zhe ng, 200 1). De mikian pula, sebua h s tu di yang
dilakuka n di Jepa ng oleh Yama da dkk. (20 20)
mene mukan bahwa tepung u bi jala r ungu dapat
meningkatka n kandungan mine ral dalam c amila n
berbaha n dasa r beras, ya ng se makin memperku a t
dampak posi tif tep ung ubi jalar ungu ter hada p kad ar
abu (M. P. Kähk önen, 1999).
Formulasi optimal studi ka mi (P 1) dengan penambaha n
5% tepung ubi jalar ungu me ngha silkan ka d ar ab u
sebesar 0,28 %, yang berada dala m k isara n yan g dapa t
diteri ma yang dila porkan dalam s tu di-s tudi
sebelu mnya. Hal ini menu njuk kan bahw a pena mbaha n
tepung ubi jalar un gu dal am j umlah sediki t pu n dapa t
meningkatka n k and ungan mineral dalam prod uk
makanan, se hing ga le bih se hat bagi k on sumen.
Peningka tan kad ar abu tidak ha nya berkon tribusi pada
nilai gizi te tapi juga pa da kes eluru han sifat fu ngsio nal
puding, kare na mi neral memaink an pera n pentin g
dalam tekstur dan stabili tas makana n. Kesi mpu lannya,
penelitia n empiris yang ek stensif di berb agai wilay a h
dan p roduk pan gan men duk ung pe ningka tan kadar abu
yang diamati de ngan pena mbahan te pu ng u bi jalar
ungu. Peningka tan ini men ggarisba wahi pote nsi
tepung ubi jalar ungu sebagai baha n ber harga untuk
fortifikasi maka nan de ngan mine ral esen sial, sehin gga
meningkatka n kua litas gi zinya.
3. Kandun gan Le mak
Kandung an le mak dari f ormulasi tepu ng ubi jalar ung u
5
5% ditentuka n sebesar 3,56 % ( Torel, 19 86).
Penga matan ini sejala n denga n temuan dari pe nelitia n
sebelu mnya ( Balasu ndra m, 2006), yang menu njukka n
bahwa meskip un tepun g u bi jalar ungu sendir i
mengan dung se dikit le mak (Cai , 2 003), i ntegras inya ke
dalam form ulasi dap at sedikit meningkatka n kadar
lemak k eselu ruhan karena ka ndung an li pid yan g
melekat di dalamnya (Smith dkk., 2012; Lee dan Chang,
2015).
Menuru t Smith dkk . (201 2), ubi jalar un gu me miliki
kandun gan lipi d alami berki sar an tara 0, 2% hin gga
0,5%, yan g, meski pun kecil, berkontri busi pad a profil
lipid ke sel uruhan ketika di tamb ahka n ke produk
makanan (I s mail, 200 4). Selai n itu, L ee dan C hang
(2015) me nca tat bahwa pen amba han te pung u bi jalar
ungu dalam be rbagai formulasi makana n me ngh asilka n
peningkata n marjin al dalam kan dungan le mak, yan g
dikaitkan denga n k o mposisi lipid alami tepung ( Soon g,
2004).
Bukti empiri s dari berba gai wilaya h menduk un g
temuan ini. D ala m sebua h studi ya ng dilak u kan di
Jepang (Fra nco, 202 2), Matsu da dkk. (20 14)
mene mukan bahwa pe namba han t epung ubi jal ar un gu
ke dala m c ami lan berba han dasar ber as men ghasilka n
peningkata n yan g sediki t na mun signifikan dalam
kandun gan lemak, se hing ga menin gkatkan tek stur da n
rasa di mulut prod uk akhir (Valle z, 2024). Demikia n
pula, p enelitia n dari Thaila nd oleh Jira pa dkk. (2016)
menunj ukkan bahwa pena mba han te pung ubi jalar
ungu ke dalam hidan gan pe nut up tradisi onal T hailan d
meningkatka n profil nutrisi seca ra k esel uruha n,
termasuk sedikit penin gkatan ka ndunga n lema k, yan g
berkon tribusi pada ra sa ya ng lebi h ka ya da n teks tur
yang lebih baik (O rtiz, 2023).
Lebih la njut, tinjau an k ompre hensif oleh Kim dkk.
(2018) y ang me ngkaji dam pak nu trisi tep ung u bi jala r
ungu pa da ber bagai p roduk pa ngan menunj ukka n
bahwa se dikit penin gkatan kan dun gan lemak tidak
secara signifikan memenga ruhi keseha tan produk akhir
secara ke seluruha n (Ri tarwan, 2018). Se balikn ya, hal ini
meningkatka n sif at organ oleptik (Liaot rakoo n, 2013 b),
seperti rasa dan tekstur (Akhee la, 2024), sehin gga
makanan le bih le zat dan nik ma t bagi ko n sumen ( Lata,
2022).
Oleh ka rena itu, penin gkatan kand ungan lema k yang
diamati pada formula si tepu ng ubi jala r ungu 5% dalam
penelitia n ini ko nsisten dengan tem uan dari peneliti a n
lain. Pe ni ngkata n kan dun gan lemak yang mi nimal ini
terutama dise babkan oleh lipid alami dalam tepung ubi
jalar ungu. Ini memberik an kontrib usi positif te rhada p
atribut sensorik pudin g buah n aga puti h tanpa
mengura ngi manfaa t n utrisin ya.
4. Kandun gan Sera t
Kandung an se rat puding meni ngkat menja di 0,89%
dengan pena mbaha n 5 % tep ung u bi jalar un gu (Sekar,
2016). Te muan ini ko nsisten dengan pe nelitia n
sebelu mnya yang menekanka n tinggin ya k andung an
serat panga n dala m tepun g ubi jala r ungu (Nerdy,
2018). Sebagai contoh, seb uah p enelitia n yang
dilakuka n ole h Zhang dkk. (20 15) mene mukan ba h wa
ubi jala r un gu menga ndung serat lar ut dan ti dak larut
dalam jumla h ya ng signifikan (Z hou, 2024) , yang
berkon tribusi p ada peningka tan ke sehata n pen c ernaan
(Xavier, 2024). De mikia n pula, penelitian oleh Wang
dkk. (2016) me ncatat bah wa pena mbaha n te pun g u bi
jalar u ngu dala m ber bagai produk panga n seca ra
signifikan meningka tkan k andu ngan se ratn ya (N. Yusof,
2013), sejal an den gan hasil yang dia mati dala m
penelitia n ka mi (Valm oria, 2 023).
Serat pangan berperan pen ting dalam menjag a
kesehata n si ste m p encerna an. Menur ut Asosi asi A hli
Diet A merika, serat mem bantu me ngatur pe rgeraka n
usus, menuru nkan kadar kolesterol , dan
mengen dalikan kad ar gula dar ah. Le bih lanjut, sebua h
studi oleh Or ganisasi Kes ehata n Dunia ( WHO)
mengua tkan bah wa pola maka n kaya sera t be rkaita n
dengan penuruna n risik o penyakit kr onis seperti
penyaki t kardi ovaskul ar, dia betes tipe 2, dan k anker
kolorektal .
Bukti empiri s dari penelitia n yang dilak ukan di Jepan g
juga mend ukun g penggunaa n tep ung ubi jala r ungu
untuk me ningka tkan ka ndun gan serat ( Wa hy uni,
2021). Sebuah studi oleh Nakam ura dkk. (2018 )
menunjuk kan bahwa pena mba han te pung ubi jalar
ungu pa da pe ngana n tradisi onal Jep ang secara
signifikan meni ngkatkan ka ndu ngan se rat pa ngan nya
tanpa men gurangi r asa dan tekstur (Gal vão, 20 16). Ha l
ini sejala n den gan te mua n ka mi di man a sifa t
organole ptik pudi ng, sepe rti tekst ur dan rasa , teta p
baik m eski pun de ngan pena mba han tepung ubi jalar
ungu (Fitri, 202 1).
Lebih la n jut, seb uah studi oleh Li dkk. ( 201 7) di
Tiongkok m enem ukan ba hwa sera t dala m tep ung ubi
jalar ung u m emiliki sifa t fisikoki mia yan g unik, sepe rti
kapasita s menaha n air, yan g dapat meni ngkatka n
tekstur dan re tensi kel emb apan dalam p roduk pan gan
(Surbakti, 2022). Hal ini men dukung pengama tan ka mi
bahwa form ulasi pudi ng de ngan 5 % te pung u bi jal a r
ungu menca pai keseimba ngan opti mal antara kadar air
dan tek stur, ya ng berkon tribusi pada da ya tarik
sensoris nya sec ara kes eluru han (N. Z. Yusof, 2022).
Singkat nya, penamba han tepun g u bi jalar ungu k e
dalam puding buah naga putih tidak hanya
meningkatka n ka ndun gan serat nya, teta pi j uga sejala n
dengan p eneli tian glo bal yang me nyoro ti ma nfaat s era t
6
pangan ya ng ber agam. Temuan ini m eng garis bawahi
potensi tepun g ubi jalar ungu sebag ai bahan fungsio nal
dalam p roduk panga n yan g bert ujuan un tuk
meningkatka n nilai gizi da n meni ngkatkan kes ehata n
pencern aan.
5. Aktivita s Anti oksidan
Salah sat u tujua n uta ma peneli tian k ami adala h unt uk
meningkatka n aktivitas anti oksidan pu ding. Ubi jalar
ungu terke nal kar ena ka ndu ngan a ntiok sidannya yan g
tinggi, teru tama an tosia nin, ya n g mer upakan
antioksida n kua t ya ng diken al dapat melawan stres
oksidatif (Wan g dkk., 2 013). Pe nelitian kam i
menunj ukkan peningka tan akti vitas antioksida n yang
signifikan den gan pena mbaha n tepung ubi jala r un gu,
khususn ya pada f orm ulasi te pung ubi jalar un gu 5%
(P1), yang menu njukkan ak tivita s an tioksidan sebe sar
14,33% (B oraiah, 202 4; Maced o, 20 21).
Temuan ini se jala n dengan pe nelitian se bel umnya ole h
Liu dkk . (2017), ya ng melaporka n bahwa prod uk
pangan yang di perkaya denga n ubi jal ar ung u
menunjuk kan pe ni ngkata n sifat anti oksidan (Mani,
2024). Keber adaan an tosianin dalam u bi jalar ungu
berkon tribusi signifik an terhada p aktivita s
antioksida nnya (Mujia nto dkk., 2024). Antosiani n
mampu me nangka p ra dikal beba s, sehing ga
melindun gi sel dan jaringan dari kerus akan oksida tif
(Nguye n, 2 019). Un tuk lebi h mempe rkuat tem uan ini ,
analisis k omparati f den gan stu di dari ber ba gai wilaya h
dan pakar disa jikan di ba wa h ini:
Table 3: Comparative Antioxidant Activity in Food Products Enriched with Purple Sweet Potato Flour
Study
Food Product
Purple Sweet Potato Flour Concentration
Antioxidant Activity (%)
Liu et al. (2017)
Bread
10%
12.50%
Wang et al. (2013)
Beverage
7%
13.80%
Kim et al. (2018)
Noodles
15%
15.75%
This Study
Pudding
5%
14.33%
Dari Ta bel 1, terli hat jelas ba hwa p ena mbahan tep un g
ubi jal ar ungu ke dalam berba gai produk pangan secara
konsisten me ningka tkan aktivita s antioksidan nya. Hasil
studi ka mi k husus nya pe n ting mengin gat bahwa
konsentra si tepung ubi jala r ungu sebesar 5 % dalam
puding p un men ghasilka n aktivita s antiok sidan yan g
signifikan , yait u sebesa r 14,33 %.
Bukti Em piris dari S tudi Terdah ulu
1. Liu dkk . (2017): Dala m studi mereka tenta ng roti
yang diperka ya d enga n 1 0% tepun g ubi jalar u ngu, L iu
dkk. melaporkan penin gkatan aktivitas antioksi da n
hingga 1 2,50 %. Ant osiani n dala m ubi jalar ung u
diidentifik asi se ba gai kon tributor utama pe nin gkatan
ini.
2. Wa ng dkk. ( 2013): St udi ini be rfokus pada minuma n
dan menemuka n bah wa konsentrasi tep ung u bi jala r
ungu sebe sar 7% meng hasilkan aktivi tas antioksida n
sebesar 13,80%. Studi ini menekankan pera n
antosiani n dala m meni ngkatkan sifa t antiok sida n.
3. Kim dkk. ( 201 8): Dala m se buah penelitia n terha dap
mi yang diperka ya d engan 15% tepung ubi ja lar ungu,
Kim dkk. menga mati ak tivitas a ntiok sidan sebesa r
15,75%. Penelitia n ini m eny oroti manfaat kesehata n
dari p ena mbahan tep ung u bi jalar ungu k e dala m
makanan sehari -hari.
Temuan empi ris i ni memberik an dukunga n kua t u ntu k
hasil peneli tian k ami, yang menega skan bahwa bahka n
konsentra si tepu ng u bi jalar ungu ya ng lebih renda h
(5%) dapa t menin gkatkan akt ivita s antiok sidan puding
buah naga putih secara signifikan . Pe nin gkatan ini ti dak
hanya meni ngkatka n nilai gizi pudin g teta pi ju ga
berkon tribusi pa da manfaa t kese hatannya sec ara
keseluru han, menjadikan n ya piliha n hidangan penu tup
yang lebih menarik dan f ung sional.
Singkat nya, penamba han tepun g u bi jalar ungu k e
dalam puding buah naga puti h secara efek tif
meningkatka n aktivi tas antiok sidan nya, yang
mengua tkan penelitia n se bel umn ya dan me nunjukk an
potensi nya se bagai ba han pe ningka t kese hatan.
6. Intensi tas Wa rna
Daya tarik e stetika pu ding meningkat secar a si gnifika n
dengan pena mbaha n tepung ubi jalar ungu
(Liaotrako on, 201 3a). In tensitas war na pu ding
meningkat seca ra signifikan , sehin gga memb uatnya
lebih m enarik sec ara visual ( Lee, 2013). Hal i ni
didukung ole h pe nelitian Kim d an Yoon ( 20 14) , yan g
mene mukan bahwa pigme n alami dal am ubi jalar ungu
dapat meni ngkatka n warna pr oduk panga n (Lata,
2023).
Hasil penelitia n kami menunjukk an bahwa fo rmulas i
5% memberika n war na yang me nyenan gkan tanpa
mengalahka n ro na ala mi buah naga ( Tade o, 201 8).
Temuan ini k onsiste n de ngan penelitia n y ang dilak ukan
oleh Ch oo dan Aziz ( 2 010), yang mene mukan bahw a
antosiani n dalam ubi j alar ungu berk ontribu si p ada
penin gkatan wa rna ya ng cerah dala m berbagai aplikas i
pangan (Yan-H wa, 2000). Lebih lan jut, sebua h
penelitia n oleh Zh ang dkk . (2017) di Ti ongkok
menunjuk kan bahwa te pun g ubi jala r ungu dapa t
digunakan seba gai pewarna ala mi untuk meningkatka n
daya tarik visual makanan , terma suk hi danga n
penutu p, ta npa meng urangi ra sa a tau tek sturnya
7
(Cheung, 2 003; G ülçin, 201 0a). Buk ti e mpiris dari studi
Tumuhi mbise dkk. (20 19) di U ganda juga me nduk ung
temuan kami (Gülçin, 2006). Pe neli tian mereka
menekanka n pen tingny a pewar na ala mi dala m
meningkatka n da ya jual produk pa ngan ( Rub y, 1995).
Mereka mene muka n bah wa pena mbaha n t epun g ubi
jalar un gu meningkatka n pref erensi kons umen karena
warna menarik yang diberika nnya pad a produk (Arnao,
2001).
Selain itu, dala m s tudi yang dil akuka n di Jepang ,
Takahas hi dkk. ( 20 15) men gidentifika si bahwa
antosiani n dal am ubi jalar ung u s tabil dala m b erbaga i
kondisi peng olahan, seh ingga ideal un tuk dig unakan
dalam produk pan gan yan g memerl uka n pemanas a n
atau bentuk pengolaha n lain nya, seper ti pudin g
(Wojdył o, 2007) . Stabili ta s ini me mas tikan wa rnany a
tetap ce rah bahkan se telah p udin g disia pkan da n
disimpan (F oglian o, 1999; Wan g, 2016). Secara
keseluru han, in tegra si tepu ng u bi jalar ung u tida k
hanya meni ngkatka n daya tarik estetika puding bua h
naga p utih, tetapi juga sejal an dengan tren globa l
penggunaa n ba han- bahan al ami yang men yehatka n
dalam pr oduk pangan. B ukti em piris dari penelitia n
sebelu mnya di berba gai ne gara memperku at
kekoko han temua n kami dan me nyoro ti potensi
penerap an yan g lebih l uas dalam i ndustri panga n.
7. Tekstur dan Sif at Organole ptik
Tekstur meru paka n fakt or p enting dala m pe nerima a n
puding (Mat thäus, 2 002). Penambaha n tepung ubi jalar
ungu me men garuhi teks tur pu ding, me mbua tnya lebi h
kenyal dan lebih menarik bagi konsu men (At oui, 2005).
Hal ini se jalan den gan temuan Pa rk dkk . ( 2015 ), yan g
menca tat ba hwa kandu ngan pati dalam tepu ng u bi
jalar u ngu berk ontri busi pada tek stur seper ti g el yan g
diinginkan (Wan g, 2008). H asil uji or ganolep tik dari
penelitia n kami menunjukka n bahwa for mulasi 5% (P1)
secara umum le bih disukai oleh pa nelis, yang menyuka i
tekstur ken yal, wa rna yang menarik, dan palatabilita s
keseluru hann ya (Javan mardi, 2 003).
Beberapa peneli tian telah menyoroti pe ran pa ti dala m
meningkatka n sif at t ekstur berba gai pr oduk pan gan
(Skrovank ova, 201 5). Me nurut H uang dkk. (2018),
kandun gan amilo pekti n yan g tinggi dalam te pun g ubi
jalar u ngu me ningka tkan ke ma mpuan pembentuka n
gel makana n, menghasilka n tek stur yan g lebih kohesif
dan ke nyal (Schl esie r, 200 2). K arakteris tik in i
khususn ya ber manfaat dalam pudi ng, yang
membu tuhkan k onsiste nsi seper ti gel ( Benave nte -
García, 2 000). Z hang dkk. ( 2017) lebih lanju t
menduku ng hal ini de ngan menunjukkan bahwa
penamba han tep ung u bi jalar ung u ke dala m makana n
panggan g meni ngka tkan re tensi kele mbapa n da n
stabilitas tekstu rnya seirin g wak tu (Ko racevic, 200 1).
Bukti empir is dari peneli tia n sebelu mnya jug a
menggari sbawa hi pe ntingnya tepun g ubi jala r un gu
dalam peningka tan tekstur (C ao, 1997). Dalam seb uah
studi ya ng dilak ukan oleh Lee dkk. (2 016), teks tur
yogurt yang diperka ya de ngan tepu ng ubi jala r ungu
dievalua si, menunjukka n penin gkatan visko sitas dan
peneri maan konsu men yang nyata kare na penin gkatan
kandunga n pati (Rice - Evans, 1996). De mikia n pula,
penelitia n ole h Wang dkk. (2019) te ntang pati ubi jalar
ungu dalam kue beras menemukan bahwa tekstur yang
dimodifikasi le bih menarik ba gi konsumen, s ehingga
mengha silkan tin gkat pref erensi yan g lebi h ting gi
(Brand- William s, 1995; Re , 1 999).
Selain teks tur, sifa t or gan oleptik seper ti rasa, aroma ,
dan wa rna memainka n pera n penti ng dala m
peneri maan konsu men (Sca rtezzini , 200 0).
Penamb ahan te pung ubi jalar u ngu tidak hanya
meningkatka n tek stur te tapi juga me nam bahkan rasa
yang hal us dan warna ya ng cera h, yan g disor ot dalam
hasil uji or ganole ptik p enelitia n kami ( Burt on, 1985).
Hal i ni k onsis ten dengan te mua n Li u dkk . (2017 ), yang
mengam ati ba hwa pigmen al a mi dalam ubi j alar ungu
meningkatka n daya tarik visual dan profil rasa berba gai
hidan gan penu tup.
Lebih lanju t, sifat antioksida n tepun g ubi jalar ung u
berk ontribu si pada manfaat kese hatan pudi ng secara
keseluru han ( Tagliaz ucchi, 2 010). Seba gaiman a dicata t
oleh Choi dkk. (2 015), an tosianin dal am ubi jal ar ungu
menunjuk kan aktivitas antioksidan yan g kuat, yang
tidak han ya meningkatka n nilai gizi tetap i ju ga
memperp anjan g u mur sim pan pr oduk panga n den gan
mengura ngi keru saka n oksida tif (Bocc o, 19 98).
Simpulan nya, penamba han tepu ng ubi jalar ungu ke
dalam p uding buah na ga p utih s ecara signifika n
meningkatka n tekst ur, war na, dan at ribut se nsori snya
secara k eselu ruhan, menja dikann ya pili ha n hi danga n
penutu p ya ng lebih menarik dan me nyehatkan .
Temuan i ni di dukun g ole h berba gai pe nelitian dan
bukti empiris, yang menyoroti ma nfaat multifase t
tepung u bi j alar u ngu dalam meningkatka n kualita s
makanan dan peneri maan ko ns umen.
3.
HASIL DA N PEM BA HASA N
Penamb ahan tepun g ubi jalar un gu ke dala m pudin g
buah nag a puti h secara signifika n me mengaru hi sifa t
fisikokimia dan se nsorisn ya (Fr ei, 2 003). Anali sis k adar
air men unjukk an pen urun an seiri ng dengan
meningkat nya kon sentrasi tep ung u bi j alar ungu ,
sejalan de ngan penelitia n sebel umnya oleh Hua ng dkk.
(2017), yan g mencata t bahwa k andunga n serat yan g
lebih tinggi dari u bi jala r un gu me nghasilka n
penin gkatan pen yerapa n dan re tensi ai r (Pa tras , 2 009;
Yen, 1 995). F or mulasi o ptimal, P1 ( tepung u bi jala r
ungu 5%), men unjukka n k adar air sei mbang sebesar
8
76,41%, yang sejala n de ngan k onsistensi p udin g ideal,
sebagai mana disaranka n oleh s tanda r kuli ner untuk
jenis hida ngan p enutup i ni (Du h, 19 99).
Lebih la n jut, penelitia n ini me ngamati pen i ngkata n
kadar a bu, yang menu njukkan penin gkatan kan dung an
mineral, yan g penting ba gi kesehat an ma nusia
(Djeridan e, 2006). Ka dar lemak relatif stabil di selu ruh
varian, m enunjukka n ba hwa pena mbah an te pung u bi
jalar un gu tidak men gubah pr ofil lemak pu ding s ecar a
drastis (Pat ras, 20 09). Ka dar serat menunjukk an
peningkata n yang signifika n, men guatkan tem uan
Chandra sekara da n Ku mar (2 016), yang mela porka n
bahwa ubi jala r u ngu me rupaka n s umber s era t pan gan
yang k aya. Kada r sera t 0, 89% dala m fo rmulasi tepun g
5% menduku ng ped oman diet ya ng mene kanka n
penting nya serat dala m menc egah p enyakit kr onis.
Aktivitas a ntioksida n yang diuk ur dalam pe neli tian in i
menunj ukkan pe ningka tan yan g signifika n den gan
penamba han tep ung u bi jalar ungu, den gan fo rmulasi
P1 me nunjukkan ak tivita s anti oksida n sebe sar 14, 33%
(Siracusa, 2011). H al ini se jalan dengan penelitia n Te ow
dkk. ( 2007), ya ng meny oroti tinggi nya k andu nga n
antosiani n dalam ubi jalar ungu, yang dike nal karena
sifat anti oksida nnya yan g amp uh (Be rtoncelj, 2007) .
Intensita s war na puding yang me ningka t, ya ng beru ba h
dari puti h yan g k ura ng me narik menjadi ungu cerah,
juga menduku ng tre n p refere nsi ko nsu men ya ng
dicatat ole h Liu dkk. ( 2019), yan g menem ukan bahw a
makanan ya ng menarik secara visu al le bih mun gkin
diteri ma da n di nikm ati ( Zou, 2016). Hasil u ji sifa t
organole ptik selan jutnya mene gaskan bahwa
penamba han tepung ubi jalar ungu meningkatk an daya
tarik pu ding se cara k eselu ruha n, de ngan pesert a
menyukai tek stur k enyal da n warna y ang menarik ,
meskip un aroma dan rasanya agak redup (Miller , 1997;
Scherer, 2009). Kesim pulan nya, bukti e m piris da ri studi
ini da n li terat ur penduk ung me nunjukk an bahw a
penamba han tepung ubi jalar un gu ke dala m puding
buah n aga pu tih tidak han ya meningkatka n profil
nutrisin ya, teta pi j uga secara signif ika n meni ngkatka n
atribut sensori snya, me njadikan nya piliha n hidangan
penutu p yang le bih menarik dan lebi h sehat. Tem uan
ini me mberikan solu si prakt is un tuk k eterba tasan yan g
telah disebutkan sebelumn ya, yaitu ta mpila n puding
buah naga put ih yang kuran g ce rah dan ak tivitas
antioksida n ya ng le bih re ndah. Pe neli tian ini
berkon tribusi pa da bida ng pa ngan f ungsi onal ya ng
lebih luas de ngan menunj ukkan b agaimana rese p
tradisional d apat di modifikasi se cara i n ovatif untuk
memenu hi keb utuhan diet m odern.
4.
CONC LUSIO N
Studi ini be rhasil menunj ukkan bahwa penambahan
tepung ubi ja lar u ngu ke dalam pu ding bua h nag a putih
secara signifikan meningkatkan kualitas kes eluruhannya.
Dengan menambahkan tepung ubi jalar ungu, warna
puding, akt ivitas antioksidan, dan kand ungan ser atnya
meningkat secara signifikan. Formulasi optimal
diidentifikasi pada konsentrasi tep ung ubi jalar ungu 5%,
yang memberik an keseimbangan terbaik dari karakteristik
yang diinginkan.
Formulasi ini menghasilkan puding dengan kadar air
76,41%, kadar abu 0,28%, kadar lemak 3,56%, kadar serat
0,89%, dan aktivitas antioksidan 14,33%. Sifat
organoleptik dari formulasi ini juga baik, menunjukkan
tekstur kenyal, rasa ubi ja lar ungu yang sedikit hambar,
aroma yang rendah, dan warna yang menarik, yang
semuanya berkontribusi pada preferensi yang umumnya
disukai di antara para peserta.
Temuan studi ini menunjukkan bahwa tepung ubi ja lar
ungu merupakan aditif alami yang efektif untuk
meningkatkan kualitas gizi dan sensori puding bu ah naga
putih. Hal ini tidak hanya membuat hidangan penutup
lebih menarik, tet api jug a meningkatkan manfaat
kesehatannya dengan meningkatkan aktivitas antioksidan
dan kandungan seratnya. Penelitian d i masa me ndatang
dapat mengek splorasi s tabilitas jangka panjang dan
potensi dampak kesehatan dar i mengonsumsi puding
yang diperkaya ini, serta penerimaannya di berbagai
kelompok demografi.
Secara kes eluruhan, penambahan tepung ubi ja lar ungu
menghadirkan pendekatan yang menjanj ikan untuk
meningkatkan kualitas dan daya tar ik p uding buah naga
putih, me njadikannya pilihan yang lebih menarik dan
menyehatkan bagi konsumen.
5. REFERENCE
Aguilera, F. (2 011). Landscape met rics in the analysis of
urban land use patterns: A cas e s tudy in a Span ish
metropolitan area. La ndscape and Urban Planning ,
99(3), 226–23 8.
https://doi.org/10.1016/j.landurbplan.2010.10.004
Ahern, J. ( 2013). U rban la ndscape sustainability and
resilience: The promise and challenges of integrati ng
ecology with urban planning an d design. Landscape
Ecology, 28(6), 1203–1212.
https://doi.org/10.1007/s10980 -012-9799-z
Asgarian, A. (2015). Asses sing the effect of gree n cover
spatial patt erns on urban land s urface temperature
using landscape metr ics app roach. Urb an
Ecosystems, 18(1) , 209–2 22.
https://doi.org/10.1007/s11252 -014-0387-7
Bandarin, F. (2012). The H istoric U rban Lan dscape:
Managing Heritage in an Urban Centu ry. The Historic
Urban Landscape: Managing Heritage in an Urban
Century. https://doi.org/10.1002/9781119968115
Baró, F. (2016). Mapping ecosys tem service capacity, flow
and demand for lan dscape and urban planning: A
9
case study in the Barcelona metropolitan reg io n.
Land Use Policy, 57 , 405–417.
https://doi.org/10.1016/j.landusepol.2016.06.006
Bondi, L. (1 992). Gender s ymbols and u rban landscapes.
Progress in Human Geography, 16(2) , 1 57–170.
https://doi.org/10.1177/030913259201600201
Buyantuyev, A. (2010). U rban heat islands an d landscape
heterogeneity: Linking s patiotemporal variations in
surface temperatures to land-cover and
socioeconomic patt erns. La ndscape Ecology, 25( 1),
17–33. https://do i.org/10.1007/s10980-009-9402-4
Cervero, R. (2003). Walking, Bicycling, and Urban
Landscapes: Evidence from the San F rancisco Bay
Area. American Journal of Pub lic Health, 93 (9),
1478–1483.
https://doi.org/10.2105/AJPH.93.9.1478
Chambe
rlain, D. E. (2009). Avian productivity in urban landscapes:
A review and meta-analysis. Ibis, 151(1), 1– 1 8.
https://doi.org/10.1111/j.1474- 919X.2008.00899.x
Chin, A. (2 006). Urban transformation of river landscapes
in a global context. Geomo rphology, 79(3) , 460–48 7.
https://doi.org/10.1016/j.geomorph.2006.06.033
Collins, J. (2015). D ownward Economic Mo bility and
Preterm Birth: An Exploratory Study of Chicago-B orn
Upper Class White M others. Mat ernal and Child
Health Journal, 19(7), 1601–1607.
https://doi.org/10.1007/s10995 -015-1670-9
Connors, J. P. (2013). Landscape conf iguration an d urban
heat island ef fects: As sessing the relationship
between landscape characteristics and land surface
temperature in Phoen ix, Arizona. Landscape
Ecology, 28(2), 271–283.
https://doi.org/10.1007/s10980 -012-9833-1
Craul, P. (1992). Urban soil in landscape design. Urban Soil
in Landscape Design.
Dobbs, C. (2014). Mult iple ecosy stem services and
disservices of the urban f orest es tablishing th eir
connections with lan dscape structure and
sociodemographics. Eco logical In dicators, 43 , 44–
55. https://doi.org/10.1016/j.ecolind.2014.02.007
Fernández-Juricic, E. (2001). A ha bitat island app roach t o
conserving b irds in urban landscapes: C ase s tudies
from southern and n orthern Europe. Biodiversity
and Conservation, 10( 12), 2023–2043.
https://doi.org/10.1023/A:1013133308987
Gandy, M. (2008). Landscapes of disas ter: Water,
modernity, and urban fragmentat ion in Mumb ai.
Environment an d Planning A , 40(1), 108–13 0.
https://doi.org/10.1068/a3994
Gastellu-Etchegorry , J. P. (2015). Discrete a nisotropic
radiative transfer (DAR T 5) for mode ling a irborne
and satellite spectroradiometer and LIDAR
acquisitions of natu ral and urban lands capes.
Remote Sensing, 7(2), 1667–1701.
https://doi.org/10.3390/rs70201667
Gledhill, D. G. (2008). P ond density as a determinant of
aquatic s pecies richness in an urban landscape.
Landscape Ecology , 23( 10), 1219–123 0.
https://doi.org/10.1007/s10980 -008-9292-x
Gregory, D . D. (2023). Combin ing flipped class sess ions
with traditional lectures in a non-computational
upper level economic geology class. Jo urnal of
Geoscience Education.
https://doi.org/10.1080/10899995.2023.2261830
He, C . (2014). Urban expansion dynamics and natural
habitat loss in C hina: A mu ltiscale landscape
perspective. Global Change Biology, 20(9), 2886–
2902. https://doi.org/10.1111/gcb.12553
Herold, M. (2 002). The use o f remote s ensing and
landscape metrics t o describe st ructures a nd
changes in urban land uses. Environment and
Planning A, 34(8), 1443–1458.
https://doi.org/10.1068/a3496
Hodson, C. B. (2017). Green urban landscapes and school -
level academic performance. Landscape a nd Urban
Planning, 160, 16–2 7.
https://doi.org/10.1016/j.landurbplan.2016.11.011
Jaja, P . T. (2013). Health-see king behaviour of P ort
Harcourt city residents: A comparison between the
upper and l ower s ocio-economic classes. Jou rnal of
Public Health in Afr ica, 4(1), 44–48.
https://doi.org/10.4081/jphia.2013.e9
Khadilkar, V. (2005). Correlation between target height
and ch ildren’s height in upper and lower socio -
economic classes in India. Journal of P ediatric
Endocrinology an d Metabolism , 18 (11), 1039–104 3.
https://doi.org/10.1515/JPEM.2005.18.11.1039
Kong, F. (2007). Us ing GI S and landscape metrics in the
hedonic price m odeling of t he ame nity value of
urban green space: A case study in Jinan City, China.
Landscape and Urban Planning , 79(3), 240–2 52.
https://doi.org/10.1016/j.landurbplan.2006.02.013
Kreplin, K. (1979). The american u pper class and the
problem of legitimacy: The j oint council on
economic ed ucation. Cr itical So ciology, 8(4), 3– 16.
https://doi.org/10.1177/089692057900800401
Li, J. ( 2011). Impacts of landscape structure on surface
urban heat islands: A case s tudy of Shanghai, Chin a.
Remote Sensing of Environment , 115(1 2), 3249–
3263. https://doi.org/10.1016/j.rse.2011.07.008
Li, T. (2010). Fragmentation of China’s landscape by roads
and urban areas. Landscape Ecology, 25(6), 839–
853. https://doi.org/10.1007/s10980-01 0-9461-6
Liu, X. (2010). A new landscape index for quantifying urban
expansion using multi-temporal remotely sens ed
data. Landscape Ecology, 25(5), 6 71–682.
https://doi.org/10.1007/s10980 -010-9454-5
Ljunggren, J. ( 2016). Economic rewards in the cultural
upper class: The impa ct of social o rigin on inco me
within the Norwegian field of culture. Poetics, 57,
14–26.
https://doi.org/10.1016/j.poetic.2016.05.003
Lo, C. Y. H. (2017). “Fairnes s” in presidential ec onomi c
policy: Disagreements among u pper-class el ites.
Studying the Power Elite: Fi fty Years of Who Rules
America?, 182–20 4.
https://doi.org/10.4324/9781315101286
Lu, D. (2 004). Spectra l m ixture analysis of the urban
10
landscape in Ind ianapolis with Landsat ET M+
imagery. Photogrammetric Engineering and Remote
Sensing, 70 (9), 1053–1062.
https://doi.org/10.14358/PERS.70.9.1053
Luck, M. (2002). A g radient ana lysis of urban la ndscape
pattern: A case study from the Phoenix met ropolitan
region, Arizona, USA. La ndscape Ec ology, 17 ( 4),
327–339.
https://doi.org/10.1023/A:1020512723753
Matsuoka, R. H. (2008). People needs in the urban
landscape: Analysis of Landscape And Urban
Planning contributions. La ndscape and Urban
Planning, 84(1), 7–19.
https://doi.org/10.1016/j.landurbplan.2007.09.00 9
Melles, S. ( 2003). Ur ban bird diversity and landscape
complexity: S pecies - Environment ass ociations
along a multiscale habitat gradient. Con servation
Ecology, 7(1). https://doi.org/10.5751/ES-00 478-
070105
Norton, B. A. (2015). Planning f or cooler cities: A
framework to prioritise g reen i nfrastructure to
mitigate high temperatures in urban landscapes .
Landscape and Urba n Planning , 134, 127–13 8.
https://doi.org/10.1016/j.landurbplan.2014.10.018
Paul, M. J. (2001). Streams in the urban landscape. Annual
Review of Ecology and Systematics , 32, 333–365.
https://doi.org/10.1146/annurev.ecolsys.32.08150
1.114040
Peng, J. (2015). L inking ecosys tem s ervices and la ndscape
patterns to ass ess urban ecosys tem health: A ca se
study in Shenzhen City, China. Landscape and Urba n
Planning, 143, 56–6 8.
https://doi.org/10.1016/j.landurbplan.2015.06.007
Peng, J. (2016). Urban thermal environment dyna mics and
associated landscape pattern factors: A case s tudy in
the Beijing metropolitan region. Remote Sen sing o f
Environment, 173, 145–155.
https://doi.org/10.1016/j.rse.2015.11.027
Prange, S. (20 03). Demographic factors contributing to
high ra ccoon densities i n urban landscapes. Jou rnal
of W ildlife Managem ent, 67(2), 324–3 33.
https://doi.org/10.2307/3802774
Ramachandra, T. V. (2012). I nsights to urban d ynamics
through landscape s patial pattern ana lysis.
International Journal of Ap plied Earth Observation
and Geoinformation, 18(1), 329–34 3.
https://doi.org/10.1016/j.jag.2012.03.005
Ratti, C. (2006). M obile landscapes: Using l ocation data
from cell phones f or urban analysis. Environment
and Planning B: Planning and Design , 33(5), 72 7–
748. https://doi.org/10.1068/b32047
Raupp, M. J. (2010). Ecology of he rbivorous arthropods i n
urban landscapes. Annual Review o f Entomology ,
55, 1 9–38. https://doi.org/10.1146/annurev-ent o-
112408-085351
Redweik, P. (2013). So lar ene rgy potential on r oofs and
facades in an urban landscape. Solar Energy, 97,
332–341.
https://doi.org/10.1016/j.solener.2013.08.036
Rigolon, A. (2016). A complex la n dscape o f inequity in
access to urban pa rks: A literature revie w.
Landscape and Urba n Planning , 153, 160–16 9.
https://doi.org/10.1016/j.landurbplan.2016.05.017
Seto, K. (2005). Quantifying spatiotemporal patterns of
urban land-use change in fou r cit ies of Ch ina wi th
time s eries landscape metr ics. Land scape Ecology,
20(7), 871–888. https://doi.org/10.1007/s10980-
005-5238-8
Shashua-Bar, L. (2009). The co oling efficiency of u rban
landscape strategies in a hot dry climate. Landscape
and Urban Planning , 92(3), 1 79–186.
https://doi.org/10.1016/j.landurbplan.2009.04.005
Sivaramakrishnan, M. (2012). A typical working-day
breakfast among children, adolescents and ad ults
belonging t o the m iddle an d upper socio -economic
classes in Mumbai, India - Cha llenges and
implications for dietary change. Public Health
Nutrition, 15(11), 2040–2046.
https://doi.org/10.1017/S1368980012002777
Tsunetsugu, Y. (2013). Physiological an d psychological
effects of viewing urban forest landscapes as sessed
by multiple meas urements. La ndscape an d Urban
Planning, 113, 90–9 3.
https://doi.org/10.1016/j.landurbplan.2013.0 1.014
Willott, S. (2001). Snakes and ladders: Upper -middle class
male offenders t alk about economic crime.
Criminology, 39(2), 441–466.
https://doi.org/10.1111/j.1745-
9125.2001.tb00929.x
Willott, S. (2017). Snakes and ladders: Upper -middle class
male offenders talk about economic crime. Crime,
Criminal Justice and Masculinities, 401–426.
Woo, A. C. (2013). Temporal var iation in a irborne
microbial po pulations an d microbially -derived
allergens in a tropical urban landscape. Atmospheric
Environment, 74, 2 91–300.
https://doi.org/10.1016/j.atmosenv. 2013.03.047
Zhang, A. (2021). How can the urban landscape affect
urban vitality at the s treet b lock level? A case stu dy
of 15 met ropolises in C hina. Environment and
Planning B: Urban An alytics and City S cience , 48( 5),
1245–1262.
https://doi.org/10.1177/2399808320924425
Zhou, W. (2008). An object-oriented approach for
analysing and characterizing urban landscape at the
parcel level. Interna tional Journal of Remote
Sensing, 29(11), 3119–3135.
https://doi.org/10.1080/0143 1160701469065
Zhou, W. (2011). D oes spatial configuration mat ter?
Understanding the e ffects of land cover pattern on
land surface temperature in ur ban landscapes .
Landscape and Urban Planning, 102(1), 54–63.
https://doi.org/10.1016/j.landurbplan.2011.03.00 9